Peran Ontologi dalam Riset

H-Indeks Scopus Elsevier: Pengertian, Jenis, dan Relevansinya dalam Dunia Akademik

Dalam dunia riset, salah satu aspek fundamental yang sering kali menjadi dasar dalam penyusunan metodologi adalah filsafat ilmu. Filsafat ilmu membahas berbagai cabang pemikiran yang berkaitan dengan bagaimana pengetahuan diperoleh, divalidasi, dan diinterpretasikan. Salah satu cabang filsafat ilmu yang memiliki pengaruh besar dalam proses penelitian adalah ontologi. Meski kerap dianggap sebagai wacana teoritis yang abstrak, ontologi sejatinya memiliki peran krusial dalam menentukan arah, pendekatan, hingga kerangka pemikiran suatu penelitian.

Ontologi membahas tentang hakikat realitas, atau dengan kata lain, tentang apa yang ada dan bagaimana sesuatu itu ada. Dalam konteks riset, pemahaman terhadap ontologi membantu peneliti untuk menentukan objek yang akan diteliti, bagaimana ia melihat realitas tersebut, dan apa yang bisa diketahui tentang realitas itu. Disini kita akan membahas secara mendalam mengenai apa itu ontologi, bagaimana peranannya dalam riset, serta dampaknya terhadap pengambilan keputusan metodologis.

Baca juga: Fungsi Ontologi Penelitian: Menyelami Hakikat Realitas dalam Dunia Ilmiah

Pengertian Ontologi

Secara etimologis, kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos (berarti “yang ada”) dan logos (berarti “ilmu” atau “kajian”). Dengan demikian, ontologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang “keberadaan” atau “hakikat dari sesuatu yang ada.” Dalam konteks filsafat, ontologi merupakan studi sistematis tentang kategori eksistensi dan hubungan antarkategori tersebut.

Ontologi bertanya: Apa yang benar-benar ada di dunia ini? Apakah realitas terdiri dari benda-benda fisik semata, atau ada hal-hal non-fisik seperti ide, nilai, dan makna? Dalam riset, pertanyaan-pertanyaan ontologis ini akan membimbing peneliti dalam memahami realitas yang sedang dikaji.

Ontologi dalam Filsafat Ilmu

Dalam ranah filsafat ilmu, ontologi menjadi fondasi utama dalam membentuk paradigma penelitian. Paradigma adalah pandangan dunia yang mencerminkan seperangkat keyakinan tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Tiga komponen penting dalam paradigma adalah:

  1. Ontologi: Apa yang kita percayai tentang realitas.
  2. Epistemologi: Bagaimana kita mengetahui sesuatu.
  3. Metodologi: Cara kita mengumpulkan dan menganalisis data.

Oleh karena itu, ontologi tidak dapat dipisahkan dari epistemologi dan metodologi. Ketika seorang peneliti memegang pandangan ontologis tertentu, secara otomatis hal tersebut akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap kebenaran dan metode yang dipilih dalam riset.

Jenis-jenis Pandangan Ontologis

Ada beberapa pendekatan ontologis yang biasa digunakan dalam riset, antara lain:

1. Realisme

Dalam pandangan realisme, dunia eksternal dianggap nyata dan independen dari pengamat. Artinya, fakta dan realitas objektif bisa diketahui dan diukur. Penelitian yang berlandaskan realisme umumnya bersifat kuantitatif karena percaya bahwa realitas bisa diobservasi dan direpresentasikan secara numerik.

Contoh: Penelitian eksperimen di bidang sains yang mengukur pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain.

2. Relativisme

Relativisme berpandangan bahwa realitas bersifat subjektif dan bergantung pada persepsi individu. Dengan kata lain, tidak ada satu realitas tunggal, melainkan banyak realitas yang diciptakan oleh pengalaman manusia.

Penelitian kualitatif sering berakar pada ontologi relativistik karena mencoba memahami makna subjektif dari pengalaman manusia.

Contoh: Studi etnografi tentang budaya lokal yang memahami cara hidup masyarakat dari sudut pandang mereka sendiri.

3. Konstruktivisme

Sering disejajarkan dengan relativisme, konstruktivisme percaya bahwa realitas dibentuk melalui konstruksi sosial. Fakta tidak dianggap sebagai sesuatu yang netral, tetapi sebagai hasil dari interaksi sosial, bahasa, dan konteks budaya.

Konstruktivisme sangat penting dalam riset sosial, pendidikan, dan komunikasi karena memusatkan perhatian pada bagaimana individu dan kelompok menciptakan makna.

4. Kritis

Pandangan kritis berangkat dari keyakinan bahwa realitas dibentuk oleh kekuasaan, ideologi, dan struktur sosial. Peneliti dengan pandangan ini berusaha mengungkap ketimpangan, dominasi, dan ketidakadilan yang tersembunyi di balik sistem sosial.

Penelitian kritis tidak hanya mencoba memahami dunia, tetapi juga ingin mengubahnya. Pendekatan ini banyak digunakan dalam studi feminis, post-kolonial, dan kajian budaya.

Peran Ontologi dalam Menentukan Desain Riset

Ontologi memiliki pengaruh besar terhadap seluruh tahapan riset, mulai dari perumusan masalah hingga penafsiran hasil. Berikut beberapa peran ontologi yang penting:

1. Menentukan Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian yang diajukan sangat dipengaruhi oleh bagaimana peneliti memandang realitas. Seorang realis mungkin bertanya, “Apa pengaruh variabel X terhadap variabel Y?” Sedangkan seorang konstruktivis lebih tertarik pada pertanyaan seperti, “Bagaimana makna pengalaman X dibentuk oleh individu Y?”

2. Memilih Pendekatan Penelitian

Pemahaman ontologis akan membimbing peneliti dalam memilih pendekatan kuantitatif, kualitatif, atau mixed methods. Peneliti yang meyakini bahwa realitas bersifat objektif akan lebih cenderung memilih pendekatan kuantitatif, sementara mereka yang memandang realitas sebagai konstruksi sosial akan memilih pendekatan kualitatif.

3. Menentukan Teknik Pengumpulan Data

Ontologi juga memengaruhi metode pengumpulan data. Dalam pendekatan objektif, instrumen seperti kuesioner dan pengukuran statistik lebih dominan. Sementara dalam pendekatan subjektif, wawancara mendalam, observasi partisipatif, atau analisis naratif lebih sering digunakan.

4. Memandu Penafsiran Data

Seorang peneliti realis akan menginterpretasikan data berdasarkan generalisasi dan pola statistik. Sebaliknya, peneliti konstruktivis akan memaknai data sebagai refleksi dari realitas yang bersifat dinamis dan kontekstual.

5. Menentukan Validitas dan Kebenaran

Kebenaran dalam perspektif ontologi realis adalah sesuatu yang bisa diverifikasi secara empiris. Namun dalam pendekatan subjektif, kebenaran bersifat jamak dan bergantung pada sudut pandang masing-masing individu. Maka, kriteria validitas pun berbeda: kuantitatif berbicara tentang validitas internal/eksternal, sementara kualitatif berbicara tentang kredibilitas, transferabilitas, dan keotentikan.

Implikasi Ontologi dalam Penelitian Interdisipliner

Dalam era riset modern, penelitian tidak lagi terbatas pada satu disiplin ilmu saja. Pendekatan interdisipliner dan transdisipliner semakin populer karena dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh terhadap isu kompleks. Namun, keragaman pendekatan ini juga membawa tantangan ontologis.

Misalnya, ketika seorang ahli biologi bekerja sama dengan sosiolog untuk meneliti dampak perubahan iklim terhadap komunitas lokal, mereka membawa asumsi ontologis yang berbeda. Ahli biologi mungkin memandang perubahan iklim sebagai fenomena ilmiah yang bisa diukur, sementara sosiolog melihatnya sebagai peristiwa sosial yang sarat makna dan nilai.

Dalam situasi ini, penting bagi tim peneliti untuk mendiskusikan dan menyepakati ontologi mana yang digunakan sebagai kerangka bersama, atau setidaknya menyadari bahwa pendekatan mereka berasal dari landasan ontologis yang berbeda.

Studi Kasus: Peran Ontologi dalam Riset Pendidikan

Sebagai contoh konkret, mari kita lihat bagaimana ontologi berperan dalam riset pendidikan. Misalnya, dua peneliti ingin meneliti efektivitas metode pembelajaran daring.

  • Peneliti A menggunakan pendekatan kuantitatif. Ia meyakini bahwa keberhasilan pembelajaran daring bisa diukur lewat nilai akhir siswa. Ontologi yang digunakan adalah realisme, menganggap bahwa “efektivitas” adalah sesuatu yang objektif dan dapat diukur.
  • Peneliti B menggunakan pendekatan kualitatif. Ia tertarik pada pengalaman siswa dan bagaimana mereka memaknai pembelajaran daring. Ontologi yang digunakan adalah konstruktivisme, menganggap bahwa efektivitas tergantung pada konteks, pengalaman, dan persepsi individu.

Kedua peneliti ini mungkin meneliti topik yang sama, tetapi sudut pandang ontologis yang berbeda membuat hasil dan penafsirannya juga berbeda. Inilah pentingnya menyadari posisi ontologis sejak awal agar hasil riset tidak bias dan sesuai dengan realitas yang dimaksud.

Kritik terhadap Peran Ontologi dalam Riset

Meskipun peran ontologi sangat penting, bukan berarti tanpa kritik. Beberapa peneliti merasa bahwa diskusi ontologis terlalu teoretis dan tidak memberikan kontribusi langsung pada praktik riset. Dalam beberapa konteks, terutama di bidang terapan seperti teknik atau ilmu komputer, ontologi sering diabaikan karena dianggap tidak relevan.

Namun, pendekatan seperti ini bisa berbahaya. Tanpa kesadaran ontologis, peneliti bisa menggunakan metode yang tidak sesuai dengan realitas yang ingin mereka pahami. Hal ini dapat menghasilkan riset yang dangkal atau bahkan menyesatkan.

Mengintegrasikan Ontologi dalam Proposal Penelitian

Bagi mahasiswa atau peneliti pemula, menjelaskan posisi ontologis dalam proposal penelitian sering menjadi tantangan. Berikut beberapa tips untuk mengintegrasikan ontologi ke dalam proposal riset:

  1. Tentukan pandangan Anda tentang realitas: Apakah Anda melihat realitas sebagai sesuatu yang objektif atau subjektif?
  2. Kaitkan dengan pertanyaan penelitian: Pastikan pertanyaan Anda sesuai dengan pandangan ontologis yang diambil.
  3. Jelaskan dalam bagian metodologi: Uraikan bagaimana ontologi memengaruhi pemilihan metode dan teknik analisis.
  4. Konsisten dalam seluruh bagian: Jangan sampai metode dan analisis bertentangan dengan asumsi ontologis Anda.
Baca juga: Contoh Ontologi Penelitian: Memahami Dasar Filsafat dalam Penelitian Ilmiah

Kesimpulan

Ontologi memainkan peran yang sangat penting dalam riset, baik sebagai landasan berpikir maupun sebagai penentu arah metodologis. Pemahaman terhadap ontologi membantu peneliti untuk lebih sadar akan asumsi dasar yang digunakan dalam menafsirkan realitas. Ontologi memengaruhi cara kita melihat masalah, menyusun pertanyaan, memilih metode, serta menginterpretasikan data.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solusi Jurnal