
Filsafat selalu diawali dengan pertanyaan mendasar: “Apa yang benar-benar ada?” Pertanyaan ini menjadi landasan dari cabang filsafat yang dikenal dengan istilah ontologi. Ontologi bukan sekadar pertanyaan spekulatif tanpa arah. Sebaliknya, ia adalah usaha sistematis dan mendalam untuk memahami hakikat realitas: apa yang ada, bagaimana ia ada, dan bagaimana struktur dari apa yang ada itu bisa dimengerti oleh akal manusia. Di dalam konteks filsafat modern dan kontemporer, ontologi menjadi alat penting untuk menganalisis struktur realitas, tidak hanya secara metafisik tetapi juga secara epistemologis dan bahkan dalam ranah ilmu pengetahuan.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara menyeluruh hubungan antara ontologi dan struktur realitas, mulai dari definisi, perkembangan pemikiran, pendekatan dari berbagai aliran filsafat, hingga relevansinya dalam kehidupan modern dan ilmu pengetahuan.
Baca juga: Ontologi dalam Linguistik
Pengertian Ontologi: Filsafat tentang Ada
Ontologi berasal dari bahasa Yunani ontos (yang ada) dan logos (ilmu atau studi). Dalam pengertian paling dasar, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang keberadaan atau being. Namun, pembahasan ontologi tidak berhenti pada sekadar pertanyaan “apakah sesuatu ada?”, tetapi lebih jauh menyelidiki “apa yang dimaksud dengan ‘ada’ itu sendiri?”
Ontologi mempertanyakan:
- Apa yang membuat sesuatu disebut sebagai ‘realitas’?
- Apakah realitas itu tunggal (monisme) atau jamak (pluralisme)?
- Apakah dunia hanya terdiri dari entitas fisik, atau juga entitas non-fisik seperti ide, nilai, atau jiwa?
Dengan kata lain, ontologi adalah landasan dari semua pernyataan filosofis lainnya karena ia menyusun kerangka konseptual dari segala hal yang mungkin dikatakan tentang dunia.
Struktur Realitas: Apa yang Membangun Keberadaan?
Struktur realitas merujuk pada cara-cara di mana keberadaan itu tersusun. Ia tidak hanya membicarakan bahwa sesuatu itu “ada”, tetapi bagaimana “yang ada” itu tersusun, berhubungan, dan membentuk sistem.
Pertanyaan yang diajukan meliputi:
- Apakah realitas itu bersifat material atau immaterial?
- Apakah entitas-entitas dalam realitas memiliki hirarki?
- Apakah ruang dan waktu merupakan bagian dari struktur realitas atau hanya kerangka persepsi manusia?
Dalam filsafat klasik hingga modern, struktur realitas dijelaskan melalui berbagai cara pandang, baik melalui kategori (seperti dalam filsafat Aristoteles), substansi dan aksiden (dalam skolastik), hingga konsep ruang-waktu dan medan energi dalam fisika kontemporer.
Ontologi dalam Tradisi Filsafat Klasik
Berikut ontologi dalam tradisi filsafat klasik:
- Plato dan Dunia Ide
Plato membagi realitas menjadi dua dunia:
- Dunia fenomena (dunia tampak): dunia fisik yang dapat berubah dan dapat dilihat dengan pancaindera.
- Dunia idea (dunia ide): dunia yang tetap, abadi, dan hanya bisa diakses melalui akal budi.
Bagi Plato, dunia ide adalah struktur terdalam dari realitas. Meja yang kita lihat bukanlah kenyataan sejati; kenyataan sejatinya adalah ‘ide meja’ yang bersifat universal. Dalam pandangan ini, struktur realitas bersifat hierarkis: dunia ide di atas dunia fisik.
- Aristoteles dan Substansi
Berbeda dengan gurunya, Plato, Aristoteles memandang bahwa substansi adalah dasar realitas. Ia memperkenalkan kategori-kategori ontologis seperti:
- Substansi (esensi suatu hal)
- Aksiden (atribut yang bisa berubah)
Menurut Aristoteles, struktur realitas dapat dijelaskan melalui gabungan bentuk (form) dan materi (matter), serta empat sebab (material, formal, efisien, final). Pendekatan ini lebih empiris dan menjadi dasar filsafat ilmiah hingga berabad-abad.
Ontologi dalam Filsafat Modern
Berikut ontologi dalam filsafat modern:
- Descartes dan Dualisme
René Descartes membagi realitas menjadi dua substansi:
- Res cogitans (substansi berpikir atau jiwa)
- Res extensa (substansi yang diperluas atau materi)
Dualisme Cartesian ini menjadi dasar dari perdebatan panjang dalam filsafat Barat, terutama mengenai hubungan antara pikiran dan tubuh. Struktur realitas menurut Descartes bersifat dikotomis, memisahkan antara mental dan fisik.
- Spinoza dan Monisme Substansial
Berbeda dari Descartes, Baruch Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan atau alam semesta itu sendiri. Segala hal yang ada adalah modus dari substansi tunggal ini. Dalam pandangan Spinoza, struktur realitas bersifat monistik dan deterministik.
- Kant dan Struktur Kognitif
Immanuel Kant menyatakan bahwa kita tidak bisa mengetahui “realitas pada dirinya” (noumenon). Yang kita ketahui adalah fenomena, yaitu realitas sebagaimana ia tampil kepada kita melalui bentuk-bentuk intuisi (ruang dan waktu) dan kategori-kategori akal. Struktur realitas, dalam hal ini, tidak hanya berada di luar, tapi juga dibentuk oleh struktur pikiran manusia.
Ontologi Kontemporer dan Struktur Realitas
Dalam filsafat kontemporer, banyak pendekatan baru dalam memahami ontologi dan struktur realitas.
- Fenomenologi: Realitas sebagai Pengalaman
Edmund Husserl dan Martin Heidegger melihat realitas bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dalam kesadaran. Ontologi dalam pendekatan fenomenologis lebih menekankan pada bagaimana sesuatu hadir dalam pengalaman manusia. Struktur realitas dilihat melalui struktur eksistensial manusia (Dasein), seperti being-in-the-world, waktu, dan keterlemparan (Geworfenheit).
- Realisme Kritis: Lapisan-Lapisan Realitas
Dalam pendekatan realisme kritis (Roy Bhaskar), realitas terdiri atas tiga tingkat:
- Empiris: apa yang kita alami
- Aktual: apa yang terjadi, baik kita alami atau tidak
- Real: struktur dan mekanisme yang menyebabkan kejadian
Struktur realitas bersifat berlapis dan tidak selalu langsung terlihat oleh pengalaman empiris. Ilmu pengetahuan bertugas untuk menyingkap lapisan-lapisan terdalam dari realitas.
- Ontologi dalam Sains: Fisika dan Kosmologi
Dalam fisika modern, terutama dalam teori kuantum dan relativitas, struktur realitas menjadi persoalan pelik. Apakah partikel subatomik benar-benar “ada”? Apa waktu bersifat absolut? Apakah realitas itu lokal atau non-lokal?
Beberapa ilmuwan bahkan mengajukan bahwa realitas bersifat informasi, seperti dalam teori digital physics yang melihat semesta sebagai hasil dari perhitungan logis. Ontologi dalam konteks ini menjadi perbincangan antara filsafat dan sains.
Ontologi Sosial dan Realitas Konstruktif
Tidak semua realitas bersifat fisik atau material. Ada realitas sosial, seperti negara, uang, agama, dan hukum, yang eksistensinya tergantung pada kesepakatan bersama dan bahasa.
Realisme Sosial vs Konstruktivisme
- Realisme sosial percaya bahwa struktur sosial memiliki kekuatan kausal dan independen dari individu.
- Konstruktivisme sosial berpendapat bahwa realitas sosial dikonstruksi melalui praktik sosial, bahasa, dan interaksi.
Misalnya, keberadaan uang tidak bermakna apa-apa tanpa sistem sosial yang memberinya nilai. Maka, dalam konteks ini, struktur realitas bukan hanya ditemukan, tetapi juga diciptakan.
Ontologi dan Bahasa: Hubungan Simbolik Realitas
Bahasa memainkan peran penting dalam membentuk dan mengungkapkan realitas. Filsuf seperti Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa:
- “Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku.”
Artinya, struktur realitas kita dipengaruhi oleh struktur bahasa. Jika kita tidak memiliki kata untuk suatu hal, kita mungkin tidak bisa memikirkannya secara jelas. Maka, realitas tidak hanya bersifat objektif, tetapi juga mediatif.
Struktur Realitas dalam Pandangan Timur
Tradisi filsafat Timur, seperti Hindu, Buddhisme, dan Taoisme, memiliki pendekatan ontologis yang berbeda dari Barat.
- Buddhisme: Sunyata dan Ketidakberadaan Diri: Dalam Buddhisme, realitas sejati adalah ketiadaan substansi tetap. Konsep sunyata (kosong) menyatakan bahwa segala hal bersifat saling bergantungan dan tidak memiliki eksistensi mandiri. Struktur realitas adalah relasional dan transien.
- Taoisme: Mengalir Bersama Tao: Taoisme memandang bahwa struktur realitas adalah dinamis dan mengalir, mengikuti prinsip Tao (jalan). Yang ada tidak dapat dipaksakan untuk diformulasikan secara tetap; ia harus dipahami secara intuitif.
Implikasi Ontologi dalam Kehidupan dan Ilmu Pengetahuan
Ontologi tidak hanya penting bagi filsuf. Ia juga memberikan fondasi untuk ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan etika dan politik. Beberapa implikasi penting antara lain:
- Ontologi dalam Ilmu Komputer dan AI: Dalam pengembangan kecerdasan buatan, ontology digunakan sebagai kerangka konseptual untuk mengatur pengetahuan, misalnya dalam sistem semantik web atau pengolahan data besar.
- Ontologi dalam Etika dan Politik: Pertanyaan tentang “manusia sebagai apa?” sangat mempengaruhi etika. Jika manusia dilihat sebagai agen rasional, maka hak dan tanggung jawab akan didefinisikan berbeda dibandingkan jika manusia dilihat sebagai makhluk sosial atau spiritual.
Baca juga: Ontologi dalam Studi Budaya
Penutup
Membahas ontologi dan struktur realitas berarti menggali pertanyaan yang menjadi fondasi bagi segala ilmu dan praktik kehidupan. Pertanyaan tentang apa yang ada, bagaimana ia tersusun, dan bagaimana kita bisa mengetahuinya adalah kunci bagi setiap bentuk pencarian kebenaran.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

