Temuan Penelitian Skripsi dan Cara Menyusunnya dalam Bab Hasil Penelitian

temuan penelitian skripsi

Temuan penelitian skripsi merupakan bagian penting yang menunjukkan apa yang diperoleh peneliti setelah mengolah dan menganalisis data. Bagian ini tidak sekadar berisi kumpulan angka, kutipan wawancara, atau hasil pengamatan, tetapi menjelaskan informasi yang benar-benar ditemukan berdasarkan fokus dan tujuan penelitian. Karena itu, penyusunan temuan penelitian perlu dilakukan secara sistematis agar pembaca dapat memahami hubungan antara data, hasil analisis, dan permasalahan yang diteliti.

Dalam skripsi, bab hasil penelitian biasanya menjadi bagian yang paling banyak berisi bukti empiris dari proses penelitian. Kesalahan dalam menyusun bagian ini dapat membuat hasil penelitian sulit dipahami, meskipun proses pengumpulan datanya sudah dilakukan dengan baik. Artikel ini membahas pengertian temuan penelitian skripsi, cara mengidentifikasi temuan, struktur Bab Hasil Penelitian, serta langkah menyajikannya secara akademis dan mudah dipahami.

 

Memahami Temuan Penelitian Skripsi

Temuan penelitian skripsi adalah hasil yang diperoleh peneliti setelah data dikumpulkan, diolah, dan dianalisis sesuai metode penelitian. Temuan tersebut harus memiliki hubungan dengan rumusan masalah, tujuan penelitian, serta fokus penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian, tidak semua informasi yang ditemukan selama penelitian harus dimasukkan sebagai temuan utama.

Temuan dapat berbentuk angka, pola, hubungan, kategori, tema, kecenderungan, maupun informasi penting lainnya. Pada penelitian kuantitatif, temuan biasanya ditampilkan melalui hasil pengujian statistik, sedangkan penelitian kualitatif lebih banyak menghasilkan tema dan pola berdasarkan data lapangan. Meskipun bentuknya berbeda, keduanya tetap harus disajikan berdasarkan bukti yang diperoleh selama penelitian.

Baca juga: Pendampingan Publikasi Ilmiah dari Naskah hingga Artikel Terbit

Perbedaan Temuan Penelitian dan Pembahasan

Temuan penelitian dan pembahasan sering dianggap sebagai bagian yang sama, padahal keduanya memiliki fungsi berbeda. Temuan berfokus pada apa yang diperoleh dari data, sedangkan pembahasan menjelaskan makna temuan tersebut dengan menghubungkannya pada teori, penelitian terdahulu, atau konteks penelitian. Pemisahan fungsi ini membuat isi skripsi lebih terarah dan mengurangi risiko penjelasan yang berulang.

Misalnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran digital meningkatkan nilai rata-rata siswa. Pernyataan mengenai peningkatan nilai tersebut termasuk temuan, sedangkan alasan peningkatan dan hubungannya dengan teori pembelajaran termasuk bagian pembahasan. Perbedaan sederhana ini penting agar peneliti tidak terlalu cepat memberikan interpretasi ketika sebenarnya sedang menyajikan hasil penelitian.

Menentukan Temuan yang Relevan dengan Rumusan Masalah

Temuan yang dimasukkan ke dalam skripsi harus memiliki hubungan jelas dengan pertanyaan penelitian. Peneliti perlu meninjau kembali rumusan masalah sebelum menentukan data apa yang akan disajikan dalam Bab Hasil Penelitian. Langkah ini membantu mencegah munculnya informasi tambahan yang menarik tetapi tidak memiliki hubungan langsung dengan tujuan penelitian.

Cara sederhana untuk menentukan relevansi temuan dapat dilakukan melalui beberapa langkah berikut:

  1. Baca kembali seluruh rumusan masalah.
  2. Cocokkan setiap rumusan masalah dengan data yang telah dikumpulkan.
  3. Tentukan hasil analisis yang menjawab masing-masing rumusan masalah.
  4. Kelompokkan hasil berdasarkan tema atau variabel penelitian.
  5. Singkirkan data yang tidak mendukung tujuan penelitian.
  6. Pastikan setiap temuan memiliki bukti yang dapat ditelusuri.

Dengan cara tersebut, struktur hasil penelitian menjadi lebih fokus. Pembaca juga dapat melihat hubungan antara pertanyaan penelitian dan jawaban yang diperoleh dari data.

Menyusun Struktur Bab Hasil Penelitian

Struktur Bab Hasil Penelitian sebaiknya mengikuti logika penelitian yang telah dirancang sejak awal. Urutan penyajian dapat dimulai dari gambaran umum objek penelitian, karakteristik data atau informan, kemudian dilanjutkan dengan hasil yang menjawab setiap rumusan masalah. Struktur tersebut dapat disesuaikan dengan pedoman akademik masing-masing perguruan tinggi karena format skripsi tidak selalu seragam.

Struktur umum yang dapat digunakan antara lain:

Bagian Isi yang Disajikan
Gambaran objek penelitian Kondisi umum lokasi, organisasi, kelompok, atau objek penelitian
Karakteristik data Profil responden, informan, sampel, atau sumber data
Hasil penelitian Data dan temuan berdasarkan rumusan masalah
Analisis hasil Hasil pengolahan data sesuai metode penelitian
Ringkasan temuan Inti hasil yang diperoleh dari setiap fokus penelitian

Struktur tersebut dapat dibuat lebih sederhana atau lebih rinci sesuai jenis penelitian. Yang paling penting adalah urutannya mudah diikuti dan setiap bagian memiliki fungsi yang jelas.

Menyajikan Temuan pada Penelitian Kuantitatif

Dalam penelitian kuantitatif, temuan penelitian skripsi biasanya diperoleh melalui pengolahan data numerik. Hasil dapat berupa statistik deskriptif, uji hubungan, uji perbedaan, uji pengaruh, maupun pengujian hipotesis sesuai rancangan penelitian. Penyajian hasil perlu disertai penjelasan agar pembaca tidak dipaksa menafsirkan tabel atau angka secara mandiri.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyajikan hasil kuantitatif adalah:

  • Jelaskan sumber dan jumlah data yang digunakan.
  • Tampilkan statistik yang benar-benar berkaitan dengan tujuan penelitian.
  • Berikan judul yang jelas pada setiap tabel atau gambar.
  • Jelaskan angka penting setelah tabel disajikan.
  • Gunakan istilah statistik secara konsisten.
  • Bedakan hasil perhitungan dengan interpretasi teoritis.
  • Pastikan angka yang ditulis dalam teks sama dengan angka pada tabel.

Sebagai contoh, apabila penelitian menguji hubungan antara intensitas belajar dan hasil belajar, hasil analisis dapat menyebutkan nilai koefisien korelasi dan tingkat signifikansinya. Setelah itu, peneliti dapat menjelaskan apakah hubungan tersebut memenuhi kriteria pengujian yang digunakan. Interpretasi yang lebih luas mengenai penyebab hubungan tersebut sebaiknya ditempatkan dalam bagian pembahasan.

Menyajikan Temuan pada Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif menghasilkan bentuk data yang berbeda karena sumbernya dapat berupa wawancara, observasi, dokumen, maupun catatan lapangan. Temuan penelitian kualitatif biasanya disusun melalui proses pengelompokan data menjadi kategori, tema, atau pola tertentu. Oleh karena itu, penyajiannya perlu menunjukkan hubungan antara data lapangan dan tema yang ditemukan.

Tahapan penyajiannya dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Menyeleksi data yang sesuai dengan fokus penelitian.
  2. Memberikan kode pada informasi yang memiliki kesamaan makna.
  3. Mengelompokkan kode menjadi kategori.
  4. Mengembangkan kategori menjadi tema utama.
  5. Menyajikan bukti berupa kutipan atau hasil observasi yang relevan.
  6. Menjelaskan pola yang muncul dari berbagai sumber data.

Kutipan wawancara sebaiknya digunakan sebagai bukti pendukung, bukan sebagai pengganti analisis. Setelah kutipan ditampilkan, peneliti perlu menjelaskan kaitannya dengan tema penelitian. Dengan demikian, pembaca dapat memahami bahwa tema tersebut tidak muncul secara sembarangan, tetapi berasal dari data yang telah dianalisis.

Menggunakan Tabel, Grafik, dan Kutipan secara Tepat

Tabel, grafik, dan kutipan dapat membantu memperjelas temuan penelitian apabila digunakan secara proporsional. Namun, elemen visual bukan sekadar hiasan untuk membuat halaman skripsi terlihat lebih ramai, karena akademisi juga sudah cukup sibuk tanpa harus menebak maksud sebuah grafik. Setiap tabel atau grafik harus memiliki tujuan yang jelas dan dijelaskan dalam teks.

