Tata Bahasa pada Abstrak

a. Dalam Bahasa Indonesia Gunakan kalimat pasif untuk menjelaskan proses. Tata Bahasa pada Abstrak b. Dalam Bahasa Inggris Gunakan tenses dengan konsisten. Hindari frasa idiomatik atau slang. Gunakan struktur kalimat SPO (Subject-Predicate-Object) secara jelas.

Abstrak merupakan bagian penting dalam sebuah karya ilmiah, baik berupa skripsi, tesis, disertasi, maupun artikel jurnal. Fungsi utamanya adalah memberi gambaran ringkas tentang isi tulisan secara menyeluruh namun padat. Karena singkat, abstrak menuntut penggunaan tata bahasa yang tepat, efektif, dan efisien. Kesalahan sekecil apapun dalam struktur kalimat atau pilihan kata bisa mengaburkan makna atau menurunkan kredibilitas ilmiah dari tulisan tersebut.

Tata bahasa pada abstrak tidak hanya mencakup penggunaan kata dan kalimat yang benar secara gramatikal, tetapi juga menyentuh aspek keilmiahan, objektivitas, dan kejelasan. Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana penerapan tata bahasa yang baik dan benar dalam penulisan abstrak, dengan menyertakan aspek struktur kalimat, penggunaan waktu, konsistensi gaya bahasa, dan keakuratan dalam penyampaian gagasan.

Baca juga: Keterbatasan Ontologi Penelitian

Pentingnya Tata Bahasa dalam Penulisan Abstrak

Sebelum membahas lebih jauh mengenai struktur dan aturan kebahasaan, penting untuk memahami mengapa tata bahasa memiliki peran krusial dalam abstrak.

Abstrak adalah jendela pertama yang dilihat pembaca ketika mereka memutuskan apakah akan membaca seluruh isi karya ilmiah atau tidak. Penulis yang menyusun abstrak dengan tata bahasa yang buruk akan kehilangan kredibilitas sejak awal, karena pembaca cenderung menganggap isi tulisannya pun tidak rapi atau tidak ilmiah. Oleh karena itu, tata bahasa dalam abstrak harus benar, lugas, dan mencerminkan kecermatan berpikir penulis.

Karakteristik Bahasa dalam Abstrak

Bahasa yang digunakan dalam abstrak memiliki ciri khas tersendiri. Berikut adalah penjelasan mengenai karakteristik tersebut.

  1. Ringkas: Abstrak harus memuat isi tulisan dalam bentuk yang sangat padat, biasanya hanya 150-250 kata. Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang disusun harus pendek, langsung ke inti, dan tidak mengandung pengulangan yang tidak perlu.
  2. Objektif: Bahasa dalam abstrak tidak bersifat subjektif. Hindari kata-kata seperti “menurut saya” atau “kami percaya bahwa”. Penulisan harus netral dan berdasarkan fakta yang ditemukan dalam penelitian.
  3. Formal: Gaya bahasa yang digunakan harus sesuai dengan konvensi akademik. Hindari penggunaan bahasa informal, idiom, atau ungkapan sehari-hari yang tidak cocok dalam konteks ilmiah.
  4. Jelas dan Logis: Setiap kalimat harus mudah dipahami dan mengikuti urutan berpikir yang logis. Kalimat ambigu atau berbelit-belit harus dihindari karena akan membingungkan pembaca.

Penggunaan Waktu (Tense) yang Tepat

Salah satu aspek penting dalam tata bahasa abstrak adalah penggunaan waktu atau tense. Pemilihan tense yang tepat membuat abstrak lebih terstruktur dan memudahkan pemahaman. Dalam konteks akademik, penggunaan tense biasanya mengikuti alur logika penelitian.

Berikut penjelasan penggunaan tense dalam abstrak:

  1. Present Tense (Waktu Sekarang)

Biasanya digunakan untuk menyatakan fakta umum atau latar belakang masalah yang menjadi dasar penelitian.

Contoh:
“Many students face difficulties in mastering English grammar.”

      2. Past Tense (Waktu Lampau)

Digunakan untuk menjelaskan metode penelitian dan hasil yang telah diperoleh.

Contoh:
“This study used a qualitative method to analyze the students’ writing.”

      3. Present Perfect

Kadang digunakan untuk menyatakan hasil yang memiliki keterkaitan dengan kondisi saat ini atau menegaskan kontribusi penelitian.

Contoh:
“Previous studies have shown the correlation between reading habits and academic performance.”

Dengan menggunakan tense secara konsisten dan tepat, penulis dapat menghindari kebingungan makna dan menjaga alur pembacaan tetap logis.

Struktur Kalimat yang Efektif

Penulisan abstrak tidak boleh menggunakan kalimat panjang yang membingungkan. Struktur kalimat harus sederhana, namun mengandung informasi padat dan bermakna. Dalam penulisan akademik, kalimat efektif ditandai oleh kejelasan subjek, predikat, dan objek, serta penggunaan kata sambung yang sesuai.

Beberapa prinsip dalam struktur kalimat efektif:

  1. Hindari Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat yang memiliki banyak klausa (anak kalimat) akan menyulitkan pembaca untuk memahami maksud utama. Gunakan kalimat tunggal atau kalimat majemuk setara dengan jelas.

      2. Gunakan Kalimat Aktif

Kalimat aktif cenderung lebih langsung dan mudah dipahami daripada kalimat pasif.

Contoh kalimat aktif:
“The researcher analyzed the data using SPSS.”
Bukan: “The data were analyzed by the researcher using SPSS.”

      3. Gunakan Subjek yang Spesifik

Hindari penggunaan subjek yang samar seperti “it” atau “this” tanpa kejelasan referensinya.

Konsistensi Gaya Bahasa

Dalam abstrak, konsistensi gaya bahasa adalah kunci untuk menjaga integritas tulisan. Perpindahan gaya atau sudut pandang di tengah abstrak akan membuat pembaca kebingungan.

Berikut beberapa aspek yang perlu dijaga konsistensinya:

  1. Sudut Pandang: Gunakan sudut pandang orang ketiga secara konsisten. Hindari percampuran antara “peneliti”, “kami”, atau “saya” dalam satu abstrak.
  2. Kata Kerja: Gunakan kata kerja dalam bentuk yang sama untuk aktivitas yang sama. Jika bagian metode ditulis dalam past tense, maka seluruh aktivitas dalam bagian tersebut harus tetap dalam past tense.
  3. Terminologi: Gunakan istilah teknis yang sama secara konsisten. Jika pada awal disebutkan “metode kualitatif”, maka jangan menggantinya menjadi “analisis deskriptif” tanpa penjelasan, kecuali keduanya memang berbeda konteks.

Pilihan Kata (Diksi) yang Akurat

Diksi dalam abstrak harus tepat. Pemilihan kata tidak boleh multitafsir dan harus sesuai dengan istilah ilmiah yang umum dipahami dalam disiplin ilmu tersebut. Menggunakan diksi yang salah bisa menyebabkan makna menjadi kabur atau bahkan keliru.

  1. Hindari Kata-Kata Umum: Alih-alih menggunakan kata “bagus”, lebih baik gunakan kata “efektif”, “bermakna”, atau “berdampak” tergantung konteks.
  2. Gunakan Istilah Akademik yang Relevan: Misalnya, dalam penelitian pendidikan, lebih tepat menggunakan istilah seperti “motivasi intrinsik”, “kompetensi pedagogik”, “hasil belajar” daripada istilah non-akademik seperti “semangat belajar” atau “nilai bagus”.

Kalimat Pembuka yang Kuat

Kalimat pembuka dalam abstrak sangat menentukan kesan pertama pembaca. Oleh karena itu, kalimat pembuka harus langsung mengarah pada isu utama atau tujuan penelitian, bukan pernyataan umum yang terlalu luas.

Contoh kalimat pembuka yang tepat:
“This study investigates the influence of formative assessment on students’ writing performance.”

Bukan:
“Writing is an important skill in language learning.”

Kalimat yang terlalu umum tidak memberikan informasi spesifik tentang tujuan penelitian.

Penghindaran Redundansi dan Kata-Kata Tak Perlu

Karena abstrak dibatasi oleh jumlah kata, setiap kata harus memiliki fungsi. Penggunaan kata-kata yang berulang atau tidak memberi makna tambahan sebaiknya dihindari.

  1. Reduksi Frasa Redundan

Contoh:
“Based on the data that was collected during the study” bisa disederhanakan menjadi:
“Based on the collected data.”

      2. Hindari Kata-Kata Umum seperti “Very”, “Really”, atau “So”

Penguatan makna semacam ini tidak cocok untuk gaya ilmiah.

Penggunaan Kata Hubung yang Tepat

Kata hubung penting untuk menjaga alur logis antara kalimat dalam abstrak. Tanpa penggunaan kata sambung yang tepat, pembaca akan sulit memahami hubungan antaride.

    1. Kata Hubung Penjelasan: Contoh: because, since, as.
    2. Kata Hubung Perbandingan: Contoh: whereas, however, although.
    3. Kata Hubung Penambahan: Contoh: furthermore, in addition, moreover.

Pastikan bahwa setiap kata hubung digunakan untuk tujuan logis yang tepat, tidak asal sambung.

Kaidah Bahasa Indonesia vs Bahasa Inggris

Jika abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia, maka harus mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Sementara jika ditulis dalam Bahasa Inggris, maka harus sesuai dengan kaidah tata bahasa Inggris akademik.

  1. Dalam Bahasa Indonesia
  • Gunakan kalimat pasif untuk menjelaskan proses.
  • Gunakan bentuk baku, seperti “dilakukan”, “dianalisis”, bukan “di lakukan” atau “di analisis”.
  • Hindari kata serapan yang tidak baku.

      2. Dalam Bahasa Inggris

  • Gunakan tenses dengan konsisten.
  • Hindari frasa idiomatik atau slang.
  • Gunakan struktur kalimat SPO (Subject-Predicate-Object) secara jelas.

Koreksi dan Penyuntingan

Langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah proses penyuntingan. Banyak abstrak yang sebenarnya baik secara isi, tetapi buruk dalam penyampaian karena kurang disunting.

Langkah penyuntingan meliputi:

  1. Pemeriksaan Tata Bahasa: Periksa kembali setiap kalimat, struktur, tanda baca, dan ejaan.
  2. Penyuntingan Ulang Diksi: Pastikan tidak ada kata yang mubazir dan semua diksi sesuai konteks.
  3. Pembacaan Ulang: Bacalah abstrak dengan suara keras atau minta orang lain membacanya untuk memastikan kejelasan dan kelogisan kalimat.
Baca juga: Keterbatasan Ontologi Penelitian

Penutup

Tata bahasa dalam abstrak bukan sekadar soal kerapian tulisan, tetapi juga soal profesionalisme ilmiah. Dengan menerapkan prinsip tata bahasa yang benar mulai dari pemilihan kata, penggunaan tense, struktur kalimat, hingga gaya penyampaian, penulis tidak hanya menyusun abstrak yang informatif, tetapi juga mencerminkan kualitas berpikir dan ketelitian akademik.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal