Ontologi Penelitian Kualitatif

AI Pencari Jurnal: Revolusi Riset di Era Digital

Dalam dunia penelitian, terutama dalam ranah ilmu sosial dan humaniora, pemahaman terhadap landasan filosofis sangat penting. Salah satu pilar utama dalam landasan filosofis ini adalah ontologi. Ontologi bukan sekadar istilah abstrak dalam filsafat, tetapi menjadi pondasi dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi penelitian, khususnya dalam pendekatan kualitatif. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai ontologi dalam penelitian kualitatif, termasuk pengertian, peran, implikasi terhadap desain penelitian, serta perbedaannya dengan pendekatan ontologis dalam penelitian kuantitatif.

Baca juga: Ontologi dan Aksiologi: Fondasi Filsafat dalam Menafsirkan Realitas dan Nilai

Pengertian Ontologi dalam Konteks Penelitian

Secara etimologis, ontologi berasal dari bahasa Yunani “ontos” yang berarti “keberadaan” atau “yang ada” dan “logos” yang berarti “ilmu” atau “kajian”. Dalam konteks filsafat, ontologi adalah cabang yang membahas tentang hakikat realitas atau keberadaan. Dalam penelitian, ontologi merujuk pada asumsi dasar tentang apa yang dianggap sebagai realitas dan bagaimana realitas itu dapat dipahami.

Sementara dalam penelitian kualitatif, ontologi menjadi dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah realitas itu tunggal atau jamak? Apakah realitas bersifat objektif dan dapat diukur, ataukah realitas itu subjektif dan bergantung pada pengalaman individu?

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting, karena akan memengaruhi bagaimana peneliti memandang subjek yang diteliti, metode pengumpulan data yang digunakan, hingga bagaimana data dianalisis dan diinterpretasikan.

Ontologi dan Pendekatan Kualitatif

Penelitian kualitatif dibangun di atas asumsi bahwa realitas bersifat jamak, kompleks, dan dibentuk oleh pengalaman subjektif individu. Dengan demikian, ontologi dalam penelitian kualitatif bersifat relativistik, artinya kebenaran tidak tunggal, melainkan bergantung pada konteks sosial, budaya, dan pengalaman individu.

Dalam pendekatan ini, peneliti tidak memosisikan diri sebagai pengamat netral, melainkan sebagai bagian dari proses konstruksi makna. Peneliti mengakui bahwa keberadaannya, nilai-nilainya, serta interaksinya dengan partisipan akan memengaruhi hasil penelitian. Oleh sebab itu, pendekatan ontologis dalam penelitian kualitatif menekankan pada pemahaman mendalam terhadap makna yang diberikan individu atau kelompok terhadap pengalaman mereka.

Ciri-Ciri Ontologi Kualitatif

Berikut merupakan ciri-ciri ontologi kualitatif:

  1. Subjektivitas Realitas: Realitas dilihat sebagai sesuatu yang subjektif dan bergantung pada cara individu memaknainya.
  2. Jamakan Kebenaran: Tidak ada satu kebenaran absolut, melainkan banyak kebenaran yang tergantung pada perspektif orang yang mengalaminya.
  3. Konstektualitas: Realitas dipahami dalam konteks sosial, budaya, dan historis tertentu.
  4. Konstruktivisme: Realitas tidak ditemukan, melainkan dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman individu.

Ontologi Kualitatif vs Ontologi Kuantitatif

Untuk memahami peran penting ontologi dalam penelitian kualitatif, penting juga untuk membandingkannya dengan pendekatan kuantitatif. Ontologi dalam penelitian kuantitatif cenderung bersifat realistis atau positivistik, yang mengasumsikan bahwa realitas bersifat objektif, stabil, dan dapat diukur secara independen dari persepsi individu.

Dalam pendekatan kuantitatif:

  • Realitas dianggap satu dan objektif.
  • Kebenaran dapat ditemukan melalui metode ilmiah yang ketat.
  • Peneliti berperan sebagai pengamat netral.
  • Data bersifat numerik dan diolah secara statistik.

Sebaliknya, dalam pendekatan kualitatif:

  • Realitas dianggap jamak dan bergantung pada pengalaman individu.
  • Kebenaran dibangun melalui interaksi sosial dan tidak bersifat absolut.
  • Peneliti menjadi bagian dari proses interpretasi.
  • Data bersifat naratif, deskriptif, dan kaya konteks.

Implikasi Ontologi terhadap Desain Penelitian Kualitatif

Asumsi ontologis dalam penelitian kualitatif memiliki dampak langsung terhadap seluruh proses penelitian. Mulai dari perumusan masalah, pemilihan metode, proses pengumpulan data, hingga analisis dan penyajian hasil penelitian.

  1. Perumusan Masalah Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, masalah penelitian tidak dirumuskan secara ketat sejak awal. Sebaliknya, masalah berkembang seiring dengan proses penelitian. Karena realitas dipandang kompleks dan subjektif, peneliti lebih terbuka terhadap perubahan fokus penelitian berdasarkan temuan lapangan.

Contoh: Alih-alih bertanya “Berapa persen siswa yang mengalami kecemasan?”, peneliti kualitatif akan bertanya “Bagaimana pengalaman siswa dalam menghadapi kecemasan selama ujian?”

