Dalam dunia akademik, publikasi ilmiah merupakan salah satu pilar utama dalam penyebaran pengetahuan dan pengakuan profesional. Para peneliti, dosen, dan mahasiswa sering dituntut untuk mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal yang bereputasi. Namun, seiring dengan meningkatnya kebutuhan publikasi, muncul fenomena yang dikenal sebagai predatory journal atau jurnal pemangsa. Istilah ini mengacu pada jurnal-jurnal yang mengeksploitasi kebutuhan penulis untuk publikasi dengan cara yang tidak etis, biasanya dengan memungut biaya tinggi tanpa memberikan proses editorial dan penelaahan sejawat (peer review) yang memadai.
Untuk membantu para akademisi agar tidak terjebak dalam perangkap ini, berbagai lembaga dan individu telah menyusun predatory journal checklist. Daftar periksa ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk mengidentifikasi apakah sebuah jurnal bersifat kredibel atau justru predator. Artikel ini akan mengupas secara detail tentang predatory journal, ciri-cirinya, pentingnya daftar periksa, hingga strategi untuk menghindarinya.
Baca juga: Jurnal Predator dari Luar: Memahami Ancaman, Jenis, dan Dampaknya bagi Dunia Akademik
Apa Itu Predatory Journal?
Predatory journal adalah jurnal yang mengaku sebagai media publikasi ilmiah, tetapi sebenarnya tidak memenuhi standar akademik dan etika penelitian. Tujuan utamanya bukan untuk menyebarkan pengetahuan, melainkan untuk memperoleh keuntungan finansial dari para penulis. Biasanya, jurnal ini mengenakan biaya publikasi (article processing charge) yang tinggi, tetapi tidak menyediakan proses seleksi atau peer review yang benar.
Jurnal semacam ini sering menggunakan cara-cara menipu, seperti mencantumkan editorial board fiktif, memalsukan indeksasi, atau meniru nama jurnal bereputasi agar terlihat kredibel. Akibatnya, peneliti yang tidak berhati-hati bisa terjebak dan merugikan karier akademiknya karena publikasi di jurnal predator dianggap tidak sah dan tidak diakui.
Mengapa Predatory Journal Berbahaya?
Keberadaan jurnal predator menimbulkan dampak serius bagi dunia akademik. Bukan hanya merugikan individu peneliti, tetapi juga merusak integritas ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Ada beberapa alasan mengapa jurnal predator sangat berbahaya:
Pertama, jurnal predator melemahkan kualitas penelitian. Tanpa adanya proses peer review yang ketat, artikel yang diterbitkan bisa saja penuh dengan kesalahan metodologis, data yang meragukan, bahkan plagiarisme. Kedua, peneliti yang menerbitkan karyanya di jurnal predator akan kehilangan reputasi akademiknya. Di banyak institusi, publikasi di jurnal predator tidak diakui sebagai kontribusi ilmiah. Ketiga, jurnal predator menciptakan citra buruk terhadap dunia akademik, karena masyarakat bisa kehilangan kepercayaan pada hasil penelitian yang tidak jelas kredibilitasnya.
Pentingnya Predatory Journal Checklist
Mengingat bahayanya, maka predatory journal checklist menjadi sangat penting. Daftar periksa ini membantu peneliti mengevaluasi kredibilitas jurnal sebelum mengirimkan artikelnya. Checklist biasanya berisi kriteria-kriteria yang bisa digunakan untuk menilai apakah sebuah jurnal layak dipercaya atau tidak.
Dengan menggunakan checklist, penulis dapat menghindari kerugian finansial akibat membayar biaya publikasi pada jurnal predator. Lebih jauh lagi, checklist membantu menjaga reputasi akademik penulis agar tetap bersih dari asosiasi dengan penerbit tidak kredibel. Selain itu, checklist berfungsi sebagai edukasi, khususnya bagi peneliti pemula yang mungkin belum berpengalaman dalam memilih jurnal untuk publikasi.
Jenis-jenis Indikator dalam Predatory Journal Checklist
Dalam sebuah checklist, terdapat berbagai indikator yang dapat membantu penulis menilai sebuah jurnal. Indikator ini terbagi ke dalam beberapa kategori, masing-masing mencakup aspek berbeda dari penerbitan jurnal. Penjelasan berikut akan menguraikan jenis-jenis indikator yang biasanya ada dalam predatory journal checklist.
1. Identitas Jurnal
Identitas jurnal adalah aspek pertama yang harus diperhatikan. Jurnal yang kredibel memiliki identitas yang jelas, mulai dari nama, ISSN, hingga situs web resmi. Sebaliknya, jurnal predator sering menggunakan nama yang meniru jurnal bereputasi atau bahkan menggabungkan kata-kata umum seperti “International Journal of…” tanpa kejelasan spesifik. Situs web mereka biasanya terlihat tidak profesional, dengan banyak kesalahan tata bahasa, tautan rusak, dan informasi yang tidak konsisten.
2. Editorial Board
Keanggotaan dewan editor adalah indikator penting lain. Jurnal bereputasi mencantumkan nama editor dan afiliasinya dengan jelas. Jika nama yang tercantum tidak bisa diverifikasi atau ada akademisi yang namanya digunakan tanpa izin, maka besar kemungkinan jurnal tersebut predator. Beberapa jurnal predator bahkan mengklaim memiliki dewan editor internasional, padahal anggota yang disebutkan tidak pernah benar-benar terlibat.
3. Proses Review
Proses peer review yang ketat merupakan ciri utama jurnal kredibel. Jika sebuah jurnal menjanjikan publikasi dalam hitungan hari atau bahkan tanpa ada proses review, maka itu merupakan tanda bahaya. Checklist biasanya menekankan pentingnya meninjau kejelasan mekanisme review. Jurnal predator sering mengklaim melakukan peer review, tetapi kenyataannya artikel diterbitkan begitu saja setelah pembayaran dilakukan.
4. Biaya Publikasi
Jurnal bereputasi biasanya transparan dalam mencantumkan biaya publikasi. Sebaliknya, jurnal predator tidak jelas dalam menjelaskan biaya, atau malah meminta pembayaran tambahan secara tiba-tiba. Dalam checklist, penulis disarankan untuk selalu memeriksa informasi tentang article processing charge (APC) sebelum mengirimkan naskah.
5. Indeksasi dan Pengakuan
Indeksasi adalah salah satu indikator utama kredibilitas jurnal. Jurnal bereputasi biasanya terindeks di database besar seperti Scopus, Web of Science, atau DOAJ. Sebaliknya, jurnal predator sering mengklaim terindeks di database palsu atau tidak relevan. Checklist menekankan agar penulis selalu memverifikasi klaim indeksasi dengan cara mengecek langsung di database resmi.
6. Kualitas Artikel yang Diterbitkan
Cara lain untuk mengecek kredibilitas jurnal adalah dengan membaca artikel-artikel yang sudah diterbitkan. Jika kualitas tulisannya buruk, banyak kesalahan bahasa, atau penelitian tidak jelas metodologinya, maka itu tanda bahwa jurnal tersebut predator. Checklist biasanya menganjurkan penulis untuk menilai sampel artikel sebelum memutuskan mengirimkan naskah.
Contoh Poin dalam Predatory Journal Checklist
Checklist biasanya memuat poin-poin yang dapat dijadikan acuan praktis. Poin-poin ini berfungsi sebagai peringatan dini agar peneliti lebih waspada. Berikut adalah contoh poin penting yang umum ada dalam predatory journal checklist:
- Kejelasan situs web jurnal: Apakah situs terlihat profesional dan bebas dari kesalahan tata bahasa? Situs yang dipenuhi dengan kesalahan ejaan, tata bahasa buruk, dan desain yang kacau biasanya menunjukkan bahwa jurnal tersebut tidak dikelola secara serius.
- Kredibilitas editorial board: Apakah dewan editor benar-benar terdiri dari akademisi bereputasi? Jika dewan editor berisi nama yang tidak bisa diverifikasi atau tidak memiliki publikasi ilmiah, itu pertanda bahwa jurnal tidak kredibel.
- Proses review yang masuk akal: Apakah jurnal memiliki jadwal review realistis, misalnya 4–8 minggu? Jurnal predator sering menjanjikan fast publication hanya dalam beberapa hari, yang jelas tidak mungkin dilakukan dengan peer review yang ketat.
- Keterbukaan biaya publikasi: Apakah jurnal mencantumkan biaya publikasi dengan transparan? Jika biaya baru disebutkan setelah artikel diterima, atau jika ada permintaan biaya tambahan mendadak, maka itu ciri khas jurnal predator.
- Indeksasi yang valid: Apakah klaim indeksasi jurnal dapat diverifikasi di database resmi? Jurnal predator sering mencantumkan database palsu seperti “Global Impact Factor” atau indeks yang tidak diakui secara internasional.
Strategi Menghindari Jurnal Predator
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, peneliti perlu membekali diri dengan strategi menghindari jurnal predator. Strategi ini bisa diterapkan sebelum, saat, maupun setelah proses pengiriman artikel.
Pertama, peneliti harus selalu melakukan riset mendalam terhadap jurnal yang dituju. Jangan terburu-buru mengirim artikel hanya karena dijanjikan publikasi cepat. Kedua, manfaatkan sumber terpercaya seperti Directory of Open Access Journals (DOAJ), Scopus, atau Web of Science untuk memastikan kredibilitas jurnal. Ketiga, bertanya kepada rekan sejawat atau dosen pembimbing juga merupakan langkah bijak, karena mereka biasanya sudah memiliki pengalaman dalam memilih jurnal berkualitas.
Peran Institusi dalam Melawan Jurnal Predator
Selain upaya individu, institusi pendidikan dan penelitian juga memiliki peran penting dalam melawan jurnal predator. Universitas dapat menyelenggarakan pelatihan tentang publikasi ilmiah, memberikan daftar jurnal terakreditasi, dan memperketat regulasi terkait pengakuan publikasi. Lembaga penelitian juga bisa membangun database internal berisi daftar hitam jurnal predator sebagai rujukan bersama.
Dengan adanya kebijakan institusional, peneliti akan lebih terlindungi dari jebakan jurnal predator. Selain itu, hal ini juga membantu menjaga nama baik lembaga karena dosen dan mahasiswa tidak sembarangan mempublikasikan karyanya.
Baca juga: Publisher Jurnal Predator: Ancaman bagi Dunia Akademik
Kesimpulan
Predatory journal checklist merupakan alat penting bagi para peneliti untuk melindungi diri dari praktik penerbitan yang tidak etis.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.


