Dunia akademik terus berkembang dengan pesat. Semakin banyak penelitian dipublikasikan setiap tahunnya, semakin besar pula kebutuhan terhadap jurnal ilmiah yang kredibel sebagai sarana publikasi. Namun, di balik perkembangan positif tersebut, muncul fenomena yang meresahkan: jurnal predator. Istilah ini merujuk pada jurnal-jurnal yang mengeksploitasi kebutuhan akademisi untuk publikasi tanpa melalui mekanisme ilmiah yang benar.
Identifikasi terhadap jurnal predator menjadi sangat penting, terutama bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti yang sedang mengejar publikasi untuk keperluan akademik maupun karier. Publikasi di jurnal predator bukan hanya merugikan peneliti secara finansial, tetapi juga dapat merusak reputasi akademik seseorang. Artikel ini akan membahas secara panjang lebar tentang apa itu jurnal predator, ciri-cirinya, cara mengidentifikasinya, hingga dampak yang ditimbulkan jika seorang peneliti terjebak di dalamnya.
Baca juga: Daftar Publisher Jurnal Predator: Ancaman Serius bagi Dunia Akademik
Apa Itu Jurnal Predator?
Sebelum masuk ke langkah-langkah identifikasi, penting untuk memahami definisinya. Jurnal predator adalah jurnal yang mengklaim sebagai jurnal ilmiah, tetapi tidak menjalankan standar etika dan akademik dalam publikasi. Alih-alih mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, jurnal predator lebih berorientasi pada keuntungan finansial dengan memanfaatkan sistem open access.
Biasanya, jurnal predator:
- Menarik biaya publikasi sangat tinggi tanpa memberikan layanan editorial yang memadai.
- Tidak menerapkan proses peer review yang ketat.
- Mencetak artikel dengan cepat demi uang, bukan kualitas.
- Sering kali menampilkan informasi palsu terkait indeksasi, editor, dan faktor dampak.
Fenomena ini muncul seiring dengan meningkatnya kebutuhan publikasi di era akademik modern. Banyak peneliti merasa tertekan oleh kebijakan “publish or perish” yang membuat mereka mencari jalan pintas. Di situlah jurnal predator menawarkan “kemudahan” publikasi dengan harga tertentu.
Mengapa Jurnal Predator Berbahaya?
Mungkin sebagian peneliti menganggap bahwa publikasi di jurnal predator tidak masalah selama karya mereka tetap dipublikasikan. Namun, kenyataannya dampaknya sangat besar.
- Merusak Reputasi Akademik: Sekali nama penulis masuk dalam jurnal predator, reputasi ilmiahnya bisa tercoreng. Publikasi semacam ini dianggap tidak kredibel dan bisa memengaruhi kesempatan mendapatkan beasiswa, jabatan akademik, maupun proyek penelitian.
- Hilangnya Kepercayaan Ilmiah: Artikel yang dimuat di jurnal predator sering kali tidak melalui proses penyuntingan atau peninjauan sejawat. Akibatnya, kualitas artikel rendah dan tidak dapat dijadikan rujukan ilmiah yang valid.
- Kerugian Finansial: Banyak jurnal predator memungut biaya publikasi tinggi, terkadang mencapai ratusan hingga ribuan dolar, tanpa memberikan layanan setara.
- Menghambat Perkembangan Ilmu Pengetahuan: Publikasi di jurnal predator membuat penelitian berkualitas rendah tersebar luas, sehingga mencampuradukkan literatur yang kredibel dengan yang tidak. Hal ini dapat memperlambat kemajuan ilmu pengetahuan.
Ciri-ciri Jurnal Predator
Untuk mengidentifikasi jurnal predator, ada beberapa ciri yang bisa diperhatikan. Ciri-ciri ini tidak selalu muncul sekaligus, tetapi semakin banyak tanda yang ditemukan, semakin besar kemungkinan jurnal tersebut predator.
- Website yang Buruk dan Tidak Profesional: Banyak jurnal predator memiliki situs web yang tampak seadanya, penuh dengan kesalahan tata bahasa, dan desain yang tidak konsisten. Tampilan web memang bukan satu-satunya indikator, tetapi bisa menjadi pertanda awal.
- Informasi Indeksasi yang Meragukan: Jurnal predator sering kali mengklaim terindeks di berbagai basis data internasional. Namun, ketika diperiksa, indeksasi tersebut tidak valid. Misalnya, mereka mencantumkan nama indeks palsu atau menggunakan faktor dampak dari lembaga yang tidak kredibel.
- Editor yang Tidak Jelas: Dewan editorial adalah salah satu aspek penting dalam jurnal ilmiah. Pada jurnal predator, sering kali editor yang tercantum bukanlah pakar di bidangnya, bahkan ada nama-nama fiktif atau peneliti yang tidak pernah tahu namanya digunakan.
- Proses Review Sangat Cepat: Normalnya, proses peer review membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Namun, jurnal predator sering kali menjanjikan publikasi dalam hitungan hari atau satu minggu. Hal ini hampir mustahil dilakukan jika review dilakukan secara serius.
- Email Undangan yang Agresif: Jurnal predator biasanya aktif mengirimkan email massal untuk mengundang peneliti mengirim artikel. Isi email sering kali penuh pujian berlebihan dan menjanjikan publikasi cepat.
- Biaya Publikasi Tidak Transparan: Biaya publikasi atau article processing charge (APC) biasanya disampaikan secara jelas oleh jurnal bereputasi. Namun, pada jurnal predator, biaya ini sering disembunyikan di awal, lalu baru ditampilkan setelah artikel diterima.
- Artikel yang Dipublikasikan Tidak Berkualitas: Jika ditelusuri, artikel yang diterbitkan sering kali memiliki kualitas rendah, penuh kesalahan, bahkan ada yang plagiat.
Cara Mengidentifikasi Jurnal Predator
Setelah mengetahui ciri-cirinya, berikut adalah langkah praktis untuk mengidentifikasi jurnal predator agar peneliti tidak terjebak.
- Periksa Indeksasi dengan Teliti: Jurnal kredibel biasanya terindeks di basis data resmi seperti Scopus, Web of Science, atau DOAJ (Directory of Open Access Journals). Jika sebuah jurnal mengklaim terindeks tetapi tidak bisa ditemukan di basis data tersebut, maka patut dicurigai.
- Telusuri Dewan Editorial: Pastikan nama-nama editor benar-benar akademisi yang kredibel. Caranya bisa dengan mencari profil mereka di Google Scholar atau universitas masing-masing.
- Analisis Kualitas Artikel yang Sudah Dipublikasikan: Membaca beberapa artikel di jurnal tersebut bisa memberikan gambaran kualitasnya. Jika banyak artikel berisi kesalahan fatal, bahasa buruk, atau tidak sesuai standar penelitian, maka jurnal itu meragukan.
- Perhatikan Waktu Proses Review: Jika jurnal menjanjikan publikasi dalam waktu sangat singkat, misalnya hanya 3 hari, maka itu tanda besar bahwa mereka tidak menjalankan proses review dengan benar.
- Gunakan Daftar Referensi Jurnal Bereputasi: Peneliti dapat membandingkan jurnal tersebut dengan daftar jurnal yang diakui. Misalnya, Kementerian Pendidikan di beberapa negara memiliki daftar jurnal yang masuk kategori bereputasi (misalnya di Indonesia ada SINTA untuk kategori nasional).
- Hati-Hati dengan Nama yang Mirip: Banyak jurnal predator menggunakan nama mirip dengan jurnal bereputasi. Contoh, jika ada jurnal asli bernama International Journal of Education, jurnal predator bisa menggunakan nama Global International Journal of Education Research.
- Konsultasi dengan Senior atau Institusi: Sebelum mengirim artikel, sebaiknya peneliti bertanya kepada dosen pembimbing, kolega, atau pihak universitas yang memiliki pengalaman publikasi.
Dampak Publikasi di Jurnal Predator
Jika seorang peneliti tetap memilih untuk mempublikasikan karya di jurnal predator, maka ada beberapa konsekuensi jangka panjang:
- Artikel tidak akan dihitung dalam penilaian akademik resmi.
- Sulit digunakan sebagai rujukan dalam penelitian selanjutnya.
- Penulis akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan reputasi ilmiah.
- Ada kemungkinan artikel tidak bisa dipindahkan ke jurnal kredibel karena masalah hak cipta.
Perbedaan Jurnal Predator dan Jurnal Kredibel
Untuk lebih memperjelas, berikut penjelasan perbedaan mendasar antara jurnal predator dan jurnal kredibel.
- Jurnal Kredibel memiliki proses peer review yang jelas, editor berkompeten, indeksasi resmi, serta artikel berkualitas.
- Jurnal Predator cenderung cepat menerima artikel, tidak transparan soal biaya, editor tidak jelas, dan kualitas artikel rendah.
Upaya Menghindari Jurnal Predator
Mengingat dampak buruknya, para peneliti perlu menerapkan strategi pencegahan agar tidak terjebak. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Meningkatkan Literasi Publikasi Ilmiah: Mahasiswa dan dosen harus dibekali pemahaman tentang cara memilih jurnal.
- Menggunakan Sumber Informasi Resmi: Selalu rujuk daftar resmi seperti Scopus, WoS, atau DOAJ sebelum mengirim artikel.
- Membangun Kolaborasi dengan Peneliti Lain: Diskusi dengan peneliti berpengalaman dapat membantu menentukan pilihan jurnal yang tepat.
- Menanamkan Etika Publikasi: Peneliti harus memahami bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. Tidak ada gunanya mengejar banyak publikasi jika terbit di jurnal predator.
Baca juga: Cara Cek Jurnal Predator
Kesimpulan
Jurnal predator adalah ancaman nyata bagi dunia akademik. Mereka mengeksploitasi peneliti dengan iming-iming publikasi cepat dan mudah, tetapi tanpa kualitas dan integritas ilmiah.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.


