Jurnal Predator: Mengungkap Praktik Gelap dalam Dunia Akademik

Jurnal Predator: Mengungkap Praktik Gelap dalam Dunia Akademik

Perkembangan dunia akademik semakin pesat dengan hadirnya teknologi digital. Publikasi ilmiah menjadi salah satu syarat utama bagi dosen, peneliti, maupun mahasiswa pascasarjana dalam mengembangkan karier akademiknya. Namun, di balik kebutuhan untuk mempublikasikan karya ilmiah tersebut, muncul fenomena yang disebut jurnal predator. Istilah ini merujuk pada jurnal-jurnal yang mengaku sebagai penerbit ilmiah, tetapi sebenarnya hanya mengejar keuntungan finansial tanpa memperhatikan kualitas, etika, maupun validitas akademik.

Fenomena jurnal predator bukanlah sekadar masalah kecil, melainkan sudah menjadi problem global yang menjerat banyak akademisi, termasuk di Indonesia. Para penulis sering tergiur janji publikasi cepat, biaya murah atau kadang sebaliknya justru sangat mahal, serta jaminan “terindeks internasional”. Padahal, publikasi di jurnal predator dapat merusak reputasi penulis, mengurangi kredibilitas penelitian, bahkan merugikan dunia ilmu pengetahuan secara luas.

Baca juga: Predatory Journal Checklist: Panduan Lengkap untuk Menghindari Jurnal Pemangsa

Definisi Jurnal Predator

Jurnal predator adalah jurnal yang tampak seperti jurnal ilmiah pada umumnya, namun tidak memiliki proses editorial yang transparan, tidak melalui mekanisme peer review yang ketat, dan cenderung hanya mengejar keuntungan finansial. Mereka biasanya memanfaatkan kelemahan penulis yang membutuhkan publikasi cepat demi kenaikan jabatan akademik atau kebutuhan administratif tertentu.

Istilah jurnal predator pertama kali dipopulerkan oleh Jeffrey Beall, seorang pustakawan dari University of Colorado, yang membuat daftar hitam penerbit predator yang dikenal dengan Beall’s List. Walaupun daftar ini menuai pro dan kontra, namun tetap menjadi acuan awal untuk mengenali jurnal predator. Pada praktiknya, jurnal predator sering bersembunyi di balik nama-nama yang terdengar akademis, meniru gaya jurnal bereputasi, bahkan kadang menggunakan identitas palsu untuk menarik penulis.

Ciri-ciri Jurnal Predator

Membedakan jurnal predator dengan jurnal bereputasi memang tidak selalu mudah, terutama bagi penulis pemula. Namun, ada beberapa ciri khas yang bisa dikenali.

1. Proses publikasi sangat cepat

Jurnal predator biasanya menawarkan waktu publikasi yang tidak masuk akal, misalnya hanya beberapa hari setelah naskah dikirim. Padahal, jurnal bereputasi memerlukan waktu berbulan-bulan untuk proses review, revisi, hingga publikasi.

2. Biaya publikasi tidak transparan

Banyak jurnal predator yang meminta biaya sangat tinggi tanpa penjelasan rinci. Sebaliknya, ada pula yang memasang harga sangat murah untuk menarik penulis.

3. Dewan editorial palsu atau tidak jelas

Seringkali nama-nama akademisi dicantumkan tanpa sepengetahuan mereka, atau dewan editorial hanya berisi sedikit orang yang tidak memiliki latar belakang sesuai bidangnya.

4. Kualitas artikel rendah

Artikel yang dimuat seringkali tidak relevan, penuh kesalahan, atau bahkan berupa tulisan plagiat. Tidak ada proses peer review yang jelas sehingga artikel berkualitas rendah tetap diterbitkan.

5. Indeksasi meragukan

Jurnal predator kerap mengklaim terindeks di database internasional, padahal hanya muncul di situs-situs tidak resmi atau palsu yang meniru nama indeks bereputasi seperti Scopus dan Web of Science.

Setiap ciri ini menegaskan bahwa tujuan utama jurnal predator bukanlah menyebarkan ilmu pengetahuan, melainkan semata mencari keuntungan dari penulis yang tidak waspada

Jenis-jenis Jurnal Predator

Fenomena jurnal predator memiliki beragam bentuk yang terus berkembang. Mereka menyesuaikan strategi agar tetap terlihat sahih di mata penulis yang kurang berpengalaman. Beberapa jenis yang umum ditemui antara lain:

1. Jurnal Predator dengan Biaya Tinggi

Jenis ini biasanya memasang biaya publikasi sangat mahal dengan dalih indeksasi internasional dan kualitas tinggi. Namun, kenyataannya artikel yang dipublikasikan tidak melewati seleksi ketat. Para penulis yang terburu-buru sering tergiur janji publikasi di database bereputasi, padahal klaim tersebut palsu.

2. Jurnal Predator dengan Biaya Murah

Tidak semua jurnal predator memasang tarif tinggi. Beberapa justru menawarkan publikasi dengan biaya sangat murah untuk menjaring penulis dalam jumlah banyak. Model bisnis mereka adalah kuantitas, sehingga semakin banyak naskah masuk, semakin besar keuntungan yang diperoleh.

3. Konferensi Predator

Selain jurnal, praktik predator juga muncul dalam bentuk konferensi. Konferensi ini biasanya menjanjikan prosiding internasional, biaya registrasi mahal, tetapi kualitas makalah yang diterima sangat rendah. Peserta hanya dimanfaatkan sebagai sumber pemasukan.

4. Penerbit Buku Predator

Fenomena serupa juga terjadi dalam penerbitan buku ilmiah. Penerbit predator menjanjikan ISBN internasional, penerbitan cepat, dan distribusi luas. Namun, buku tidak diedit dengan baik dan hanya dijual kembali kepada penulis dengan harga tinggi.

Jenis-jenis jurnal predator ini menunjukkan bahwa praktik predator bukan hanya ada di ranah artikel ilmiah, melainkan merambah ke berbagai lini publikasi akademik.

Dampak Negatif Jurnal Predator

Jurnal predator bukan hanya sekadar merugikan individu penulis, tetapi juga berdampak luas terhadap dunia akademik.

  1. Merusak reputasi penulis: Ketika artikel terbit di jurnal predator, kredibilitas penulis akan diragukan. Publikasi tersebut tidak dianggap sebagai kontribusi ilmiah yang sah.
  2. Menyebarkan informasi yang tidak valid: Artikel berkualitas rendah atau tanpa validasi dapat menyesatkan pembaca dan menurunkan kualitas pengetahuan ilmiah.
  3. Memboroskan biaya penelitian: Penulis seringkali mengeluarkan biaya besar untuk publikasi di jurnal predator, padahal dana tersebut bisa digunakan untuk penelitian lain.
  4. Menghambat karier akademik: Publikasi di jurnal predator tidak diakui dalam penilaian akademik, sehingga tidak bisa digunakan untuk kenaikan jabatan fungsional atau akreditasi institusi.
  5. Mengurangi kepercayaan pada publikasi ilmiah: Maraknya jurnal predator membuat publikasi ilmiah kehilangan wibawa. Pembaca menjadi lebih skeptis terhadap artikel yang beredar di internet.

Dampak-dampak ini menunjukkan bahwa jurnal predator bukan sekadar masalah teknis, melainkan juga masalah etika, integritas, dan masa depan ilmu pengetahuan.

Cara Menghindari Jurnal Predator

Untuk melindungi diri dari jurnal predator, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan penulis.

1. Periksa reputasi jurnal

Pastikan jurnal terindeks di database resmi seperti Scopus, Web of Science, atau DOAJ. Jangan hanya percaya pada klaim di situs web jurnal. Banyak jurnal predator menggunakan logo palsu untuk terlihat meyakinkan, sehingga penulis harus membandingkan informasi dengan situs resmi. Melakukan pengecekan silang di portal resmi indeksasi akan membantu memastikan keaslian klaim tersebut.

2. Teliti dewan editorial

Lihat apakah anggota editorial benar-benar akademisi yang kredibel dan sesuai bidang. Jika namanya meragukan atau tidak bisa dilacak, perlu diwaspadai. Beberapa jurnal predator bahkan menggunakan identitas akademisi tanpa izin, sehingga penting menelusuri profil mereka di universitas atau database penelitian. Kredibilitas editorial dapat menjadi indikator awal apakah jurnal dijalankan dengan profesional atau tidak.

3. Cermati proses peer review

Jurnal bereputasi memiliki alur review yang jelas dan biasanya membutuhkan waktu lama. Jika sebuah jurnal menjanjikan publikasi hanya dalam hitungan hari, itu pertanda predator. Proses peer review yang asli melibatkan beberapa reviewer independen, sehingga mustahil dilakukan dalam waktu sangat singkat. Oleh karena itu, janji publikasi instan sebaiknya dianggap sebagai tanda bahaya.

4. Baca artikel-artikel sebelumnya

Kualitas artikel yang sudah terbit bisa menjadi indikator. Jika banyak kesalahan atau tidak relevan, kemungkinan besar itu jurnal predator. Selain itu, coba periksa apakah artikel yang diterbitkan memiliki sitasi yang wajar atau justru berlebihan. Artikel dari jurnal predator biasanya jarang dirujuk karena tidak diakui komunitas akademik.

5. Minta pendapat senior atau kolega

Diskusikan pilihan jurnal dengan pembimbing, dosen senior, atau rekan peneliti. Mereka bisa memberi masukan apakah jurnal tersebut layak atau tidak. Pengalaman senior sering kali membantu dalam menghindari jebakan predator yang pandai menyamarkan identitas. Selain itu, diskusi dapat membuka wawasan tentang alternatif jurnal yang lebih aman dan bereputasi.

Upaya Mengatasi Jurnal Predator di Indonesia

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah publikasi ilmiah yang terus meningkat juga menghadapi tantangan besar terkait jurnal predator. Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain:

  1. Kebijakan dari Kementerian: Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan aturan mengenai publikasi ilmiah, termasuk daftar jurnal yang diakui. Hal ini membantu mengurangi publikasi di jurnal predator.
  2. Peningkatan literasi publikasi: Banyak perguruan tinggi mulai memberikan pelatihan tentang etika publikasi, pengenalan jurnal bereputasi, hingga cara menghindari jurnal predator.
  3. Penguatan repositori institusi: Universitas semakin mendorong publikasi di jurnal yang dikelola sendiri dan sudah terindeks resmi, sehingga dosen dan mahasiswa memiliki alternatif aman.
  4. Kerjasama internasional: Indonesia juga terlibat dalam kerja sama internasional untuk melawan jurnal predator, termasuk memanfaatkan database global untuk verifikasi jurnal.

Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa perang melawan jurnal predator memerlukan sinergi antara individu, institusi, dan pemerintah.

Baca juga: Jurnal Predator dari Luar: Memahami Ancaman, Jenis, dan Dampaknya bagi Dunia Akademik

Kesimpulan

Jurnal predator adalah ancaman nyata bagi dunia akademik karena memanfaatkan kebutuhan publikasi untuk meraih keuntungan finansial.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal