
Ilmu komunikasi adalah disiplin yang luas dan kompleks, mencakup berbagai aspek manusia dalam menyampaikan, menerima, dan menafsirkan pesan. Untuk memahami bagaimana ilmu komunikasi dibangun dan berkembang, kita perlu menengok ke fondasi filosofisnya, salah satunya adalah ontologi. Dalam konteks filsafat ilmu, ontologi adalah cabang yang membahas tentang hakikat realitas atau apa yang benar-benar ada. Dalam ilmu komunikasi, ontologi menjadi dasar penting untuk memahami bagaimana realitas komunikasi dipahami, dikonstruksi, dan diinterpretasikan oleh peneliti maupun praktisi.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif peran ontologi dalam ilmu komunikasi, berbagai pendekatan ontologis yang digunakan, serta implikasinya dalam riset dan praktik komunikasi modern.
Baca juga: Ontologi dalam Sosiologi
Pengertian Ontologi: Fondasi Filosofis dalam Ilmu
Secara umum, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang eksistensi atau keberadaan. Ontologi bertanya, “Apa yang nyata?” atau “Apa yang benar-benar ada di dunia ini?” Dalam konteks ilmu pengetahuan, ontologi berkaitan dengan asumsi-asumsi dasar tentang sifat realitas yang menjadi objek kajian suatu ilmu.
Dalam ilmu komunikasi, ontologi menuntun peneliti untuk menentukan:
- Apakah realitas komunikasi bersifat objektif atau subjektif?
- Apakah makna dalam komunikasi sudah ada di luar sana atau dikonstruksi oleh individu?
- Apakah komunikasi itu bisa diukur seperti fenomena alam, atau lebih cocok dipahami melalui pemaknaan dan interpretasi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk arah pendekatan ilmiah seorang komunikator atau peneliti, termasuk dalam memilih metode penelitian, menyusun hipotesis, dan menyusun teori.
Pentingnya Ontologi dalam Ilmu Komunikasi
Ontologi berperan penting dalam ilmu komunikasi karena:
- Menentukan Perspektif Penelitian: Ontologi membentuk bagaimana seorang peneliti melihat dunia komunikasi: apakah ia melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang tetap dan dapat diamati (positivistik), atau justru melihatnya sebagai konstruksi sosial yang dinamis (konstruktivistik).
- Membimbing Pilihan Metodologi: Pilihan ontologis akan mengarahkan seorang peneliti dalam memilih pendekatan kuantitatif atau kualitatif. Mereka yang percaya bahwa komunikasi adalah realitas objektif cenderung menggunakan pendekatan kuantitatif. Sebaliknya, yang percaya bahwa makna komunikasi dibentuk melalui interaksi sosial akan memilih pendekatan kualitatif.
- Menjelaskan Relasi Antara Individu dan Struktur: Ontologi menjawab pertanyaan apakah individu memiliki kebebasan penuh dalam berkomunikasi, ataukah ia dibatasi oleh struktur sosial dan budaya. Hal ini penting untuk memahami peran media, institusi, dan budaya dalam proses komunikasi.
- Membantu Pengembangan Teori Komunikasi: Banyak teori komunikasi besar seperti Teori Agenda Setting, Teori Konstruksi Sosial Realitas, atau Teori Interaksionisme Simbolik, semua dibangun berdasarkan asumsi ontologis tertentu.
Pendekatan Ontologis dalam Ilmu Komunikasi
Dalam ilmu komunikasi, terdapat beberapa pendekatan ontologis yang dominan. Pendekatan ini mewakili cara pandang terhadap realitas yang mempengaruhi cara peneliti menyusun penelitian komunikasi.
1. Realitas Objektif (Positivisme)
Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa realitas komunikasi adalah nyata dan dapat diamati secara objektif. Para penganut positivisme percaya bahwa komunikasi dapat dipahami melalui hukum-hukum universal, mirip seperti pendekatan dalam ilmu alam.
Ciri-cirinya:
- Komunikasi dianggap sebagai proses linier (pengirim → pesan → penerima).
- Data dikumpulkan melalui eksperimen, survei, dan pengamatan kuantitatif.
- Peneliti dianggap netral dan tidak memengaruhi objek yang diteliti.
Contoh aplikasi: Riset efektivitas iklan, pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumen, atau pola komunikasi dalam organisasi formal.
2. Realitas Subjektif (Konstruktivisme)
Berbeda dengan positivisme, konstruktivisme melihat realitas komunikasi sebagai sesuatu yang dibangun oleh individu melalui interaksi dan bahasa. Artinya, makna komunikasi tidak ada secara tetap, tetapi terbentuk melalui pengalaman dan persepsi manusia.
Ciri-cirinya:
- Komunikasi dipahami melalui interpretasi makna.
- Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi partisipan, dan studi naratif.
- Peneliti ikut terlibat dalam proses interpretasi dan tidak sepenuhnya netral.
Contoh aplikasi:
Penelitian tentang makna percakapan sehari-hari, komunikasi budaya, komunikasi antarpribadi, atau simbolisme dalam media.
3. Kritis (Critical Theory)
Pendekatan ontologis kritis menggabungkan elemen konstruktivisme dengan kesadaran akan kekuasaan, ideologi, dan struktur sosial. Penganut pendekatan ini percaya bahwa realitas komunikasi adalah konstruksi sosial, tetapi didorong oleh struktur dominasi.
Ciri-cirinya:
- Menekankan pada ketimpangan kekuasaan dalam komunikasi.
- Komunikasi dianggap sebagai arena perjuangan ideologi.
- Penelitian bertujuan untuk membongkar hegemoni dan menciptakan perubahan sosial.
Contoh aplikasi:
Analisis wacana media, representasi gender dalam iklan, atau kritik terhadap komunikasi politik.
Ontologi dan Perkembangan Paradigma dalam Ilmu Komunikasi
Paradigma dalam ilmu komunikasi berkembang seiring waktu. Setiap paradigma dibangun di atas fondasi ontologis yang berbeda.
- Paradigma Positivistik: Didominasi oleh pendekatan kuantitatif dan bertujuan untuk menjelaskan serta memprediksi fenomena komunikasi. Ontologi yang digunakan bersifat objektif. Paradigma ini berkembang pesat di era 1950-an hingga 1980-an, terutama dalam riset media massa dan komunikasi organisasi.
- Paradigma Interpretatif: Bertumpu pada pendekatan kualitatif dengan asumsi ontologis bahwa realitas dibangun melalui pengalaman sosial. Paradigma ini muncul sebagai kritik terhadap positivisme, dan berkembang dalam studi komunikasi interpersonal, komunikasi antarbudaya, serta komunikasi dalam konteks budaya.
- Paradigma Kritis: Paradigma ini menyoroti kekuasaan, dominasi, dan ketimpangan dalam komunikasi. Ontologinya beranggapan bahwa realitas komunikasi terbentuk oleh struktur sosial yang menindas, dan peneliti memiliki tanggung jawab etis untuk mengubah kondisi tersebut.
Implikasi Ontologi dalam Praktik Penelitian Komunikasi
Berikut implikasi ontologi dalam praktik penelitian:
- Pemilihan Topik Penelitian: Seorang peneliti yang menggunakan pendekatan ontologis objektif mungkin akan meneliti “seberapa besar pengaruh iklan terhadap perilaku membeli,” sementara yang subjektif akan meneliti “bagaimana konsumen memaknai iklan dalam kehidupan sehari-hari.”
- Pemilihan Metode Penelitian: Ontologi objektif cenderung memilih metode kuantitatif seperti survei atau eksperimen. Sedangkan ontologi subjektif memilih metode kualitatif seperti wawancara mendalam, observasi, atau studi kasus.
- Peran Peneliti: Dalam pendekatan objektif, peneliti dianggap netral. Dalam pendekatan subjektif dan kritis, peneliti dianggap sebagai bagian dari proses sosial yang sedang diteliti, bahkan kadang harus aktif mengintervensi demi perubahan sosial.
- Interpretasi Data: Peneliti dengan ontologi objektif mengandalkan statistik dan angka. Peneliti subjektif mengandalkan narasi dan makna. Peneliti kritis menambahkan unsur ideologi dan struktur kekuasaan dalam interpretasi.
Studi Kasus: Ontologi dalam Komunikasi Media
Untuk melihat bagaimana ontologi bekerja dalam praktik, kita ambil contoh komunikasi media.
- Pendekatan Objektif: Sebuah studi tentang “pengaruh jumlah paparan iklan rokok terhadap niat merokok remaja” menggunakan pendekatan objektif. Peneliti percaya bahwa ada hubungan sebab-akibat yang bisa diukur.
- Pendekatan Subjektif: Studi tentang “bagaimana remaja memaknai iklan rokok sebagai bagian dari identitas maskulinitas” menggunakan pendekatan subjektif. Di sini, makna tidak ditentukan oleh jumlah paparan, melainkan oleh pengalaman pribadi remaja.
- Pendekatan Kritis: Studi tentang “bagaimana iklan rokok mereproduksi ideologi maskulinitas dan mendominasi wacana publik” menggunakan pendekatan kritis. Tujuannya bukan sekadar memahami, tetapi mengkritisi dan menyarankan perubahan.
Ontologi dan Tantangan Komunikasi di Era Digital
Era digital membawa tantangan baru dalam memahami realitas komunikasi. Dunia maya, media sosial, dan kecerdasan buatan menciptakan realitas baru yang kompleks.
- Apakah komunikasi di media sosial bersifat nyata atau semu?
- Apakah interaksi manusia dengan chatbot termasuk komunikasi?
- Bagaimana kita mendefinisikan “kehadiran” dalam dunia virtual?
Pertanyaan-pertanyaan ini memaksa kita untuk mengkaji kembali ontologi komunikasi di dunia digital. Beberapa peneliti bahkan mulai membentuk ontologi baru yang disebut post-humanist ontology, yang melihat komunikasi tidak lagi terbatas pada manusia, tetapi juga melibatkan mesin, algoritma, dan kecerdasan buatan.
Peran Ontologi dalam Pendidikan dan Kurikulum Ilmu Komunikasi
Pemahaman ontologi juga sangat penting dalam pendidikan ilmu komunikasi. Mahasiswa komunikasi harus diajarkan bahwa:
- Tidak ada satu cara tunggal untuk memahami komunikasi.
- Pilihan pendekatan harus sesuai dengan pertanyaan riset dan asumsi ontologisnya.
- Kesadaran ontologis membuat peneliti lebih kritis dan reflektif.
Universitas dan institusi pendidikan sebaiknya menyertakan filsafat ilmu dan kajian ontologi sebagai bagian dari kurikulum inti ilmu komunikasi, terutama pada jenjang sarjana dan pascasarjana.
Baca juga: Ontologi dalam Antropologi
Kesimpulan: Ontologi sebagai Kompas Ilmiah dalam Ilmu Komunikasi
Ontologi bukan sekadar konsep abstrak dalam filsafat. Dalam ilmu komunikasi, ontologi berperan sebagai kompas ilmiah yang membimbing peneliti dan praktisi dalam memahami realitas komunikasi. Pilihan ontologis menentukan arah penelitian, pendekatan metodologis, serta cara kita memahami hubungan antar manusia, media, dan struktur sosial.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