Beberapa prinsip penggunaannya adalah:

  • Tabel digunakan untuk merangkum data yang memiliki banyak nilai atau kategori.
  • Grafik digunakan ketika pola, perubahan, atau perbandingan lebih mudah dilihat secara visual.
  • Kutipan wawancara digunakan untuk memperkuat temuan kualitatif.
  • Setiap tabel dan gambar harus disebutkan dalam pembahasan.
  • Hindari menampilkan tabel yang kemudian tidak dijelaskan.
  • Gunakan format penomoran yang konsisten dari awal sampai akhir.

Misalnya, sebuah tabel menunjukkan distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan. Setelah tabel, peneliti dapat menjelaskan kategori yang paling dominan dan informasi lain yang relevan dengan penelitian. Tidak perlu mengulang seluruh angka tabel dalam paragraf karena hal tersebut hanya membuat tulisan menjadi panjang tanpa menambah informasi.temuan penelitian skripsi

Menghubungkan Temuan dengan Rumusan Masalah

Setiap temuan penelitian sebaiknya dapat ditelusuri kembali ke rumusan masalah. Hubungan tersebut membuat Bab Hasil Penelitian terasa sebagai jawaban atas pertanyaan penelitian, bukan sekadar laporan aktivitas selama penelitian berlangsung. Cara paling mudah adalah menyusun subbagian hasil berdasarkan urutan rumusan masalah.

Contohnya dapat disusun seperti berikut:

  1. Hasil penelitian untuk rumusan masalah pertama.
  2. Hasil penelitian untuk rumusan masalah kedua.
  3. Hasil penelitian untuk rumusan masalah ketiga.
  4. Ringkasan temuan dari seluruh rumusan masalah.

Jika penelitian memiliki beberapa variabel atau fokus, penyusunan dapat menggunakan variabel atau tema sebagai dasar pengelompokan. Peneliti perlu menjaga konsistensi antara istilah yang digunakan dalam rumusan masalah, metode, hasil, dan kesimpulan. Perubahan istilah yang tidak perlu dapat membuat pembaca mengira peneliti sedang membahas hal yang berbeda.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Menyusun Temuan

Penyusunan temuan penelitian skripsi dapat mengalami berbagai kesalahan meskipun data yang diperoleh sebenarnya cukup baik. Kesalahan paling umum adalah memasukkan terlalu banyak informasi yang tidak berkaitan langsung dengan fokus penelitian. Kesalahan lainnya adalah mencampurkan hasil penelitian dengan pembahasan sehingga batas antara data dan interpretasi menjadi tidak jelas.

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari meliputi:

  • Menampilkan data tanpa penjelasan.
  • Mengulang isi tabel secara berlebihan.
  • Memasukkan data yang tidak relevan.
  • Membuat kesimpulan sebelum seluruh hasil disajikan.
  • Mengubah angka antara tabel dan narasi.
  • Menggunakan kutipan wawancara terlalu panjang.
  • Menampilkan hasil analisis yang tidak berkaitan dengan rumusan masalah.
  • Mengabaikan hasil yang tidak sesuai dengan dugaan awal.
  • Menyampaikan klaim yang tidak didukung data.

Temuan yang tidak sesuai dengan hipotesis atau dugaan awal tetap harus dilaporkan apabila diperoleh melalui prosedur penelitian yang benar. Peneliti tidak seharusnya mengubah atau memilih data hanya agar hasil terlihat sesuai harapan. Integritas dalam menyajikan hasil merupakan bagian penting dari kualitas penelitian.

Langkah Praktis Menyusun Temuan Penelitian Skripsi

Setelah seluruh data dianalisis, peneliti dapat mulai menyusun Bab Hasil Penelitian secara bertahap. Penyusunan sebaiknya dilakukan dari kerangka besar terlebih dahulu sebelum masuk ke penulisan setiap paragraf. Cara ini membuat peneliti lebih mudah menjaga alur dan menghindari pengulangan informasi.

Urutan kerja yang dapat digunakan adalah:

  1. Periksa kembali rumusan masalah dan tujuan penelitian.
  2. Kelompokkan hasil berdasarkan setiap rumusan masalah.
  3. Tentukan urutan penyajian yang paling logis.
  4. Masukkan tabel, grafik, atau kutipan yang diperlukan.
  5. Tulis penjelasan untuk setiap hasil.
  6. Periksa kesesuaian angka dan data.
  7. Pisahkan temuan dari pembahasan teoritis.
  8. Pastikan seluruh rumusan masalah memperoleh jawaban.
  9. Periksa kembali konsistensi istilah dan format.
  10. Sesuaikan hasil akhir dengan pedoman penulisan kampus.

Tahapan tersebut membantu mengubah kumpulan data menjadi narasi penelitian yang terstruktur. Peneliti juga dapat melakukan pemeriksaan silang antara Bab Metode, Bab Hasil, dan Bab Kesimpulan. Jika ketiganya menggunakan istilah, variabel, dan fokus yang konsisten, keseluruhan skripsi akan terasa lebih terpadu.

Menulis Narasi Temuan agar Mudah Dipahami

Narasi hasil penelitian sebaiknya menggunakan kalimat yang langsung menjelaskan informasi utama. Hindari kalimat yang terlalu panjang hanya untuk menunjukkan bahwa penelitian telah dilakukan dengan serius. Bahasa akademis tidak harus rumit, karena tujuan utama penyajian hasil adalah menyampaikan informasi secara akurat.

Pola sederhana yang dapat digunakan adalah menyebutkan hasil, memberikan bukti, kemudian menjelaskan konteksnya. Pada penelitian kuantitatif, pola tersebut dapat berupa hasil analisis diikuti angka atau tabel pendukung. Pada penelitian kualitatif, pola tersebut dapat berupa tema, bukti dari data lapangan, lalu penjelasan mengenai pola yang ditemukan.

Memastikan Konsistensi antara Hasil dan Kesimpulan

Kesimpulan skripsi harus berasal dari temuan yang telah disajikan dalam bab hasil. Karena itu, peneliti perlu memastikan bahwa tidak ada kesimpulan yang tiba-tiba muncul tanpa memiliki dasar dalam data penelitian. Jika sebuah temuan tidak dibahas dalam hasil, temuan tersebut sebaiknya tidak tiba-tiba menjadi dasar utama kesimpulan.

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan membaca rumusan masalah, hasil, dan kesimpulan secara berdampingan. Setiap pertanyaan penelitian harus memiliki hasil yang relevan dan kesimpulan yang sesuai. Dengan pemeriksaan tersebut, kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian antara data dan kesimpulan dapat dikurangi.

Pentingnya Revisi Setelah Mendapat Masukan Pembimbing

Bab hasil penelitian biasanya mengalami beberapa kali revisi sebelum dianggap siap. Masukan pembimbing dapat berkaitan dengan struktur, kelengkapan data, cara menyajikan tabel, ketepatan analisis, atau hubungan antara hasil dan rumusan masalah. Revisi sebaiknya tidak hanya dilakukan pada bagian yang ditandai, tetapi juga diperiksa terhadap bagian lain yang mungkin terdampak.

Setelah melakukan perubahan, peneliti perlu memastikan bahwa revisi tidak menciptakan masalah baru. Misalnya, perubahan istilah pada Bab Hasil dapat membuat istilah dalam Bab Metode atau Kesimpulan menjadi tidak konsisten. Pemeriksaan menyeluruh setelah revisi akan membantu menjaga kesinambungan isi skripsi sampai tahap akhir.

Baca juga: Temuan Penelitian Kuantitatif dan Cara Menjelaskan Hasil Analisis Statistik

Kesimpulan

Temuan penelitian skripsi merupakan hasil yang diperoleh dari proses pengumpulan dan analisis data berdasarkan fokus penelitian. Penyusunannya perlu mengikuti rumusan masalah agar setiap hasil yang disajikan memiliki tujuan yang jelas. Perbedaan karakter penelitian kuantitatif dan kualitatif juga perlu diperhatikan karena bentuk data, cara analisis, serta teknik penyajiannya tidak selalu sama.

Bab Hasil Penelitian yang baik tidak ditentukan oleh banyaknya tabel, angka, atau kutipan, melainkan oleh ketepatan informasi dan keteraturan penyajiannya. Peneliti perlu memisahkan temuan dari pembahasan, menggunakan bukti secara proporsional, serta memastikan hasil dan kesimpulan tetap konsisten. Dengan penyusunan yang sistematis, data penelitian dapat berubah menjadi informasi akademis yang jelas, relevan, dan mudah dipahami pembaca.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk menambah wawasan Anda seputar jurnal ilmiah. Jika membutuhkan bimbingan dan pendampingan hingga publikasi, Solusi Jurnal siap menjadi mitra terbaik Anda. Hubungi Admin Solusi Jurnal sekarang dan dapatkan layanan profesionalnya.