
Dalam dunia filsafat dan ilmu pengetahuan, ontologi memegang peran sentral sebagai landasan berpikir tentang realitas. Dalam psikologi, yang merupakan studi ilmiah tentang pikiran dan perilaku manusia, ontologi juga memainkan peranan penting karena ia mendasari bagaimana para peneliti dan praktisi memahami eksistensi manusia, pikiran, kesadaran, serta fenomena psikologis lainnya. Artikel ini membahas secara mendalam bagaimana ontologi bekerja dalam ranah psikologi, bagaimana pengaruhnya terhadap pendekatan ilmiah, dan apa implikasi filosofis dan praktisnya dalam riset dan terapi psikologis.
Baca juga: Ontologi dalam Ilmu Hukum
Pengertian Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan hakikat eksistensi, realitas, dan kategori keberadaan. Dalam konteks umum, ontologi menjawab pertanyaan seperti: Apa yang benar-benar ada? Apa sifat dasar dari kenyataan itu sendiri? Ontologi mencoba mengklasifikasikan segala sesuatu yang ada dalam dunia nyata dan membangun kerangka konseptual untuk menjelaskan fenomena tersebut.
Dalam ilmu sosial dan psikologi, ontologi merujuk pada pandangan dasar tentang realitas sosial dan psikologis. Ini mencakup keyakinan tentang apakah fenomena psikologis itu nyata secara objektif (independen dari pengalaman individu) atau merupakan konstruksi subjektif yang tergantung pada interpretasi manusia.
Ontologi dalam Ilmu Psikologi
Dalam psikologi, pendekatan ontologis mencerminkan bagaimana seorang peneliti atau praktisi memandang keberadaan dan realitas dari konsep-konsep psikologis. Apakah “pikiran” itu nyata? Apa “emosi” bisa dikategorikan secara objektif? Lalu apakah “kepribadian” adalah entitas yang tetap atau konstruksi sosial yang fleksibel?
Secara garis besar, terdapat dua orientasi besar dalam ontologi psikologi:
1. Ontologi Realisme
Dalam pendekatan ini, realitas psikologis dianggap nyata dan objektif. Emosi, motivasi, persepsi, bahkan kepribadian dianggap sebagai entitas nyata yang dapat diukur secara ilmiah. Pendekatan ini biasanya digunakan oleh psikologi positivistik seperti behaviorisme, kognitivisme, dan neuropsikologi.
Contoh dari realisme ontologis dalam psikologi adalah:
- Behaviorisme: Menganggap perilaku sebagai realitas objektif yang bisa diobservasi dan diukur.
- Kognitivisme: Menganggap proses berpikir sebagai struktur mental yang nyata dan bisa dimodelkan secara objektif.
2. Ontologi Konstruktivisme
Dalam pendekatan ini, realitas psikologis dianggap sebagai konstruksi subjektif. Artinya, konsep seperti emosi, identitas, dan motivasi bukan entitas objektif, tetapi hasil interpretasi individu dan budaya. Pendekatan ini lebih umum dalam psikologi humanistik, fenomenologi, dan psikologi kualitatif.
Contoh dari konstruktivisme ontologis dalam psikologi adalah:
- Psikologi Humanistik: Memahami pengalaman subjektif individu sebagai realitas yang valid.
- Psikologi Fenomenologis: Menganggap persepsi sebagai kunci untuk memahami dunia individu, bukan sesuatu yang harus dibandingkan dengan “realitas objektif”.
Implikasi Ontologi terhadap Pendekatan Penelitian Psikologi
Pandangan ontologis sangat memengaruhi cara peneliti merancang dan melaksanakan studi psikologi. Ontologi membentuk dasar dari epistemologi (cara memperoleh pengetahuan), dan kemudian menentukan metodologi (cara mengumpulkan data), hingga pada teknik analisis data.
1. Ontologi Positivistik dan Penelitian Kuantitatif
Pandangan ini percaya bahwa realitas psikologis bersifat tetap dan dapat diukur. Oleh karena itu, penelitian menggunakan:
- Survei dengan skala standar (misal: skala Likert)
- Eksperimen terkontrol
- Statistik inferensial untuk generalisasi
Dalam pendekatan ini, subjek dianggap sebagai unit yang dapat diukur dan diobservasi secara objektif. Hubungan sebab-akibat (kausalitas) dianggap penting, dan validitas penelitian ditentukan oleh konsistensi data secara numerik.
2. Ontologi Konstruktivis dan Penelitian Kualitatif
Pandangan ini menganggap bahwa realitas psikologis tergantung pada makna dan pengalaman individu. Maka metode yang digunakan lebih bersifat eksploratif:
- Wawancara mendalam
- Observasi partisipatif
- Analisis naratif atau tematik
Dalam konteks ini, peran peneliti tidak netral; peneliti dianggap sebagai bagian dari proses interpretatif. Validitas tidak bergantung pada statistik, tetapi pada kedalaman pemahaman terhadap konteks sosial dan psikologis partisipan.
Ontologi dalam Pendekatan Psikoterapi
Ontologi tidak hanya berpengaruh dalam penelitian, tetapi juga dalam praktik psikologis, khususnya dalam psikoterapi. Cara seorang terapis memandang realitas klien akan sangat memengaruhi teknik, tujuan, dan etika dalam terapi.
1. Ontologi dalam Terapi Kognitif-Perilaku (CBT)
CBT berdiri di atas asumsi ontologis bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku dapat dikategorikan dan dimodifikasi. Terapis dalam CBT percaya bahwa ada cara berpikir yang “benar” atau “adaptif” dan ada distorsi kognitif yang bisa diubah.
Contohnya, jika seorang klien mengalami kecemasan karena berpikir “saya pasti gagal”, terapis CBT akan mengidentifikasi pikiran tersebut sebagai irasional dan berusaha menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis.
2. Ontologi dalam Terapi Eksistensial dan Humanistik
Terapi eksistensial memandang bahwa realitas bersifat subjektif dan pengalaman manusia tidak dapat dikotakkan secara sempit. Tidak ada “satu kebenaran”, melainkan banyak realitas yang sah tergantung pada konteks dan nilai individu.
Terapis eksistensial lebih fokus membantu klien memahami makna hidup, pilihan bebas, dan tanggung jawab terhadap kehidupan mereka. Sementara itu, terapi humanistik menekankan pentingnya aktualisasi diri dan pemahaman terhadap diri yang otentik.
Ontologi dan Kesadaran Manusia
Pertanyaan besar dalam psikologi adalah: Apa itu kesadaran? Apakah ia nyata atau ilusi? Ontologi memainkan peran penting dalam menjawabnya.
- Realisme Fisikalis: Pandangan ini melihat kesadaran sebagai hasil aktivitas neurobiologis. Otak adalah sumber semua kesadaran, dan jika otak mati, kesadaran pun hilang. Pandangan ini mendasari banyak studi neuropsikologi dan psikiatri modern.
- Pandangan Dualistik: Merujuk pada filsafat René Descartes, pandangan ini memisahkan tubuh dan pikiran. Kesadaran bukan hanya produk otak, tetapi memiliki esensi tersendiri. Psikologi transpersonal dan spiritual sering mengadopsi pandangan ini.
- Pandangan Fenomenologis: Kesadaran dipandang sebagai pengalaman subjektif yang tidak bisa direduksi menjadi neuron atau sinyal otak semata. Hal ini mendasari banyak pendekatan dalam psikologi eksistensial, mindfulness, dan terapi berorientasi pengalaman.
Ontologi dan Kategori Psikologis: Apakah Semua Gangguan Jiwa Nyata?
Salah satu perdebatan besar dalam psikologi adalah apakah gangguan mental benar-benar “ada” atau hanya label sosial yang kita konstruksikan. Misalnya, apakah “depresi” adalah penyakit seperti flu, ataukah label untuk menyebut kumpulan perasaan yang kompleks?
- Perspektif Realis: DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) menggunakan pendekatan kategorikal: gangguan mental diklasifikasi seperti penyakit fisik. Setiap gejala memiliki kriteria, diagnosis bisa ditegakkan berdasarkan standar, dan pengobatan bisa dirancang secara sistematis.
- Perspektif Konstruktivis: Sebaliknya, banyak pendekatan psikologis mempertanyakan validitas dari label-label tersebut. Mereka melihatnya sebagai bentuk kategorisasi budaya yang dapat berubah seiring waktu. Misalnya, homoseksualitas dulu dianggap sebagai gangguan dalam DSM edisi awal, tetapi kini tidak lagi.
Peran Ontologi dalam Etika Psikologi
Cara kita memahami realitas psikologis berdampak langsung pada etika praktik. Misalnya:
- Jika manusia dipandang sebagai entitas biologis semata (ontologi materialis), maka pendekatan intervensi medis (obat, stimulasi otak) bisa lebih dibenarkan.
- Namun jika manusia dianggap sebagai makhluk bermakna dengan kebebasan memilih (ontologi eksistensialis), maka pendekatan yang memaksakan terapi bisa dianggap melanggar hak individu.
Dengan kata lain, ontologi bukan sekadar filsafat abstrak ia menyentuh inti dari bagaimana kita memperlakukan manusia, mendesain terapi, dan menyusun kebijakan kesehatan mental.
Tantangan dan Masa Depan: Menuju Ontologi Plural dalam Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang kompleks karena objek kajiannya—manusia—adalah makhluk multidimensional. Maka, satu pendekatan ontologis saja tidak cukup.
- Pluralisme Ontologis
Banyak ilmuwan kini mendorong pendekatan ontologis yang plural. Artinya, kita tidak harus memilih antara realisme atau konstruktivisme, tetapi mengakui bahwa realitas psikologis bisa bersifat ganda, baik objektif maupun subjektif, tergantung sudut pandang dan tujuan studi.
- Transdisipliner
Ontologi psikologi ke depan akan semakin transdisipliner, melibatkan ilmu saraf, filsafat, antropologi, dan bahkan teknologi (AI, neuroimaging) untuk memahami kompleksitas kesadaran dan perilaku manusia.
Baca juga: Ontologi dalam Ilmu Sosial
Kesimpulan
Ontologi dalam psikologi bukan sekadar wacana filsafat, melainkan fondasi yang menentukan bagaimana kita memahami pikiran, perilaku, emosi, dan seluruh realitas manusia. Pandangan ontologis memengaruhi metode penelitian, cara diagnosis gangguan mental, pendekatan terapi, hingga etika profesional.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

