Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam publikasi ilmiah. Salah satu inovasi yang cukup menonjol dalam beberapa dekade terakhir adalah munculnya sistem open access, yaitu model penerbitan jurnal yang memungkinkan artikel ilmiah diakses secara bebas oleh semua orang tanpa harus membayar biaya langganan. Konsep ini pada awalnya dipandang sebagai langkah revolusioner yang mampu mendemokratisasi pengetahuan, mempermudah pertukaran ide, serta meningkatkan kolaborasi antarpeneliti lintas negara.
Namun, di balik niat mulia tersebut, muncul fenomena yang cukup meresahkan: jurnal predator open access. Istilah ini merujuk pada penerbit atau jurnal yang memanfaatkan model open access dengan cara yang tidak etis, hanya untuk meraup keuntungan finansial tanpa memperhatikan standar akademik. Keberadaan jurnal predator telah menjadi masalah global yang mengancam kualitas riset, integritas akademik, serta reputasi peneliti.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam mengenai jurnal predator open access, mulai dari definisi, sejarah, ciri-ciri, modus operandi, dampak yang ditimbulkan, hingga strategi untuk menghindarinya.
Baca juga: Identifikasi Jurnal Predator: Panduan Lengkap untuk Peneliti dan Akademisi
Sejarah Munculnya Jurnal Predator
Fenomena jurnal predator tidak lepas dari perkembangan model open access pada awal abad ke-21. Pada tahun 2000-an, banyak penerbit beralih ke model ini dengan alasan memperluas akses terhadap hasil penelitian. Sayangnya, sistem tersebut juga membuka celah baru.
Alih-alih menjaga integritas ilmiah, beberapa pihak memanfaatkan kesempatan ini untuk mendirikan jurnal yang hanya berfokus pada keuntungan finansial. Mereka menawarkan proses publikasi yang cepat, biaya artikel yang relatif rendah atau tinggi, namun tanpa melewati mekanisme peer review yang ketat.
Jeffrey Beall, seorang pustakawan dari University of Colorado, pada 2010 mulai menyusun daftar penerbit predator yang dikenal dengan sebutan Beall’s List. Daftar ini menjadi referensi penting bagi akademisi di seluruh dunia untuk mengenali jurnal-jurnal predator. Meskipun menuai pro-kontra, Beall’s List membuka mata dunia akademik mengenai maraknya praktik penerbitan predator.
Definisi Jurnal Predator Open Access
Secara sederhana, jurnal predator open access adalah jurnal ilmiah yang menggunakan model akses terbuka tetapi mengabaikan prinsip dasar publikasi akademik. Fokus utama mereka bukanlah menyebarkan pengetahuan, melainkan menarik pembayaran dari penulis untuk publikasi artikelnya.
Jurnal predator biasanya tidak melakukan penyuntingan yang memadai, tidak melaksanakan peer review secara serius, dan sering kali menampilkan informasi yang menyesatkan mengenai reputasi mereka. Dengan kata lain, mereka menciptakan “ilusi” jurnal ilmiah padahal sebenarnya hanya sekadar bisnis penerbitan tanpa integritas.
Ciri-ciri Jurnal Predator
Untuk memahami lebih jauh, penting bagi peneliti dan akademisi mengenali ciri-ciri jurnal predator. Berikut beberapa indikasi yang paling umum:
- Proses Publikasi Sangat Cepat: Jurnal predator sering menjanjikan publikasi hanya dalam hitungan hari atau minggu, padahal proses peer review yang benar memerlukan waktu berbulan-bulan.
- Biaya Publikasi Tidak Transparan: Mereka menetapkan article processing charge (APC) yang tinggi tanpa menjelaskan perinciannya.
- Kualitas Artikel Rendah: Artikel yang diterbitkan sering kali penuh kesalahan tata bahasa, metodologi yang lemah, atau bahkan plagiat.
- Editorial Board Palsu: Banyak jurnal predator mencantumkan nama akademisi terkenal sebagai anggota dewan redaksi tanpa izin.
- Indexing Meragukan: Mereka sering mengklaim terindeks di database bereputasi seperti Scopus atau Web of Science padahal tidak benar.
- Website Tidak Profesional: Tampilan situs sering berantakan, penuh kesalahan ketik, dan informasi yang tidak lengkap.
- Email Spam: Penulis sering menerima email massal yang mendesak mereka untuk mengirimkan artikel.
- Tidak Ada Standar Etika Publikasi: Jurnal predator tidak menerapkan kebijakan tentang konflik kepentingan, hak cipta, maupun penarikan artikel.
Modus Operandi Jurnal Predator
Cara kerja jurnal predator biasanya mengikuti pola tertentu:
- Mengirimkan Undangan Massal: Mereka menghubungi peneliti melalui email dengan bahasa persuasif, sering kali berlebihan, agar segera mengirim artikel.
