Ontologi dalam Antropologi

Antropologi, sebagai studi ilmiah mengenai manusia dan budaya dalam berbagai dimensi waktu dan ruang, tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang keberadaan manusia itu sendiri. Dalam kerangka filsafat ilmu, salah satu fondasi utama yang menjadi pijakan kajian antropologi adalah ontologi. Ontologi membahas hakikat realitas: apa yang ada, bagaimana sesuatu itu ada, dan dalam konteks antropologi, bagaimana manusia memaknai keberadaan dirinya dan dunia di sekitarnya.

Di tengah keragaman budaya dan pemahaman manusia terhadap kehidupan, ontologi menjadi alat penting dalam menggali cara suatu masyarakat memahami realitas. Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana ontologi bekerja dalam antropologi, mengapa penting, dan bagaimana penerapannya dalam berbagai pendekatan antropologis, termasuk dalam konteks postmodernisme, studi budaya, serta pendekatan pribumi.

Baca juga: Ontologi dalam Psikologi

Pengertian Ontologi dan Kaitannya dengan Ilmu Sosial

Secara etimologis, ontologi berasal dari bahasa Yunani: ontos (yang ada) dan logos (ilmu atau kajian). Dalam konteks filsafat, ontologi merujuk pada cabang yang membahas tentang realitas dasar dari segala sesuatu, baik yang bersifat fisik maupun metafisik. Dalam ilmu sosial, termasuk antropologi, ontologi digunakan untuk mendiskusikan dan mempertanyakan:

  • Apakah realitas sosial bersifat objektif atau konstruktif?
  • Apakah makna budaya bersifat universal atau partikular?
  • Bagaimana manusia dan masyarakat dianggap “ada” atau “berada” dalam kerangka keilmuan?

Ontologi dalam Ilmu Sosial dan Humaniora

Dalam ilmu sosial, ontologi tidak hanya bicara soal “apa yang ada”, tetapi juga “bagaimana realitas itu dipahami dan dibangun oleh subjek yang mempelajarinya”. Dengan kata lain, pertanyaan ontologis dalam ilmu sosial mencakup:

  • Apakah struktur sosial benar-benar ada di luar individu?
  • Bagaimana peran bahasa dalam membentuk realitas sosial?
  • Apakah budaya merupakan realitas tetap atau senantiasa berubah?

Dalam antropologi, pertanyaan ini menjadi sangat penting karena disiplin ini bersinggungan langsung dengan pemahaman manusia tentang dunia yang mereka bangun sendiri, baik melalui mitos, ritus, bahasa, simbol, maupun praktik sosial sehari-hari.

Ontologi dan Paradigma dalam Antropologi

Pendekatan Positivistik dan Realisme Ontologis

Dalam paradigma klasik antropologi, khususnya pada masa awal ketika antropologi masih sangat dipengaruhi oleh pendekatan positivistik dan struktural, realitas budaya dianggap sebagai sesuatu yang bisa diamati secara objektif. Pendekatan ini berangkat dari realisme ontologis, yaitu pandangan bahwa struktur sosial dan budaya benar-benar ada dan dapat dikaji oleh peneliti sebagai fakta-fakta empiris.

Misalnya, dalam kajian strukturalisme Claude Lévi-Strauss, budaya dianalisis sebagai struktur biner yang bersifat universal. Dalam pendekatan ini, peneliti dianggap mampu menangkap realitas budaya tanpa campur tangan subjektivitas.

Namun, pendekatan ini kemudian dikritik karena mengabaikan perspektif masyarakat yang dikaji dan terlalu mengandalkan narasi peneliti dari luar budaya tersebut.

Ontologi Konstruktivistik

Seiring berkembangnya paradigma interpretatif dan konstruktivistik dalam antropologi, terjadi pergeseran dalam cara memahami realitas. Ontologi konstruktivistik berargumen bahwa realitas sosial bukan sesuatu yang “ada di luar sana” secara independen, tetapi dibentuk secara sosial dan kultural.

Dalam konteks ini, budaya tidak dilihat sebagai struktur tetap, tetapi sebagai proses dinamis yang dibangun melalui praktik-praktik sosial, bahasa, dan simbol. Clifford Geertz, misalnya, dalam pendekatan “thick description”-nya, menekankan pentingnya memahami makna yang diberikan oleh masyarakat lokal terhadap tindakan-tindakan mereka.

Ontologi dalam Antropologi Kontemporer

Pluralitas Ontologi: Dari Universalisme ke Multiversalisme

Antropologi kontemporer tidak lagi bicara tentang satu “ontologi universal” mengenai keberadaan manusia. Alih-alih, muncul pendekatan multi-ontologi atau ontologi plural, yang mengakui bahwa setiap budaya memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang realitas.

Pandangan ini menantang asumsi Barat yang menganggap realitas bersifat tunggal dan logis. Dalam banyak masyarakat adat, misalnya, dunia tidak dipisah secara tajam antara alam dan budaya, manusia dan non-manusia, atau hidup dan mati. Dalam kerangka ini, binatang, pohon, roh leluhur, atau sungai bisa menjadi subjek sosial yang aktif.

Inilah yang kemudian melahirkan pendekatan ontologi relasional atau ontologi pribumi, di mana relasi antara manusia dan makhluk lainnya dipahami sebagai jaringan yang hidup dan saling tergantung.

Studi Ontologi Baru (New Ontology Studies)

Studi ontologi baru dalam antropologi dipopulerkan oleh peneliti-peneliti seperti Eduardo Viveiros de Castro, Philippe Descola, dan Marilyn Strathern. Mereka memperkenalkan istilah-istilah seperti perspektivisme Amazonia, animisme ontologis, dan dividualitas untuk menjelaskan cara masyarakat non-Barat memaknai dunia mereka.

Perspektivisme (Eduardo Viveiros de Castro)

Menurut perspektivisme, dalam banyak masyarakat Amazonia, setiap makhluk memiliki “perspektif” sendiri tentang dunia. Misalnya, bagi seekor jaguar, dirinya melihat manusia sebagai mangsa, sementara bagi manusia, jaguar adalah hewan buas. Tidak ada satu realitas tunggal, melainkan banyak realitas yang tergantung dari siapa yang melihat.

Animisme dan Naturalisme (Philippe Descola)

Descola membagi cara manusia memandang dunia ke dalam empat skema ontologis:

  • Naturalisme (Barat modern)
  • Animisme (masyarakat adat)
  • Totemisme
  • Analogisme

Dalam animisme, binatang dan objek alam dianggap memiliki jiwa dan berelasi dengan manusia. Sementara dalam naturalisme, hanya manusia yang memiliki subjektivitas, sedangkan alam adalah objek.

Ontologi dan Representasi dalam Etnografi

Tantangan Representasi Realitas Budaya

Ontologi juga sangat berkaitan dengan persoalan representasi dalam penulisan etnografi. Apakah peneliti dapat benar-benar mewakili pandangan dunia masyarakat yang diteliti? Siapa yang berhak menentukan makna dari suatu praktik budaya?

Dalam antropologi pascakolonial dan postmodern, muncul kesadaran kritis bahwa representasi budaya dalam etnografi sering kali didominasi oleh sudut pandang peneliti Barat. Maka, ontologi menjadi alat penting untuk menegosiasikan ulang bagaimana realitas budaya harus dipahami dan ditulis.

“Writing Culture” dan Krisis Representasi

Karya Writing Culture (1986) yang diedit oleh James Clifford dan George Marcus menjadi tonggak penting dalam mengkritik representasi etnografi. Buku ini menyoroti bahwa penulisan etnografi tidak netral secara ontologis dan epistemologis. Pemilihan kata, narasi, dan struktur penulisan semua dipengaruhi oleh latar belakang penulis.

Ontologi, dalam konteks ini, mendorong etnografer untuk lebih reflektif terhadap posisi mereka dalam proses penciptaan makna.

Ontologi dan Kearifan Lokal

Pengetahuan Lokal sebagai Realitas Ontologis

Dalam pendekatan antropologi kritis dan partisipatoris, pengetahuan lokal tidak lagi dianggap sebagai “informasi mentah” yang harus dianalisis oleh peneliti, melainkan sebagai sistem pengetahuan yang valid dan memiliki ontologi sendiri. Pengetahuan petani tradisional, kepercayaan masyarakat adat tentang alam, atau sistem pengobatan tradisional harus dilihat sebagai bentuk “dunia” yang sah dan utuh.

Dekolonisasi Ontologi

Upaya dekolonisasi ilmu pengetahuan, termasuk antropologi, melibatkan pengakuan bahwa tidak ada satu cara tunggal dalam memahami realitas. Ontologi pribumi harus diberi ruang untuk berdiri sejajar dengan ontologi modern. Ini berarti tidak memaksakan kerangka ilmiah Barat untuk menafsirkan semua fenomena, tetapi membuka ruang dialog antara berbagai cara keberadaan dan pengetahuan.

Ontologi dan Antropologi Lingkungan

Relasi Manusia dan Alam dalam Berbagai Ontologi

Isu lingkungan menjadi arena penting bagi eksplorasi ontologi dalam antropologi. Dalam konteks krisis ekologis global, pendekatan antropologis berbasis ontologi membantu kita memahami bahwa cara masyarakat memaknai alam sangat beragam.

Dalam masyarakat adat, misalnya, sungai tidak hanya sumber air, tetapi juga makhluk hidup yang memiliki kehendak dan harus dihormati. Hutan bukan sekadar komoditas, tetapi tempat tinggal para leluhur. Pandangan ini memberi alternatif terhadap model pembangunan eksploitatif yang lahir dari ontologi modern yang memisahkan manusia dan alam.

Implikasi Ontologi dalam Penelitian Antropologi

Perubahan Paradigma Metodologis

Ketika antropolog mengakui pluralitas ontologi, pendekatan metodologis mereka pun harus menyesuaikan. Tidak cukup hanya “mengamati” praktik sosial, tetapi harus mampu “berempati” terhadap realitas yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri.

Ini mendorong metode partisipatoris, kolaboratif, dan reflektif dalam penelitian. Ontologi juga mendorong antropolog untuk membongkar asumsi-asumsi mereka sendiri tentang “apa yang nyata” dan membuka diri terhadap realitas yang tak terduga.

Etika dan Tanggung Jawab Representasi

Ontologi dalam antropologi juga berkaitan erat dengan etika penelitian. Jika kita mengakui bahwa setiap masyarakat memiliki cara unik dalam memahami keberadaan, maka etika penelitian harus menghormati pemahaman itu. Peneliti tidak boleh mengabaikan, mengubah, atau mengecilkan makna dunia yang dibangun oleh masyarakat yang ditelitinya.

Baca juga: Ontologi dalam Ilmu Hukum

Kesimpulan

Ontologi dalam antropologi bukan sekadar pertanyaan filosofis abstrak, tetapi memiliki konsekuensi nyata dalam bagaimana peneliti memahami, meneliti, dan menuliskan kebudayaan. Dari pendekatan realisme awal hingga pluralitas ontologi kontemporer, perjalanan ontologi dalam antropologi menunjukkan betapa pentingnya membuka diri terhadap berbagai cara “menjadi” di dunia ini.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal