Duplicate Submission dan Duplicate Publication serta Perbedaan Keduanya

duplicate submission dan duplicate publication

Dalam proses publikasi ilmiah, penulis tidak hanya dituntut menghasilkan penelitian yang berkualitas, tetapi juga memahami aturan etika yang berlaku dalam penerbitan artikel. Dua istilah yang cukup sering muncul dalam pembahasan etika publikasi adalah duplicate submission dan duplicate publication. Keduanya sama-sama berkaitan dengan pengulangan naskah atau hasil penelitian, tetapi terjadi pada tahap dan kondisi yang berbeda.

Pemahaman mengenai duplicate submission dan duplicate publication penting karena kesalahan dalam membedakan keduanya dapat menimbulkan persoalan bagi penulis maupun jurnal. Pengiriman naskah yang sama ke beberapa jurnal pada waktu yang bersamaan dapat dianggap sebagai pelanggaran etika, sementara penerbitan materi yang sama secara berulang dapat menimbulkan masalah lain terkait orisinalitas dan rekam publikasi. Karena itu, penulis perlu memahami karakteristik, risiko, serta cara mencegah kedua praktik tersebut.

Artikel ini membahas pengertian duplicate submission dan duplicate publication, perbedaan keduanya, alasan mengapa praktik tersebut menjadi perhatian dalam publikasi ilmiah, serta langkah yang dapat dilakukan penulis untuk menghindarinya. Dengan memahami batas antara proses pengiriman dan penerbitan, penulis dapat mengelola naskah secara lebih bertanggung jawab dan menjaga integritas akademik.

Pengertian Duplicate Submission dalam Publikasi Ilmiah

Duplicate submission adalah tindakan mengirimkan naskah yang sama atau secara substansial sama kepada lebih dari satu jurnal pada waktu yang bersamaan tanpa memberikan informasi atau memperoleh persetujuan yang sesuai. Praktik ini biasanya terjadi sebelum artikel diterbitkan, sehingga masalah utamanya terletak pada proses pengajuan naskah. Ketika sebuah artikel sedang menjalani proses review di satu jurnal, penulis seharusnya tidak mengirimkan naskah yang sama ke jurnal lain secara bersamaan apabila kebijakan jurnal tidak mengizinkannya.

Situasi tersebut dapat menyebabkan beberapa jurnal bekerja untuk menilai naskah yang sama tanpa mengetahui bahwa jurnal lain juga sedang melakukan proses serupa. Editor dan reviewer kemudian menghabiskan waktu untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak diperlukan. Karena proses peer review melibatkan sumber daya akademik yang terbatas, duplicate submission dipandang sebagai tindakan yang dapat mengganggu efisiensi dan kepercayaan dalam sistem publikasi ilmiah.

Baca juga: Pendampingan Publikasi Ilmiah dari Naskah hingga Artikel Terbit

Pengertian Duplicate Publication

Duplicate publication merujuk pada penerbitan artikel atau materi ilmiah yang sama atau sangat mirip lebih dari satu kali tanpa alasan akademik yang dapat dibenarkan dan tanpa transparansi yang memadai. Berbeda dengan duplicate submission yang terjadi pada tahap pengiriman, duplicate publication berkaitan dengan hasil yang sudah diterbitkan. Praktik ini dapat membuat satu hasil penelitian seolah-olah merupakan beberapa publikasi berbeda, padahal sebagian atau seluruh materi berasal dari karya yang sama.

Duplicate publication dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari menerbitkan kembali artikel yang hampir identik hingga menggunakan sebagian besar data, analisis, dan kesimpulan dari publikasi sebelumnya tanpa pengungkapan yang jelas. Tidak setiap penggunaan kembali materi otomatis merupakan pelanggaran, karena terdapat kondisi tertentu seperti publikasi sekunder yang diperbolehkan berdasarkan aturan jurnal dan dilakukan secara transparan. Persoalan utamanya adalah apakah pembaca dan editor memperoleh informasi yang cukup mengenai hubungan antara publikasi tersebut.

Perbedaan Duplicate Submission dan Duplicate Publication

Duplicate submission dan duplicate publication memiliki hubungan yang erat karena keduanya berkaitan dengan penggunaan kembali naskah atau hasil penelitian. Namun, perbedaan paling mendasar terletak pada tahap terjadinya praktik tersebut. Duplicate submission terjadi ketika naskah dikirim ke lebih dari satu jurnal, sedangkan duplicate publication terjadi ketika karya yang sama atau sangat mirip sudah diterbitkan lebih dari satu kali.

Aspek Duplicate Submission Duplicate Publication
Tahap Sebelum artikel diterbitkan Setelah artikel diterbitkan
Bentuk utama Pengiriman naskah yang sama ke beberapa jurnal Penerbitan karya yang sama atau sangat mirip lebih dari satu kali
Masalah utama Mengganggu proses editorial dan peer review Mengganggu orisinalitas dan rekam publikasi
Pihak terdampak Editor, reviewer, dan jurnal Jurnal, pembaca, peneliti, dan komunitas akademik
Pencegahan Mengikuti aturan pengiriman dan menunggu keputusan jurnal Mengungkap publikasi sebelumnya dan mengikuti kebijakan publikasi sekunder

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lokasi persoalannya berbeda, meskipun prinsip etika yang mendasarinya sama. Penulis perlu menjaga transparansi dalam setiap tahap publikasi agar editor dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lengkap. Dengan demikian, memahami istilah duplicate submission saja belum cukup apabila penulis juga menggunakan atau mengembangkan materi dari publikasi sebelumnya.

Mengapa Duplicate Submission Menjadi Masalah Etika

Duplicate submission dapat menimbulkan pemborosan sumber daya dalam proses penerbitan ilmiah. Ketika dua jurnal menerima naskah yang sama, keduanya dapat mengalokasikan editor dan reviewer untuk mengevaluasi materi yang identik. Padahal, waktu reviewer dan editor merupakan sumber daya penting yang seharusnya digunakan untuk menilai penelitian lain yang memang membutuhkan proses tersebut.

Masalah lainnya berkaitan dengan kemungkinan munculnya keputusan editorial yang saling bertentangan. Satu jurnal dapat menerima artikel sementara jurnal lain menolaknya, atau keduanya dapat melanjutkan proses hingga tahap penerbitan. Jika kondisi tersebut tidak diketahui, penulis dapat berada dalam situasi yang lebih rumit karena satu naskah berpotensi diterbitkan oleh lebih dari satu jurnal.

Beberapa alasan duplicate submission dianggap bermasalah antara lain:

  • Menggunakan waktu dan tenaga editor pada lebih dari satu jurnal untuk naskah yang sama.
  • Membebani reviewer dengan proses penilaian yang sebenarnya dilakukan secara bersamaan di tempat lain.
  • Menimbulkan ketidakjelasan mengenai jurnal mana yang memiliki hak untuk memproses dan menerbitkan naskah.
  • Meningkatkan risiko terjadinya duplicate publication apabila lebih dari satu jurnal menerima naskah tersebut.
  • Mengurangi kepercayaan antara penulis dan pengelola jurnal.

Karena itu, penulis sebaiknya memperlakukan pengiriman artikel sebagai proses yang eksklusif selama jurnal belum memberikan keputusan akhir atau izin lain yang secara jelas diperbolehkan oleh kebijakannya.

Bentuk Duplicate Publication yang Perlu Diperhatikan

Duplicate publication tidak selalu berarti dua artikel memiliki judul dan isi yang benar-benar identik. Dalam praktiknya, persoalan dapat muncul ketika sebagian besar unsur penting sebuah penelitian digunakan kembali sehingga publikasi baru tidak memberikan kontribusi ilmiah yang cukup berbeda. Unsur tersebut dapat mencakup data, metode, hasil, analisis, gambar, tabel, maupun kesimpulan.

Beberapa bentuk yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Penerbitan ulang artikel yang hampir seluruh isinya sama tanpa pengungkapan kepada editor dan pembaca.
  2. Menggunakan dataset yang sama untuk menghasilkan artikel baru tanpa menjelaskan hubungan dengan artikel sebelumnya.
  3. Mengambil sebagian besar isi artikel terdahulu lalu menyajikannya sebagai penelitian baru tanpa sitasi atau penjelasan yang memadai.
  4. Menerbitkan terjemahan artikel sebelumnya tanpa mengikuti ketentuan publikasi sekunder yang berlaku.
  5. Memecah hasil penelitian secara tidak wajar menjadi beberapa artikel agar jumlah publikasi terlihat lebih banyak.

Tidak semua penggunaan data atau materi penelitian sebelumnya otomatis termasuk duplicate publication. Penelitian lanjutan dapat menggunakan dataset lama apabila terdapat pertanyaan penelitian baru, analisis berbeda, atau kontribusi ilmiah yang jelas. Namun, hubungan dengan karya sebelumnya perlu dijelaskan secara transparan agar pembaca dapat memahami sumber data dan perkembangan penelitian tersebut.

Hubungan Duplicate Publication dengan Salami Publication

Duplicate publication juga perlu dibedakan dari salami publication, meskipun keduanya dapat memiliki pola yang berdekatan. Pada salami publication, satu penelitian dapat dipecah menjadi beberapa artikel yang masing-masing memiliki bagian data atau hasil tertentu. Masalah muncul ketika pemisahan tersebut dilakukan terutama untuk meningkatkan jumlah publikasi tanpa memberikan kontribusi ilmiah yang cukup pada setiap artikel.

Perbedaannya dapat dilihat dari cara materi penelitian digunakan. Duplicate publication cenderung mengulang artikel atau materi yang sudah diterbitkan, sedangkan salami publication memecah satu rangkaian penelitian menjadi beberapa publikasi. Keduanya dapat menimbulkan persoalan apabila pembagian atau pengulangan tersebut tidak transparan dan membuat kontribusi ilmiah menjadi tidak jelas.

Penulis dapat menghindari masalah tersebut dengan mempertimbangkan beberapa hal:

  • Apakah setiap artikel memiliki pertanyaan penelitian yang berbeda?
  • Apakah setiap publikasi memberikan kontribusi ilmiah yang jelas?
  • Apakah penggunaan data dari penelitian sebelumnya dijelaskan?
  • Apakah artikel terkait telah dicantumkan dalam naskah dan disampaikan kepada editor?
  • Apakah pembagian hasil penelitian memang diperlukan secara akademik?

Jika beberapa artikel berasal dari satu proyek penelitian, transparansi menjadi bagian penting dalam menjaga integritas publikasi.

Dampak Duplicate Submission dan Duplicate Publication

Dampak kedua praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan penolakan artikel. Persoalan dapat berkembang menjadi masalah administratif dan etika apabila jurnal menemukan bahwa penulis tidak mengikuti kebijakan publikasi yang telah ditetapkan. Dalam kondisi tertentu, jurnal dapat melakukan penyelidikan terhadap naskah atau artikel yang dianggap bermasalah.

Dampak yang mungkin muncul antara lain:

  • Naskah ditolak selama proses editorial.
  • Proses review dihentikan.
  • Artikel yang sudah diterbitkan dapat ditarik atau diberi pemberitahuan koreksi sesuai kebijakan penerbit.
  • Reputasi akademik penulis dapat terdampak.
  • Hubungan penulis dengan jurnal dan institusi dapat menjadi lebih sulit.
  • Rekam publikasi menjadi kurang jelas bagi pembaca dan peneliti lain.

Besarnya konsekuensi sangat bergantung pada situasi, kebijakan jurnal, tingkat kemiripan, serta apakah tindakan tersebut dilakukan secara sengaja atau akibat kesalahpahaman. Karena itu, penulis sebaiknya tidak menganggap semua kasus memiliki konsekuensi yang sama. Penilaian biasanya membutuhkan pemeriksaan terhadap konteks dan informasi yang tersedia.

duplicate submission dan duplicate publication

Cara Mencegah Duplicate Submission

Pencegahan duplicate submission sebenarnya dapat dilakukan melalui pengelolaan naskah yang sederhana. Masalah sering muncul bukan karena penulis tidak mengetahui etika publikasi, melainkan karena pencatatan pengiriman artikel dilakukan secara tidak teratur. Ketika seseorang mengelola banyak naskah sekaligus, status setiap artikel perlu dicatat agar tidak terjadi pengiriman secara tidak sengaja.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan adalah:

  1. Membuat daftar seluruh naskah yang sedang diproses beserta nama jurnal tujuan.
  2. Mencatat tanggal pengiriman, status review, dan keputusan editorial setiap naskah.
  3. Memeriksa kembali sistem submission sebelum mengunggah artikel baru.
  4. Membaca panduan penulis pada jurnal tujuan sebelum melakukan pengiriman.
  5. Tidak mengirim naskah yang sama ke jurnal lain selama masih dalam proses review, kecuali kebijakan jurnal secara jelas memperbolehkannya.
  6. Mengomunikasikan kondisi tertentu kepada editor apabila terdapat alasan akademik atau administratif yang membuat penulis perlu menarik naskah.

Pengelolaan tersebut dapat mengurangi risiko kesalahan administratif sekaligus membantu penulis memiliki rekam proses publikasi yang lebih jelas. Dalam publikasi ilmiah, sedikit ketelitian sebelum menekan tombol submit sering kali lebih murah daripada memperbaiki masalah setelah dua jurnal terlanjur memproses naskah yang sama.

Cara Mencegah Duplicate Publication

Pencegahan duplicate publication membutuhkan perhatian lebih besar terhadap riwayat penelitian dan artikel yang telah diterbitkan. Penulis harus mengetahui bagian mana dari penelitian yang pernah dipublikasikan dan sejauh mana materi tersebut digunakan kembali. Dokumentasi yang baik akan membantu membedakan penelitian baru dari publikasi sebelumnya.

Langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Menyimpan daftar artikel yang telah diterbitkan beserta data penelitian yang digunakan.
  2. Mencantumkan sitasi terhadap penelitian sebelumnya ketika materi atau data digunakan kembali.
  3. Menjelaskan hubungan antara artikel baru dengan publikasi terdahulu kepada editor.
  4. Menyediakan artikel terkait apabila jurnal meminta informasi mengenai publikasi sebelumnya.
  5. Memastikan bahwa artikel baru memiliki kontribusi ilmiah yang cukup jelas.
  6. Memeriksa kebijakan jurnal mengenai publikasi sekunder, terjemahan, dataset yang sama, dan penggunaan kembali materi.

Transparansi merupakan prinsip penting dalam proses tersebut. Jika penulis ragu apakah penggunaan kembali suatu materi diperbolehkan, menghubungi editor sebelum mengirimkan naskah biasanya merupakan pilihan yang lebih aman daripada mengandalkan asumsi sendiri.

Kapan Publikasi Sekunder Dapat Diperbolehkan?

Tidak semua penerbitan materi yang pernah muncul sebelumnya otomatis merupakan duplicate publication yang dilarang. Dalam keadaan tertentu, publikasi sekunder dapat diperbolehkan apabila memiliki alasan yang jelas dan memenuhi ketentuan jurnal atau penerbit terkait. Misalnya, sebuah karya dapat diterbitkan dalam bentuk bahasa berbeda dengan ketentuan tertentu mengenai transparansi dan pengakuan terhadap publikasi pertama.

Publikasi sekunder yang dapat diterima biasanya membutuhkan komunikasi antara penulis dan editor. Versi sekunder perlu menjelaskan bahwa materi tersebut telah diterbitkan sebelumnya, mencantumkan sumber asli, serta mengikuti aturan penerbit yang terlibat. Tujuannya adalah memastikan pembaca tidak mengira bahwa materi tersebut merupakan hasil penelitian baru yang sepenuhnya independen.

Oleh sebab itu, istilah duplicate publication tidak seharusnya digunakan secara sembarangan untuk setiap artikel yang memiliki materi yang berhubungan dengan publikasi sebelumnya. Yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesamaan, tujuan penerbitan, kontribusi ilmiah, transparansi, serta aturan yang diterapkan oleh jurnal terkait.

Peran Penulis dalam Menjaga Integritas Publikasi

Penulis memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa informasi mengenai riwayat publikasi disampaikan secara jujur. Tanggung jawab tersebut tidak berhenti pada penulis pertama, tetapi juga melibatkan seluruh anggota tim penulis. Setiap penulis sebaiknya memahami artikel mana yang sedang dikirim, jurnal mana yang menjadi tujuan, serta apakah terdapat publikasi terdahulu yang memiliki hubungan erat dengan naskah tersebut.

Komunikasi internal dalam tim penelitian juga menjadi bagian penting dari pencegahan masalah. Perbedaan pemahaman antara anggota tim dapat menyebabkan satu orang menganggap artikel tertentu sudah ditarik sementara anggota lain menganggapnya masih aktif diproses. Dengan pencatatan dan komunikasi yang baik, risiko duplicate submission maupun duplicate publication dapat dikurangi sejak awal.

Pentingnya Memeriksa Kebijakan Jurnal

Setiap jurnal dapat memiliki aturan yang berbeda mengenai pengiriman naskah, publikasi sekunder, penggunaan kembali data, preprint, dan materi yang telah dipublikasikan. Karena itu, penulis tidak sebaiknya hanya mengandalkan pemahaman umum mengenai etika publikasi. Panduan penulis dan kebijakan editorial perlu dibaca sebelum artikel dikirim agar prosedur yang diterapkan sesuai dengan ketentuan jurnal.

Pemeriksaan tersebut juga membantu penulis memahami kapan suatu publikasi dianggap memiliki hubungan dengan karya sebelumnya. Jika terdapat materi yang pernah diterbitkan, informasi tersebut sebaiknya disampaikan kepada editor secara terbuka. Transparansi sejak awal dapat mencegah kesalahpahaman yang jauh lebih sulit diselesaikan setelah artikel diterbitkan.

Transparansi sebagai Dasar Publikasi yang Bertanggung Jawab

Duplicate submission dan duplicate publication pada dasarnya dapat dicegah melalui perilaku publikasi yang transparan dan tertib. Penulis perlu membedakan antara menghasilkan penelitian baru, mengembangkan penelitian sebelumnya, dan sekadar mengulang materi yang sudah tersedia. Perbedaan tersebut penting agar setiap artikel yang diterbitkan memberikan kontribusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam lingkungan akademik, jumlah publikasi bukan satu-satunya ukuran kualitas seorang peneliti. Kejelasan kontribusi, kejujuran dalam pelaporan, dan kepatuhan terhadap aturan publikasi memiliki peran yang sama pentingnya. Menjaga integritas sejak tahap pengiriman naskah akan membantu membangun rekam akademik yang lebih kredibel dalam jangka panjang.

Baca juga: Publikasi Ganda Artikel dan Masalah Etika yang Perlu Dipahami Penulis

Kesimpulan

Duplicate submission dan duplicate publication merupakan dua persoalan yang sama-sama berkaitan dengan etika publikasi, tetapi terjadi pada tahap yang berbeda. Duplicate submission terjadi ketika naskah yang sama dikirim ke beberapa jurnal secara bersamaan, sedangkan duplicate publication berkaitan dengan penerbitan kembali artikel atau materi ilmiah yang sama atau sangat mirip tanpa transparansi dan alasan akademik yang memadai. Memahami perbedaan tersebut membantu penulis mengambil keputusan yang tepat dalam setiap tahapan publikasi.

Penulis dapat mencegah kedua praktik tersebut dengan mencatat status naskah, memeriksa kebijakan jurnal, mengungkapkan hubungan dengan publikasi sebelumnya, serta memastikan setiap artikel memiliki kontribusi ilmiah yang jelas. Ketika terdapat kondisi khusus seperti penggunaan kembali data atau publikasi dalam bahasa berbeda, komunikasi dengan editor menjadi langkah penting sebelum naskah dikirim. Dengan menerapkan prinsip transparansi dan tanggung jawab, proses publikasi dapat berjalan lebih tertib sekaligus menjaga kepercayaan terhadap hasil penelitian.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk menambah wawasan Anda seputar jurnal ilmiah. Jika membutuhkan bimbingan dan pendampingan hingga publikasi, Solusi Jurnal siap menjadi mitra terbaik Anda. Hubungi Admin Solusi Jurnal sekarang dan dapatkan layanan profesionalnya.