Ontologi dalam Paradigma Riset

Ontologi dalam Paradigma Riset

Dalam dunia penelitian ilmiah, terutama di ranah ilmu sosial dan humaniora, pemahaman mengenai paradigma riset sangat penting untuk menentukan arah, pendekatan, serta metodologi penelitian. Paradigma riset terdiri atas tiga pilar utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan metodologi. Ketiganya saling terkait dan menentukan bagaimana peneliti memandang realitas, memperoleh pengetahuan, dan melakukan penelitian.

Disini kita akan membahas secara mendalam mengenai ontologi dalam paradigma riset, termasuk definisi, fungsi, jenis-jenis, serta peranannya dalam berbagai pendekatan penelitian. Dengan memahami ontologi, peneliti dapat membuat keputusan riset yang lebih konsisten dan tepat dalam rangka mencapai validitas ilmiah yang kuat.

Baca juga: Jenis Ontologi Penelitian

Pengertian

Secara etimologis, kata “ontologi” berasal dari bahasa Yunani: ontos yang berarti “yang ada” dan logos yang berarti “ilmu” atau “kajian.” Dengan demikian, dapat diartikan sebagai ilmu tentang yang ada atau kajian mengenai keberadaan dan realitas.

Dalam konteks riset, ontologi merujuk pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa yang dianggap nyata, bagaimana realitas dibentuk, dan apakah realitas itu tunggal atau jamak, objektif atau subjektif. Ontologi menjadi fondasi awal dalam merancang penelitian karena membantu peneliti dalam memahami sifat dari fenomena yang akan diteliti.

Ontologi dan Paradigma Riset

Paradigma riset adalah kerangka berpikir yang mencakup asumsi-asumsi dasar mengenai dunia, yang digunakan oleh peneliti sebagai panduan dalam kegiatan ilmiah. Paradigma ini terdiri atas tiga aspek utama:

  1. Ontologi: Apa yang ada? Apa realitas itu?
  2. Epistemologi: Bagaimana kita mengetahui apa yang kita ketahui?
  3. Metodologi: Bagaimana kita memperoleh pengetahuan?

Ontologi menjadi pondasi pertama. Tanpa pemahaman ontologis yang jelas, peneliti akan kesulitan dalam menyusun pendekatan epistemologis dan metodologi yang konsisten. Misalnya, jika peneliti percaya bahwa realitas bersifat objektif (ontologi positivistik), maka pendekatan epistemologis dan metodologinya akan cenderung kuantitatif dan eksperimental.

Jenis-jenis Ontologi dalam Riset

Terdapat beberapa jenis pandangan ontologis yang sering digunakan dalam riset, antara lain:

1. Realisme

Realisme meyakini bahwa realitas itu ada secara independen dari pikiran manusia. Artinya, dunia nyata tetap ada walaupun manusia tidak memikirkannya. Pandangan ini mendasari paradigma positivistik, yang percaya bahwa dunia dapat dipelajari secara objektif melalui observasi dan eksperimen.

Contoh:

Seorang peneliti kesehatan masyarakat yang percaya bahwa virus adalah entitas nyata yang bisa diamati, diukur, dan dikendalikan melalui intervensi medis tertentu, menggunakan pandangan ontologis realistik.

2. Nominalisme

Dalam nominalisme, realitas dianggap sebagai konstruksi sosial atau hasil dari kesepakatan manusia. Tidak ada realitas tunggal, melainkan beragam realitas tergantung pada persepsi dan interpretasi individu atau kelompok. Pandangan ini banyak digunakan dalam paradigma konstruktivis.

Contoh:

Seorang peneliti pendidikan yang meneliti persepsi siswa tentang “sukses” akan menggunakan pendekatan nominalis, karena makna sukses bisa berbeda antarindividu dan dipengaruhi oleh latar budaya.

3. Relativisme

Relativisme menyatakan bahwa realitas tergantung pada kerangka sosial, budaya, atau historis. Tidak ada satu kebenaran absolut, melainkan berbagai kebenaran tergantung pada konteks.

Contoh:

Dalam studi antropologi, keyakinan suatu masyarakat terhadap roh leluhur dianggap sebagai realitas yang sah dalam konteks budaya tersebut, meskipun tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

4. Materialisme

Materialisme beranggapan bahwa hanya materi yang nyata, dan segala fenomena bisa dijelaskan melalui hukum-hukum fisika atau biologis. Ini banyak digunakan dalam paradigma empiris, terutama dalam ilmu alam dan biomedis.

Peran dalam Merancang Penelitian

Ontologi mempengaruhi banyak aspek dalam proses penelitian, antara lain:

1. Pemilihan Topik dan Rumusan Masalah

Pandangan ontologis peneliti akan menentukan apa yang dianggap penting untuk diteliti. Peneliti yang berpandangan positivistik mungkin akan tertarik pada fenomena yang bisa diukur, sementara yang berpandangan konstruktivis lebih tertarik pada pengalaman subjektif manusia.

2. Perumusan Tujuan dan Pertanyaan Penelitian

Jika peneliti menganggap realitas itu tunggal dan objektif, maka pertanyaan penelitian akan bersifat eksploratif dan bersifat pengujian. Sebaliknya, jika peneliti menganggap realitas itu jamak dan subjektif, maka pertanyaan cenderung bersifat deskriptif atau interpretatif.

