Dalam dunia riset, para peneliti tidak hanya berhadapan dengan data dan metodologi, tetapi juga dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang realitas itu sendiri. Salah satu permasalahan mendasar yang sering kali tersembunyi di balik proses penelitian adalah masalah ontologis. Ontologi, sebagai cabang dari filsafat yang membahas hakikat keberadaan dan realitas, memiliki pengaruh besar terhadap cara peneliti memandang objek yang diteliti. Artikel ini akan mengupas secara komprehensif berbagai aspek dari masalah ontologis dalam riset, pengaruhnya terhadap pendekatan ilmiah, serta relevansi dan tantangannya dalam berbagai jenis penelitian.
Baca juga: Perspektif Ontologis Peneliti
Pengertian Ontologi dalam Konteks Riset
Ontologi berasal dari bahasa Yunani ontos (yang ada) dan logos (ilmu). Dalam konteks filsafat, ontologi membahas tentang “apa yang ada” dan “apa yang dapat dikatakan ada”. Namun, dalam ranah penelitian, ontologi menjadi pertanyaan fundamental yang mendasari seluruh proses ilmiah: Apakah realitas itu benar-benar ada di luar sana secara objektif, ataukah hanya konstruksi subjektif pikiran manusia?
Dalam riset, khususnya riset sosial dan humaniora, pertanyaan ontologis menjadi sangat penting karena akan memengaruhi seluruh desain penelitian, mulai dari perumusan masalah, pemilihan metode, hingga interpretasi hasil. Dengan kata lain, masalah ontologis adalah fondasi diam-diam yang memengaruhi cara pandang peneliti terhadap dunia yang ia teliti.
Dua Aliran Utama dalam Ontologi Riset
Berikut merupakan dua aliran dalam ontologi riset:
1. Objektivisme
Objektivisme meyakini bahwa realitas bersifat independen terhadap kesadaran manusia. Dalam pandangan ini, objek penelitian memiliki eksistensi yang nyata, dapat diamati, diukur, dan dianalisis secara sistematis. Objektivisme sering menjadi dasar dalam penelitian kuantitatif dan pendekatan positivistik.
Ciri-ciri Ontologi Objektivistik:
- Dunia luar dianggap nyata dan tetap, terlepas dari persepsi manusia.
- Fakta-fakta dapat ditemukan dan dikumpulkan melalui observasi dan eksperimen.
- Peneliti harus menjaga jarak dari subjek penelitian untuk menghindari bias.
2. Konstruktivisme (Subjektivisme)
Konstruktivisme memandang bahwa realitas tidak bersifat tunggal atau objektif, melainkan merupakan hasil konstruksi sosial atau individual. Setiap orang membentuk makna terhadap realitas berdasarkan pengalaman, budaya, dan interaksi sosialnya.
Ciri-ciri Ontologi Konstruktivistik:
- Realitas bersifat plural dan relatif.
- Fokus pada makna yang dibentuk oleh subjek penelitian.
- Peneliti terlibat langsung dan tidak bisa sepenuhnya netral.
Pentingnya Memahami Masalah Ontologis
Mengabaikan isu ontologis dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara pertanyaan penelitian, metodologi, dan interpretasi data. Sebagai contoh, ketika seorang peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif (yang berakar pada objektivisme) untuk meneliti pengalaman subjektif manusia, hasilnya bisa menjadi dangkal dan tidak akurat secara filosofis.
Beberapa alasan mengapa memahami masalah ontologis itu penting:
- Kesesuaian metode: Peneliti dapat memilih metode yang sesuai dengan cara pandangnya terhadap realitas.
- Kejelasan teori: Peneliti lebih mudah membangun kerangka teori yang konsisten.
- Kredibilitas riset: Riset yang sadar ontologi cenderung lebih jujur dan terbuka terhadap keterbatasan.
Masalah Ontologis yang Sering Dihadapi dalam Riset
Berikut beberapa masalah yang sering dihadapi yang perlu Anda perhatikan:
- Kesalahan dalam Menyesuaikan Paradigma: Banyak peneliti pemula cenderung memilih metode penelitian karena popularitasnya, bukan karena kesesuaian ontologisnya. Misalnya, menggunakan survei kuantitatif untuk memahami dinamika emosi seseorang. Hal ini menimbulkan bias metodologis dan bisa membuat hasil riset menjadi tidak valid.
- Konflik antara Realitas Subjek dan Realitas Peneliti: Dalam riset sosial, sering kali terdapat perbedaan pemahaman antara apa yang dianggap nyata oleh partisipan dan apa yang dipahami oleh peneliti. Jika peneliti bersikeras pada kerangka objektif, ia bisa kehilangan kekayaan makna yang hidup dalam realitas sosial partisipan.
- Reduksi Kompleksitas: Ketika pendekatan objektivis digunakan untuk menggambarkan fenomena kompleks seperti budaya, agama, atau trauma psikologis, sering kali terjadi simplifikasi yang mereduksi makna. Masalah ontologis muncul ketika realitas yang kompleks dipaksa masuk dalam kerangka yang terlalu sempit.
- Masalah Generalisasi: Dalam penelitian kualitatif, karena berakar pada subjektivitas, hasilnya tidak bisa digeneralisasikan secara luas. Namun, dalam praktiknya, banyak peneliti yang tetap berusaha memaksakan generalisasi meskipun hal itu bertentangan dengan ontologi yang dianut.
Dampak Masalah Ontologis terhadap Jenis Riset
Berikut dampak yang mungkin akan terjadi dalam masalah ontologis terhadap jenis riset:
- Penelitian Kuantitatif
Dalam penelitian kuantitatif, asumsi ontologis objektivistik mendasari seluruh proses. Realitas dianggap bisa diukur dan dipahami melalui angka. Namun, masalah muncul ketika:
- Fenomena sosial yang kompleks dikurangi menjadi variabel-variabel sederhana.
- Data statistik dianggap mewakili realitas sepenuhnya, padahal bisa saja tidak.
2. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif cenderung berakar pada konstruktivisme. Peneliti mendalami makna, narasi, dan konteks. Tantangan ontologisnya antara lain:
- Validitas subjektif: Bagaimana menentukan bahwa interpretasi peneliti benar?
- Keterlibatan emosional: Seberapa jauh peneliti boleh terlibat dalam dunia subjek?
3. Mixed Method
Dalam pendekatan campuran, masalah ontologis menjadi lebih kompleks karena harus menggabungkan dua pandangan yang sebenarnya bisa bertentangan. Peneliti harus secara sadar menjelaskan bagaimana ia menjembatani perbedaan ontologis antara metode kuantitatif dan kualitatif.
Strategi Mengatasi Masalah Ontologis
Menghadapi persoalan ontologi tidak berarti kita harus menjadi filsuf, tetapi kesadaran ontologis dapat membantu peneliti membuat pilihan yang lebih tepat. Beberapa strategi yang bisa digunakan:
- Refleksi Filosofis Sebelum Penelitian
Sebelum memulai riset, penting bagi peneliti untuk merefleksikan:
- Apa asumsi saya tentang realitas?
- Apakah saya percaya realitas bersifat objektif atau subjektif?
- Bagaimana keyakinan ini memengaruhi cara saya merumuskan masalah?
- Konsistensi Paradigma dan Metodologi
Pastikan ada kesesuaian antara pandangan ontologis, pendekatan epistemologis (cara memperoleh pengetahuan), dan metode penelitian yang digunakan. Misalnya, jika berangkat dari ontologi konstruktivis, maka metode partisipatif atau naratif akan lebih cocok daripada eksperimen.
- Transparansi dalam Pelaporan
Peneliti sebaiknya secara eksplisit menyebutkan asumsi ontologis dalam laporan riset. Hal ini penting agar pembaca memahami konteks pemikiran yang mendasari hasil penelitian.
- Pelatihan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Peneliti
Institusi pendidikan dan pembimbing penelitian perlu menekankan pentingnya landasan filosofis, termasuk ontologi, dalam pelatihan peneliti muda. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari integritas ilmiah.
Studi Kasus: Ontologi dalam Penelitian Sosial
Bayangkan ada dua peneliti yang sama-sama meneliti fenomena “perundungan di sekolah”.
- Peneliti A berpandangan objektivistik. Ia menggunakan survei dan statistik untuk mengetahui seberapa sering bullying terjadi dan siapa pelakunya.
- Peneliti B berpandangan konstruktivistik. Ia menggunakan wawancara mendalam untuk memahami bagaimana korban memaknai pengalaman mereka dan bagaimana dinamika kekuasaan terjalin.
Keduanya menghasilkan temuan yang berbeda karena berbeda pula dalam ontologi yang mereka anut. Tidak ada yang salah. Tapi bila peneliti A mengklaim memahami pengalaman korban hanya dari angka, maka di situlah masalah ontologis muncul.
Perdebatan Terkini seputar Ontologi dalam Riset
Berikut perbedaanya:
- Relativisme vs Realisme
Dalam riset sosial, perdebatan antara relativisme (semua realitas bersifat subjektif) dan realisme (ada realitas objektif) masih berlangsung. Apakah mungkin ada kebenaran mutlak dalam kajian sosial? Ataukah semua kebenaran bersifat kontekstual?
2. Dekolonisasi Pengetahuan
Di negara-negara bekas koloni, para akademisi mulai mempertanyakan dominasi ontologi Barat dalam riset. Mereka menuntut ruang untuk ontologi lokal, cara memandang dunia yang berakar dari tradisi dan budaya sendiri. Hal ini memperluas pemahaman kita bahwa ontologi tidak tunggal.
3. Ontologi Post-Humanisme
Dalam pendekatan post-humanis, fokus ontologi meluas ke relasi antara manusia dan non-manusia, termasuk teknologi dan lingkungan. Ini membuka jalan bagi riset-riset baru yang lebih inklusif terhadap aktor non-manusia, seperti dalam kajian ekologi, AI, dan teknologi digital.
Baca juga: Ontologi dalam Desain Riset
Kesimpulan
Masalah ontologis bukan sekadar wacana filosofis yang rumit, melainkan landasan diam-diam yang menentukan arah riset. Seorang peneliti yang sadar akan asumsi ontologisnya akan lebih konsisten, jujur, dan reflektif dalam setiap tahap penelitian.
Ontologi membantu peneliti:
- Menyusun kerangka berpikir yang jelas.
- Memilih metode dan teknik analisis yang sesuai.
- Menghindari kesalahan dalam menafsirkan data.
Di era keterbukaan informasi dan keragaman metodologi, kesadaran ontologis menjadi semakin penting. Riset yang baik bukan hanya kuat secara data, tetapi juga kokoh secara filosofis.

