Cara Menurunkan Similarity: Tips Memperbaiki Kemiripan Teks secara Etis

cara menurunkan similarity

Similarity merupakan salah satu hal yang sering diperhatikan ketika seseorang menyusun karya ilmiah, seperti makalah, laporan penelitian, skripsi, tesis, maupun artikel jurnal. Pemeriksaan similarity digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan antara suatu naskah dengan berbagai sumber yang tersedia dalam basis data pemeriksa. Hasil pemeriksaan tersebut dapat membantu penulis menemukan bagian tulisan yang terlalu dekat dengan sumber lain. Karena itu, memahami cara menurunkan similarity secara etis menjadi bagian penting dalam proses penyuntingan karya ilmiah.

Tingkat similarity yang tinggi tidak selalu berarti seseorang melakukan plagiarisme, karena angka tersebut dapat muncul akibat penggunaan istilah akademik, kutipan langsung, daftar pustaka, judul, atau frasa umum yang memang sulit diubah. Sebaliknya, similarity yang rendah juga tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah karya sepenuhnya bebas dari plagiarisme. Yang paling penting adalah memastikan setiap gagasan dari sumber lain dipahami, ditulis kembali dengan bahasa sendiri, dan tetap disertai sitasi yang sesuai. Artikel ini membahas cara memperbaiki kemiripan teks secara etis tanpa mengubah substansi atau menyamarkan sumber informasi.

Bagi mahasiswa, peneliti, dosen, maupun penulis akademik, memahami cara menurunkan similarity dapat membantu meningkatkan kualitas naskah sekaligus memperbaiki cara menggunakan sumber referensi. Proses tersebut sebaiknya tidak dilakukan dengan sekadar mengganti kata menggunakan sinonim atau mengubah susunan kalimat secara mekanis. Penulis perlu memahami isi sumber terlebih dahulu, kemudian menyampaikan kembali gagasan tersebut berdasarkan pemahamannya sendiri. Dengan pendekatan tersebut, revisi similarity tidak hanya menghasilkan angka yang lebih wajar, tetapi juga membuat tulisan menjadi lebih jelas, natural, dan akademis.

Apa Itu Similarity dalam Karya Ilmiah?

Similarity adalah tingkat kemiripan antara teks dalam sebuah dokumen dengan teks yang ditemukan pada sumber lain dalam basis data tertentu. Sistem pemeriksa similarity bekerja dengan mencocokkan rangkaian kata atau frasa dalam dokumen dengan sumber yang tersedia, kemudian menghasilkan persentase kemiripan. Setiap aplikasi dapat memiliki basis data, algoritma, dan pengaturan pemeriksaan yang berbeda sehingga hasil dari satu alat belum tentu sama dengan alat lainnya. Oleh karena itu, angka similarity sebaiknya dipahami sebagai indikator yang perlu diperiksa lebih lanjut, bukan sebagai satu-satunya ukuran kualitas atau keaslian karya.

Hasil pemeriksaan biasanya disertai laporan yang menunjukkan bagian teks yang memiliki kemiripan dengan sumber tertentu. Penulis perlu membaca laporan tersebut untuk mengetahui penyebab munculnya kemiripan, bukan hanya melihat persentase akhirnya. Bagian yang berasal dari kutipan langsung, istilah teknis, metodologi standar, atau daftar pustaka perlu diperlakukan berbeda dari paragraf yang terlalu dekat dengan sumber tanpa parafrasa dan sitasi yang memadai. Pemahaman terhadap laporan similarity inilah yang menjadi dasar utama dalam melakukan perbaikan secara bertanggung jawab.

Baca juga: Pendampingan Publikasi Ilmiah dari Naskah hingga Artikel Terbit

Mengapa Similarity Perlu Diperbaiki secara Etis?

Memperbaiki similarity bukan berarti mencari cara untuk mengelabui aplikasi pemeriksa atau membuat sistem gagal mengenali sumber. Tujuan utamanya adalah memperbaiki kualitas penulisan agar gagasan yang berasal dari referensi benar-benar diolah dan disampaikan kembali oleh penulis. Parafrasa yang baik tetap mempertahankan makna sumber, tetapi menggunakan struktur kalimat dan cara penyampaian yang mencerminkan pemahaman penulis. Dengan demikian, proses revisi dapat membantu menghindari plagiarisme sekaligus meningkatkan kemampuan akademik.

Pendekatan yang tidak etis, seperti mengganti banyak kata dengan sinonim secara otomatis, menghapus kata tertentu, menggunakan karakter yang tidak terlihat, atau melakukan manipulasi format, bukanlah solusi yang tepat. Teknik tersebut hanya berusaha memengaruhi sistem pemeriksaan tanpa memperbaiki substansi tulisan. Selain berpotensi melanggar aturan akademik, cara seperti itu dapat membuat naskah menjadi sulit dibaca dan kehilangan ketepatan makna. Karena itu, cara menurunkan similarity sebaiknya selalu berfokus pada pemahaman sumber, parafrasa, sitasi, dan penyuntingan naskah.

Identifikasi Bagian Teks yang Menyebabkan Similarity Tinggi

Langkah pertama dalam memperbaiki similarity adalah mengidentifikasi bagian naskah yang memiliki kemiripan paling besar. Laporan pemeriksaan dapat digunakan untuk melihat kalimat, paragraf, atau bagian tertentu yang ditandai oleh sistem. Setelah menemukan bagian tersebut, penulis perlu membandingkannya dengan sumber asli untuk memahami apakah kemiripan terjadi karena kutipan yang memang diperlukan atau karena penulisan yang terlalu dekat dengan sumber. Proses identifikasi ini membuat revisi lebih terarah sehingga penulis tidak perlu mengubah seluruh naskah tanpa alasan yang jelas.

Beberapa bagian yang biasanya perlu diperiksa antara lain:

  1. Paragraf yang memiliki susunan kalimat sangat mirip dengan sumber asli.
  2. Kalimat yang menggunakan pilihan kata sumber hampir secara keseluruhan.
  3. Kutipan yang terlalu panjang dan sebenarnya dapat diringkas melalui parafrasa.
  4. Bagian teori yang mengambil banyak informasi dari satu sumber secara berurutan.
  5. Definisi yang ditulis hampir sama dengan sumber tetapi tidak menggunakan kutipan langsung.
  6. Bagian pembahasan yang terlalu banyak mengikuti struktur penjelasan dari referensi tertentu.
  7. Pernyataan yang berasal dari penelitian lain tetapi belum disertai sitasi yang tepat.

Setelah bagian tersebut ditemukan, jangan langsung menghapusnya atau mengganti kata secara acak. Periksa terlebih dahulu sumber yang menjadi pembanding dan tentukan hubungan antara informasi tersebut dengan argumen dalam tulisan. Jika informasi memang penting, pertahankan gagasannya dengan cara penyampaian yang lebih mandiri dan berikan sitasi yang sesuai. Jika informasi ternyata tidak relevan, penulis dapat mempertimbangkan untuk menghapusnya agar naskah menjadi lebih fokus.

Pahami Sumber Sebelum Melakukan Parafrasa

Parafrasa merupakan salah satu cara menurunkan similarity yang paling penting dalam penulisan akademik. Namun, parafrasa yang baik tidak sekadar mengganti kata-kata dalam kalimat asli dengan sinonim. Penulis perlu membaca sumber, memahami maksudnya, kemudian menyampaikan kembali informasi tersebut menggunakan struktur dan sudut pandang penjelasan sendiri. Proses ini membantu menghasilkan tulisan yang lebih alami sekaligus menjaga makna akademik dari informasi yang digunakan.

Tahapan parafrasa yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Baca sumber secara menyeluruh sampai memahami gagasan utamanya.
  2. Identifikasi informasi yang benar-benar diperlukan untuk mendukung pembahasan.
  3. Jauhkan sementara sumber asli setelah memahami isinya.
  4. Jelaskan kembali gagasan tersebut menggunakan bahasa sendiri.
  5. Bandingkan hasil tulisan dengan sumber untuk memastikan maknanya tidak berubah.
  6. Tambahkan sitasi meskipun kalimat sudah ditulis dengan struktur yang berbeda.
  7. Rapikan kalimat agar sesuai dengan gaya keseluruhan karya ilmiah.

Sebagai contoh, sumber dapat menjelaskan bahwa penggunaan teknologi digital mempercepat proses penyebaran informasi dalam masyarakat. Parafrasa yang baik tidak hanya mengganti kata “mempercepat” dengan “mempertinggi kecepatan”, tetapi dapat menjelaskan kembali hubungan antara teknologi digital dan distribusi informasi dengan struktur kalimat yang berbeda. Penulis juga dapat menghubungkan gagasan tersebut dengan konteks penelitian yang sedang dibahas. Dengan cara ini, tulisan tidak terasa seperti hasil penggantian kata secara mekanis.

Hindari Parafrasa yang Hanya Mengganti Sinonim

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika memperbaiki similarity adalah melakukan perubahan kata demi kata tanpa memahami konteks. Metode tersebut memang dapat mengubah sebagian bentuk teks, tetapi struktur kalimat, urutan gagasan, dan pola argumentasinya sering kali masih identik dengan sumber. Akibatnya, tulisan dapat tetap dianggap terlalu dekat dengan referensi dan bahkan berisiko mengubah makna istilah yang sebenarnya memiliki konteks khusus. Parafrasa seharusnya merupakan proses memahami dan menyusun ulang gagasan, bukan sekadar mengganti kosakata.

Agar hasil parafrasa lebih baik, perhatikan beberapa hal berikut:

Kurang tepat Lebih tepat
Mengganti kata dengan sinonim secara otomatis Memahami gagasan lalu menulis ulang
Mempertahankan struktur kalimat sumber Mengembangkan struktur kalimat sendiri
Mengubah kata tanpa memahami konteks Memastikan istilah tetap sesuai makna
Menghapus sitasi setelah melakukan parafrasa Tetap mencantumkan sumber
Memaksakan semua informasi masuk ke paragraf Memilih informasi yang relevan

Perubahan struktur dapat dilakukan dengan menggabungkan atau memisahkan kalimat, mengubah urutan penjelasan, atau menggunakan hubungan sebab-akibat yang lebih sesuai dengan pembahasan. Meski demikian, perubahan tersebut tidak boleh membuat informasi menjadi keliru. Istilah teknis, nama teori, hasil penelitian, angka, dan konsep tertentu perlu dipertahankan secara akurat apabila perubahan istilah dapat menghilangkan makna. Prinsip utamanya adalah membuat tulisan lebih mandiri tanpa mengubah informasi yang disampaikan oleh sumber.

Gunakan Kutipan Langsung Secara Proporsional

Tidak semua informasi harus diparafrasakan. Dalam kondisi tertentu, kutipan langsung dapat digunakan ketika formulasi asli dari sumber memang penting untuk dipertahankan, misalnya ketika membahas definisi tertentu atau pernyataan yang memiliki nilai konseptual khusus. Kutipan langsung harus ditandai sesuai pedoman penulisan yang digunakan dan disertai sumber secara lengkap. Dengan penggunaan yang proporsional, kutipan langsung dapat memperkuat argumentasi tanpa membuat naskah dipenuhi teks yang identik dengan sumber.

Ketika menggunakan kutipan langsung, perhatikan beberapa prinsip berikut:

  1. Gunakan kutipan hanya ketika formulasi asli memang diperlukan.
  2. Jangan menjadikan kutipan langsung sebagai pengganti pemahaman terhadap sumber.
  3. Cantumkan sitasi sesuai gaya referensi yang ditetapkan.
  4. Gunakan kutipan secara proporsional sesuai kebutuhan pembahasan.
  5. Jelaskan relevansi kutipan dengan argumen yang sedang dibangun.

Jika sebuah informasi dapat dijelaskan kembali secara akurat menggunakan bahasa sendiri, parafrasa biasanya lebih sesuai untuk menjaga alur tulisan. Sebaliknya, jika perubahan kata dapat menghilangkan makna penting dari pernyataan asli, kutipan langsung dapat dipertimbangkan. Penulis juga perlu memperhatikan pedoman institusi karena beberapa perguruan tinggi memiliki ketentuan tersendiri mengenai penggunaan kutipan. Dengan demikian, keputusan menggunakan kutipan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan akademik, bukan sekadar mengejar angka similarity tertentu.

Perbanyak Sintesis dari Beberapa Sumber

Sintesis merupakan kemampuan menggabungkan informasi dari beberapa sumber untuk membangun penjelasan atau argumen yang lebih utuh. Cara ini dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap satu referensi karena pembahasan tidak hanya mengikuti struktur sebuah sumber. Penulis dapat membandingkan pendapat beberapa peneliti, menemukan persamaan dan perbedaannya, kemudian menyusun kesimpulan yang relevan dengan topik penelitian. Selain membantu memperbaiki similarity, sintesis juga membuat pembahasan menjadi lebih kuat secara akademik.

Langkah yang dapat dilakukan untuk membangun sintesis antara lain:

  1. Kumpulkan beberapa sumber yang relevan dengan topik.
  2. Catat gagasan utama dari setiap sumber.
  3. Identifikasi persamaan dan perbedaan pendapat.
  4. Kelompokkan sumber berdasarkan tema atau argumen.
  5. Susun pembahasan berdasarkan tema, bukan berdasarkan urutan sumber.
  6. Berikan interpretasi penulis setelah menyajikan informasi dari referensi.
  7. Gunakan sitasi untuk menunjukkan asal setiap gagasan.

Sebagai contoh, ketika membahas dampak media sosial terhadap pembelajaran, penulis tidak perlu menjelaskan satu sumber secara panjang lalu berpindah ke sumber berikutnya. Pembahasan dapat disusun berdasarkan aspek seperti manfaat, tantangan, perubahan perilaku belajar, dan kebutuhan literasi digital. Beberapa penelitian kemudian digunakan untuk mendukung setiap aspek tersebut. Pola seperti ini membuat tulisan lebih analitis dan tidak terlalu menyerupai struktur salah satu sumber.

Perbaiki Struktur Kalimat dan Organisasi Paragraf

Struktur tulisan memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kemiripan karena paragraf yang mengikuti sumber secara berurutan cenderung menghasilkan pola teks yang serupa. Setelah memahami informasi dari referensi, penulis dapat menyusun kembali urutan pembahasan berdasarkan kebutuhan artikelnya sendiri. Misalnya, informasi yang awalnya disampaikan dengan pola definisi, penyebab, dan dampak dapat disusun menjadi konteks masalah, temuan penelitian, kemudian implikasi. Perubahan organisasi gagasan seperti ini lebih bermakna daripada sekadar mengganti kosakata.

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan adalah:

  1. Mengubah urutan informasi berdasarkan alur argumentasi sendiri.
  2. Menggabungkan informasi dari beberapa referensi dalam satu paragraf.
  3. Memecah paragraf yang terlalu panjang menjadi beberapa gagasan utama.
  4. Menambahkan kalimat analisis untuk menjelaskan hubungan antargagasan.
  5. Menggunakan transisi yang sesuai dengan hubungan antarparagraf.
  6. Menghapus informasi yang tidak mendukung tujuan pembahasan.
  7. Menyesuaikan struktur tulisan dengan pertanyaan atau tujuan penelitian.

Meskipun demikian, perubahan struktur tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Setiap paragraf tetap perlu memiliki satu gagasan utama yang jelas dan hubungan logis dengan paragraf berikutnya. Penulis juga perlu memastikan bahwa perubahan urutan tidak mengubah konteks hasil penelitian atau kesimpulan sumber. Dengan demikian, struktur baru tetap akurat sekaligus menunjukkan kemampuan penulis dalam mengolah informasi.

Periksa Kembali Sitasi dan Daftar Pustaka

Similarity yang muncul pada sebuah naskah tidak selalu disebabkan oleh kesalahan parafrasa. Beberapa bagian dapat memiliki kemiripan karena kutipan, nama teori, istilah, judul penelitian, atau informasi bibliografis yang memang harus ditulis sesuai sumber. Karena itu, setelah memperbaiki isi paragraf, penulis perlu memeriksa kembali sitasi dan daftar pustaka. Konsistensi antara sumber yang dikutip di dalam teks dan sumber yang tercantum dalam daftar pustaka merupakan bagian penting dari integritas akademik.

Pemeriksaan sitasi dapat dilakukan dengan langkah berikut:

  1. Pastikan setiap gagasan yang berasal dari sumber lain memiliki sitasi.
  2. Cocokkan nama penulis dan tahun dengan daftar pustaka.
  3. Periksa apakah sumber yang dikutip benar-benar digunakan dalam tulisan.
  4. Pastikan format sitasi sesuai gaya yang ditetapkan.
  5. Hindari mencantumkan sumber yang sebenarnya tidak dibaca atau digunakan.
  6. Periksa kembali kutipan langsung agar informasi sumbernya lengkap.
  7. Gunakan reference manager jika jumlah referensi cukup banyak.

Penggunaan aplikasi manajemen referensi seperti Zotero atau Mendeley dapat membantu menjaga konsistensi sitasi dan daftar pustaka. Namun, aplikasi tersebut tetap merupakan alat bantu dan tidak menggantikan pemeriksaan manual. Penulis harus memastikan bahwa metadata referensi sudah benar, terutama nama penulis, tahun, judul, dan informasi publikasi. Dengan pengelolaan referensi yang baik, proses revisi naskah menjadi lebih teratur dan risiko kesalahan sitasi dapat dikurangi.

Evaluasi Hasil Setelah Revisi

Setelah melakukan perbaikan, pemeriksaan similarity dapat dilakukan kembali untuk melihat perubahan pada naskah. Pemeriksaan ulang sebaiknya digunakan sebagai alat evaluasi, bukan sebagai permainan untuk mendapatkan angka serendah mungkin. Jika persentase masih tinggi, periksa kembali sumber yang menyebabkan kemiripan dan lihat apakah bagian tersebut memang perlu direvisi. Penulis juga perlu memperhatikan bahwa target similarity dapat berbeda antara satu institusi, jurnal, atau jenis dokumen dengan dokumen lainnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan setelah pemeriksaan ulang meliputi:

  1. Lihat sumber mana yang memberikan kontribusi kemiripan terbesar.
  2. Periksa apakah kemiripan berasal dari bagian yang memang wajar.
  3. Evaluasi kembali paragraf yang masih sangat dekat dengan sumber.
  4. Pastikan semua perubahan tetap mempertahankan makna.
  5. Periksa kembali sitasi setelah melakukan revisi.
  6. Jangan menghapus informasi penting hanya untuk mengejar persentase tertentu.
  7. Ikuti ketentuan institusi atau penerbit mengenai batas similarity.

Hasil pemeriksaan yang lebih rendah tidak selalu berarti naskah menjadi lebih baik. Sebuah tulisan dapat memiliki persentase kemiripan yang rendah tetapi tetap bermasalah apabila menggunakan gagasan orang lain tanpa atribusi yang tepat. Sebaliknya, persentase tertentu dapat muncul karena istilah teknis atau kutipan yang memang diperlukan dalam bidang tersebut. Oleh sebab itu, kualitas parafrasa, ketepatan sitasi, orisinalitas analisis, dan integritas akademik tetap harus menjadi prioritas utama.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menurunkan Similarity

Dalam proses memperbaiki similarity, penulis perlu menghindari tindakan yang hanya berorientasi pada hasil pemeriksaan. Salah satu kesalahan yang umum adalah mengubah teks secara berlebihan hingga maknanya menjadi tidak akurat atau sulit dipahami. Kesalahan lain adalah menggunakan perangkat otomatis untuk memodifikasi seluruh dokumen tanpa melakukan pemeriksaan manual terhadap hasilnya. Perubahan yang dihasilkan secara otomatis tetap perlu dibaca dan diverifikasi agar tidak menimbulkan kesalahan informasi.

Beberapa tindakan yang sebaiknya dihindari adalah mengganti setiap kata dengan sinonim tanpa mempertimbangkan konteks, menghapus sitasi untuk mengurangi kemiripan, memasukkan kesalahan ejaan secara sengaja, menggunakan karakter atau format tertentu untuk mengganggu sistem pemeriksa, serta menerjemahkan teks secara bolak-balik hanya untuk mengubah bentuk kalimat. Cara-cara tersebut tidak memperbaiki kualitas akademik naskah. Bahkan, beberapa di antaranya dapat dianggap sebagai bentuk manipulasi terhadap proses pemeriksaan. Pendekatan yang lebih aman adalah kembali pada prinsip dasar penulisan ilmiah, yaitu memahami sumber, menyusun argumen sendiri, melakukan parafrasa dengan benar, dan memberikan atribusi.

Peran Penulis dalam Menjaga Orisinalitas Naskah

Orisinalitas dalam karya ilmiah bukan berarti seluruh informasi harus merupakan penemuan baru dari penulis. Karya akademik pada dasarnya dibangun melalui dialog dengan penelitian dan pengetahuan yang sudah ada. Yang membedakan tulisan yang baik adalah kemampuan penulis dalam memilih sumber, memahami informasi, menghubungkan berbagai temuan, serta memberikan analisis yang relevan. Karena itu, cara menurunkan similarity seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses meningkatkan kualitas argumentasi, bukan sekadar kegiatan mengurangi angka pada laporan pemeriksaan.

Penulis juga perlu membiasakan diri mencatat sumber sejak awal proses penulisan. Ketika membaca referensi, catat gagasan utama dan sumbernya agar informasi tersebut tidak tertukar dengan pemikiran sendiri. Hindari menyalin paragraf panjang ke dalam catatan tanpa tanda yang jelas karena hal tersebut dapat meningkatkan risiko menggunakan teks sumber secara tidak sengaja. Kebiasaan mencatat referensi dengan baik akan membuat proses parafrasa, sitasi, dan penyusunan daftar pustaka menjadi lebih mudah ketika naskah mulai dikembangkan.

Cara Menurunkan Similarity dengan Tetap Mempertahankan Makna

Cara menurunkan similarity yang baik selalu mempertimbangkan keseimbangan antara keaslian penyampaian dan ketepatan informasi. Penulis tidak perlu mengubah istilah yang memang merupakan konsep baku hanya demi membuat teks terlihat berbeda. Sebaliknya, fokuskan perubahan pada cara menjelaskan gagasan, hubungan antarkalimat, organisasi paragraf, dan sintesis dari berbagai sumber. Dengan pendekatan tersebut, naskah dapat memiliki gaya penulisan yang lebih mandiri tanpa mengorbankan akurasi akademik.

Jika sebuah paragraf membahas teori atau temuan penelitian tertentu, penulis dapat memulai dengan menjelaskan konteksnya, kemudian menyampaikan inti temuan, lalu memberikan interpretasi sesuai tujuan tulisan. Sumber tetap dicantumkan pada bagian yang relevan sehingga pembaca dapat mengetahui asal informasi tersebut. Penulis juga dapat menghubungkan temuan dari beberapa penelitian untuk menunjukkan pola atau perbedaan yang lebih luas. Pola pembahasan seperti ini membantu menghasilkan tulisan yang tidak sekadar memindahkan informasi, tetapi juga menunjukkan proses berpikir penulis.

Baca juga: Zotero untuk Sitasi: Cara Membuat Kutipan dan Daftar Pustaka Otomatis

Kesimpulan

Cara menurunkan similarity secara etis bukanlah tentang mencari trik untuk mengakali aplikasi pemeriksa kemiripan, melainkan memperbaiki cara penulis menggunakan sumber informasi. Langkah yang dapat dilakukan meliputi mengidentifikasi bagian yang memiliki kemiripan, memahami sumber sebelum melakukan parafrasa, menyusun kembali struktur kalimat, menggunakan kutipan secara proporsional, melakukan sintesis dari beberapa referensi, serta memastikan sitasi dan daftar pustaka sudah sesuai. Pemeriksaan ulang dapat dilakukan setelah revisi untuk mengevaluasi bagian yang masih perlu diperbaiki. Dengan pendekatan tersebut, penurunan similarity menjadi bagian dari proses penyuntingan akademik yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, angka similarity sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tujuan dalam memperbaiki karya ilmiah. Kualitas tulisan tetap ditentukan oleh ketepatan informasi, kekuatan argumentasi, kejelasan pembahasan, penggunaan sumber yang kredibel, dan kepatuhan terhadap etika akademik. Penulis sebaiknya mengikuti pedoman dari kampus, jurnal, atau lembaga yang menjadi tujuan publikasi karena ketentuan mengenai similarity dapat berbeda. Dengan membangun kebiasaan membaca, memahami, menyintesis, dan mengutip sumber secara benar, penulis dapat menghasilkan karya yang lebih orisinal, kredibel, dan nyaman dibaca.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk menambah wawasan Anda seputar jurnal ilmiah. Jika membutuhkan bimbingan dan pendampingan hingga publikasi, Solusi Jurnal siap menjadi mitra terbaik Anda. Hubungi Admin Solusi Jurnal sekarang dan dapatkan layanan profesionalnya.