3. Pemilihan Metodologi

  • Ontologi objektif cenderung memilih metode kuantitatif seperti survei, eksperimen, dan analisis statistik.
  • Ontologi subjektif mendorong penggunaan metode kualitatif seperti wawancara mendalam, observasi partisipan, atau analisis naratif.

4. Interpretasi Hasil

Ontologi juga mempengaruhi bagaimana peneliti memaknai dan menginterpretasikan data. Dalam paradigma positivistik, data dianggap sebagai representasi dari realitas yang objektif. Sedangkan dalam paradigma interpretif, data dilihat sebagai refleksi dari pengalaman atau makna yang dikonstruksi oleh partisipan.

Ontologi dalam Berbagai Paradigma Penelitian

Berikut adalah contoh bagaimana ontologi diterapkan dalam beberapa paradigma riset populer:

  1. Positivisme
  • Ontologi: Realitas bersifat objektif dan tunggal.
  • Epistemologi: Pengetahuan diperoleh melalui pengamatan dan pengukuran.
  • Metodologi: Eksperimen, survei, statistik.

Positivisme cocok untuk penelitian yang memerlukan generalisasi dan pengujian hipotesis.

  1. Post-positivisme
  • Ontologi: Realitas ada tetapi tidak bisa dipahami sepenuhnya.
  • Epistemologi: Pengetahuan bersifat probabilistik.
  • Metodologi: Gabungan kuantitatif dan kualitatif.

Post-positivisme mengakui bahwa pengetahuan manusia tidak pernah absolut, tetapi mendekati kebenaran.

  1. Konstruktivisme
  • Ontologi: Realitas dibentuk secara sosial.
  • Epistemologi: Pengetahuan diperoleh melalui pemahaman subjektif.
  • Metodologi: Studi kasus, wawancara, etnografi.

Konstruktivisme digunakan untuk menggali makna dan interpretasi yang muncul dari pengalaman manusia.

  1. Kritis
  • Ontologi: Realitas bersifat historis dan struktural.
  • Epistemologi: Pengetahuan harus mengungkap struktur kekuasaan.
  • Metodologi: Partisipatif, reflektif.

Paradigma kritis berupaya mengubah struktur sosial melalui penelitian.

Implikasi Ontologi terhadap Etika Penelitian

Pandangan ontologis tidak hanya berpengaruh pada aspek teknis riset, tetapi juga pada aspek etis dan moral. Misalnya:

  • Jika peneliti melihat partisipan sebagai subjek objektif, maka etika penelitian akan menekankan pada anonimitas dan validitas data.
  • Jika partisipan dianggap sebagai mitra dalam penciptaan makna, maka etika penelitiannya melibatkan empati, kejujuran, dan partisipasi aktif.

Pemahaman ontologi yang matang juga membuat peneliti lebih reflektif dan sadar akan bias pribadi, serta lebih bijaksana dalam menginterpretasikan data dari konteks yang berbeda.

Tantangan dalam Menentukan Ontologi

Berikut tantangan yang perlu Anda perhatikan:

  1. Kebingungan Teoretis: Banyak peneliti pemula merasa bingung membedakan ontologi dengan epistemologi. Meskipun saling berkaitan, keduanya memiliki titik fokus yang berbeda. Ontologi menjawab “apa yang ada?” sedangkan epistemologi menjawab “bagaimana kita tahu?”
  2. Konsistensi Paradigma: Sering kali peneliti mencampur pendekatan ontologis yang tidak sejalan dengan pendekatan epistemologis. Misalnya, menggunakan metode kuantitatif untuk memahami makna subjektif bisa menghasilkan ketidaksesuaian.
  3. Keterbatasan Literasi Filsafat: Tidak semua peneliti memiliki latar belakang filsafat, sehingga sulit memahami dasar-dasar ontologi secara mendalam. Diperlukan pelatihan dan literatur yang mudah dipahami.

Cara Menentukan

Bagi peneliti yang sedang merancang studi, berikut beberapa langkah praktis dalam menentukan pandangan ontologis:

  1. Refleksi Diri: Tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya percaya realitas itu objektif dan bisa diukur, atau saya lebih percaya bahwa realitas bersifat subjektif dan dibentuk oleh pengalaman?
  2. Pahami Tujuan Penelitian: Tujuan eksplorasi makna lebih cocok dengan ontologi subjektif. Sedangkan tujuan pengukuran atau uji hipotesis lebih cocok dengan ontologi objektif.
  3. Sesuaikan dengan Bidang Ilmu: Ilmu alam cenderung mendukung ontologi objektif, sementara ilmu sosial dan humaniora lebih fleksibel terhadap pendekatan subjektif.
  4. Diskusikan dengan Pembimbing atau Ahli: Konsultasi sangat penting untuk memastikan konsistensi antara ontologi, epistemologi, dan metodologi yang digunakan.
Baca juga: Aspek ontologi penelitian

Penutup

Ontologi memainkan peran penting dalam membentuk paradigma riset. Ia menentukan bagaimana peneliti memandang realitas, memilih pendekatan metodologis, serta memaknai hasil penelitian. Tanpa pemahaman ontologis yang matang, sebuah riset berisiko kehilangan arah, konsistensi, dan validitasnya.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal