Dalam khazanah filsafat, terdapat tiga cabang utama yang menjadi pilar pemikiran manusia tentang realitas dan kehidupan, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiganya membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan dalam membangun pemahaman manusia terhadap dunia dan dirinya sendiri. Artikel ini akan secara khusus membahas dua dari tiga cabang utama tersebut, yakni ontologi dan aksiologi, serta menjelaskan perannya dalam memahami realitas dan nilai dalam kehidupan manusia.
Kita akan mengupas bagaimana ontologi sebagai studi tentang keberadaan dan realitas, serta aksiologi sebagai kajian tentang nilai dan etika, saling melengkapi dalam berbagai aspek, mulai dari ilmu pengetahuan, kebudayaan, pendidikan, hingga kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pemahaman mendalam terhadap keduanya akan membantu kita dalam membentuk pandangan hidup yang lebih rasional dan bermakna.
Baca juga: Ontologi dan Epistemologi: Pilar Utama Filsafat Ilmu
Pengertian Ontologi
Ontologi berasal dari kata Yunani ontos (berarti “keberadaan” atau “yang ada”) dan logos (berarti “ilmu” atau “kajian”). Secara sederhana, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas hakikat realitas, apa yang benar-benar ada, bagaimana sesuatu itu ada, dan dalam bentuk apa eksistensi itu dimanifestasikan.
Ontologi bertanya tentang:
- Apa yang sebenarnya ada?
- Apakah keberadaan itu tunggal atau jamak?
- Bagaimana kita bisa membedakan antara sesuatu yang nyata dan yang tidak nyata?
Ontologi tidak hanya berbicara tentang benda-benda fisik, tetapi juga tentang konsep, pikiran, dan bahkan entitas metafisik seperti Tuhan, roh, atau ide.
Sejarah Singkat Ontologi
Ontologi telah dibahas sejak zaman Yunani Kuno, terutama oleh para filsuf seperti Parmenides, Plato, dan Aristoteles. Parmenides berpendapat bahwa keberadaan itu satu dan tidak berubah, sedangkan Plato mengembangkan teori dunia ide sebagai bentuk realitas yang lebih tinggi dari dunia fisik. Aristoteles kemudian merumuskan ontologi dalam kerangka kategori substansi dan aksiden, yakni entitas utama dan karakteristik tambahan.
Dalam filsafat modern dan kontemporer, ontologi terus berkembang, baik dalam konteks metafisika murni maupun dalam aplikasi ilmiah seperti ontologi dalam kecerdasan buatan dan ilmu informasi.
Pengertian AksiologiAksiologi berasal dari kata Yunani axios (berarti “nilai”) dan logos (berarti “ilmu” atau “kajian”). Maka, aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai, baik itu nilai estetika (keindahan), etika (moralitas), maupun nilai praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan utama dalam aksiologi antara lain:
- Apa yang disebut baik dan buruk?
- Apa yang dianggap indah atau jelek?
- Mengapa manusia memerlukan nilai?
- Apakah nilai bersifat objektif atau subjektif?
Aksiologi sangat penting karena memandu tindakan manusia. Tanpa nilai, tindakan manusia akan kehilangan arah. Nilai menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, pembentukan norma sosial, hukum, hingga kebijakan publik.
Cabang-cabang Aksiologi
Aksiologi terdiri dari dua sub-cabang utama:
- Etika: Mempelajari tentang kebaikan, moral, dan tindakan manusia.
- Estetika: Mempelajari tentang keindahan dan seni.
Dalam perkembangan modern, aksiologi juga mencakup nilai-nilai sosial, ekonomi, politik, dan spiritual.
Hubungan Ontologi dan Aksiologi
Meski ontologi dan aksiologi merupakan dua cabang yang berbeda dalam filsafat, keduanya berhubungan erat dan saling memengaruhi.
Ontologi Menjawab “Apa”, Aksiologi Menjawab “Mengapa”
Ontologi bertanya tentang apa yang ada, sedangkan aksiologi bertanya tentang mengapa hal itu penting atau bernilai. Contohnya, dalam ontologi kita mungkin menyelidiki apakah “jiwa” itu benar-benar ada, sedangkan dalam aksiologi kita mempertanyakan apakah hidup manusia memiliki nilai karena adanya jiwa tersebut.
Nilai Tidak Akan Bermakna Tanpa Keberadaan
Jika sesuatu tidak diakui secara ontologis (tidak “ada”), maka nilainya pun akan dipertanyakan. Misalnya, keadilan sebagai nilai aksiologis harus diakui eksistensinya secara ontologis terlebih dahulu sebagai suatu konsep yang “ada” dalam kesadaran manusia.
Sebaliknya, Eksistensi Harus Diarahkan oleh Nilai
Ontologi mungkin menemukan bahwa manusia adalah makhluk biologis yang hidup dan berkembang, tetapi tanpa arahan nilai dari aksiologi, eksistensi itu bisa menjadi kosong. Dengan nilai, eksistensi menjadi bermakna. Nilai memberi arah dan tujuan bagi keberadaan.
Penerapan Ontologi dan Aksiologi dalam Ilmu Pengetahuan
Dalam Penelitian
Ontologi dan aksiologi menjadi fondasi dalam metodologi riset. Sebelum meneliti sesuatu, peneliti harus memahami:
- Ontologi: Apa yang sedang diteliti? Apakah fenomena itu nyata? Apakah bisa diobservasi?
- Aksiologi: Apakah penelitian ini memiliki nilai? Apa manfaatnya bagi masyarakat?
Dalam paradigma positivisme, ontologi memandang realitas sebagai sesuatu yang objektif dan dapat diukur, sementara dalam konstruktivisme, realitas dianggap sebagai hasil konstruksi sosial yang subjektif.
Dalam Pendidikan
Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai. Guru yang mengajarkan sains perlu memiliki kesadaran ontologis tentang konsep-konsep seperti energi, gaya, dan massa, serta menyisipkan nilai-nilai seperti kejujuran ilmiah, tanggung jawab, dan etika penggunaan teknologi.
Ontologi dan Aksiologi dalam Kehidupan Sehari-hari
Berikut penerapan dalam kehidupan:
Dalam Pengambilan Keputusan
Misalnya, seseorang mempertimbangkan untuk pindah kerja. Secara ontologis, ia menganalisis fakta: apakah pekerjaan baru benar-benar ada, lebih baik secara struktur, lokasi, dan gaji? Lalu secara aksiologis, ia merenungkan: apakah pekerjaan itu sesuai dengan nilai-nilainya? Apakah akan membuat hidupnya lebih bermakna?
Dalam Kehidupan Sosial
Dalam masyarakat, pertanyaan ontologis muncul saat membahas keberadaan sistem sosial: Apakah “keadilan sosial” itu nyata atau hanya ideal? Lalu aksiologi menyertainya dengan pertanyaan: Apakah keadilan sosial penting? Bagaimana cara kita mencapainya?
Tantangan dalam Ontologi dan Aksiologi
Relativisme Nilai
Salah satu tantangan aksiologi adalah relativisme, yaitu anggapan bahwa nilai itu bersifat subjektif dan berbeda-beda antarindividu atau budaya. Ini menimbulkan konflik nilai antarbangsa, agama, atau generasi.
Namun, banyak filsuf yang mencoba menjembatani perbedaan ini dengan mencari nilai-nilai universal, seperti kebebasan, martabat manusia, atau perdamaian.
Ontologi dalam Era Digital
Di era digital dan virtual, pertanyaan ontologis menjadi semakin kompleks. Apakah identitas virtual di media sosial itu “nyata”? Apakah uang kripto seperti Bitcoin memiliki eksistensi ontologis yang setara dengan uang kertas?
Begitu juga, aksiologi harus menilai apakah fenomena digital ini memiliki nilai yang membangun atau justru merusak etika sosial.
Tokoh-tokoh Terkait Ontologi dan Aksiologi
Tokoh Ontologi
- Aristoteles: Mengembangkan teori substansi sebagai dasar eksistensi.
- Heidegger: Bertanya secara radikal tentang “makna dari Ada” dalam bukunya Being and Time.
- Leibniz: Membedah hakikat realitas dengan konsep “monad” sebagai elemen dasar.
Tokoh Aksiologi
- Immanuel Kant: Membedakan nilai moral berdasarkan kewajiban dan kehendak baik.
- Nietzsche: Mengkritik nilai-nilai moral tradisional dan menekankan penciptaan nilai oleh manusia superior.
- Max Scheler: Mengembangkan hierarki nilai dan menyatakan bahwa nilai bersifat objektif.
Pentingnya Integrasi Ontologi dan Aksiologi
Dalam kehidupan nyata, keputusan manusia selalu berada di persimpangan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya. Maka, integrasi antara ontologi dan aksiologi bukan hanya penting, tapi mutlak diperlukan dalam membangun dunia yang rasional sekaligus bermakna.
Beberapa bidang yang membutuhkan integrasi ini antara lain:
- Hukum: Hukum butuh kejelasan tentang keberadaan norma (ontologi) dan keadilan (aksiologi).
- Kebijakan Publik: Harus realistis dalam memahami kondisi masyarakat (ontologi) dan adil dalam pemberian solusi (aksiologi).
- Teknologi: Harus mengenal realitas teknis (ontologi) dan mempertimbangkan dampak sosial (aksiologi).
Baca juga: Ontologi dalam Metodologi Penelitian
Penutup
Ontologi dan aksiologi merupakan dua sayap penting dalam filsafat yang membantu manusia memahami realitas dan menilai hidupnya. Ontologi memberi dasar pengetahuan tentang apa yang ada, sedangkan aksiologi menuntun kita dalam memilih apa yang bernilai.
Dalam dunia yang semakin kompleks dan plural, pemahaman mendalam tentang keduanya sangat penting untuk membangun kehidupan yang berlandaskan pada pengetahuan yang benar dan nilai yang luhur.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

