Dunia akademik modern sangat erat kaitannya dengan publikasi ilmiah. Seorang mahasiswa, dosen, atau peneliti akan dinilai kredibilitasnya tidak hanya dari kemampuan mengajar atau meneliti, tetapi juga dari rekam jejak publikasinya di jurnal ilmiah. Sistem penilaian berbasis publish or perish membuat banyak orang berlomba-lomba untuk segera menerbitkan karyanya. Dalam konteks inilah muncul fenomena yang dikenal sebagai jurnal predator cepat terbit.
Jurnal predator adalah istilah yang merujuk pada penerbit atau pengelola jurnal ilmiah yang mengeksploitasi kebutuhan peneliti untuk publikasi dengan cara mengenakan biaya tinggi, menjanjikan publikasi cepat, namun tidak memberikan proses penelaahan sejati (peer review) dan tidak memenuhi standar etika publikasi. Istilah ini pertama kali populer berkat Jeffrey Beall, seorang pustakawan dari University of Colorado, yang menyusun daftar penerbit predator untuk memperingatkan komunitas ilmiah.
Fenomena jurnal predator semakin merebak seiring berkembangnya teknologi digital dan sistem open access. Jurnal predator cepat terbit bahkan menjadi “jalan pintas” yang menggoda bagi sebagian peneliti, meskipun risiko jangka panjangnya bisa sangat merugikan.
Baca juga: Jurnal Predator Tanpa Editor: Ancaman Bagi Dunia Akademik
Ciri-ciri Jurnal Predator Cepat Terbit
Sebelum membahas lebih jauh dampak dan bahayanya, penting untuk memahami ciri-ciri umum yang biasanya dimiliki oleh jurnal predator. Beberapa karakteristik tersebut antara lain:
- Proses Review Sangat Cepat atau Tidak Ada Sama Sekali: Salah satu daya tarik jurnal predator adalah janji publikasi dalam hitungan hari atau minggu. Padahal, jurnal ilmiah bereputasi biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan karena melalui proses peer review yang ketat. Jika sebuah artikel diterima hanya dalam 48 jam tanpa revisi, besar kemungkinan jurnal tersebut predator.
- Biaya Publikasi Tinggi dan Tidak Transparan: Jurnal predator kerap menetapkan biaya publikasi (Article Processing Charges/ APC) yang tidak wajar, tanpa rincian penggunaan dana yang jelas. Bahkan ada yang langsung meminta pembayaran sebelum artikel dikirimkan.
- Editor dan Reviewer Tidak Jelas: Panel editorial sering kali mencantumkan nama-nama yang tidak relevan atau bahkan fiktif. Ada pula yang mencatut nama profesor tanpa izin demi terlihat kredibel.
- Tidak Terindeks di Database Bereputasi: Sebagian besar jurnal predator tidak masuk dalam database bereputasi seperti Scopus atau Web of Science. Jika pun ada, biasanya hanya sementara sebelum dikeluarkan karena terbukti bermasalah.
- Alamat dan Kontak Tidak Transparan: Situs jurnal predator sering kali mencantumkan alamat palsu atau tidak jelas, dan kontak yang tersedia hanya berupa email generik seperti Gmail atau Yahoo.
- Publikasi Massal dan Multidisiplin Tanpa Batasan: Banyak jurnal predator menerbitkan ratusan hingga ribuan artikel per edisi, dengan topik yang sangat beragam tanpa fokus ke bidang tertentu. Ini menunjukkan orientasi mereka lebih pada bisnis daripada kualitas ilmiah.
Mengapa Jurnal Predator Cepat Terbit Menarik?
Meski sudah banyak diperingatkan, jurnal predator tetap diminati. Ada beberapa faktor yang membuat peneliti tergoda:
- Tuntutan Akademik dan Karier: Di banyak perguruan tinggi, publikasi menjadi syarat kelulusan mahasiswa, kenaikan pangkat dosen, hingga persyaratan hibah penelitian. Tekanan ini membuat sebagian orang mencari jalan instan.
- Proses yang Cepat dan Mudah: Proses peer review di jurnal bereputasi bisa memakan waktu lama, bahkan artikel bisa ditolak berkali-kali. Sementara jurnal predator menawarkan kepastian terbit dalam waktu singkat.
- Kurangnya Literasi Publikasi: Tidak semua peneliti paham bagaimana membedakan jurnal predator dari jurnal bereputasi. Minimnya literasi membuat banyak orang terjebak.
- Kebanggaan Instan: Sebagian penulis hanya mengejar status “sudah publikasi internasional” tanpa peduli kualitas jurnalnya. Hal ini kerap dijadikan ajang pamer di media sosial atau CV.
- Kebutuhan Administratif: Dalam beberapa kasus, lembaga pendidikan atau institusi hanya menilai jumlah publikasi tanpa memeriksa kualitas jurnal. Celah inilah yang dimanfaatkan jurnal predator.
Dampak Negatif Jurnal Predator
Fenomena jurnal predator cepat terbit tidak hanya merugikan individu, tetapi juga dunia ilmiah secara keseluruhan. Beberapa dampak buruknya antara lain:
- Merusak Reputasi Peneliti: Artikel yang dipublikasikan di jurnal predator akan sulit diakui dalam dunia akademik. Reputasi peneliti bisa jatuh karena dianggap tidak selektif dalam memilih wadah publikasi.
- Kualitas Ilmiah Diragukan: Tanpa peer review yang ketat, artikel yang diterbitkan sering kali penuh kesalahan metodologi, plagiarisme, atau bahkan data palsu. Ini berbahaya karena dapat menyesatkan penelitian berikutnya.
- Kerugian Finansial: Biaya publikasi yang tinggi jelas merugikan penulis. Banyak yang menghabiskan dana pribadi atau institusi hanya untuk mendapatkan publikasi yang tidak bernilai.
- Mencederai Integritas Akademik: Jurnal predator mengikis nilai etika penelitian. Alih-alih menjadi ajang berbagi pengetahuan, publikasi berubah menjadi komoditas bisnis.
- Ilmu Pengetahuan Menjadi Sampah Digital: Karena tidak ada penyaringan, artikel-artikel berkualitas rendah menumpuk di internet. Hal ini menyulitkan peneliti serius dalam memilah referensi yang valid.
Strategi Menghindari Jurnal Predator
Agar tidak terjebak dalam jebakan publikasi predator, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan penulis:
- Cek Indeksasi Jurnal: Pastikan jurnal yang dituju terindeks di database bereputasi seperti Scopus, Web of Science, atau DOAJ (Directory of Open Access Journals).
- Teliti Situs Resmi Jurnal: Periksa alamat kantor, daftar dewan editorial, serta konsistensi informasi. Jurnal predator biasanya memiliki tampilan website yang murahan dan tidak profesional.
- Perhatikan Proses Review: Jurnal bereputasi selalu mencantumkan tahapan peer review. Jika sebuah jurnal menjanjikan publikasi dalam hitungan hari tanpa revisi, patut dicurigai.
- Diskusikan dengan Senior atau Kolega: Sebelum mengirim artikel, ada baiknya berkonsultasi dengan dosen pembimbing, rekan sejawat, atau pustakawan yang paham publikasi.
- Gunakan Sumber Informasi Terpercaya: Terdapat beberapa daftar dan panduan yang bisa membantu, misalnya daftar white list DOAJ atau black list jurnal predator yang sempat disusun Beall.
Studi Kasus: Terjebak di Jurnal Predator
Bayangkan seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang mengejar target kelulusan. Karena syaratnya harus publikasi internasional, ia mencari jurnal yang cepat menerima naskah. Ia menemukan jurnal dengan janji “terbit dalam 7 hari setelah pembayaran”. Dengan biaya cukup besar, artikelnya pun terbit.
Awalnya ia bangga, bahkan mencantumkan publikasi tersebut di CV. Namun ketika diverifikasi oleh kampus, jurnal itu tidak diakui karena termasuk predator. Hasilnya, ia tidak bisa lulus tepat waktu, uang habis, dan reputasinya tercoreng. Kasus seperti ini bukanlah fiksi belaka, melainkan kenyataan yang sering terjadi.
Peran Institusi dalam Melawan Jurnal Predator
Masalah jurnal predator bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga lembaga. Beberapa langkah yang bisa dilakukan institusi akademik antara lain:
- Menyusun Kebijakan Publikasi yang Jelas: Perguruan tinggi perlu menetapkan standar jurnal yang diakui, misalnya hanya yang terindeks Scopus atau DOAJ.
- Meningkatkan Literasi Publikasi: Mengadakan pelatihan tentang etika publikasi, cara memilih jurnal, dan pemahaman indeksasi.
- Membangun Jurnal Berkualitas: Alih-alih membiarkan dosen atau mahasiswa mencari jalan instan, kampus bisa mengembangkan jurnal internal yang bereputasi.
- Memberikan Insentif Berdasarkan Kualitas, Bukan Kuantitas: Jika penilaian hanya berdasarkan jumlah publikasi, maka godaan jurnal predator akan tetap besar. Insentif harus diberikan pada publikasi di jurnal yang kredibel.
Solusi Jangka Panjang
Mengatasi fenomena jurnal predator cepat terbit memerlukan solusi komprehensif:
- Kesadaran Etika Akademik: Peneliti harus sadar bahwa publikasi bukan hanya untuk kebutuhan pribadi, melainkan kontribusi pada ilmu pengetahuan.
- Kolaborasi Global: Komunitas akademik internasional perlu bekerja sama untuk memerangi jurnal predator dengan membangun basis data terbuka dan memperbarui daftar hitam secara berkala.
- Pendidikan Literasi Informasi: Literasi publikasi harus ditanamkan sejak awal, bahkan di tingkat sarjana, agar mahasiswa terbiasa kritis dalam memilih sumber dan wadah publikasi.
- Penguatan Regulasi Nasional: Pemerintah melalui lembaga pendidikan tinggi dapat menetapkan aturan ketat untuk menghindari pengakuan jurnal predator dalam penilaian akademik.
Baca juga: Jurnal Predator Tanpa Review: Ancaman bagi Dunia Akademik
Kesimpulan
Jurnal predator cepat terbit memang menggoda karena menawarkan solusi instan di tengah tekanan publish or perish.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.