  1. Pemilihan Subjek Penelitian

Ontologi kualitatif mendorong pemilihan partisipan secara purposif, yaitu mereka yang dianggap memiliki pengalaman dan informasi relevan. Peneliti mencari individu yang dapat memberikan wawasan mendalam terhadap fenomena yang diteliti, bukan yang mewakili populasi secara statistik.

  1. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan harus memungkinkan partisipan mengekspresikan pandangannya secara bebas dan mendalam. Oleh karena itu, metode seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen lebih sesuai dengan ontologi kualitatif.

  1. Peran Peneliti

Dalam kerangka ontologi kualitatif, peneliti adalah instrumen utama penelitian. Peneliti tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga menginterpretasikannya melalui lensa sosial dan budayanya sendiri. Oleh karena itu, refleksivitas (kemampuan merenungkan posisi dan pengaruh pribadi dalam proses penelitian) menjadi aspek penting.

  1. Analisis dan Interpretasi Data

Analisis data dalam pendekatan kualitatif bukan bertujuan menemukan hukum universal, melainkan memahami makna subjektif dan membangun narasi atau teori dari bawah (bottom-up). Teknik seperti analisis tematik, analisis naratif, grounded theory, atau fenomenologi digunakan untuk menggali makna yang tersembunyi di balik pengalaman partisipan.

  1. Validitas dan Keabsahan

Karena ontologi kualitatif menolak objektivitas mutlak, maka kriteria validitas dan reliabilitas kuantitatif tidak diterapkan secara langsung. Sebagai gantinya, kualitatif menggunakan kriteria seperti:

  • Kredibilitas (credibility)
  • Transferabilitas (transferability)
  • Dependabilitas (dependability)
  • Konfirmabilitas (confirmability)

Paradigma Ontologis dalam Penelitian Kualitatif

Ontologi dalam penelitian kualitatif tidak berdiri sendiri, tetapi selalu terkait dengan epistemologi (cara memperoleh pengetahuan) dan metodologi (cara untuk mendapatkan data). Tiga paradigma utama yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah:

  1. Konstruktivisme

Paradigma ini memandang bahwa realitas dibentuk secara sosial melalui interaksi dan pengalaman. Penelitian bertujuan memahami konstruksi sosial atas realitas dari perspektif partisipan. Wawancara mendalam dan observasi menjadi metode utama.

  1. Interpretivisme

Paradigma ini menekankan pentingnya interpretasi terhadap makna sosial. Peneliti mencoba memahami dunia sosial dari sudut pandang orang yang berada di dalamnya. Analisis bersifat subjektif, kontekstual, dan naratif.

  1. Kritikal

Paradigma kritikal tidak hanya berusaha memahami realitas, tetapi juga ingin mengubahnya. Peneliti memandang realitas sosial sebagai hasil dari relasi kuasa dan struktur sosial yang timpang. Tujuan penelitian adalah memberdayakan dan menciptakan perubahan sosial.

Studi Kasus: Ontologi dalam Penelitian Fenomenologis

Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pengalaman para perawat yang menangani pasien COVID-19 di ruang isolasi. Dengan pendekatan fenomenologi, peneliti tidak bertujuan mencari frekuensi atau angka, tetapi ingin memahami bagaimana perawat memaknai pengalaman mereka secara mendalam.

Ontologi penelitian ini berasumsi bahwa:

  • Pengalaman setiap perawat adalah unik dan subjektif.
  • Tidak ada satu “kebenaran” tentang bagaimana rasanya merawat pasien COVID-19, melainkan banyak versi kebenaran berdasarkan pengalaman masing-masing.
  • Peneliti harus memahami makna pengalaman itu melalui lensa para partisipan, bukan melalui interpretasi objektif semata.

Tantangan dalam Menerapkan Ontologi Kualitatif

Berikut tantangan yang perlu Anda ketahui dalam penerapan ontologi kualitatif:

  1. Tuduhan Kurang Objektif

Penelitian kualitatif sering dianggap kurang objektif karena subjektivitas peneliti dan partisipan sangat kuat. Padahal, dalam kerangka ontologis kualitatif, subjektivitas justru menjadi sumber kekayaan data.

  1. Kesulitan Replikasi

Karena data kualitatif bersifat kontekstual, maka hasil penelitian sulit direplikasi dalam konteks berbeda. Namun, transferabilitas (apakah hasil bisa diterapkan pada konteks serupa) menjadi alternatif yang digunakan.

  1. Penolakan dari Kalangan Positivistik

Beberapa akademisi yang menganut paradigma positivistik masih memandang sebelah mata pendekatan kualitatif. Mereka menganggap bahwa hanya data yang dapat diukur secara statistik yang valid secara ilmiah.

  1. Refleksivitas Peneliti

Peneliti dituntut memiliki kemampuan reflektif tinggi agar tidak larut dalam bias pribadi saat menginterpretasi data. Proses ini membutuhkan latihan dan kesadaran filosofis yang mendalam.

Baca juga: Ontologi dan Epistemologi: Pilar Utama Filsafat Ilmu

Penutup

Ontologi dalam penelitian kualitatif merupakan fondasi penting yang menentukan arah dan cara peneliti memahami realitas sosial. Dengan memahami bahwa realitas bersifat subjektif, jamak, dan dibentuk oleh pengalaman individu, penelitian kualitatif membuka ruang bagi pemahaman yang lebih mendalam, kontekstual, dan humanistik terhadap fenomena sosial.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal