Penelitian ilmiah merupakan proses sistematis yang bertujuan untuk menemukan, membuktikan, atau mengembangkan pengetahuan baru. Dalam penelitian, terdapat pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakteristik data dan tujuan studi. Dua pendekatan utama yang umum digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Keduanya dibangun di atas fondasi filsafat ilmu yang melibatkan tiga dimensi penting: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Dari ketiga dimensi tersebut, ontologi menempati posisi krusial karena menyangkut hakikat realitas yang dikaji oleh penelitian. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif mengenai ontologi dalam penelitian kuantitatif. Pembahasan mencakup definisi ontologi, karakteristik utama ontologi kuantitatif, hubungan ontologi dengan metode penelitian, serta implikasi praktisnya dalam dunia akademik dan sosial.
Baca juga: Ontologi Penelitian Kualitatif
Pengertian Ontologi
Secara etimologis, istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos (yang berarti “ada”) dan logos (yang berarti “ilmu” atau “studi”). Maka, secara harfiah ontologi berarti studi tentang keberadaan atau “apa yang ada”. Dalam konteks filsafat ilmu, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat realitas, struktur eksistensi, dan apa yang dianggap benar-benar ada dalam dunia ini.
Dalam penelitian ilmiah, ontologi membantu peneliti memahami apa yang dianggap sebagai realitas, bagaimana realitas itu terbentuk, dan sejauh mana realitas itu bisa diamati atau diukur. Pilihan ontologi seorang peneliti akan memengaruhi cara ia memandang objek studi, menyusun desain penelitian, serta menafsirkan hasil yang ditemukan.
Pendekatan Kuantitatif: Pandangan Umum
Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang berakar pada filsafat positivisme atau post-positivisme. Pendekatan ini mengedepankan pengukuran numerik, penggunaan statistik, dan pengujian hipotesis. Fokus utama dari penelitian kuantitatif adalah mengungkap hubungan antar variabel, mencari pola dalam data, serta menggeneralisasi temuan dari sampel ke populasi.
Dalam penelitian kuantitatif, realitas dianggap objektif, tetap, dan dapat diukur. Oleh karena itu, peneliti bertindak sebagai pengamat netral yang tidak memengaruhi objek studi. Dengan kata lain, dunia dianggap dapat diketahui sepenuhnya melalui pengamatan empiris dan logika deduktif.
Ontologi dalam Penelitian Kuantitatif
alam pendekatan kuantitatif didasarkan pada asumsi bahwa:
- Realitas bersifat objektif dan independen dari peneliti.
- Fenomena sosial dan alamiah dapat dijelaskan dengan hukum yang universal.
- Realitas dapat dipisahkan dari subjektivitas manusia dan dijelaskan dengan model matematis.
Ontologi ini bersesuaian dengan pandangan positivistik yang memandang dunia sebagai satu kesatuan realitas yang bisa dijelaskan melalui aturan-aturan yang tetap dan terukur. Pendekatan ini menekankan bahwa apa yang “ada” adalah sesuatu yang dapat diamati, diukur, dan dikalkulasi.
Contoh dalam Praktik
Sebagai contoh, dalam penelitian kuantitatif tentang pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan, peneliti akan menganggap bahwa:
- Terdapat variabel “gaya kepemimpinan” dan “kinerja” yang bisa diukur menggunakan instrumen tertentu.
- Hubungan antara kedua variabel tersebut bersifat kausal dan dapat diuji melalui statistik inferensial.
- Data yang diperoleh dari responden mencerminkan realitas yang objektif dan bisa digeneralisasi.
Ciri-ciri Ontologi Kuantitatif
Untuk memahami ontologi kuantitatif lebih dalam, berikut ini beberapa ciri khas yang melekat:
- Objektivitas Realitas
Penelitian kuantitatif memandang bahwa realitas ada secara independen dari pikiran manusia. Artinya, sesuatu itu ada meskipun tidak dipikirkan atau diinterpretasikan. Tugas peneliti adalah menemukan dan mendeskripsikan realitas itu secara objektif.
- Determinisme
Ontologi kuantitatif bersifat deterministik. Artinya, fenomena terjadi sebagai akibat dari faktor-faktor tertentu. Tidak ada peristiwa yang benar-benar acak; semuanya bisa dijelaskan dengan sebab-akibat.
- Generalisasi
Karena realitas dianggap homogen dan dapat dijelaskan melalui hukum universal, hasil penelitian kuantitatif bisa digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas, selama prosedur sampling dilakukan secara benar.
- Reduksionisme
Dalam ontologi kuantitatif, fenomena kompleks direduksi menjadi bagian-bagian yang bisa diukur. Misalnya, kecerdasan emosional dipecah menjadi beberapa indikator seperti empati, kontrol diri, dan kesadaran sosial.
Perbandingan dengan Ontologi Kualitatif
Untuk memperjelas karakteristik ontologi kuantitatif, berikut adalah perbandingannya dengan ontologi dalam pendekatan kualitatif:
1. Sifat Realitas
- Ontologi Kuantitatif:
Realitas dianggap objektif, nyata, dan eksis secara independen dari peneliti. Apa yang diteliti bisa diukur dan diamati dengan alat atau instrumen yang tepat. - Ontologi Kualitatif:
Realitas dianggap subjektif dan terbentuk melalui pengalaman manusia. Tiap individu mungkin memiliki makna dan persepsi yang berbeda terhadap hal yang sama.
2. Sumber Pengetahuan
- Kuantitatif:
Pengetahuan diperoleh melalui pengukuran yang ketat dan sistematis serta pengujian hipotesis. Ilmu berkembang dari data yang dapat diverifikasi secara empiris. - Kualitatif:
Pengetahuan muncul dari interpretasi terhadap makna subjektif, wawancara mendalam, narasi, dan interaksi sosial. Tidak bergantung pada angka, tapi pada pemahaman konteks.
3. Hubungan Peneliti dengan Subjek Penelitian
- Kuantitatif:
Peneliti bersifat netral dan harus menjaga jarak dari subjek penelitian untuk menghindari bias. Posisi peneliti adalah pengamat objektif. - Kualitatif:
Peneliti berinteraksi langsung dengan partisipan dan bahkan bisa terlibat emosional atau reflektif. Peneliti dianggap sebagai bagian dari proses makna yang diteliti.
4. Sifat Kebenaran
- Kuantitatif:
Kebenaran dianggap tunggal dan dapat digeneralisasi. Jika suatu temuan benar, maka bisa diterapkan secara luas dalam kondisi yang sama. - Kualitatif:
Kebenaran dianggap jamak dan kontekstual. Apa yang benar dalam satu kelompok atau budaya, belum tentu berlaku pada yang lain.
5. Tujuan Penelitian
- Kuantitatif:
Untuk mengukur, membuktikan hubungan antar variabel, menguji teori, dan memprediksi fenomena. - Kualitatif:
Untuk memahami makna, menggali pengalaman subjektif, mengeksplorasi fenomena yang belum banyak diketahui, dan menghasilkan teori baru.
6. Cara Melihat Objek Penelitian
- Kuantitatif:
Objek diperlakukan sebagai variabel yang bisa dikendalikan, diukur, dan dihitung. Fenomena dipandang sebagai sistem yang dapat dijelaskan secara matematis. - Kualitatif:
Objek diperlakukan sebagai makhluk hidup, pengalaman, atau peristiwa yang kaya makna dan kompleks. Tidak bisa direduksi hanya menjadi angka.
Konsekuensi Ontologi Kuantitatif terhadap Desain Penelitian
Karena ontologi mempengaruhi seluruh struktur penelitian, berikut beberapa implikasi ontologi kuantitatif terhadap komponen penelitian:
- Rumusan Masalah: Masalah penelitian dirumuskan secara spesifik dan terukur. Contoh: “Apakah terdapat pengaruh signifikan antara metode belajar daring dan hasil belajar siswa kelas X?”
- Hipotesis: Penelitian kuantitatif selalu diawali dengan hipotesis yang dirumuskan secara deduktif dari teori. Hipotesis ini kemudian diuji secara empiris.
- Pengumpulan Data: Data dikumpulkan menggunakan instrumen standar seperti angket, kuesioner, atau tes tertulis. Validitas dan reliabilitas instrumen sangat dijaga.
- Analisis Data: Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, seperti regresi, ANOVA, atau uji t. Analisis bertujuan untuk menguji hipotesis dan menarik kesimpulan yang objektif.
- Interpretasi Hasil: Interpretasi dilakukan berdasarkan angka dan signifikansi statistik, bukan pada konteks naratif atau subjektivitas partisipan.
Kelebihan Ontologi Kuantitatif
Ontologi kuantitatif memberikan sejumlah kelebihan yang menjadikannya sangat cocok untuk situasi tertentu, seperti:
- Keterukuran dan Kepastian: Realitas dapat diukur dengan presisi.
- Uji Kausalitas: Memungkinkan pengujian hubungan sebab-akibat.
- Generalisasi: Hasil penelitian dapat diterapkan pada populasi lebih luas.
- Efisiensi: Pengumpulan dan analisis data lebih cepat dibandingkan kualitatif.
Keterbatasan Ontologi Kuantitatif
Meskipun menawarkan banyak keuntungan, ontologi kuantitatif juga memiliki keterbatasan:
- Mengabaikan Subjektivitas: Realitas sosial sering kali dipengaruhi oleh makna yang diciptakan oleh individu. Ini sulit ditangkap melalui angka.
- Kurang Kontekstual: Pendekatan kuantitatif cenderung mengabaikan konteks budaya, sosial, dan emosional.
- Reduksionisme: Fenomena kompleks sering direduksi menjadi angka yang tidak selalu mencerminkan kedalaman makna sebenarnya.
- Tidak Cocok untuk Pertanyaan Eksploratif: Ketika peneliti belum memahami sepenuhnya tentang fenomena, pendekatan kualitatif bisa lebih tepat.
Evolusi Ontologi Kuantitatif: Dari Positivisme ke Post-Positivisme
Walaupun awalnya kuantitatif berpijak pada positivisme murni, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, banyak peneliti kini mengadopsi pendekatan post-positivistik. Dalam pendekatan ini, diakui bahwa:
- Realitas memang ada, tetapi pemahaman kita terhadap realitas selalu bersifat sementara dan terbatas.
- Peneliti tidak sepenuhnya netral, sehingga perlu kontrol bias.
- Validitas dan reliabilitas tetap penting, tetapi disertai dengan keterbukaan terhadap revisi teori.
Dengan kata lain, post-positivisme memberikan ruang untuk keraguan ilmiah dan kesadaran bahwa pengetahuan ilmiah bersifat sementara.
Relevansi Ontologi Kuantitatif di Era Digital
Di era digital saat ini, di mana data besar (big data) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) mendominasi, pendekatan kuantitatif menjadi semakin relevan. Ontologi kuantitatif yang berbasis pada pengukuran dan analisis statistik sangat cocok untuk menganalisis data dalam jumlah besar, seperti perilaku pengguna media sosial, pola konsumsi, atau prediksi pasar.
Namun demikian, tetap dibutuhkan kolaborasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif agar pemahaman terhadap realitas menjadi lebih utuh. Di sinilah muncul pendekatan mixed-methods yang mencoba mengintegrasikan kekuatan kedua pendekatan.
Baca juga: Ontologi dan Aksiologi: Fondasi Filsafat dalam Menafsirkan Realitas dan Nilai
Kesimpulan
Ontologi penelitian kuantitatif memandang realitas sebagai sesuatu yang objektif, tetap, dan dapat diukur secara numerik. Ontologi ini membentuk kerangka berpikir peneliti dalam menyusun hipotesis, memilih metode, dan menafsirkan data. Berakar pada positivisme dan berkembang menuju post-positivisme, pendekatan kuantitatif tetap menjadi salah satu pilar utama dalam dunia penelitian ilmiah, terutama dalam bidang ilmu alam, pendidikan, ekonomi, hingga psikologi eksperimental.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

