Jurnal Predator dari Luar: Memahami Ancaman, Jenis, dan Dampaknya bagi Dunia Akademik

Jurnal Predator dari Luar: Memahami Ancaman, Jenis, dan Dampaknya bagi Dunia Akademik

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena jurnal predator semakin sering menjadi perhatian para akademisi di seluruh dunia. Jurnal predator adalah publikasi ilmiah yang tampak seolah-olah resmi, namun tidak menjalankan standar akademik yang benar, khususnya dalam proses peninjauan sejawat (peer review). Alih-alih mengedepankan kualitas, jurnal predator lebih berorientasi pada keuntungan finansial dengan menarik biaya publikasi dari penulis tanpa memastikan validitas dan keaslian penelitian. Fenomena ini tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga banyak ditemukan dari luar, terutama di negara-negara yang memanfaatkan kelemahan sistem publikasi ilmiah global.

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang apa itu jurnal predator dari luar, bagaimana cirinya, apa saja jenis-jenisnya, hingga dampaknya bagi dunia akademik internasional. Selain itu, juga akan dijelaskan bagaimana cara menghindari jebakan jurnal predator agar peneliti tetap bisa menjaga kredibilitas ilmiah.

Baca juga:Jurnal Predator dan SINTA: Pemahaman, Klasifikasi, dan Relevansinya dalam Dunia Akademik 

Apa Itu Jurnal Predator?

Jurnal predator adalah publikasi ilmiah yang mengklaim bersifat akademis, tetapi tidak menerapkan standar etika dan kualitas penelitian yang benar. Jurnal ini biasanya tidak melakukan peer review yang ketat, melainkan hanya menerima artikel dengan cepat demi keuntungan finansial. Mereka memanfaatkan kebutuhan para peneliti yang ingin cepat menerbitkan karya ilmiah untuk keperluan kenaikan pangkat, pengakuan, atau akreditasi.

Dari luar negeri, jurnal predator seringkali berasal dari penerbit yang menggunakan nama mirip dengan jurnal bereputasi tinggi. Mereka juga sering memanfaatkan open access sebagai kedok, padahal esensinya bukan untuk menyebarkan pengetahuan tetapi untuk mencari keuntungan semata. Inilah yang membuat peneliti perlu berhati-hati dalam memilih tempat publikasi.

Ciri-ciri Jurnal Predator

Untuk membedakan jurnal predator dari jurnal ilmiah yang kredibel, penting bagi peneliti mengenali ciri-cirinya. Ciri-ciri ini sering muncul secara konsisten, baik pada penerbit lokal maupun internasional. Berikut beberapa poin penting:

1. Proses Publikasi Sangat Cepat

Salah satu ciri paling mencolok dari jurnal predator adalah waktu publikasi yang tidak wajar. Artikel dapat diterbitkan hanya dalam hitungan hari setelah dikirim. Hal ini menunjukkan bahwa jurnal tersebut tidak melakukan proses peer review dengan benar.

2. Biaya Publikasi yang Tidak Transparan

Jurnal predator biasanya menarik biaya publikasi tinggi tanpa memberikan rincian yang jelas mengenai kegunaan biaya tersebut. Berbeda dengan jurnal bereputasi, di mana biaya digunakan untuk proses editing, penyimpanan data, hingga pengelolaan server.

3. Dewan Editorial Palsu atau Tidak Kredibel

Banyak jurnal predator mencantumkan nama-nama profesor atau peneliti terkenal dalam daftar dewan editorial, padahal nama tersebut dipasang tanpa izin. Terkadang, dewan editorial diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki rekam jejak akademik.

4. Judul dan Ruang Lingkup Tidak Spesifik

Jurnal predator cenderung memiliki cakupan yang terlalu luas, misalnya menggabungkan bidang ilmu yang tidak saling terkait. Hal ini dilakukan agar lebih banyak artikel yang masuk dan mereka bisa memperoleh keuntungan lebih besar.

5. Indeksasi Palsu

Mereka sering mengklaim telah terindeks di database bereputasi seperti Scopus atau Web of Science, padahal kenyataannya hanya terindeks di database abal-abal yang tidak memiliki kredibilitas.

Dengan memahami ciri-ciri di atas, peneliti bisa lebih waspada agar tidak terjebak dalam publikasi predator.

Jenis-jenis Jurnal Predator

Fenomena jurnal predator yang berasal dari luar negeri memiliki beragam jenis dengan modus yang berbeda-beda. Pemahaman mengenai jenis-jenis ini akan membantu akademisi dalam mengenali pola penipuan publikasi ilmiah.

1. Jurnal Predator dengan Nama Mirip

Jenis pertama adalah jurnal yang menggunakan nama mirip dengan jurnal bereputasi tinggi. Misalnya, jika ada jurnal resmi bernama Journal of Advanced Research, jurnal predator akan membuat versi mirip seperti International Journal of Advanced Researches. Kesamaan nama ini sengaja dilakukan agar peneliti yang kurang teliti terkecoh dan mengira itu adalah jurnal asli.

2. Jurnal Predator dengan Cakupan Multidisiplin Abal-Abal

Jenis kedua adalah jurnal yang mencantumkan cakupan multidisiplin secara berlebihan. Mereka biasanya menerima semua bidang ilmu sekaligus, dari kedokteran, teknik, ekonomi, hingga sastra. Tujuannya adalah untuk memperluas pasar penulis yang akan mereka tarik sebagai korban.

3. Jurnal Predator dengan Editorial Palsu

Jenis berikutnya adalah jurnal yang mencantumkan nama-nama peneliti terkenal di halaman editorial. Namun setelah ditelusuri, nama tersebut dipasang tanpa izin. Ada juga jurnal predator yang dewan editorialnya hanyalah orang-orang fiktif yang tidak bisa diverifikasi.

4. Jurnal Predator dengan Janji Indeksasi

Beberapa jurnal predator menjanjikan indeksasi di Scopus atau Web of Science sebagai daya tarik. Padahal kenyataannya, mereka hanya terdaftar di database rendah kualitas seperti Google Scholar atau ResearchBib. Janji palsu ini sering menjadi jebakan bagi peneliti pemula.

5. Jurnal Predator Berbasis Konferensi

Jenis lain yang kini marak adalah jurnal predator yang bekerja sama dengan konferensi internasional abal-abal. Mereka biasanya mengundang peneliti untuk mengikuti konferensi berbiaya mahal dengan janji artikel akan dipublikasikan di jurnal bereputasi. Namun, artikel tersebut justru berakhir di jurnal predator.

Dampak Jurnal Predator dari Luar

Jurnal predator bukan sekadar masalah publikasi, tetapi memiliki dampak serius terhadap dunia akademik. Ada beberapa dampak yang perlu diperhatikan:

1. Menurunkan Kredibilitas Peneliti

Publikasi di jurnal predator dapat merusak reputasi seorang peneliti. Karya ilmiah yang seharusnya menjadi bukti kualitas akademik justru dianggap lemah karena diterbitkan di tempat yang tidak bereputasi.

2. Menyebarkan Ilmu yang Tidak Valid

Tanpa peer review, artikel yang diterbitkan di jurnal predator berpotensi mengandung kesalahan fatal atau bahkan hasil penelitian palsu. Hal ini membahayakan dunia akademik karena informasi yang salah bisa menyebar luas.

3. Kerugian Finansial

Penulis seringkali harus membayar biaya publikasi yang sangat mahal. Namun, setelah membayar, hasilnya tidak sebanding dengan kualitas publikasi yang didapat.

4. Mencoreng Integritas Akademik Global

Maraknya jurnal predator membuat publikasi ilmiah menjadi tidak lagi dipandang sebagai indikator kualitas penelitian. Hal ini mencoreng kredibilitas dunia akademik, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Negara-negara yang Menjadi Basis Jurnal Predator

Meskipun jurnal predator bisa muncul dari mana saja, beberapa negara sering disebut sebagai basis berkembangnya jurnal predator. Hal ini disebabkan lemahnya regulasi dan tingginya permintaan publikasi cepat.

1. India

India sering disebut sebagai salah satu negara dengan jumlah jurnal predator terbanyak. Banyak penerbit di India yang menawarkan publikasi cepat dengan biaya tinggi, memanfaatkan tingginya permintaan publikasi dari mahasiswa dan dosen.

2. Nigeria

Nigeria juga dikenal memiliki banyak jurnal predator, terutama dalam bidang ilmu sosial dan humaniora. Penerbit dari negara ini sering memanfaatkan penulis dari luar negeri dengan janji indeksasi palsu.

3. Turki

Beberapa penerbit dari Turki dikenal mengoperasikan konferensi abal-abal yang kemudian dikaitkan dengan jurnal predator. Model bisnis ini menjebak banyak akademisi internasional.

4. Beberapa Negara Eropa Timur

Di kawasan Eropa Timur, terutama negara-negara yang sistem akademiknya belum kuat, jurnal predator juga bermunculan. Mereka sering menyamar sebagai jurnal internasional dengan domain .org atau .eu untuk menambah kesan kredibel.

Cara Menghindari Jurnal Predator

Agar tidak terjebak dalam publikasi predator, peneliti perlu menerapkan strategi pencegahan. Beberapa langkah berikut bisa menjadi panduan:

  1. Cek Indeksasi Secara Resmi: Pastikan jurnal benar-benar terindeks di database resmi seperti Scopus, Web of Science, atau DOAJ. Jangan hanya percaya pada klaim yang ditulis di situs jurnal.
  2. Teliti Dewan Editorial: Lakukan pengecekan terhadap nama-nama dewan editorial. Jika nama yang dicantumkan tidak bisa ditemukan di lembaga akademik resmi, kemungkinan besar jurnal tersebut adalah predator.
  3. Amati Waktu Publikasi: Jika artikel bisa terbit dalam hitungan hari tanpa revisi berarti proses peer review tidak dijalankan dengan benar.
  4. Gunakan Daftar Rujukan Anti-Predator: Ada beberapa daftar yang dapat membantu peneliti mengenali jurnal predator, seperti Beall’s List. Walaupun sudah tidak diperbarui secara resmi, daftar ini masih menjadi acuan penting.
Baca juga: Publisher Jurnal Predator: Ancaman bagi Dunia Akademik

Kesimpulan

Jurnal predator dari luar merupakan ancaman serius bagi dunia akademik global. Mereka beroperasi dengan tujuan utama mencari keuntungan finansial, bukan menyebarkan ilmu pengetahuan.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal