Dalam dunia akademik, penelitian, dan publikasi ilmiah, konsep kepengarangan atau authorship menjadi salah satu aspek krusial yang bukan hanya berkaitan dengan prestise, tetapi juga dengan integritas ilmiah, tanggung jawab, dan etika. Kepengarangan tidak sekadar mencantumkan nama di halaman awal artikel, melainkan melibatkan sejumlah kriteria dan pertimbangan moral. Sayangnya, tidak semua pihak memahami secara utuh makna dan implikasi dari kepengarangan. Ketidakjelasan ini bisa memicu konflik, manipulasi data, atau bahkan pelanggaran etika akademik.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang pengertian kepengarangan, prinsip etis yang menyertainya, peran penulis, permasalahan umum, serta panduan internasional yang dapat dijadikan pedoman untuk menjaga kredibilitas karya ilmiah.
Baca juga: Analisis Data (Data Analysis)
Pengertian Kepengarangan
Kepengarangan (authorship) merujuk pada pengakuan resmi atas kontribusi seseorang terhadap karya ilmiah, baik dalam bentuk artikel jurnal, laporan riset, maupun publikasi ilmiah lainnya. Status sebagai pengarang memberikan tanggung jawab intelektual dan moral atas keseluruhan atau sebagian isi publikasi tersebut.
Menurut definisi dari International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE), kepengarangan mencerminkan kontribusi substansial terhadap karya ilmiah, bukan hanya peran administratif atau teknis. Ini berarti bahwa seseorang yang sekadar membantu mengetik naskah atau membiayai riset tidak otomatis layak menjadi penulis.
Kepengarangan memiliki dampak besar, baik secara akademik maupun profesional. Dalam konteks karier dosen atau peneliti, jumlah dan kualitas publikasi menjadi tolok ukur utama dalam promosi jabatan, hibah riset, hingga reputasi institusi. Karena itu, penting untuk memastikan bahwa daftar penulis benar-benar mewakili pihak-pihak yang layak dan sah menerima pengakuan ilmiah.
Kriteria Menjadi Penulis dalam Publikasi Ilmiah
Untuk menghindari penyalahgunaan status kepengarangan, banyak lembaga internasional menetapkan kriteria khusus yang harus dipenuhi oleh seseorang agar layak disebut sebagai penulis. Salah satu panduan paling dikenal berasal dari ICMJE.
Berikut adalah kriteria umum yang harus dipenuhi:
- Kontribusi Substansial terhadap Konsep atau Desain Penelitian
Penulis harus terlibat dalam tahap awal riset, seperti perumusan ide, hipotesis, atau perancangan metodologi. Ini mencerminkan bahwa penulis turut membentuk arah dan kerangka penelitian.
- Keterlibatan dalam Pengumpulan, Analisis, atau Interpretasi Data
Tak cukup hanya menyumbang ide, penulis juga diharapkan aktif dalam kegiatan teknis yang membentuk hasil penelitian. Ini bisa mencakup eksperimen, survei, wawancara, atau pemrosesan data.
- Partisipasi dalam Penulisan atau Revisi Substansial Manuskrip
Penulis harus turut menyusun atau secara aktif merevisi naskah agar sesuai dengan standar akademik. Revisi ini tidak bersifat minor, tetapi mencakup penyusunan struktur argumen, penyuntingan bahasa ilmiah, dan klarifikasi data.
- Persetujuan atas Versi Akhir dan Tanggung Jawab terhadap Isi
Setiap penulis harus menyetujui versi akhir naskah yang akan dipublikasikan dan siap bertanggung jawab atas keabsahan isi, termasuk jika terjadi pertanyaan, kritik, atau koreksi dari pihak luar.
Apabila seseorang tidak memenuhi keempat kriteria di atas, maka secara etis ia tidak seharusnya dimasukkan sebagai penulis, meskipun tetap bisa diberi apresiasi dalam bagian ucapan terima kasih (acknowledgement).
Jenis-jenis Kepengarangan
Kepengarangan tidak hanya ditentukan oleh keterlibatan, tetapi juga posisi atau urutan nama yang memiliki makna tertentu. Dalam publikasi ilmiah, urutan nama penulis mencerminkan kontribusi dan tanggung jawab, meskipun praktiknya bisa berbeda-beda tergantung pada bidang keilmuan.
- Penulis Utama (First Author): Penulis pertama biasanya adalah individu yang paling banyak berkontribusi dalam desain, pelaksanaan, dan penulisan hasil penelitian. Dalam banyak bidang, ini adalah posisi paling prestisius.
- Penulis Ko-Autor (Co-author): Mereka yang bekerja sama dengan penulis utama dan memberikan kontribusi signifikan di berbagai aspek proyek penelitian. Meski tidak menulis naskah secara langsung, mereka tetap aktif dalam pelaksanaan dan analisis.
- Penulis Koresponden (Corresponding Author): Bertanggung jawab dalam proses pengiriman naskah ke jurnal, menjawab pertanyaan dari editor dan reviewer, serta berkoordinasi dengan semua penulis lain. Biasanya juga menjadi kontak utama setelah publikasi.
- Penulis Senior atau Supervisor: Sering kali adalah dosen pembimbing atau peneliti utama yang mengarahkan proyek, tetapi keterlibatan mereka bervariasi. Posisi mereka seringkali di urutan terakhir dalam daftar penulis, terutama di bidang ilmu eksakta.
Permasalahan Etika dalam Kepengarangan
Meski sudah ada kriteria dan panduan yang jelas, praktik kepengarangan sering kali mengandung konflik. Hal ini muncul karena berbagai alasan, mulai dari tekanan akademik hingga relasi kuasa di lingkungan penelitian. Berikut adalah beberapa bentuk pelanggaran etika yang umum terjadi:
- Ghost Authorship (Penulis Hantu): Merujuk pada individu yang telah memberi kontribusi signifikan, tetapi tidak dicantumkan sebagai penulis. Biasanya terjadi dalam situasi konflik kepentingan atau manipulasi otoritas akademik.
- Guest Authorship (Penulis Tamu): Seseorang yang dicantumkan sebagai penulis tanpa kontribusi nyata, sering kali karena jabatan, relasi, atau untuk meningkatkan peluang publikasi.
- Gift Authorship (Penulis Hadiah): Mirip dengan guest authorship, namun terjadi karena ingin “memberi hadiah” kepada kolega, dosen, atau pihak lain meski tanpa kontribusi. Praktik ini melemahkan kredibilitas penelitian.
- Penempatan Nama yang Tidak Proporsional: Urutan nama yang tidak sesuai dengan kontribusi aktual, misalnya karena tekanan dari dosen pembimbing atau senior, juga termasuk pelanggaran etika kepengarangan.
Panduan Internasional tentang Kepengarangan
Untuk menghindari konflik dan memperkuat etika kepengarangan, sejumlah badan internasional telah merumuskan pedoman yang dapat diacu oleh para akademisi dan institusi pendidikan.
Berikut ini adalah beberapa panduan yang umum digunakan:
- ICMJE (International Committee of Medical Journal Editors): Sangat dikenal di bidang medis dan kesehatan, ICMJE memberikan empat kriteria ketat untuk menjadi penulis. Panduan ini juga mengatur tentang kontribusi dan konflik kepentingan.
- COPE (Committee on Publication Ethics): Menawarkan pedoman etis untuk editor, reviewer, dan penulis dalam menjaga integritas publikasi. COPE menyoroti pentingnya transparansi dalam penentuan kepengarangan.
- APA (American Psychological Association): Dalam bidang psikologi dan ilmu sosial, APA memiliki aturan yang mendorong kejujuran dalam mencantumkan nama penulis dan peran mereka secara proporsional.
- CRediT (Contributor Roles Taxonomy): Merupakan sistem taksonomi yang menjelaskan kontribusi spesifik setiap penulis, seperti siapa yang melakukan analisis data, menulis draf, mengedit naskah, dan lain-lain. CRediT memungkinkan transparansi tinggi.
Kepengarangan dalam Konteks Indonesia
Di Indonesia, masalah kepengarangan juga menjadi perhatian karena banyak publikasi ilmiah menjadi syarat utama untuk kenaikan jabatan fungsional dosen atau kelulusan mahasiswa. Praktik manipulasi kepengarangan tidak jarang ditemui, terutama dalam bentuk “titip nama”, “penulis hadiah”, atau tekanan dari pihak yang berwenang di institusi pendidikan.
Beberapa tantangan yang umum ditemui di Indonesia antara lain:
- Kurangnya pemahaman tentang etika publikasi.
- Relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa yang menciptakan ketimpangan.
- Kebutuhan administratif yang mendesak (misalnya akreditasi, pangkat, atau hibah).
- Tidak adanya pedoman tertulis yang mengikat dalam institusi.
Karena itu, penting bagi setiap kampus atau lembaga riset di Indonesia untuk merumuskan kebijakan yang jelas dan mendidik semua pihak tentang etika kepengarangan.
Strategi Menghindari Konflik Kepengarangan
Agar kolaborasi riset tidak berujung pada konflik mengenai nama penulis, beberapa langkah strategis dapat diterapkan sejak awal proyek.
Berikut pengantar dan beberapa strategi penting:
Mengatur ekspektasi sejak awal dan mencatat kontribusi secara sistematis akan menghindarkan kesalahpahaman. Strategi ini harus menjadi bagian dari budaya akademik yang sehat.
- Diskusi Awal tentang Kontribusi dan Urutan Penulis: Sebelum proyek dimulai, sebaiknya seluruh anggota tim menyepakati siapa saja yang akan menjadi penulis dan urutan nama berdasarkan peran masing-masing.
- Pencatatan Kontribusi secara Transparan: Menggunakan sistem seperti CRediT, setiap kontribusi dicatat agar jelas siapa mengerjakan bagian mana. Ini membantu dalam evaluasi dan penyusunan urutan nama.
- Pembuatan Perjanjian Tertulis: Beberapa institusi membuat MoU atau surat pernyataan kontribusi sebagai bukti jika di kemudian hari terjadi perselisihan.
- Evaluasi Kontribusi Berkala: Jika proyek berlangsung lama, evaluasi ulang peran dan kontribusi dapat membantu menyesuaikan posisi penulis jika terjadi perubahan peran.
- Libatkan Etika Riset Institusi: Dalam kasus konflik, unit etika riset di institusi pendidikan harus menjadi mediator. Penanganan secara objektif bisa mencegah konflik lebih besar.Kepengarangan dalam Penelitian Kolaboratif Internasional
Dalam proyek kolaborasi lintas negara, masalah kepengarangan menjadi lebih kompleks karena perbedaan budaya, standar etika, dan sistem insentif. Misalnya, di beberapa negara, posisi penulis terakhir dianggap lebih prestisius daripada penulis pertama. Di negara lain, hanya penulis pertama yang diperhitungkan dalam penilaian kinerja akademik.
Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka dan dokumentasi kontribusi sangat penting dalam kolaborasi internasional. Menggunakan pedoman internasional seperti CRediT atau ICMJE akan membantu menyatukan persepsi dan menghindari konflik antar institusi.
Baca juga: Desain Studi dan Persetujuan Etika
Kesimpulan
Kepengarangan bukanlah sekadar formalitas administratif, melainkan bentuk pengakuan terhadap kontribusi intelektual dan tanggung jawab moral dalam karya ilmiah. Pemahaman yang salah atau praktik yang menyimpang dalam kepengarangan bisa mengganggu integritas akademik dan menciptakan ketidakadilan di antara peneliti.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

