Tata Bahasa pada Metode

Tata Bahasa pada Metode

Dalam dunia akademik dan ilmiah, struktur bahasa memegang peran yang sangat penting. Salah satu bagian krusial dalam penulisan ilmiah adalah bagian metode, di mana penulis menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan. Meskipun sering kali dianggap bagian yang teknis, bagian metode tidak lepas dari penggunaan tata bahasa yang baik dan benar. Tata bahasa yang tepat pada bagian metode tidak hanya membantu pembaca memahami proses penelitian, tetapi juga memperkuat kredibilitas ilmiah tulisan tersebut.

Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana tata bahasa berperan dalam penulisan bagian metode sebuah karya ilmiah atau akademik. Pembahasan mencakup penggunaan waktu (tenses), kalimat pasif, struktur kalimat, konsistensi gaya bahasa, hingga pemilihan diksi yang sesuai. Semua ini menjadi fondasi penting agar metode yang ditulis tidak hanya informatif, tetapi juga komunikatif dan ilmiah.

Baca juga: Tata Bahasa pada Pendahuluan

Pentingnya Tata Bahasa dalam Penulisan Metode

Penulisan bagian metode bukan hanya tentang menyampaikan apa yang dilakukan, tetapi bagaimana menyampaikannya secara efektif. Tata bahasa berperan sebagai jembatan antara penulis dan pembaca dalam memahami proses penelitian.

Penggunaan tata bahasa yang tepat membuat informasi menjadi lebih mudah dipahami dan menghindari kesalahpahaman. Hal ini penting karena bagian metode sering kali menjadi acuan bagi peneliti lain yang ingin mereplikasi penelitian tersebut. Jika penggunaan bahasa berantakan atau ambigu, maka keilmiahan metode bisa dipertanyakan.

Penggunaan Waktu (Tenses) yang Tepat

Dalam penulisan metode, waktu atau tenses menjadi aspek krusial karena menentukan kejelasan kronologi aktivitas penelitian. Tenses yang digunakan dapat mempengaruhi pemahaman pembaca mengenai waktu terjadinya kegiatan yang dijelaskan.Berikut adalah jenis tenses yang lazim digunakan dalam bagian metode, lengkap dengan penjelasan kapan dan mengapa masing-masing digunakan:

  1. Past Tense (Lampau Sederhana)

Tenses ini paling umum digunakan karena bagian metode umumnya menjelaskan tindakan yang telah dilakukan. Misalnya:

  • “Data were collected from 150 respondents.”
    Penggunaan ini menunjukkan bahwa kegiatan pengumpulan data sudah selesai dilakukan saat penulisan berlangsung.
  1. Present Tense (Sekarang Sederhana)

Digunakan untuk menggambarkan fakta umum, prosedur standar, atau metode yang tidak berubah dari waktu ke waktu. Misalnya:

  • “The instrument measures anxiety levels.”
    Artinya, alat ukur tersebut memiliki fungsi tetap dan berlaku umum, bukan hanya dalam penelitian ini.
  1. Present Perfect Tense (Sekarang Sempurna)

Kadang-kadang digunakan untuk menyampaikan hasil yang relevan hingga waktu penulisan atau menunjukkan rangkaian proses yang baru saja selesai. Misalnya:

  • “Researchers have used this method in similar studies.”

Pemilihan tenses harus konsisten dan sesuai konteks agar tidak menimbulkan kebingungan.

Kalimat Pasif dalam Penulisan Metode

Bagian metode umumnya menggunakan kalimat pasif. Hal ini dilakukan untuk menekankan pada tindakan atau proses, bukan pada pelakunya. Dalam karya ilmiah, siapa yang melakukan tindakan dianggap kurang penting dibandingkan apa yang dilakukan.Berikut alasan dan contoh penggunaan kalimat pasif dalam bagian metode:

  1. Menekankan Proses
  • “The samples were analyzed using spectrophotometry.”
    Dengan bentuk ini, penulis memfokuskan perhatian pada proses analisis, bukan siapa yang melakukan analisis.
  1. Objektivitas Ilmiah

Penulisan ilmiah menghindari subjektivitas, sehingga penggunaan pasif membantu menjaga nuansa netral dan profesional.

  • “A questionnaire was distributed to participants.”

Kalimat aktif seperti “We distributed the questionnaire” terdengar lebih personal, sehingga kurang sesuai untuk penulisan formal ilmiah.

  1. Kejelasan Prosedur

Kalimat pasif memungkinkan penulisan urutan prosedur secara sistematis dan runtut.

  • “Data were entered, cleaned, and analyzed using SPSS.”

Struktur Kalimat yang Efektif dan Efisien

Berikut beberapa hal penting dalam membangun struktur kalimat yang efektif dalam penulisan metode:

  1. Gunakan Kalimat Langsung dan Spesifik

Kalimat yang to the point lebih mudah dicerna.

  • Kalimat baik: “The interview lasted 30 minutes.”
  • Kalimat buruk: “There was a time period of approximately half an hour during which the interview process was conducted.”
  1. Hindari Kalimat Bertele-tele

Kalimat berulang atau mengandung informasi yang sama sebaiknya dihindari.

  • Hindari: “The method which was used in this research was the qualitative method which allowed the researchers to gain data.”
  • Lebih baik: “This research employed a qualitative method to collect data.”
  1. Gunakan Kata Penghubung Logis

Hubungan antar langkah metode harus jelas, misalnya menggunakan: then, after that, subsequently, in the next stage, dll.

  • “After transcription, the data were coded using thematic analysis.”

Konsistensi Gaya Bahasa

Beberapa aspek konsistensi yang perlu dijaga dalam penulisan metode:

  1. Konsistensi Tenses: Jangan mencampur tenses secara sembarangan. Jika satu paragraf menggunakan past tense, usahakan tetap pada tense tersebut, kecuali ada alasan khusus.
  2. Konsistensi Format: Gunakan format kutipan, penomoran, dan istilah teknis yang sama dari awal hingga akhir bagian metode.
  3. Konsistensi Terminologi: Jika awalnya menggunakan istilah “responden”, jangan kemudian berubah menjadi “partisipan” atau “subjek” tanpa kejelasan.
    Hal ini untuk menjaga kejelasan identitas objek penelitian.

Pemilihan Kata dan Diksi yang Sesuai

Diksi dalam penulisan metode harus formal, teknis, dan bebas dari ambiguitas. Pilihan kata sangat menentukan bagaimana informasi dipahami. Berikut panduan umum dalam memilih kata yang tepat untuk bagian metode:

  1. Gunakan Istilah Teknis yang Relevan: Gunakan kata-kata yang berlaku dalam bidang ilmu terkait. Misalnya, dalam bidang psikologi: “Likert scale”, “behavioral observation”, “double-blind design”, dll.
  2. Hindari Kata Tidak Baku: Hindari penggunaan kata yang terlalu umum atau informal seperti “dipakai”, “dikerjain”, “pakai alat ini”. Gantilah dengan istilah seperti “utilized”, “conducted”, “measured”.
  3. Pilih Kata yang Tidak Menimbulkan Ambiguitas: Jangan gunakan kata yang bisa diartikan ganda atau multitafsir. Misalnya, “beberapa” sebaiknya diganti dengan “tiga”, “empat”, atau angka pasti lainnya.

Peran Koherensi dan Kohesi dalam Penulisan Metode

Koherensi (kesatuan ide) dan kohesi (keterpautan antar kalimat) menjadi unsur penting agar bagian metode mengalir dengan logis. Penulisan metode yang loncat-loncat atau tidak terhubung antar bagiannya akan menyulitkan pembaca.

  1. Urutan Logis Prosedur

Jelaskan langkah-langkah penelitian secara berurutan. Misalnya:

  • Pengumpulan data → Pengolahan data → Analisis data → Interpretasi hasil.
    Penulisan acak akan menurunkan kredibilitas tulisan.
  1. Gunakan Transisi Antar Langkah

Transisi seperti “firstly”, “in addition”, “next”, “finally” sangat membantu pembaca mengikuti alur.

  1. Paragraf Satu Ide

Setiap paragraf sebaiknya berisi satu gagasan atau satu tahapan metode. Hindari mencampur berbagai informasi dalam satu paragraf.

Kesalahan Umum dalam Penulisan Tata Bahasa pada Metode

Banyak penulis, terutama pemula, melakukan kesalahan dalam tata bahasa pada bagian metode. Kesalahan ini bisa mengurangi keilmiahan dan kejelasan tulisan.

    1. Campur Tenses dalam Satu Paragraf: Misalnya, satu kalimat menggunakan past tense, kalimat berikutnya tiba-tiba menggunakan present tense, tanpa konteks yang mendukung.
    2. Penggunaan Kata Ganti Orang Pertama: Dalam penulisan ilmiah, sebaiknya hindari penggunaan “saya”, “kami”, kecuali memang gaya tersebut dibolehkan oleh institusi tertentu.
    3. Kalimat Ganda atau Tidak Efisien: Terlalu banyak anak kalimat atau struktur kalimat yang tumpang tindih bisa membuat pembaca bingung.
  • Kurang baik: “Karena penelitian ini dilakukan di daerah yang jauh dari kota maka waktu yang dibutuhkan untuk mengambil data menjadi lebih lama dari perkiraan awal kami.”
  • Lebih baik: “Karena lokasi penelitian jauh dari kota, pengambilan data memerlukan waktu lebih lama.”

Contoh Penulisan Metode yang Baik dan Benar

Untuk memberikan gambaran nyata, berikut contoh potongan bagian metode dengan penggunaan tata bahasa yang baik:

“This study employed a descriptive qualitative design. Data were collected through semi-structured interviews with ten teachers from three different schools. The interviews were recorded, transcribed verbatim, and analyzed using thematic coding. To ensure validity, data triangulation was conducted by comparing interview results with classroom observations and document analysis.”

Dalam contoh tersebut, penggunaan kalimat pasif, tenses yang konsisten, serta struktur kalimat yang efektif sangat terlihat. Tidak ada informasi yang ambigu, dan setiap tahapan dijelaskan secara logis.

Baca juga: Tata Bahasa pada Abstrak

Penutup

Tata bahasa dalam bagian metode bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama dalam membangun kredibilitas ilmiah. Penulisan metode yang baik harus mengedepankan ketepatan tenses, penggunaan kalimat pasif, struktur kalimat yang logis, serta pemilihan kata yang sesuai. Dengan begitu, penelitian yang dilakukan dapat dipahami, direplikasi, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal