Dalam ranah filsafat ilmu dan metodologi penelitian, ontologi memegang peran sentral sebagai fondasi dalam memahami realitas. Ontologi berfokus pada pertanyaan tentang “apa yang ada” dan “realitas seperti apa yang sedang diteliti”. Setiap pendekatan dalam ilmu sosial dan humaniora, baik positivisme, interpretivisme, maupun kritisisme, memiliki karakteristik ontologis yang khas. Di antara pendekatan tersebut, pendekatan kritis menempati posisi yang unik karena tidak hanya mempertanyakan realitas, tetapi juga menyoroti dimensi kekuasaan, ideologi, dan pembebasan.
Artikel ini membahas secara mendalam mengenai ontologi pendekatan kritis, termasuk asumsi dasarnya, perbedaannya dengan pendekatan lain, serta relevansinya dalam penelitian sosial kontemporer. Fokus utama adalah pada bagaimana pendekatan kritis memahami realitas, bagaimana ia menyingkap relasi kuasa yang tersembunyi, dan bagaimana kontribusinya dalam menciptakan perubahan sosial.
Baca juga: Ontologi Pendekatan Interpretif: Memahami Realitas Sosial dari Dalam
Pengertian Ontologi
Secara etimologis, istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani: ontos (berarti “yang ada” atau “eksistensi”) dan logos (berarti “ilmu” atau “diskursus”). Dalam konteks filsafat ilmu, ontologi merujuk pada studi tentang hakikat realitas. Ontologi mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti:
- Apa yang benar-benar ada di dunia ini?
- Apakah realitas bersifat objektif atau konstruksi sosial?
- Apakah struktur sosial dan entitas sosial seperti “kelas”, “negara”, atau “ideologi” itu nyata?
Dalam ilmu sosial, pendekatan terhadap realitas sangat dipengaruhi oleh ontologi. Setiap paradigma memiliki pemahaman ontologis yang menentukan bagaimana realitas didekati dan ditafsirkan.
Apa Itu Pendekatan Kritis?
Pendekatan kritis berakar dari filsafat kritis, khususnya pemikiran Karl Marx, Sekolah Frankfurt, dan para filsuf postmodern seperti Michel Foucault dan Antonio Gramsci. Pendekatan ini bertolak dari keyakinan bahwa realitas sosial bukanlah sesuatu yang netral atau obyektif semata, melainkan terbentuk oleh struktur sosial, ekonomi, politik, dan ideologi yang kompleks.
Ia tidak hanya berusaha memahami realitas, tetapi juga mengubah dan membebaskan manusia dari belenggu kekuasaan yang menindas. Oleh karena itu, pendekatan kritis menuntut peneliti untuk tidak netral, tetapi berpihak kepada kelompok yang tertindas.
Ontologi dalam Pendekatan Kritis
Berikut beberapa ontologi dalam pendekatan kritis:
1. Realitas Sosial sebagai Konstruksi Historis
Ontologi pendekatan kritis menganggap bahwa realitas sosial bukanlah entitas tetap dan obyektif, melainkan hasil dari konstruksi historis dan relasi kuasa. Struktur seperti kelas sosial, patriarki, rasisme, dan sistem ekonomi kapitalis adalah realitas yang nyata, namun terbentuk dan dipertahankan melalui sejarah panjang dominasi dan penindasan.
Berbeda dari positivisme yang menganggap realitas sebagai sesuatu yang dapat diobservasi secara netral, pendekatan kritis menekankan bahwa apa yang disebut “realitas” seringkali merupakan hasil dari hegemonisasi makna oleh kelompok dominan.
2. Kehadiran Ideologi dalam Realitas
Dalam ontologi kritis, ideologi tidak hanya dipandang sebagai sistem gagasan, tetapi juga sebagai instrumen kekuasaan yang menyamarkan ketimpangan dan dominasi. Realitas yang tampak “alami” atau “normal” dalam masyarakat sesungguhnya telah dibentuk oleh ideologi dominan. Misalnya, anggapan bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai melalui kerja keras individu mengabaikan struktur kelas yang tidak adil.
Oleh karena itu, tugas pendekatan kritis adalah menggali dan membuka selubung ideologis yang menutupi realitas sesungguhnya.
3. Struktur dan Agensi
Ontologi kritis menolak dikotomi yang kaku antara struktur (kekuatan eksternal) dan agensi (kapasitas individu). Dalam pandangan ini, struktur membentuk agensi, tetapi agensi juga dapat mengubah struktur. Ini memungkinkan pemahaman bahwa manusia bukan semata korban sistem, melainkan juga aktor potensial perubahan sosial.
Contohnya, sistem pendidikan mungkin menciptakan ketimpangan kelas, tetapi guru atau siswa tertentu bisa menjadi agen perubahan dengan menciptakan kesadaran kritis di sekolah.
4. Realitas sebagai Arena Konflik
Bagi pendekatan kritis, realitas bukan tempat yang harmonis atau netral. Realitas sosial adalah arena konflik antara kepentingan yang berbeda. Relasi kuasa antara kelas atas dan bawah, mayoritas dan minoritas, laki-laki dan perempuan, semuanya adalah medan pertarungan ideologis dan struktural. Pendekatan kritis menempatkan konflik ini sebagai titik masuk utama untuk menganalisis realitas.
Perbandingan Ontologi Kritis dengan Ontologi Lain
Berikut perbandingan ontologi kritis dengan jenis yang lainnya:
1. Ontologi Positivisme
Pendekatan ini menganggap bahwa realitas sosial bersifat objektif, tetap, dan dapat diukur secara independen dari pengamat. Positivisme meyakini bahwa hukum-hukum sosial dapat ditemukan dengan cara yang sama seperti hukum-hukum dalam ilmu alam. Dalam kerangka ini, realitas bisa diamati secara netral tanpa dipengaruhi oleh nilai-nilai subjektif peneliti.
- Realitas dipandang sebagai sesuatu yang nyata dan stabil, ada di luar kesadaran manusia.
- Struktur sosial dianggap netral, tidak memiliki muatan ideologis.
- Individu (agen) diposisikan lebih pasif; perilaku manusia bisa diprediksi seperti objek fisik.
- Tujuan penelitian adalah eksplanasi dan prediksi, sering menggunakan metode kuantitatif.
2. Ontologi Interpretivisme
Berbeda dari positivisme, pendekatan interpretif berpandangan bahwa realitas sosial merupakan konstruksi manusia, terbentuk melalui interaksi sosial, simbol, dan makna subjektif. Realitas tidak bisa sepenuhnya dipahami secara objektif karena setiap individu memaknai dunia dengan caranya masing-masing.
- Realitas bersifat subjektif dan beragam, tergantung pada interpretasi individu.
- Struktur sosial tidak dipandang dominan, melainkan dibentuk oleh interaksi sehari-hari.
- Agen manusia dianggap aktif dalam menciptakan makna.
- Tujuan penelitian adalah memahami makna dan perspektif partisipan, menggunakan metode kualitatif seperti wawancara dan observasi.
3. Ontologi Pendekatan Kritis
Sementara itu, pendekatan kritis memiliki pandangan ontologis yang lebih kompleks. Ia menggabungkan kesadaran terhadap konstruksi sosial seperti interpretivisme, namun juga menyoroti bahwa realitas sosial dibentuk oleh kekuasaan, ideologi, dan sejarah. Bagi pendekatan kritis, realitas bukan hanya dibangun oleh interaksi, tetapi juga oleh struktur dominasi yang seringkali tidak disadari oleh masyarakat.
- Realitas dipandang sebagai produk historis dan ideologis, yang sering kali menyembunyikan ketidakadilan struktural.
- Struktur sosial seperti kelas, patriarki, atau rasisme dianggap real dan berpengaruh kuat, meskipun tidak selalu tampak jelas.
- Agen manusia diakui sebagai makhluk sadar dan mampu melakukan perubahan sosial, walau dibatasi oleh struktur yang menindas.
- Tujuan penelitian adalah membongkar relasi kuasa, menciptakan kesadaran kritis, dan mendorong transformasi sosial.
Studi Kasus: Pendidikan dan Ketimpangan Sosial
Sebagai contoh penerapan ontologi kritis, kita bisa melihat sistem pendidikan. Dalam pendekatan positivis, ketimpangan pendidikan mungkin dianggap sebagai hasil perbedaan kecerdasan atau usaha. Namun pendekatan kritis melihat struktur kelas, kurikulum yang hegemonik, dan relasi kuasa di sekolah sebagai akar masalah.
Dengan menggunakan lensa kritis, peneliti dapat menyoroti bagaimana siswa dari kelas ekonomi rendah diperlakukan secara berbeda, bagaimana kurikulum mendukung nilai-nilai kapitalisme, atau bagaimana guru dapat menjadi agen pembebasan lewat pedagogi kritis.
Kritik terhadap Ontologi Kritis
Meskipun pendekatan kritis memiliki kelebihan dalam menganalisis ketimpangan, ia tidak lepas dari kritik, antara lain:
- Terlalu Ideologis: Pendekatan ini sering dituduh tidak cukup obyektif karena peneliti sudah memiliki agenda pembebasan sejak awal.
- Sulit Diuji Secara Empiris: Konsep-konsep seperti hegemoni, ideologi, atau diskursus tidak selalu mudah diukur atau diuji.
- Cenderung Pesimis: Karena terlalu fokus pada dominasi dan penindasan, pendekatan ini bisa mengabaikan aspek positif dari masyarakat.
Namun demikian, pendekatan kritis tetap relevan karena mampu menggugah kesadaran akan ketimpangan dan menginspirasi perubahan sosial.
Relevansi Ontologi Kritis di Era Modern
Di era globalisasi, kapitalisme digital, dan krisis iklim, pendekatan kritis menjadi semakin penting. Realitas sosial semakin kompleks dan penuh dengan bentuk-bentuk baru kekuasaan, termasuk di media sosial, algoritma, dan sistem ekonomi global. Ontologi kritis memungkinkan kita untuk:
- Memahami bagaimana teknologi digunakan untuk mengontrol atau membebaskan.
- Mengkritisi narasi dominan yang tersebar melalui media arus utama.
- Membongkar ideologi konsumtif yang merusak lingkungan.
Dengan kata lain, pendekatan kritis bukan hanya untuk menganalisis, tetapi juga untuk mengintervensi dan mengubah dunia secara aktif.
Baca juga: Ontologi Pendekatan Positivisme
Penutup
Ontologi pendekatan kritis memberikan kerangka konseptual yang kuat untuk memahami realitas sebagai sesuatu yang penuh dengan relasi kuasa, ideologi, dan potensi emansipasi. Berbeda dengan pendekatan lain yang cenderung netral atau deskriptif, pendekatan kritis menempatkan peneliti dalam posisi aktif untuk membongkar struktur penindasan dan mendorong transformasi sosial.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

