Dalam dunia penelitian, fondasi filosofis sangat menentukan arah dan hasil dari proses ilmiah yang dilakukan. Salah satu fondasi tersebut adalah ontologi, yang secara umum diartikan sebagai cabang filsafat yang membahas tentang hakikat realitas atau keberadaan. Dalam konteks desain riset, ontologi berperan penting karena menentukan bagaimana seorang peneliti memahami dunia yang ingin diteliti. Dengan kata lain, bagaimana peneliti meyakini realitas itulah yang akan menentukan bagaimana data dikumpulkan, dianalisis, dan disimpulkan. Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai ontologi dalam desain riset, mulai dari pengertian, jenis-jenis, peran dalam pemilihan pendekatan riset, hingga dampaknya terhadap metode dan hasil penelitian.
Baca juga: Landasan Ontologi Penelitian
Pengertian Ontologi dalam Konteks Riset
Ontologi dalam riset tidak sekadar merujuk pada filsafat abstrak, melainkan memiliki implikasi praktis yang nyata. Dalam metodologi penelitian, ontologi menyangkut pertanyaan tentang apa yang dianggap nyata atau ada di dunia sosial maupun alam.
Contohnya, ketika seorang peneliti ingin memahami kemiskinan, ia harus terlebih dahulu mendefinisikan apa itu kemiskinan. Apakah kemiskinan hanya tentang pendapatan rendah, ataukah juga tentang kurangnya akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan? Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat tergantung pada sudut pandang ontologis peneliti.
Secara sederhana, ontologi menjawab pertanyaan:
- “Apa yang ada?”
- “Apa realitas yang sedang diteliti?”
- “Apakah realitas itu bersifat objektif atau subjektif?”
Jenis-jenis Ontologi dalam Penelitian
Dalam penelitian, terdapat dua pandangan besar mengenai ontologi: realisme (objektivisme) dan nominalisme (subjektivisme). Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda terhadap realitas dan memiliki implikasi pada bagaimana riset dijalankan.
- Realisme (Objektivisme)
Realisme berpandangan bahwa realitas bersifat objektif, eksis secara independen dari kesadaran manusia, dan dapat diobservasi serta diukur. Dengan kata lain, ada satu kebenaran tunggal yang bisa ditemukan jika metode penelitian yang tepat digunakan.
Penelitian dengan pendekatan ontologis ini biasanya:
- Menggunakan metode kuantitatif,
- Mencari hukum atau hubungan sebab-akibat,
- Mengasumsikan bahwa peneliti dapat mengamati tanpa memengaruhi objek yang diamati.
Contoh: Dalam penelitian tentang tingkat keberhasilan metode pengajaran tertentu, peneliti menggunakan data kuantitatif, seperti nilai siswa, untuk membuktikan apakah metode tersebut efektif atau tidak.
2. Nominalisme (Subjektivisme)
Sebaliknya, nominalisme atau konstruktivisme memandang bahwa realitas adalah hasil konstruksi sosial dan tidak bersifat tetap atau tunggal. Realitas bisa berbeda-beda tergantung konteks budaya, pengalaman, dan interpretasi masing-masing individu.
Karakteristik pendekatan ini:
- Mengutamakan metode kualitatif,
- Mencari makna atau pemahaman mendalam dari suatu fenomena,
- Menempatkan peneliti sebagai bagian dari proses interpretasi.
Contoh: Dalam penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap korupsi, peneliti akan menggunakan wawancara mendalam karena makna ‘korupsi’ bisa berbeda bagi setiap orang.
Peran Ontologi dalam Menentukan Paradigma Riset
Paradigma riset merupakan sistem kepercayaan yang menjadi dasar dalam memahami dunia dan menjalankan penelitian. Ontologi adalah fondasi dari paradigma ini, yang kemudian diikuti oleh epistemologi (bagaimana kita mengetahui sesuatu) dan metodologi (cara kita mendapatkan pengetahuan tersebut).