- Menawarkan Janji Manis: Penulis dijanjikan publikasi cepat, indeks internasional, dan visibilitas tinggi.
- Proses Review Palsu: Artikel yang dikirim hampir selalu diterima tanpa revisi berarti, bahkan meskipun kualitasnya buruk.
- Menarik Biaya Tinggi: Setelah artikel diterima, penulis diwajibkan membayar biaya publikasi yang tidak sebanding dengan layanan.
- Mengklaim Reputasi Internasional: Jurnal predator sering menyebut diri sebagai jurnal internasional, padahal hanya dikelola oleh individu atau kelompok kecil tanpa infrastruktur memadai.
Dampak Jurnal Predator terhadap Dunia Akademik
Fenomena jurnal predator bukan hanya sekadar masalah teknis, melainkan juga memiliki implikasi serius terhadap dunia akademik.
- Menurunkan Kualitas Riset: Publikasi di jurnal predator menyebabkan riset yang lemah atau bahkan salah tetap tersebar luas tanpa verifikasi.
- Merusak Reputasi Peneliti: Penulis yang menerbitkan artikel di jurnal predator berisiko dicap tidak kredibel, bahkan bisa merusak karier akademiknya.
- Menyulitkan Evaluasi Akademik: Lembaga pendidikan tinggi sulit menilai kualitas karya ilmiah jika banyak yang terjebak di jurnal predator.
- Eksploitasi Finansial: Peneliti, terutama dari negara berkembang, dirugikan secara ekonomi karena harus membayar biaya publikasi yang mahal.
- Menyebarkan Disinformasi Ilmiah: Artikel tanpa peer review berpotensi menyebarkan klaim palsu atau teori yang tidak terbukti.
Faktor yang Mendorong Maraknya Jurnal Predator
Ada beberapa alasan mengapa jurnal predator semakin menjamur, di antaranya:
- Tuntutan Publikasi: Sistem akademik modern menekankan pada “publish or perish”, sehingga banyak peneliti terpaksa mencari cara cepat untuk publikasi.
- Kurangnya Literasi Akademik: Tidak semua peneliti mampu membedakan jurnal bereputasi dengan jurnal predator.
- Kemudahan Teknologi: Biaya pembuatan situs dan manajemen penerbitan yang semakin murah membuat siapa pun bisa mendirikan jurnal.
- Lemahnya Regulasi: Belum ada standar global yang mengatur secara ketat penerbitan jurnal open access.
Strategi Menghindari Jurnal Predator
Untuk mencegah terjebak, peneliti dapat melakukan langkah-langkah berikut:
- Cek Indeksasi Resmi: Pastikan jurnal benar-benar terindeks di Scopus, Web of Science, atau DOAJ.
- Verifikasi Editorial Board: Lihat profil anggota dewan redaksi, apakah benar-benar aktif di bidangnya.
- Evaluasi Situs Web: Periksa kualitas tampilan situs, tata bahasa, serta konsistensi informasi.
- Perhatikan Proses Review: Jurnal bereputasi biasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk peer review.
- Gunakan Referensi Tepercaya: Konsultasikan daftar jurnal yang diakui oleh universitas atau lembaga penelitian.
- Waspadai Email Spam: Jangan mudah tergiur dengan undangan publikasi dari email yang tidak resmi.
Upaya Global Melawan Jurnal Predator
Beberapa langkah telah dilakukan secara internasional untuk menanggulangi masalah ini:
- Beall’s List: Meski kini sudah tidak diperbarui, daftar ini tetap menjadi referensi utama.
- Directory of Open Access Journals (DOAJ): DOAJ secara ketat memverifikasi jurnal yang masuk dalam daftarnya.
- Kebijakan Universitas: Banyak universitas kini melarang dosen dan mahasiswa menggunakan jurnal predator sebagai referensi.
- Pendidikan Literasi Akademik: Workshop dan pelatihan tentang cara mengenali jurnal predator semakin sering dilakukan.
Tantangan di Masa Depan
Walaupun kesadaran mengenai jurnal predator semakin meningkat, tantangan tetap ada. Beberapa penerbit predator berusaha memperbaiki citra dengan membuat situs lebih profesional atau menggunakan nama yang mirip dengan jurnal bereputasi. Bahkan ada kasus di mana jurnal predator berhasil masuk ke dalam database besar sebelum akhirnya dikeluarkan.
Selain itu, tekanan untuk publikasi di kalangan peneliti muda, terutama di negara berkembang, membuat jurnal predator masih akan tetap eksis. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama global untuk mengatasi masalah ini, baik dari sisi regulasi, edukasi, maupun kebijakan universitas.
Baca juga: Daftar Publisher Jurnal Predator: Ancaman Serius bagi Dunia Akademik
Kesimpulan
Fenomena jurnal predator open access merupakan salah satu tantangan terbesar dalam dunia akademik modern.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.


