Dalam sejarah filsafat ilmu, perdebatan tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan tidak pernah berhenti. Setiap zaman melahirkan pandangan baru yang menantang paradigma lama. Positivisme yang lahir pada abad ke-19 dari pemikiran Auguste Comte sempat mendominasi cara pandang ilmuwan dalam memahami realitas. Paradigma ini meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus objektif, bebas nilai, dan hanya dapat dihasilkan dari observasi yang terukur. Namun, seiring perkembangan zaman, muncul kritik bahwa positivisme terlalu kaku dalam melihat realitas yang kompleks. Dari kritik inilah lahir post-positivisme, sebuah aliran yang tidak menolak sains, tetapi mencoba memperbaikinya dengan cara yang lebih realistis dan kritis.
Post-positivisme bukan sekadar antitesis dari positivisme, melainkan juga penyempurnaan. Ia mengakui pentingnya metode ilmiah, tetapi juga menegaskan keterbatasan manusia dalam mencapai kebenaran mutlak. Dengan kata lain, post-positivisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan selalu bersifat tentatif, terbuka untuk diuji, dan tidak pernah final. Artikel ini akan membahas secara panjang lebar mengenai definisi, ciri-ciri, tokoh, jenis-jenis pendekatan, hingga pengaruh post-positivisme dalam penelitian modern.
Baca juga: Realitas Sosial: Pemahaman, Jenis, dan Perannya dalam Kehidupan Masyarakat
Definisi Post-Positivisme
Post-positivisme dapat dipahami sebagai filsafat ilmu yang muncul sebagai reaksi terhadap kelemahan positivisme. Jika positivisme menekankan pada keyakinan bahwa kebenaran dapat ditemukan melalui observasi empiris yang objektif, post-positivisme justru menyatakan bahwa kebenaran empiris bersifat relatif dan tidak pernah bebas dari bias manusia. Dengan kata lain, penelitian ilmiah tidak bisa sepenuhnya netral karena peneliti membawa nilai, pengalaman, dan kerangka berpikir tertentu.
Definisi ini menjadikan post-positivisme sebagai sebuah filsafat yang lebih reflektif. Ia tidak menolak observasi, eksperimen, dan data, tetapi menganggap bahwa hasil penelitian selalu harus ditempatkan dalam konteks dan terbuka untuk dikritik. Di sinilah terlihat bahwa post-positivisme tidak bersifat mutlak, melainkan memberikan ruang bagi keragaman penafsiran atas realitas.
Latar Belakang Lahirnya Post-Positivisme
Post-positivisme lahir dari serangkaian kritik terhadap positivisme klasik. Pada awal abad ke-20, banyak ilmuwan yang mulai menyadari bahwa pendekatan positivistik tidak cukup mampu menjawab kompleksitas realitas sosial. Beberapa faktor penting yang melatarbelakangi lahirnya post-positivisme antara lain:
- Kritik terhadap objektivitas absolut: Positivisme percaya bahwa ilmu pengetahuan dapat sepenuhnya bebas nilai. Namun, dalam kenyataannya, hasil penelitian sering dipengaruhi oleh sudut pandang peneliti, budaya, maupun konteks sosial.
- Ketidakcukupan metode kuantitatif: Positivisme menekankan pengukuran, angka, dan statistik. Tetapi fenomena manusia tidak selalu bisa dijelaskan dengan angka semata, melainkan juga memerlukan interpretasi kualitatif.
- Perkembangan filsafat ilmu: Tokoh-tokoh seperti Karl Popper, Thomas Kuhn, dan Imre Lakatos menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang melalui kritik, falsifikasi, dan pergeseran paradigma.
- Kesadaran akan keterbatasan manusia: Post-positivisme lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak mungkin mencapai kebenaran mutlak, melainkan hanya mendekatinya melalui serangkaian pengujian.
Dengan latar belakang ini, post-positivisme menjadi jembatan antara tradisi positivisme dengan pendekatan yang lebih kritis dan reflektif.
Ciri-ciri Post-Positivisme
Untuk memahami lebih jelas, penting untuk mengenali ciri-ciri utama post-positivisme. Ciri-ciri ini sekaligus membedakan post-positivisme dari positivisme klasik.
- Ilmu pengetahuan bersifat tentatif: Tidak ada kebenaran absolut dalam penelitian. Semua temuan dapat diuji ulang, dikritik, bahkan direvisi.
- Mengakui peran subjektivitas: Peneliti membawa latar belakang, nilai, dan pengalaman yang memengaruhi hasil penelitian.
- Menggunakan pendekatan kritis: Post-positivisme menekankan pentingnya kritik dalam ilmu pengetahuan. Sebuah teori hanya dapat bertahan jika mampu melewati uji falsifikasi.
- Kombinasi metode penelitian: Pendekatan ini membuka diri pada penggunaan metode kuantitatif maupun kualitatif, bahkan gabungan keduanya (mixed methods).
- Kebenaran relatif dan kontekstual: Post-positivisme mengakui bahwa hasil penelitian bisa berbeda tergantung situasi, budaya, dan perspektif yang digunakan.
Ciri-ciri ini membuat post-positivisme lebih fleksibel dan sesuai dengan tantangan penelitian di era modern.
Tokoh-tokoh Post-Positivisme
Munculnya post-positivisme tidak terlepas dari gagasan beberapa tokoh besar dalam filsafat ilmu. Mereka memberikan fondasi teoritis yang memperkaya paradigma ini.
- Karl Popper: Popper dikenal dengan konsep falsifikasi. Menurutnya, teori ilmiah tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara mutlak, tetapi hanya bisa diuji salahnya. Jika sebuah teori mampu bertahan dari berbagai upaya falsifikasi, maka ia dianggap kuat, tetapi tetap tentatif.
- Thomas Kuhn: Kuhn memperkenalkan konsep paradigma dan revolusi ilmiah. Ia menegaskan bahwa ilmu berkembang bukan secara linear, melainkan melalui pergeseran paradigma ketika teori lama tidak lagi mampu menjelaskan fenomena baru.
- Imre Lakatos: Lakatos mengembangkan teori program riset ilmiah. Ia menekankan bahwa perkembangan ilmu merupakan hasil dari serangkaian program riset yang saling bersaing dan dipertahankan melalui modifikasi teori.
- Paul Feyerabend: Feyerabend menolak aturan baku dalam metode ilmiah. Baginya, tidak ada satu metode yang superior. Ia bahkan mengatakan bahwa dalam perkembangan ilmu, “anything goes” selama dapat memperluas pemahaman manusia.
Tokoh-tokoh ini memberikan pijakan bahwa ilmu tidak bisa dipandang hanya dari satu perspektif tunggal, melainkan selalu terbuka untuk interpretasi dan perubahan.
Jenis-jenis Pendekatan dalam Post-Positivisme
Post-positivisme tidak bersifat tunggal, melainkan terdiri dari berbagai pendekatan yang memiliki fokus berbeda. Setiap jenis pendekatan memberi warna tersendiri dalam cara pandang terhadap ilmu.
1. Falsifikasi
Pendekatan ini berakar dari pemikiran Karl Popper. Ia menekankan bahwa penelitian tidak bertujuan membuktikan teori benar, tetapi justru berusaha menguji kesalahannya. Teori yang gagal diuji falsifikasi harus ditinggalkan atau diperbaiki.
2. Paradigma Ilmiah
Diperkenalkan oleh Thomas Kuhn, pendekatan ini melihat ilmu berkembang melalui pergeseran paradigma. Paradigma lama bisa runtuh jika anomali yang tidak dapat dijelaskan semakin banyak, lalu digantikan oleh paradigma baru.
3. Program Riset
Imre Lakatos menekankan bahwa teori-teori ilmiah berkembang dalam kerangka program riset. Program ini memiliki inti yang dipertahankan, tetapi bagian pinggirannya bisa dimodifikasi agar tetap relevan.
4. Anarkisme Epistemologis
Paul Feyerabend menawarkan pendekatan radikal dengan menolak aturan metodologi tunggal. Menurutnya, perkembangan ilmu justru lebih kreatif jika tidak dibatasi oleh aturan yang kaku.
Setiap pendekatan ini menunjukkan bahwa post-positivisme bersifat plural dan terbuka terhadap berbagai cara memahami ilmu pengetahuan

Perbedaan Positivisme dan Post-Positivisme
Meskipun saling berkaitan, positivisme dan post-positivisme memiliki perbedaan mendasar. Positivisme menekankan objektivitas, kuantifikasi, dan pencarian hukum universal. Sementara itu, post-positivisme lebih fleksibel dengan mengakui keterbatasan manusia, membuka diri pada metode kualitatif, dan menekankan sifat tentatif dari kebenaran ilmiah.
Jika positivisme berupaya menghilangkan subjektivitas, post-positivisme justru mengakui keberadaannya sebagai bagian dari realitas penelitian. Perbedaan ini membuat post-positivisme lebih relevan untuk penelitian sosial dan humaniora, meskipun juga tetap digunakan dalam ilmu alam.
Implikasi Post-Positivisme dalam Penelitian
Post-positivisme memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan metode penelitian modern. Beberapa implikasinya antara lain:
- Penggunaan metode campuran: Banyak penelitian sekarang menggunakan mixed methods, yaitu menggabungkan kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif.
- Kritik dan refleksi dalam penelitian: Peneliti tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga merefleksikan bagaimana posisi dirinya memengaruhi hasil penelitian.
- Kebenaran bersifat kontekstual: Hasil penelitian diakui sebagai sesuatu yang berlaku pada konteks tertentu, bukan kebenaran universal yang berlaku selamanya.
- Perkembangan teori yang dinamis: Teori tidak dianggap final, melainkan selalu terbuka untuk diperbaiki dan dikritik sesuai temuan baru.
Implikasi ini membuat post-positivisme menjadi paradigma yang sangat penting dalam dunia akademik saat ini.
Kritik terhadap Post-Positivisme
Meskipun post-positivisme dianggap lebih maju dibanding positivisme, tetap ada kritik yang dilayangkan kepadanya. Beberapa kritik tersebut antara lain:
- Post-positivisme dianggap masih menyisakan bias karena tetap menggunakan kerangka ilmiah ala positivisme.
- Ada yang menilai bahwa konsep falsifikasi terlalu ideal, karena dalam praktik banyak teori tetap dipertahankan meskipun ada bukti yang melemahkan.
- Pendekatan ini juga dituduh membingungkan karena terlalu plural dan tidak memberikan aturan metodologis yang jelas.
Namun demikian, kritik ini tidak serta-merta melemahkan post-positivisme. Justru kritik menjadi bukti bahwa paradigma ini terus diuji dan diperbaiki, sesuai dengan prinsipnya sendiri.
Relevansi Post-Positivisme di Era Digital
Di era digital saat ini, post-positivisme menjadi semakin relevan. Informasi yang begitu melimpah membuat kita menyadari bahwa kebenaran tidak bisa hanya dilihat dari satu sumber. Penelitian di bidang sosial, pendidikan, komunikasi, hingga teknologi banyak menggunakan paradigma post-positivisme untuk memahami realitas yang kompleks.
Selain itu, dunia digital juga menunjukkan bahwa kebenaran sangat bergantung pada konteks dan interpretasi. Sebuah fenomena bisa memiliki makna berbeda bagi kelompok yang berbeda. Hal ini sejalan dengan gagasan post-positivisme tentang kebenaran yang bersifat relatif.
Baca juga: Pengalaman Subjek: Memahami Makna, Jenis, dan Penerapannya
Kesimpulan
Post-positivisme hadir sebagai koreksi terhadap kelemahan positivisme yang terlalu kaku dalam melihat realitas.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.