Tiga paradigma utama dalam riset dan ontologi yang mendasarinya:
- Positivisme
- Ontologi: Realitas bersifat objektif dan dapat diukur.
- Ciri-ciri: Peneliti bersikap netral; fenomena dapat dipisahkan dari konteks sosial.
- Metode: Survei, eksperimen, statistik.
2. Interpretivisme
- Ontologi: Realitas bersifat subjektif dan dikonstruksi oleh individu.
- Ciri-ciri: Peneliti perlu memahami makna dari perspektif partisipan.
- Metode: Wawancara mendalam, observasi partisipatif.
3. Kritis
- Ontologi: Realitas dibentuk oleh kekuasaan, ideologi, dan struktur sosial.
- Ciri-ciri: Peneliti berusaha mengungkap ketidakadilan atau dominasi.
- Metode: Studi kasus kritis, etnografi, analisis wacana.
Dampak Ontologi terhadap Desain Riset
Ontologi tidak berhenti pada ranah filsafat, melainkan memiliki konsekuensi praktis dalam setiap tahap penelitian:
a. Pemilihan Masalah Penelitian
Pandangan ontologis memengaruhi bagaimana peneliti memilih masalah yang layak diteliti. Seorang realis akan cenderung memilih isu yang dapat dikuantifikasi, sedangkan subjektivis memilih isu yang perlu dipahami maknanya.
b. Formulasi Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan riset dari sudut pandang objektivis biasanya berbentuk:
- “Apakah terdapat hubungan antara X dan Y?”
- “Seberapa besar pengaruh A terhadap B?”
Sedangkan dari sudut pandang konstruktivis:
- “Bagaimana peserta didik memaknai pengalaman belajar online?”
- “Apa saja persepsi guru terhadap kurikulum baru?”
c. Pemilihan Metode Pengumpulan Data
- Objektivis: Survei, tes terstruktur, pengukuran statistik.
- Subjektivis: Wawancara, observasi kualitatif, studi naratif.
d. Analisis dan Interpretasi Data
Pada pendekatan objektivis, analisis data dilakukan dengan statistik atau pengujian hipotesis. Sementara itu, pada pendekatan subjektivis, data dianalisis secara tematik, naratif, atau interpretatif, sering kali melibatkan keterlibatan aktif peneliti.
e. Penyajian dan Penarikan Kesimpulan
Dalam objektivisme, hasil penelitian dirumuskan dalam bentuk generalisasi, grafik, atau angka. Sedangkan dalam subjektivisme, hasilnya berupa deskripsi mendalam atau kutipan langsung dari partisipan.
Contoh Kasus: Ontologi dalam Penelitian Sosial
Untuk memperjelas bagaimana ontologi memengaruhi desain riset, mari kita ambil dua contoh studi yang meneliti topik yang sama namun dari sudut ontologis yang berbeda.
- Studi Objektivis
Topik: Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar siswa.
- Ontologi: Media sosial adalah entitas yang memiliki dampak nyata dan terukur terhadap perilaku individu.
- Metodologi: Survei terhadap 200 siswa; analisis regresi untuk melihat pengaruh durasi penggunaan media sosial terhadap nilai akademik.
- Kesimpulan: Penggunaan media sosial lebih dari 3 jam per hari berkorelasi negatif dengan prestasi.
2. Studi Subjektivis
Topik: Persepsi siswa terhadap peran media sosial dalam proses belajar.
- Ontologi: Media sosial dipahami secara berbeda oleh masing-masing siswa; realitas dibentuk oleh pengalaman pribadi.
- Metodologi: Wawancara mendalam dengan 10 siswa; analisis tematik.
- Kesimpulan: Media sosial dianggap sebagai ruang belajar informal yang membantu memahami materi, namun juga sebagai distraksi jika tidak dikontrol.
Tantangan dalam Menentukan Ontologi Riset
Meskipun ontologi adalah dasar penting, banyak peneliti pemula yang belum memahami bagaimana keyakinan ontologis mereka memengaruhi desain riset. Beberapa tantangan yang umum terjadi antara lain:
- Kebingungan antara Ontologi dan Epistemologi: Seringkali peneliti mencampuradukkan antara “apa yang nyata” (ontologi) dan “bagaimana kita tahu” (epistemologi). Meskipun keduanya terkait erat, penting untuk memisahkan keduanya dalam tahap desain riset.
- Dominasi Pendekatan Tertentu: Dalam banyak institusi akademik, pendekatan kuantitatif sering lebih dianggap “ilmiah” dan “valid”, sehingga pendekatan kualitatif atau konstruktivis seringkali dipandang sebelah mata.
- Kesulitan Menyelaraskan Ontologi dengan Metodologi: Kadang, peneliti memiliki pandangan ontologis tertentu, namun menggunakan metode yang tidak sesuai. Misalnya, meyakini realitas itu kompleks dan subjektif tapi menggunakan metode survei kuantitatif tanpa memperhatikan konteks.
Mengintegrasikan Ontologi dalam Proposal Penelitian
Untuk memastikan riset berjalan sesuai prinsip filosofis yang jelas, penting untuk menyatakan ontologi dalam proposal atau desain riset. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Nyatakan Posisi Ontologis Peneliti: Tulis secara eksplisit apakah Anda memandang realitas sebagai objektif atau konstruktif. Ini akan memandu pembaca dalam memahami keseluruhan pendekatan riset.
- Jelaskan Konsekuensi Terhadap Pemilihan Metode: Tunjukkan bagaimana keyakinan ontologis Anda memengaruhi metode pengumpulan dan analisis data.
- Konsistensi dalam Penulisan: Pastikan bahwa seluruh bagian dari proposal dari latar belakang hingga metodologi mencerminkan posisi ontologis yang Anda yakini.
Perkembangan Kontemporer: Ontologi dalam Riset Interdisipliner dan Mixed Method
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, banyak peneliti menggabungkan lebih dari satu pendekatan dikenal sebagai riset mixed method. Ini menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana posisi ontologis dalam pendekatan campuran?
Beberapa pendekatan menyatakan bahwa peneliti bisa bersifat pragmatik, yaitu memilih metode yang paling sesuai dengan tujuan, tanpa terlalu terikat pada satu ontologi tertentu. Namun, tetap penting untuk menyadari konsekuensi logis dari posisi ini.
Mengapa Ontologi Penting dalam Desain Riset?
Memahami ontologi bukan hanya soal mengenal istilah filosofis, tapi soal bagaimana kita menyadari posisi kita sebagai peneliti dalam melihat realitas. Pemilihan metode, interpretasi hasil, hingga kredibilitas penelitian sangat ditentukan oleh fondasi ontologis ini.
Tanpa kejelasan ontologi, penelitian bisa kehilangan arah, tidak konsisten, atau bahkan menyampaikan kesimpulan yang salah. Di sisi lain, pemahaman ontologi yang baik akan memberikan keteguhan metodologis dan integritas akademik yang tinggi.
Baca juga: Hubungan Ontologi dan Metodologi
Kesimpulan
Ontologi dalam desain riset bukanlah sekadar ranah abstrak filsafat, tetapi merupakan dasar yang menentukan bagaimana sebuah studi ilmiah dibentuk dan dijalankan. Dengan memahami ontologi, peneliti dapat lebih sadar terhadap asumsi dasar yang ia pegang, memilih metode yang sesuai, serta menghasilkan temuan yang lebih bermakna dan konsisten. Bagi peneliti pemula maupun yang berpengalaman, meninjau ulang posisi ontologis secara kritis merupakan langkah penting dalam membangun riset yang kuat dan terpercaya.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

