Hubungan Ontologi dan Metodologi

Dalam dunia penelitian ilmiah, terdapat berbagai istilah yang menjadi landasan berpikir dan bertindak bagi peneliti. Dua di antaranya adalah ontologi dan metodologi. Meski tampak sebagai istilah filsafat dan teknis yang terpisah, keduanya ternyata memiliki hubungan yang erat dan saling memengaruhi. Pemahaman mendalam tentang hubungan ontologi dan metodologi bukan hanya membantu peneliti menyusun kerangka riset yang logis, tetapi juga memastikan bahwa pendekatan yang diambil benar-benar selaras dengan pemahaman dasar tentang realitas yang ingin diteliti.

Baca juga: Perbedaan Ontologi dan Epistemologi

Pengertian Ontologi

Secara etimologis, ontologi berasal dari kata Yunani ontos (yang ada) dan logos (ilmu). Dalam konteks filsafat, ontologi merujuk pada cabang filsafat yang membahas tentang hakikat realitas atau keberadaan. Dalam dunia penelitian, ontologi berperan sebagai kerangka konseptual yang menjelaskan bagaimana peneliti memandang realitas: apakah realitas itu bersifat objektif dan tunggal, atau bersifat subjektif dan jamak.

Terdapat dua pendekatan utama dalam ontologi:

  1. Realitas Objektif (Ontologi Realisme): Pendekatan ini menganggap bahwa realitas berada di luar diri manusia dan dapat diamati secara independen. Realitas dianggap tunggal, stabil, dan dapat diukur.
  2. Realitas Subjektif (Ontologi Konstruktivisme): Pendekatan ini meyakini bahwa realitas dibentuk melalui persepsi, pengalaman, dan interpretasi manusia. Realitas dianggap plural dan bisa berbeda antara individu satu dan lainnya.

Pengertian Metodologi

Sementara itu, metodologi adalah ilmu tentang metode. Dalam konteks penelitian, metodologi menjelaskan strategi atau pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data. Metodologi berfungsi sebagai peta jalan bagi peneliti dalam menyusun langkah-langkah untuk menjawab pertanyaan riset.

Secara umum, metodologi dapat dikategorikan dalam dua pendekatan besar:

  1. Metodologi Kuantitatif: Pendekatan ini menggunakan data numerik, bertujuan menguji hipotesis, dan sering kali menggunakan eksperimen atau survei. Cocok dengan pandangan ontologi realisme.
  2. Metodologi Kualitatif: Pendekatan ini mengandalkan data deskriptif, bertujuan memahami makna, dan biasanya menggunakan wawancara, observasi, atau studi kasus. Selaras dengan ontologi konstruktivisme.

Hubungan Ontologi dan Metodologi dalam Penelitian

Hubungan antara ontologi dan metodologi dapat digambarkan sebagai hubungan hierarkis. Ontologi berada pada level paling dasar sebagai fondasi filosofis, lalu epistemologi (ilmu tentang pengetahuan) menjembatani ontologi dengan metodologi. Singkatnya:

Ontologi → Epistemologi → Metodologi → Metode → Teknik Pengumpulan Data

Dengan kata lain, cara kita memandang realitas (ontologi) akan memengaruhi cara kita memperoleh pengetahuan (epistemologi), dan selanjutnya menentukan bagaimana kita meneliti (metodologi).

1. Ontologi Realisme dan Metodologi Kuantitatif

Dalam pandangan realisme, dunia memiliki struktur dan hukum yang stabil, dan peneliti bertugas untuk menemukannya. Oleh karena itu, metodologi yang digunakan harus memungkinkan pengukuran dan pengujian secara objektif.

Beberapa ciri khasnya:

  • Menggunakan angka dan statistik
  • Hipotesis diuji melalui eksperimen
  • Peneliti menjaga jarak dari objek penelitian
  • Fokus pada generalisasi

Contoh penelitian: “Pengaruh intensitas belajar terhadap nilai ujian matematika siswa SMA”.

Dalam contoh ini, realitas dianggap bisa diukur, nilai dianggap sebagai hasil dari suatu sebab-akibat yang dapat diuji secara kuantitatif.

2. Ontologi Konstruktivisme dan Metodologi Kualitatif

Sebaliknya, konstruktivisme meyakini bahwa realitas adalah hasil konstruksi sosial yang bervariasi tergantung konteks dan individu. Oleh karena itu, pendekatan penelitian kualitatif lebih sesuai karena menekankan pada pemahaman mendalam terhadap pengalaman subjek.

Ciri-ciri pendekatan ini:

  • Data berupa narasi, wawancara, observasi
  • Peneliti terlibat langsung dalam proses
  • Fokus pada makna, bukan angka
  • Hasil tidak untuk digeneralisasi, tetapi dipahami dalam konteks tertentu

Contoh penelitian: “Pengalaman siswa dalam menghadapi ujian nasional di sekolah pinggiran kota”.

Dalam pendekatan ini, kenyataan tidak tunggal. Setiap siswa bisa memiliki pengalaman dan makna yang berbeda tentang ujian nasional, dan inilah yang ingin dipahami oleh peneliti.

Penyesuaian Ontologi dan Metodologi: Pentingnya Konsistensi Filosofis

Salah satu kesalahan umum dalam penelitian adalah ketidaksesuaian antara ontologi dan metodologi. Misalnya, seorang peneliti meyakini bahwa realitas bersifat subjektif (ontologi konstruktivisme), tetapi menggunakan survei kuantitatif untuk menjawab pertanyaan riset. Hal ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara asumsi dasar dan teknik analisis.

Untuk menjaga konsistensi filosofis, peneliti perlu:

  • Menentukan posisi ontologisnya sejak awal
  • Memastikan bahwa metodologi yang dipilih sesuai dengan pandangan ontologis
  • Menghindari penggunaan teknik atau pendekatan yang bertentangan dengan asumsi dasar

Pengaruh Ontologi terhadap Desain Penelitian

Pilihan ontologis memengaruhi berbagai aspek desain penelitian, mulai dari rumusan masalah, tujuan, hingga teknik analisis data. Berikut beberapa pengaruh langsungnya:

  1. Penentuan Tujuan Penelitian
  • Ontologi realisme: tujuan untuk mengungkap hubungan sebab-akibat yang berlaku universal.
  • Ontologi konstruktivisme: tujuan untuk memahami makna dan pengalaman subjektif dari individu dalam suatu konteks.

      2. Peran Peneliti

  • Dalam pendekatan objektif, peneliti bersifat netral dan menjaga jarak.
  • Dalam pendekatan subjektif, peneliti menjadi bagian dari proses, bahkan bisa menjadi instrumen utama dalam pengumpulan data.

      3. Cara Menyusun Pertanyaan Penelitian

  • Ontologi objektif: pertanyaan bersifat terukur, seperti “seberapa besar pengaruh X terhadap Y?”
  • Ontologi subjektif: pertanyaan bersifat eksploratif, seperti “bagaimana pengalaman individu dalam menghadapi X?”

      4. Teknik Analisis Data

  • Dalam metodologi kuantitatif: analisis statistik (regresi, ANOVA, korelasi)
  • Dalam metodologi kualitatif: analisis tematik, coding, naratif

Interaksi Dinamis antara Ontologi dan Metodologi

Hubungan antara ontologi dan metodologi bukanlah hubungan satu arah yang kaku. Dalam praktiknya, keduanya bisa berinteraksi secara dinamis. Ada kalanya peneliti mengeksplorasi ulang posisi ontologisnya setelah mengalami proses riset di lapangan. Misalnya:

  • Seorang peneliti kuantitatif menemukan bahwa realitas sosial yang ia teliti tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh angka, lalu beralih menggunakan pendekatan kualitatif.
  • Sebaliknya, peneliti kualitatif bisa mengembangkan temuan awal menjadi hipotesis yang kemudian diuji secara kuantitatif.

Dari sinilah muncul pendekatan mixed-methods, penggabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang menuntut fleksibilitas baik dalam ontologi maupun metodologi.

Studi Kasus: Menerapkan Hubungan Ontologi dan Metodologi

Bayangkan seorang peneliti ingin meneliti dampak media sosial terhadap kepercayaan diri remaja. Jika ia menggunakan pendekatan ontologi realisme, maka:

  • Ia akan merumuskan hipotesis seperti: “Semakin sering remaja menggunakan media sosial, semakin rendah kepercayaan dirinya.”
  • Ia akan menggunakan kuesioner standar, lalu menguji korelasi atau regresi.

Namun jika ia memilih ontologi konstruktivisme:

  • Ia akan bertanya: “Bagaimana remaja memaknai pengalaman menggunakan media sosial terhadap rasa percaya diri mereka?”
  • Ia akan melakukan wawancara mendalam, observasi, atau studi naratif.

Kedua pendekatan bisa menghasilkan wawasan yang berbeda namun saling melengkapi, tergantung tujuan penelitian.

Tantangan dalam Menjaga Koherensi Ontologi dan Metodologi

Meski idealnya harus konsisten, dalam praktiknya banyak peneliti menghadapi tantangan berikut:

  1. Kurangnya Pemahaman Filosofis: Banyak mahasiswa dan peneliti pemula menggunakan metodologi tertentu karena “umum digunakan” tanpa memahami fondasi ontologisnya.
  2. Tekanan Institusional: Terkadang institusi atau dosen pembimbing mengarahkan ke pendekatan tertentu tanpa memberi ruang diskusi filosofis yang mendalam.
  3. Keterbatasan Waktu dan Sumber Daya: Penelitian dengan pendekatan kualitatif mendalam memerlukan waktu lama, sehingga peneliti memilih pendekatan kuantitatif meskipun kurang sesuai dengan tujuan riset.
Baca juga: Ontologi dan Struktur Realitas

Kesimpulan

Ontologi dan metodologi adalah dua konsep kunci dalam penelitian yang saling berkaitan erat. Ontologi sebagai pandangan tentang realitas menjadi fondasi bagi pemilihan metodologi yang akan digunakan. Jika peneliti menganggap realitas sebagai sesuatu yang objektif dan terukur, maka metodologi kuantitatif menjadi pilihan. Sebaliknya, jika realitas dianggap sebagai sesuatu yang subjektif dan dibentuk oleh pengalaman, maka pendekatan kualitatif lebih sesuai.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal