Bedanya Studi Literatur dan Studi Pustaka

Bedanya Studi Literatur dan Studi Pustaka

Penelitian ilmiah tidak bisa dilepaskan dari kegiatan membaca dan menelaah berbagai sumber informasi. Dua istilah yang sering digunakan dalam konteks tersebut adalah studi literatur dan studi pustaka. Meski sekilas terdengar sama, keduanya memiliki makna dan penerapan yang berbeda. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai perbedaan studi literatur dan studi pustaka, mulai dari pengertian, tujuan, hingga karakteristik masing-masing.

Baca juga: Buku Metode Penelitian Studi Literatur: Panduan Lengkap Memahami Penelitian Berbasis Kajian Pustaka

Pengertian Studi Literatur

Sebelum memahami perbedaannya, kita perlu mengenali terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan studi literatur. Studi literatur adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara meninjau, membaca, dan menganalisis berbagai sumber literatur yang relevan dengan topik penelitian. Sumber-sumber tersebut bisa berupa buku, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, hingga hasil karya ilmiah lain yang mendukung pembahasan suatu permasalahan.

Dalam studi literatur, peneliti tidak melakukan eksperimen atau pengumpulan data lapangan, melainkan fokus pada penelusuran teori, konsep, dan temuan-temuan terdahulu. Tujuannya adalah untuk memahami sejauh mana penelitian tentang topik yang sama telah dilakukan, menemukan celah penelitian (research gap), serta membangun kerangka teori yang kokoh. Dengan demikian, studi literatur lebih bersifat konseptual dan analitis.

Pengertian Studi Pustaka

Berbeda dengan studi literatur, studi pustaka lebih menekankan pada proses pengumpulan dan pengkajian sumber-sumber yang berasal dari pustaka, seperti buku, ensiklopedia, kamus, laporan resmi, maupun dokumen arsip. Studi pustaka sering kali menjadi langkah awal dalam penelitian untuk memperoleh landasan teoritis atau latar belakang masalah yang kuat.

Studi pustaka dapat dipahami sebagai aktivitas membaca dan merangkum informasi yang bersumber dari perpustakaan atau basis data ilmiah. Peneliti menggunakan pendekatan ini untuk memperkaya pengetahuan tentang topik penelitian yang akan dikaji. Jadi, meskipun keduanya sama-sama berhubungan dengan sumber bacaan, studi pustaka lebih menitikberatkan pada proses penelusuran sumber, sedangkan studi literatur menitikberatkan pada analisis isi dan keterkaitan antar konsep.

Tujuan Studi Literatur dan Studi Pustaka

Kedua pendekatan ini sama-sama penting dalam penelitian, tetapi memiliki perbedaan dalam tujuan. Untuk memahami lebih mendalam, berikut penjelasan tujuan masing-masing.

1. Tujuan Studi Literatur

  1. Mengidentifikasi teori dan konsep utama yang telah dibahas oleh para ahli terkait dengan topik penelitian. Dengan menelaah teori tersebut, peneliti dapat memahami dasar-dasar pemikiran yang relevan.
  2. Menemukan kesenjangan penelitian hal-hal yang belum dikaji secara mendalam oleh penelitian terdahulu. Ini menjadi landasan untuk menentukan arah penelitian baru.
  3. Membangun kerangka teori yang digunakan sebagai pijakan dalam menganalisis data atau menyusun argumentasi ilmiah. Kerangka teori ini akan menjadi dasar bagi keseluruhan struktur penelitian.
  4. Menghindari duplikasi penelitian. Dengan memahami penelitian yang sudah ada, peneliti dapat menciptakan kajian yang lebih orisinal dan bernilai tambah.

Keempat tujuan tersebut menunjukkan bahwa studi literatur berorientasi pada pemahaman dan sintesis teori, bukan sekadar pengumpulan data bacaan.

Tujuan Studi Pustaka

Sementara itu, tujuan studi pustaka mencakup:

  1. Mengumpulkan informasi dasar tentang topik yang akan diteliti, sehingga peneliti memiliki pemahaman umum sebelum masuk ke tahap analisis.
  2. Mendapatkan sumber referensi yang relevan, baik berupa buku, artikel, maupun dokumen resmi yang dapat mendukung penyusunan teori atau latar belakang masalah.
  3. Mengetahui perkembangan penelitian yang pernah dilakukan terkait topik serupa, baik dari sisi konsep maupun hasil.
  4. Menyusun dasar argumentasi ilmiah, terutama dalam bab pendahuluan dan tinjauan pustaka pada karya ilmiah.

Melalui studi pustaka, peneliti memperoleh dasar pengetahuan yang luas sebelum melakukan analisis yang lebih mendalam.

Perbedaan Studi Literatur dan Studi Pustaka

Untuk memahami perbedaan keduanya, perlu dilihat dari berbagai aspek mulai dari fokus kajian, pendekatan, hingga hasil yang diharapkan.

