Dalam dunia ilmu sosial dan humaniora, studi budaya merupakan bidang yang berkembang pesat dan sangat dinamis. Studi ini tidak hanya membahas tentang artefak, simbol, dan kebiasaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memberi makna terhadap dunia di sekitarnya. Salah satu fondasi filosofis yang penting dalam memahami studi budaya adalah ontologi. Ontologi menjawab pertanyaan mendasar tentang “apa yang ada?”, atau lebih spesifik dalam konteks studi budaya, “apa yang dianggap sebagai kenyataan dalam budaya?”
Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana ontologi menjadi kerangka dasar dalam studi budaya. Pembahasan akan mencakup pengertian ontologi, relevansinya dalam kajian budaya, berbagai pendekatan ontologis dalam analisis budaya, serta implikasinya dalam metode dan interpretasi kebudayaan.
Baca juga: Ontologi dalam Ekonomi
Pengertian Ontologi dalam Ilmu Pengetahuan
Ontologi berasal dari bahasa Yunani ontos (berarti “yang ada”) dan logos (berarti “ilmu” atau “kajian”). Dalam filsafat, ontologi adalah cabang metafisika yang membahas tentang hakikat keberadaan, entitas, dan struktur realitas.
Dalam konteks studi budaya, ontologi tidak hanya berfokus pada keberadaan fisik atau empiris dari objek budaya, tetapi juga pada realitas sosial dan simbolik yang dibangun oleh masyarakat. Oleh karena itu, ontologi dalam studi budaya sering berkaitan dengan bagaimana suatu kelompok manusia memahami kenyataan, diri, dan dunia mereka secara kolektif.
Ontologi vs Epistemologi
Penting untuk membedakan ontologi dari epistemologi. Jika ontologi bertanya “apa yang ada?”, maka epistemologi bertanya “bagaimana kita tahu?” Dalam studi budaya, seorang peneliti yang memahami ontologi akan terlebih dahulu menanyakan bagaimana realitas budaya dikonstruksikan oleh masyarakat, sebelum kemudian menanyakan bagaimana pengetahuan tentang budaya tersebut diperoleh.
Mengapa Ontologi Penting dalam Studi Budaya?
Berikut alasannya:
1. Mengungkap Realitas Sosial
Studi budaya tidak hanya membahas objek atau kebiasaan, tetapi juga sistem makna yang menopang praktik tersebut. Ontologi membantu menjelaskan bahwa budaya bukanlah entitas tetap, melainkan hasil dari konstruksi sosial yang terus berubah.
Misalnya, identitas gender dalam suatu masyarakat bukan hanya dilihat sebagai kategori biologis, tetapi sebagai hasil dari sistem budaya tertentu. Dalam konteks ini, ontologi memungkinkan kita memahami bahwa makna tentang “laki-laki” atau “perempuan” tidak universal, melainkan terbentuk dari kerangka budaya yang spesifik.
2. Menentukan Posisi Peneliti
Setiap peneliti membawa asumsi ontologis tertentu. Seorang peneliti yang berpegang pada ontologi realis akan menganggap bahwa budaya adalah sesuatu yang eksis secara independen dari pengamat. Sebaliknya, peneliti yang mengadopsi ontologi konstruktivis melihat budaya sebagai hasil dari interaksi sosial yang terus dikonstruksi ulang.
Pemahaman ontologi ini sangat penting karena akan memengaruhi metode penelitian, pendekatan analisis, dan bahkan kesimpulan yang diambil dalam kajian budaya.
3. Menghindari Kesalahan Generalisasi
Dengan pendekatan ontologis yang tepat, peneliti akan lebih hati-hati dalam menggeneralisasi realitas budaya. Mereka akan menyadari bahwa yang dianggap “benar” atau “normal” dalam satu budaya belum tentu berlaku dalam budaya lain. Ontologi membantu peneliti menghargai pluralitas makna dan keberagaman dunia sosial.
Pendekatan Ontologis dalam Studi Budaya
Ontologi dalam studi budaya tidak bersifat tunggal. Terdapat beberapa pendekatan ontologis yang digunakan dalam kajian budaya, tergantung pada perspektif filosofis dan metodologis yang dianut. Berikut adalah beberapa pendekatan ontologis yang umum digunakan:
1. Ontologi Realisme
Pendekatan ini berasumsi bahwa realitas budaya eksis secara independen dari pengalaman atau persepsi manusia. Dalam realisme, nilai-nilai, struktur sosial, dan simbol-simbol budaya dianggap memiliki eksistensi obyektif yang dapat dipelajari dan dijelaskan.
Namun, pendekatan ini mendapat kritik karena dianggap terlalu kaku dan mengabaikan peran subjektivitas dalam pembentukan makna budaya. Dalam studi budaya kontemporer, realisme lebih banyak digunakan dalam kajian arkeologi budaya atau antropologi struktural.
2. Ontologi Konstruktivisme
Konstruktivisme berargumen bahwa realitas budaya tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang eksis secara obyektif. Sebaliknya, budaya dianggap sebagai hasil dari konstruksi sosial yang dibentuk melalui bahasa, simbol, narasi, dan praktik.
Dalam pendekatan ini, tidak ada satu kebenaran tunggal tentang budaya. Segala sesuatu mulai dari identitas, relasi kekuasaan, hingga nilai moral dianggap sebagai hasil negosiasi sosial. Konstruktivisme sangat berpengaruh dalam kajian budaya pascamodern, kajian gender, dan kajian poskolonial.
3. Ontologi Subjektivisme
Pendekatan ini lebih menekankan pada pengalaman individual dan kesadaran subjektif dalam memahami budaya. Dalam subjektivisme, yang penting bukan apakah suatu makna itu obyektif, tetapi bagaimana individu atau kelompok memberi makna terhadap pengalaman mereka.
Misalnya, dalam kajian tentang trauma budaya, penekanan diberikan pada narasi pribadi, kenangan, dan simbol yang dipersepsi secara subjektif oleh individu yang hidup dalam komunitas tertentu.
4. Ontologi Kritis
Berakar dari teori kritis dan pemikiran Marxian, ontologi kritis berupaya membongkar struktur-struktur dominasi dan ideologi yang tersembunyi dalam kebudayaan. Budaya dalam perspektif ini tidak netral, melainkan menjadi arena pertarungan kekuasaan.
Peneliti budaya yang mengadopsi pendekatan ini akan mengkaji bagaimana ideologi, kelas sosial, gender, dan ras memengaruhi pembentukan realitas budaya. Ontologi kritis sering digunakan dalam studi media, kajian budaya populer, dan analisis diskursus.
Implikasi Ontologi terhadap Metode Studi Budaya
Pemilihan kerangka ontologis memiliki pengaruh besar terhadap metode dan teknik penelitian dalam studi budaya. Berikut beberapa implikasi praktisnya:
- Penentuan Subjek Penelitian
Dalam pendekatan realis, peneliti cenderung memilih objek-objek budaya yang konkret dan dapat diobservasi, seperti artefak, ritual, atau struktur sosial. Sementara dalam pendekatan konstruktivis atau subjektivis, subjek penelitian lebih sering berupa pengalaman hidup, simbol, narasi, dan wacana.
- Teknik Pengumpulan Data
Ontologi konstruktivis dan subjektivis mendorong penggunaan metode kualitatif seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis naratif. Sebaliknya, pendekatan realis lebih banyak menggunakan teknik kuantitatif atau observasi sistematis.
- Pendekatan Analisis
Dalam pendekatan kritis dan konstruktivis, analisis budaya sering bersifat interpretatif dan reflektif. Peneliti tidak hanya mengungkap “apa yang terjadi” tetapi juga “mengapa hal itu terjadi” dan “siapa yang diuntungkan atau dirugikan.” Pendekatan ini menuntut kepekaan terhadap relasi kuasa dan struktur ideologi dalam kebudayaan.
Studi Kasus: Ontologi dalam Kajian Identitas Budaya
Untuk memperjelas peran ontologi dalam studi budaya, mari kita lihat contoh studi tentang identitas etnis di masyarakat multikultural.
Pertanyaan Ontologis
Apakah identitas etnis merupakan sesuatu yang tetap dan esensial (ontologi esensialis), ataukah identitas itu cair, berubah-ubah, dan dibentuk secara sosial (ontologi konstruktivis)?
Jika peneliti menggunakan pendekatan esensialis, maka ia akan melihat identitas etnis sebagai warisan turun-temurun yang menentukan perilaku, nilai, dan cara pandang individu. Sebaliknya, dengan pendekatan konstruktivis, identitas etnis dilihat sebagai hasil interaksi, negosiasi, dan adaptasi sosial.
Konsekuensi Metodologis
Penelitian dengan pendekatan esensialis mungkin akan berfokus pada pelestarian tradisi, bahasa daerah, atau simbol-simbol etnis. Sedangkan penelitian konstruktivis akan meneliti bagaimana identitas etnis dinegosiasikan di ruang publik, seperti media sosial, politik, atau seni kontemporer.
Tantangan Ontologis dalam Studi Budaya Kontemporer
Seiring perkembangan zaman, studi budaya dihadapkan pada tantangan ontologis baru:
- Budaya Digital dan Realitas Virtual
Munculnya media sosial, dunia maya, dan augmented reality menciptakan bentuk-bentuk baru dari kebudayaan. Apakah identitas virtual sama “nyata”-nya dengan identitas offline? Apakah avatar dan persona online merupakan bagian dari realitas budaya? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut redefinisi ontologis tentang apa yang dimaksud dengan “budaya”.
- Pluralisme dan Hybriditas
Dalam era globalisasi, budaya menjadi semakin hibrid, cair, dan saling bersilangan. Bagaimana kita mendefinisikan budaya dalam konteks percampuran? Apakah budaya masih bisa dipahami sebagai entitas yang koheren? Atau kita harus menerima bahwa budaya kini adalah mosaik dari berbagai unsur?
- Ketegangan antara Lokalitas dan Globalitas
Globalisasi membawa nilai-nilai universal yang kadang bertentangan dengan nilai lokal. Ontologi budaya ditantang untuk menjelaskan bagaimana individu bisa menjadi bagian dari komunitas lokal dan global secara bersamaan.
Baca juga: Ontologi dalam Ilmu Komunikasi
Kesimpulan
Ontologi dalam studi budaya bukan sekadar aspek filosofis yang abstrak. Ia adalah fondasi penting yang membentuk cara peneliti memahami, mengkaji, dan merepresentasikan realitas budaya. Dengan memahami berbagai pendekatan ontologis mulai dari realisme hingga konstruktivisme, dari subjektivisme hingga kritik struktural — peneliti dapat lebih peka terhadap kompleksitas makna budaya.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

