Dalam dunia penelitian ilmiah, terdapat berbagai pendekatan, landasan filosofis, dan kerangka berpikir yang mendasari proses penyelidikan terhadap suatu fenomena. Salah satu aspek filosofis yang memiliki peranan krusial dalam penelitian adalah ontologi. Meskipun istilah ini sering kali hanya muncul di bagian awal proposal atau kajian pustaka, ontologi sesungguhnya merupakan fondasi yang menentukan arah pandang seorang peneliti terhadap realitas yang sedang diteliti. Lantas, apa sebenarnya ontologi dalam konteks penelitian? Mengapa ontologi penting? Dan bagaimana fungsi ontologi membentuk arah dan kualitas dari sebuah penelitian?
Disini kita akan mengupas secara komprehensif tentang fungsi ontologi dalam penelitian, dari pengertian dasar hingga penerapannya dalam berbagai pendekatan keilmuan. Melalui pembahasan mendalam ini, pembaca diharapkan memahami peran sentral ontologi dalam membangun landasan berpikir ilmiah yang kokoh dan konsisten.
Baca juga: Contoh Ontologi Penelitian: Memahami Dasar Filsafat dalam Penelitian Ilmiah
Apa Itu Ontologi dalam Penelitian?
Secara etimologis, istilah “ontologi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos yang berarti “ada” atau “wujud”, dan logos yang berarti “ilmu” atau “kajian”. Dengan demikian, ontologi dapat diartikan sebagai cabang filsafat yang membahas tentang hakikat keberadaan atau realitas.
Dalam konteks penelitian ilmiah, ontologi merujuk pada pandangan atau asumsi dasar peneliti terhadap realitas atau fenomena yang sedang diteliti. Dengan kata lain, ontologi menjawab pertanyaan: “Apa yang dianggap nyata atau ada?” dan “Bagaimana struktur realitas itu?”
Sebagai contoh, dalam penelitian sosial, seorang peneliti dengan pendekatan ontologis positivistik mungkin menganggap bahwa realitas sosial bersifat objektif, tetap, dan dapat diukur. Sementara itu, peneliti dengan pendekatan konstruktivis memandang bahwa realitas sosial bersifat subjektif, tergantung pada persepsi dan pengalaman individu.
Hubungan Ontologi, Epistemologi, dan Metodologi
Untuk memahami fungsi ontologi secara lebih utuh, kita perlu melihatnya dalam hubungan dengan dua landasan filosofis lainnya, yaitu epistemologi dan metodologi.
- Ontologi: Membahas tentang “apa yang ada”, yaitu asumsi tentang realitas.
- Epistemologi: Membahas tentang “bagaimana kita mengetahui apa yang ada”, yaitu hubungan antara peneliti dan pengetahuan.
- Metodologi: Menjawab pertanyaan “bagaimana cara kita meneliti realitas”, yaitu strategi atau cara untuk memperoleh pengetahuan.
Ketiga elemen ini membentuk kerangka berpikir filosofis dalam penelitian. Ontologi menjadi dasar yang menentukan epistemologi, yang pada gilirannya mempengaruhi pilihan metodologi. Oleh karena itu, pemahaman ontologi yang kuat akan membantu peneliti memilih pendekatan dan metode yang konsisten dan tepat.
Fungsi Ontologi dalam Penelitian
Berikut beberapa fungsi ontologi dalam penelitian:
1. Menentukan Arah Pandang Terhadap Realitas
Fungsi paling mendasar dari ontologi adalah sebagai penentu arah pandang terhadap realitas yang menjadi objek penelitian. Dengan ontologi, peneliti menetapkan apakah realitas yang ia teliti bersifat objektif atau subjektif, tetap atau berubah, tunggal atau jamak.
Contoh:
- Peneliti kuantitatif biasanya menganggap realitas sebagai sesuatu yang objektif, terpisah dari subjek, dan bisa diukur.
- Peneliti kualitatif memandang realitas sebagai sesuatu yang dibentuk melalui interaksi dan makna subjektif.
Pemahaman ini akan sangat menentukan bagaimana peneliti menyusun kerangka teoritis dan merancang proses penelitian.
2. Membantu Konsistensi Filosofis dalam Penelitian
Ontologi berfungsi sebagai landasan filosofis yang menjamin konsistensi antara tujuan penelitian, pertanyaan penelitian, teori yang digunakan, hingga metode dan teknik analisis data.
Sebagai contoh, jika peneliti menggunakan paradigma positivistik (yang ontologinya objektif), maka pendekatan kuantitatif dengan instrumen statistik adalah pilihan yang logis. Sebaliknya, jika peneliti menggunakan paradigma interpretif, maka pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatif lebih sesuai.
Tanpa pemahaman ontologis yang kuat, sebuah penelitian bisa mengalami ketidaksesuaian metodologis, seperti menggunakan metode kuantitatif untuk menjawab pertanyaan yang bersifat subjektif dan eksploratif.
3. Mendorong Refleksi Kritis Terhadap Asumsi Penelitian
Ontologi juga berfungsi sebagai alat refleksi bagi peneliti untuk menyadari asumsi-asumsi dasar yang dibawanya saat meneliti. Dalam praktiknya, setiap peneliti membawa bias atau asumsi tertentu terhadap realitas.
Dengan memahami ontologi, peneliti dapat secara kritis merefleksikan:
- Apakah saya melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang tetap atau berubah?
- Apakah saya menganggap realitas ini independen dari peneliti, atau tergantung pada persepsi subjek?
Kesadaran ini membantu peneliti untuk lebih terbuka terhadap berbagai perspektif dan memperkuat integritas ilmiahnya.
4. Menjadi Dasar dalam Pemilihan Paradigma Penelitian
Dalam dunia penelitian, terdapat berbagai paradigma seperti positivisme, interpretivisme, kritis, pragmatisme, dan lain-lain. Setiap paradigma membawa asumsi ontologis tertentu.
Fungsi ontologi di sini adalah sebagai dasar dalam memilih paradigma yang paling sesuai dengan tujuan dan konteks penelitian. Misalnya:
- Positivisme: realitas objektif dan tunggal
- Interpretivisme: realitas subjektif dan jamak
- Kritis: realitas dibentuk oleh kekuasaan dan ideologi
- Pragmatisme: realitas sebagai sesuatu yang berguna dalam konteks tertentu
Pemilihan paradigma yang tepat akan mengarahkan peneliti untuk menggunakan pendekatan dan metode yang paling relevan.
5. Mengarahkan Formulasi Pertanyaan Penelitian
Ontologi juga berfungsi dalam merumuskan pertanyaan penelitian yang sesuai dengan asumsi realitas yang dianut. Peneliti yang percaya bahwa realitas sosial bisa diukur akan menanyakan “berapa besar pengaruh A terhadap B?”, sementara peneliti yang melihat realitas sebagai konstruksi sosial akan bertanya “bagaimana makna A dibentuk oleh kelompok B?”
Dengan demikian, ontologi berperan penting dalam mendesain fokus dan cakupan penelitian.
6. Membangun Posisi Ilmiah Peneliti
Ontologi bukan hanya sekadar alat bantu teknis, tapi juga menunjukkan posisi ilmiah dan ideologis peneliti dalam memahami realitas. Dalam kajian sosial misalnya, peneliti yang memiliki orientasi kritis bisa menggunakan ontologi untuk menantang struktur sosial dominan dan mengadvokasi kelompok yang terpinggirkan.
Dalam konteks ini, fungsi ontologi menjadi alat pemberdayaan ilmiah yang mendorong perubahan sosial melalui pengetahuan yang diproduksi.
Penerapan Ontologi dalam Berbagai Bidang Ilmu
Berikut penerapan ontologi pada bidangnya:
- Ilmu Sosial
Dalam ilmu sosial, ontologi memainkan peran yang sangat penting karena realitas sosial bersifat kompleks dan tidak selalu bisa didekati secara objektif. Berbagai pendekatan seperti fenomenologi, etnografi, dan studi kritis sangat dipengaruhi oleh asumsi ontologis tentang manusia, interaksi sosial, dan struktur masyarakat.
- Ilmu Alam
Meskipun cenderung lebih objektif, ilmu alam juga tidak lepas dari ontologi. Asumsi bahwa hukum alam itu tetap, dapat diuji, dan bersifat universal adalah pandangan ontologis yang melandasi seluruh penelitian eksperimental.
- Ilmu Pendidikan
Dalam studi pendidikan, ontologi membantu peneliti memahami apakah proses belajar mengajar merupakan sesuatu yang bisa diukur secara objektif (nilai, skor), atau merupakan hasil dari interaksi dan konstruksi makna antara guru dan siswa.
Tantangan dalam Menentukan Ontologi
Meski penting, menentukan posisi ontologis dalam penelitian tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang kerap muncul antara lain:
- Kurangnya pemahaman filosofis di kalangan peneliti pemula
- Kebingungan antara ontologi, epistemologi, dan metodologi
- Tekanan institusional atau pembimbing untuk memilih metode tertentu tanpa memperhatikan konsistensi ontologis
- Ketidaksesuaian antara latar belakang disiplin ilmu dengan fokus penelitian yang diambil
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pembelajaran filsafat ilmu secara menyeluruh dan keterbukaan terhadap berbagai pendekatan keilmuan.
Contoh Implementasi Ontologi dalam Penelitian
Berikut ini adalah dua contoh sederhana bagaimana ontologi mempengaruhi proses penelitian:
Contoh 1: Penelitian Positivistik
Judul: Pengaruh Metode Belajar Terhadap Prestasi Akademik Siswa SMA
- Ontologi: Realitas pendidikan dapat diukur secara objektif
- Epistemologi: Peneliti bersifat netral dan mengamati dari luar
- Metodologi: Survei dan analisis statistik
- Instrumen: Kuesioner dan nilai rapor
- Hasil: Dinyatakan dalam bentuk angka dan signifikansi statistik
Contoh 2: Penelitian Konstruktivistik
Judul: Makna Belajar Bagi Siswa di Komunitas Adat
- Ontologi: Realitas belajar merupakan hasil konstruksi sosial
- Epistemologi: Peneliti berinteraksi langsung dengan subjek
- Metodologi: Observasi partisipatif dan wawancara mendalam
- Instrumen: Catatan lapangan, rekaman suara
- Hasil: Narasi dan temuan kualitatif
Kedua penelitian tersebut sama-sama valid, tetapi dibangun di atas asumsi ontologis yang berbeda.
Baca juga: Pengertian Ontologi Penelitian: Fondasi Filosofis dalam Riset Ilmiah
Kesimpulan
Ontologi bukan sekadar istilah abstrak dalam dunia filsafat, melainkan memiliki fungsi fundamental dalam seluruh proses penelitian ilmiah. Dari menentukan paradigma, menyusun pertanyaan penelitian, memilih metode, hingga menganalisis data, semua itu berakar pada pemahaman tentang apa yang dianggap sebagai realitas oleh peneliti.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