  1. Fokus Kajian: Studi literatur berfokus pada analisis isi dari berbagai sumber dan bagaimana teori-teori tersebut saling berhubungan. Sedangkan studi pustaka fokus pada pengumpulan dan pencatatan sumber informasi yang relevan.
  2. Pendekatan Penelitian: Studi literatur bersifat analitis dan sintesis, karena peneliti menafsirkan makna dari literatur yang dikaji. Studi pustaka lebih bersifat deskriptif, karena hanya menjelaskan isi dari sumber-sumber yang dibaca tanpa melakukan analisis mendalam.
  3. Keluaran Penelitian: Hasil dari studi literatur biasanya berupa konsep baru, model teoritis, atau argumentasi ilmiah yang dihasilkan dari pengolahan informasi. Sementara hasil studi pustaka berupa kumpulan referensi dan ringkasan isi dari berbagai sumber bacaan.
  4. Tingkat Keterlibatan Peneliti: Dalam studi literatur, peneliti aktif dalam menginterpretasikan dan mengkritisi sumber. Pada studi pustaka, peneliti lebih pasif, yaitu membaca, mencatat, dan mengelompokkan informasi.
  5. Cakupan Sumber: Studi literatur dapat mencakup sumber ilmiah dari berbagai jenis, termasuk artikel jurnal, laporan riset, dan publikasi daring. Sedangkan studi pustaka biasanya terbatas pada sumber yang ada di perpustakaan atau basis pustaka formal.

Perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan bahwa studi pustaka merupakan bagian awal dari studi literatur. Dengan kata lain, studi pustaka menyediakan bahan, sedangkan studi literatur mengolah bahan tersebut menjadi pengetahuan baru.

Hubungan antara Studi Literatur dan Studi Pustaka

Meskipun berbeda, studi literatur dan studi pustaka tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Keduanya saling melengkapi dalam proses penelitian ilmiah. Studi pustaka menjadi langkah pertama yang menyediakan sumber bacaan, sementara studi literatur menjadi tahap lanjutan untuk menganalisis isi bacaan tersebut secara mendalam.

Hubungan ini bisa digambarkan melalui alur kerja penelitian. Pertama, peneliti melakukan studi pustaka untuk mencari dan mengumpulkan referensi yang relevan. Setelah itu, peneliti melakukan studi literatur untuk mengkaji dan menginterpretasikan teori-teori yang ditemukan. Dari hasil kajian tersebut, peneliti dapat merumuskan kerangka konseptual yang menjadi dasar penelitian. Dengan demikian, studi pustaka dan studi literatur merupakan dua tahapan yang berkesinambungan.

Jenis-jenis Sumber dalam Studi Literatur dan Studi Pustaka

Baik studi literatur maupun studi pustaka memerlukan sumber informasi yang kredibel. Secara umum, sumber-sumber tersebut dapat dibedakan menjadi dua jenis utama berikut.

1. Sumber Primer

Sumber primer adalah bahan asli yang langsung berkaitan dengan topik penelitian, seperti hasil penelitian terdahulu, laporan ilmiah, tesis, disertasi, atau artikel jurnal. Sumber primer memberikan data dan teori yang belum diolah pihak lain. Dalam studi literatur, sumber primer menjadi acuan utama untuk mengembangkan analisis teoritis.

Bedanya Studi Literatur dan Studi Pustaka

2. Sumber Sekunder

Sumber sekunder adalah bahan yang menjelaskan atau menafsirkan sumber primer. Contohnya seperti buku teks, artikel ulasan, atau laporan yang merangkum hasil penelitian. Dalam studi pustaka, sumber sekunder sering digunakan untuk memberikan gambaran umum mengenai suatu topik sebelum peneliti mendalami sumber primer.

Kedua jenis sumber ini saling melengkapi. Sumber primer memberikan dasar keilmuan yang mendalam, sementara sumber sekunder membantu memahami konteks dan memperluas wawasan penelitian.

Pentingnya Memahami Perbedaan Keduanya

Memahami perbedaan antara studi literatur dan studi pustaka sangat penting bagi peneliti, terutama bagi mahasiswa atau penulis karya ilmiah. Kesalahan dalam memahami kedua istilah ini dapat berdampak pada rancangan penelitian yang tidak tepat.

Dengan memahami perbedaannya, peneliti dapat menentukan kapan harus melakukan studi pustaka sebagai tahap pencarian sumber, dan kapan melakukan studi literatur sebagai tahap analisis. Selain itu, pemahaman ini juga membantu peneliti dalam menyusun tinjauan pustaka yang komprehensif dan mendalam, sehingga kualitas penelitian menjadi lebih kuat dan akademis.

Baca juga: Studi Literatur Biologi: Konsep, Jenis, dan Manfaat dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Kesimpulan

Secara umum, studi literatur dan studi pustaka memiliki keterkaitan yang erat, namun berbeda dalam fokus dan tujuan.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Solusi Jurnal