Dalam dunia filsafat ilmu, pendekatan terhadap pengetahuan dan realitas sangatlah beragam. Salah satu pendekatan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern adalah pendekatan positivisme. Pendekatan ini menekankan pentingnya observasi empiris, logika, dan metode ilmiah sebagai cara utama untuk memahami dunia. Dalam pendekatan ini, ontologi yakni pandangan tentang hakikat realitas, memegang peran sentral karena menjadi dasar dari semua bentuk analisis ilmiah. Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang ontologi pendekatan positivisme, bagaimana ia berkembang, prinsip-prinsip dasarnya, serta implikasinya dalam riset dan ilmu pengetahuan.
Baca juga: Ontologi Penelitian Kuantitatif
Pengertian Ontologi dan Positivisme
Ontologi berasal dari bahasa Yunani ontos (berarti “yang ada”) dan logos (berarti “ilmu” atau “kajian”). Dalam konteks filsafat, ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa yang ada, apa yang nyata, dan apa hakikat dari eksistensi itu sendiri. Ontologi sering dianggap sebagai cabang filsafat metafisika yang mengkaji struktur realitas.
Dalam penelitian ilmiah, ontologi menjelaskan bagaimana peneliti memandang realitas. Apakah realitas itu bersifat tetap dan objektif? Ataukah realitas bersifat subjektif dan bergantung pada persepsi manusia?
Apa itu Positivisme?
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa satu-satunya pengetahuan yang valid adalah yang berasal dari fakta-fakta yang dapat diamati secara empiris dan dapat diverifikasi melalui metode ilmiah. Positivisme menolak semua bentuk spekulasi metafisik atau klaim yang tidak bisa dibuktikan secara empiris.
Tokoh utama positivisme adalah Auguste Comte, seorang filsuf Prancis abad ke-19. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan harus berfokus pada hal-hal yang positif, dalam arti yang dapat diverifikasi, dapat diukur, dan dapat diamati. Bagi Comte, ilmu sosial pun harus mengikuti metode yang sama seperti ilmu alam.
Ontologi dalam Pendekatan Positivisme
Dalam kerangka positivisme, ontologi yang digunakan adalah realisme objektif. Artinya, pendekatan ini meyakini bahwa:
- Realitas ada di luar pikiran manusia.
- Realitas bersifat tetap dan stabil.
- Realitas dapat diobservasi, diukur, dan dipahami melalui metode ilmiah.
- Peneliti dapat mengamati realitas tanpa mempengaruhinya.
Ontologi positivisme mengasumsikan bahwa dunia memiliki struktur tertentu yang dapat diungkap melalui observasi dan eksperimen. Fakta-fakta ilmiah dianggap dapat berdiri sendiri, tanpa dipengaruhi oleh interpretasi subjektif peneliti.
Realitas sebagai Entitas Objektif
Bagi positivis, realitas tidak bergantung pada pikiran atau persepsi manusia. Misalnya, hukum gravitasi tetap berlaku meskipun tidak ada manusia yang menyadarinya. Kenyataan seperti itu bersifat objektif dan universal.
Hal ini menjadi dasar bagi keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dapat menghasilkan kebenaran universal. Ilmuwan hanya perlu mengamati dan mencatat fakta secara sistematis untuk menemukan hukum-hukum alam yang mengatur realitas.
Asumsi Ontologis Pendekatan Positivisme
Beberapa asumsi ontologis yang menjadi dasar pendekatan positivisme antara lain:
1.Dualisme Subjek-Objek
Ontologi positivisme berangkat dari pemisahan yang tegas antara subjek (peneliti) dan objek (realitas yang diteliti). Peneliti dianggap dapat bersikap netral dan tidak mempengaruhi objek penelitian. Hal ini berbeda dengan pendekatan kualitatif yang cenderung mengaburkan batas antara subjek dan objek.
2.Determinisme
Realitas diatur oleh hukum-hukum alam yang tetap dan dapat diprediksi. Jika kita mengetahui penyebabnya, maka kita bisa memprediksi akibatnya. Inilah dasar dari prinsip kausalitas, yang sangat penting dalam pendekatan positivis.
3.Reduksionisme
Realitas yang kompleks dapat dipahami dengan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil. Dalam ilmu fisika misalnya, fenomena makro dijelaskan melalui partikel-partikel mikro. Dalam riset sosial pun, individu dipelajari sebagai unit analisis yang terpisah dari struktur sosial.
4.Empirisisme
Semua pengetahuan yang sahih harus bersumber dari pengalaman indrawi. Sesuatu baru bisa dikatakan nyata jika dapat diuji secara empiris. Oleh karena itu, intuisi, spekulasi, atau pengalaman subjektif tidak memiliki tempat dalam pendekatan positivisme.
Implikasi Ontologi Positivisme dalam Ilmu Pengetahuan
Pendekatan positivisme telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang ilmu alam seperti fisika, kimia, dan biologi. Namun, pendekatan ini juga digunakan dalam ilmu sosial, seperti sosiologi, ekonomi, dan psikologi, terutama dalam penelitian kuantitatif.
Beberapa implikasi pentingnya adalah:
- Penggunaan Metode Ilmiah: Karena meyakini bahwa realitas dapat diukur secara objektif, pendekatan positivisme menekankan pentingnya metode ilmiah seperti eksperimen, pengamatan terkontrol, dan statistik. Ilmu harus bebas dari bias dan berdasarkan bukti yang bisa diverifikasi.
- Validitas dan Reliabilitas: Dalam riset positivistik, dua konsep penting adalah validitas (apakah instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur) dan reliabilitas (apakah hasilnya konsisten dari waktu ke waktu). Ini mencerminkan keyakinan bahwa realitas itu tetap dan dapat diukur secara stabil.
- Generalisasi: Karena realitas dianggap universal dan stabil, maka hasil riset positivistik diharapkan bisa digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas. Hal ini membuat desain riset seperti survey dan eksperimen menjadi sangat populer dalam pendekatan ini.
- Peran Peneliti: Dalam pendekatan positivisme, peneliti dianggap sebagai pengamat netral yang tidak mempengaruhi data. Oleh karena itu, keberpihakan, nilai-nilai pribadi, dan interpretasi subjektif harus ditekan seminimal mungkin.
Kritik terhadap Ontologi Positivisme
Meskipun berpengaruh besar, pendekatan positivisme tidak luput dari kritik. Beberapa kritik utama terhadap ontologi positivisme adalah:
1.Pengabaian Dimensi Subjektif
Pendekatan ini sering dikritik karena mengabaikan aspek-aspek subjektif dari pengalaman manusia. Dalam ilmu sosial, persepsi, makna, dan nilai-nilai individu memainkan peran penting yang tidak bisa diukur dengan angka semata.
2.Tidak Netral Nilai
Walaupun positivisme mengklaim objektivitas, dalam praktiknya tidak ada pengetahuan yang benar-benar bebas nilai. Pemilihan topik penelitian, interpretasi data, dan penyajian hasil selalu melibatkan perspektif peneliti.
3.Ketidakmampuan Menjelaskan Fenomena Kompleks
Beberapa fenomena sosial seperti budaya, agama, atau makna tidak bisa dijelaskan secara reduksionis atau kuantitatif. Pendekatan positivisme dianggap terlalu sempit untuk memahami kompleksitas manusia dan masyarakat.
4.Dominasi Epistemologi Barat
Positivisme sering dianggap sebagai produk pemikiran Barat yang mencoba memaksakan standar ilmiah tertentu ke seluruh dunia. Banyak peneliti dari dunia berkembang yang menuntut pendekatan yang lebih inklusif dan kontekstual.
Perbandingan dengan Ontologi Pendekatan Lain
Untuk lebih memahami posisi ontologi positivisme, berikut perbandingannya dengan pendekatan lain:
1. Ontologi Positivisme (Realisme Objektif)
Dalam pendekatan positivisme, realitas dianggap ada secara independen dari kesadaran manusia. Realitas itu bersifat tetap, objektif, dan dapat diukur secara empiris. Peneliti yang menggunakan pendekatan ini percaya bahwa dunia luar dapat diamati, diklasifikasikan, dan dijelaskan dengan hukum-hukum yang berlaku universal. Oleh karena itu, peneliti bisa bertindak sebagai pengamat netral yang tidak mempengaruhi realitas yang diamatinya.
Ciri utama:
- Realitas bersifat objektif dan terpisah dari subjek.
- Ada hukum-hukum universal yang mengatur dunia nyata.
- Pengetahuan diperoleh melalui observasi dan eksperimen.
2. Ontologi Pendekatan Interpretatif (Realitas Sosial Subjektif)
Pendekatan interpretatif berangkat dari asumsi bahwa realitas sosial tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh interaksi, pemaknaan, dan pengalaman manusia. Realitas tidak bisa dipahami hanya lewat pengamatan luar, melainkan harus dimaknai melalui perspektif orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, peneliti bertindak bukan sebagai pengamat netral, melainkan sebagai bagian dari proses interpretasi makna.
Ciri utama:
- Realitas bersifat subjektif dan ditafsirkan oleh individu.
- Fokus pada pemaknaan, simbol, dan bahasa dalam kehidupan sosial.
- Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan narasi.
3. Ontologi Pendekatan Kritis (Realitas Historis-Politik)
Berbeda dari positivisme dan interpretatif, pendekatan kritis melihat realitas sebagai sesuatu yang terbentuk oleh struktur historis, ekonomi, dan kekuasaan. Meskipun realitas itu nyata, ia tidak netral. Pendekatan ini percaya bahwa realitas sering kali dikonstruksi oleh ideologi dominan yang menindas kelompok tertentu. Penelitian dalam pendekatan ini bertujuan untuk membongkar ketimpangan tersebut dan membawa perubahan sosial.
Ciri utama:
- Realitas dipengaruhi oleh konteks historis dan kekuasaan.
- Tujuan penelitian adalah pembebasan atau emansipasi sosial.
- Peneliti memiliki posisi ideologis yang jelas (tidak netral).
4. Ontologi Pendekatan Konstruktivisme (Realitas Dibangun Secara Sosial)
Konstruktivisme meyakini bahwa realitas bukan sesuatu yang ditemukan, melainkan dibentuk secara aktif melalui interaksi sosial dan bahasa. Tidak ada satu realitas tunggal yang mutlak; yang ada adalah banyak realitas yang dikonstruksi dalam konteks sosial tertentu. Dalam pendekatan ini, pengetahuan dipandang sebagai hasil dari konsensus sosial, dan bukan sebagai representasi langsung dari dunia objektif.
Ciri utama:
- Realitas bersifat jamak (plural) dan tergantung konteks sosial-budaya.
- Pengetahuan adalah hasil konstruksi sosial, bukan cerminan dari kenyataan objektif.
- Peneliti dan responden bersama-sama membentuk makna dalam proses penelitian.
Ontologi Positivisme dalam Penelitian
Dalam konteks penelitian, ontologi positivisme mendorong pendekatan yang bersifat deduktif, kuantitatif, dan eksperimental. Berikut adalah beberapa contoh aplikasinya:
- Penelitian Eksperimen: Misalnya, dalam penelitian pendidikan, peneliti ingin mengetahui pengaruh metode pembelajaran tertentu terhadap hasil belajar siswa. Peneliti membagi siswa menjadi dua kelompok (kontrol dan eksperimen), lalu mengukur perbedaannya secara statistik.
- Survei Skala Besar: Dalam bidang sosiologi, survei digunakan untuk mengukur tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Jawaban responden dikumpulkan, diolah secara statistik, dan kemudian digunakan untuk menyusun generalisasi.
- Pengujian Hipotesis: Pendekatan positivisme selalu diawali dengan hipotesis yang kemudian diuji melalui data empiris. Jika data mendukung hipotesis, maka teori dikonfirmasi; jika tidak, teori direvisi.
Positivisme dalam Era Modern
Dalam perkembangannya, positivisme juga mengalami pembaruan. Muncul varian seperti post-positivisme yang lebih terbuka terhadap dimensi subjektif dan keterbatasan metode ilmiah.
Post-positivisme tetap berpegang pada objektivitas, tetapi menyadari bahwa:
- Tidak ada observasi yang benar-benar bebas nilai.
- Realitas bisa dipahami dari berbagai perspektif.
- Validitas pengetahuan bersifat sementara dan bisa direvisi.
Baca juga: Ontologi Penelitian Kualitatif
Kesimpulan
Ontologi pendekatan positivisme menempatkan realitas sebagai sesuatu yang objektif, tetap, dan dapat diukur melalui metode ilmiah. Pendekatan ini telah menjadi fondasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern, terutama dalam penelitian kuantitatif dan eksperimental. Namun, ia juga menuai kritik karena cenderung mengabaikan dimensi subjektif, makna, dan kompleksitas sosial.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

