Dalam filsafat, ontologi adalah cabang yang membahas tentang hakikat realitas dan keberadaan. Ontologi menjawab pertanyaan seperti: “Apa yang sungguh-sungguh ada?” atau “Apa saja kategori dasar dari realitas?” Dalam konteks ilmu pengetahuan, termasuk ekonomi, ontologi menjadi dasar untuk memahami objek kajian: Apakah entitas yang kita pelajari benar-benar ada secara nyata, atau hanya konstruksi sosial?
Ketika ekonomi dibahas secara ontologis, kita menyoroti apa yang dianggap ‘ada’ dalam ilmu ekonomi, bagaimana entitas ekonomi dipahami, serta bagaimana struktur realitas ekonomi dibentuk. Ini menjadi penting karena anggapan dasar tentang apa yang ‘ada’ dalam ekonomi akan memengaruhi teori, metode, dan praktik kebijakan ekonomi itu sendiri.
Baca juga: Ontologi dalam Ilmu Komunikasi
Ontologi dan Ilmu Ekonomi: Menyatukan Filsafat dan Realitas Praktis
Ekonomi, sebagai ilmu sosial, tidak hanya berkaitan dengan angka dan grafik. Di baliknya, terdapat asumsi-asumsi ontologis tentang manusia, masyarakat, pasar, dan interaksi sosial. Sebagai contoh:
- Apakah pasar adalah entitas yang nyata, atau hanya abstraksi?
- Apakah individu selalu bertindak rasional, atau rasionalitas itu relatif dan kontekstual?
- Apakah institusi ekonomi ‘ada’ sebagai entitas objektif, atau hanya kesepakatan sosial?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa ontologi dalam ekonomi tidak dapat diabaikan. Ekonomi tidak bebas dari asumsi metafisik. Dalam praktiknya, setiap pendekatan ekonomi, baik itu ekonomi neoklasik, Keynesian, atau ekonomi heterodoks seperti ekonomi feminis atau ekologis, memiliki landasan ontologis tersendiri.
Aliran-aliran Ekonomi dan Asumsi Ontologisnya
Untuk memahami peran ontologi dalam ekonomi, penting meninjau bagaimana berbagai aliran pemikiran ekonomi membawa asumsi ontologis yang berbeda. Berikut pengantar dan poin-poin utama:
1. Ekonomi Neoklasik
Ekonomi neoklasik mengasumsikan bahwa individu adalah agen rasional yang membuat keputusan berdasarkan preferensi tetap dan informasi sempurna. Asumsi ontologis utamanya:
- Individu adalah unit dasar realitas ekonomi.
- Pasar bersifat mekanistik dan selalu cenderung mencapai keseimbangan.
- Hubungan ekonomi dapat dijelaskan secara matematis dan universal.
Ontologi neoklasik sangat positivistik. Realitas ekonomi dianggap sebagai objek yang dapat diukur dan dikendalikan seperti dalam ilmu alam. Namun pendekatan ini sering dikritik karena mengabaikan konteks sosial dan historis.
2. Ekonomi Keynesian
Dalam pandangan Keynes, realitas ekonomi bersifat dinamis dan penuh ketidakpastian. Asumsi ontologis dalam pendekatan Keynesian antara lain:
- Ketidakpastian adalah elemen penting dalam ekonomi.
- Pemerintah dan kebijakan fiskal memiliki peran aktif.
- Psikologi massa (animal spirit) memengaruhi perilaku pasar.
Ontologi Keynesian lebih mengakui bahwa dunia tidak selalu dapat diprediksi secara matematis. Ekonomi bukan sistem tertutup, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang kompleks.
3. Ekonomi Marxian
Marxisme melihat realitas ekonomi sebagai hasil dari relasi sosial produksi dan konflik kelas. Asumsi ontologis utama:
- Kelas sosial adalah entitas objektif dan dominan.
- Nilai ditentukan oleh kerja manusia (teori nilai kerja).
- Kapitalisme menciptakan alienasi dan eksploitasi struktural.
Ontologi dalam ekonomi Marxian bersifat materialis historis: realitas ekonomi adalah produk dari kondisi materi dan hubungan kekuasaan dalam sejarah.
4. Ekonomi Feminist
Ekonomi feminis menantang asumsi ontologis tradisional, terutama yang mengabaikan peran gender. Asumsinya antara lain:
- Rumah tangga, kerja reproduktif, dan emosi adalah bagian dari ekonomi.
- Rasionalitas bersifat kontekstual dan relasional.
- Struktur sosial, termasuk patriarki, memengarui keputusan ekonomi.
Dengan memperluas ‘apa yang dianggap ada’ dalam ekonomi, ekonomi feminis menggeser batas ontologis ke ranah domestik dan relasional.
5. Ekonomi Ekologis
Dalam ekonomi ekologis, ekosistem dan sumber daya alam dianggap sebagai entitas ekonomi yang nyata dan terbatas. Asumsi ontologisnya:
- Ekonomi adalah sub-sistem dari lingkungan hidup.
- Tidak semua nilai bisa direduksi pada nilai moneter.
- Keberlanjutan lebih penting daripada efisiensi pasar.
Ontologi ekonomi ekologis mengusulkan bahwa ‘alam’ tidak hanya latar, tapi bagian dari sistem ekonomi itu sendiri.
Ontologi dan Rasionalitas Ekonomi
Salah satu konsep penting dalam ekonomi adalah rasionalitas. Dalam pendekatan neoklasik, rasionalitas dipahami sebagai tindakan individu untuk memaksimalkan utilitas atau keuntungan. Namun secara ontologis, definisi ini menimbulkan pertanyaan:
- Apakah manusia sungguh selalu rasional?
- Apakah preferensi bersifat tetap dan dapat diukur?
Dalam pendekatan behavioralisme dan ekonomi eksperimental, ditemukan bahwa manusia sering kali irasional. Faktor psikologis, budaya, dan moral memainkan peran besar. Maka, ontologi tentang rasionalitas mulai bergeser:
- Dari individu egoistik → ke makhluk sosial yang saling bergantung.
- Dari utilitas → ke nilai-nilai, identitas, dan emosi.
- Dari objektivitas → ke narasi dan subjektivitas.
Dengan demikian, pemahaman kita tentang rasionalitas sangat dipengaruhi oleh asumsi ontologis dasar.
Ontologi Pasar: Entitas Nyata atau Konstruksi Sosial?
Pasar adalah pusat kajian ekonomi. Namun, pertanyaan ontologis yang penting adalah: Apakah pasar itu benar-benar ‘ada’?
Dalam pandangan klasik, pasar adalah ruang abstrak tempat penawaran dan permintaan bertemu. Tetapi dalam pendekatan ontologis kritis:
- Pasar adalah konstruksi sosial dan historis.
- Aturan main pasar diciptakan oleh kebijakan, institusi, dan norma budaya.
- Pasar tidak netral, tapi penuh dengan relasi kuasa.
Misalnya, pasar tenaga kerja tidak bisa dilepaskan dari sejarah kolonialisme, ketimpangan gender, dan diskriminasi. Maka, memahami pasar secara ontologis berarti melihat bagaimana dan mengapa pasar terbentuk, serta siapa yang diuntungkan atau dirugikan.
Ontologi dan Kebijakan Ekonomi
Setiap kebijakan ekonomi dilandasi oleh pemahaman tentang apa yang dianggap nyata dan penting. Jika pemerintah percaya bahwa inflasi adalah akibat dari terlalu banyak uang beredar, maka kebijakan moneter akan dijalankan dengan asumsi tersebut. Tapi jika ontologi ekonominya berpijak pada ketidakadilan distribusi, maka kebijakan redistribusi akan jadi fokus.
Contoh kasus:
- Subsidisasi BBM: dalam ontologi neoklasik, dianggap distorsi pasar. Dalam ontologi sosial, bisa dianggap perlu untuk pemerataan.
- Upah Minimum: dilihat sebagai gangguan pasar tenaga kerja dalam pandangan konvensional, tapi sebagai perlindungan terhadap eksploitasi dalam pendekatan ontologis kritis.
Dengan kata lain, ontologi menentukan apa yang dianggap sebagai masalah ekonomi dan bagaimana cara menyelesaikannya.
Ontologi dalam Ekonomi Digital
Dalam era ekonomi digital, pertanyaan ontologis menjadi semakin kompleks. Kini, kita berbicara tentang nilai data, aset digital, mata uang kripto, dan kecerdasan buatan. Ontologi dalam ekonomi digital meliputi:
- Apakah data adalah komoditas? Apakah nilainya sama seperti barang fisik?
- Apakah entitas seperti algoritma memiliki ‘keberadaan’ dalam sistem ekonomi?
- Siapa pemilik ‘realitas digital’?
Dengan munculnya ekonomi berbasis platform seperti Gojek, Tokopedia, hingga AI dan metaverse, ekonomi tidak lagi hanya berkaitan dengan objek fisik, tetapi juga entitas virtual yang memiliki nilai ekonomi. Maka dibutuhkan ontologi baru untuk memahami ekonomi digital secara lebih tepat.
Kritik terhadap Asumsi Ontologis Dominan
Banyak ahli mengkritik dominasi ontologi neoklasik dalam ilmu ekonomi. Kritik ini mencakup:
- Reduksionisme: Menganggap manusia hanya sebagai agen ekonomi yang ingin memaksimalkan keuntungan.
- Abstraksi berlebihan: Mengabaikan kompleksitas sosial, budaya, dan sejarah.
- Determinisme pasar: Seolah-olah pasar selalu bisa menyelesaikan masalah tanpa intervensi.
- Ketiadaan dimensi etika dan moral: Seakan ekonomi bisa netral tanpa mempertimbangkan nilai-nilai.
Sebagai respons, banyak pendekatan baru menekankan pentingnya ontologi pluralistik dalam ekonomi, yaitu membuka ruang bagi berbagai perspektif realitas.
Pentingnya Kesadaran Ontologis bagi Ekonom dan Peneliti
Seorang ekonom yang sadar akan dimensi ontologis akan:
- Lebih reflektif terhadap asumsi teorinya sendiri.
- Lebih terbuka pada pendekatan lintas-disiplin.
- Mampu memahami bahwa solusi ekonomi bukan hanya soal efisiensi, tapi juga keadilan, keberlanjutan, dan makna sosial.
Misalnya, dalam penelitian kemiskinan, pendekatan positivistik mungkin hanya mengukur pendapatan, sementara pendekatan ontologis kritis akan melihat dimensi ketimpangan sosial, pengalaman hidup, hingga eksklusi budaya.
Baca juga: Ontologi dalam Sosiologi
Penutup: Menyatukan Ontologi dan Ekonomi demi Ilmu yang Lebih Manusiawi
Ontologi dalam ekonomi bukan soal filsafat abstrak semata. Ia adalah dasar berpikir yang membentuk bagaimana kita memahami dunia ekonomi, dari perilaku konsumen, fungsi pasar, kebijakan negara, hingga nilai dari kerja dan alam.
Dengan memahami dan mengkritisi ontologi yang mendasari teori dan praktik ekonomi, kita bisa:
- Menyusun kebijakan yang lebih inklusif dan adil.
- Meningkatkan empati dalam melihat dinamika ekonomi masyarakat.
- Mendorong transformasi paradigma dari ekonomi yang kaku menjadi ekonomi yang berpijak pada realitas manusia dan sosial yang kompleks.
Sebagai penutup, ekonomi bukan hanya tentang “bagaimana mengalokasikan sumber daya yang langka”, tetapi juga tentang apa yang kita anggap ada, penting, dan layak diperjuangkan dalam kehidupan bersama.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

