Scoping Review: Pengertian, Tahapan, dan Perbedaannya dengan Systematic Review

Scoping review

Scoping review menjadi salah satu metode kajian literatur yang semakin banyak digunakan dalam dunia penelitian. Seiring meningkatnya jumlah publikasi ilmiah setiap tahun, peneliti membutuhkan pendekatan yang mampu memetakan berbagai temuan penelitian secara sistematis sebelum menyusun penelitian baru. Dalam kondisi tersebut, scoping review hadir sebagai metode yang efektif untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai suatu topik penelitian.

Metode ini tidak hanya digunakan oleh mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tesis, tetapi juga oleh dosen, peneliti profesional, hingga lembaga penelitian internasional. Scoping review mampu membantu peneliti memahami perkembangan suatu bidang ilmu, mengidentifikasi konsep-konsep utama, menemukan kesenjangan penelitian (research gap), hingga menentukan arah penelitian selanjutnya.

Meskipun sama-sama termasuk metode tinjauan literatur, masih banyak yang menganggap scoping review sama dengan systematic review. Padahal, keduanya memiliki tujuan, proses, dan hasil yang berbeda. Kesalahan dalam memilih metode dapat membuat penelitian menjadi kurang tepat sasaran bahkan tidak sesuai dengan tujuan penelitian.

Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai pengertian scoping review, karakteristiknya, tahapan pelaksanaan, perbedaannya dengan systematic review, contoh penerapan, kesalahan yang sering dilakukan, hingga berbagai tips agar proses penyusunan scoping review berjalan lebih efektif.

Apa Itu Scoping Review?

Scoping review adalah metode kajian literatur yang bertujuan untuk memetakan bukti ilmiah yang tersedia mengenai suatu topik secara luas dan sistematis. Berbeda dengan kajian literatur biasa yang cenderung bersifat naratif, scoping review memiliki prosedur yang jelas sehingga hasilnya lebih terstruktur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Metode ini diperkenalkan oleh Arksey dan O’Malley pada tahun 2005, kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh berbagai organisasi penelitian seperti Joanna Briggs Institute (JBI). Saat ini, pedoman JBI menjadi salah satu acuan utama dalam pelaksanaan scoping review.

Scoping review tidak berfokus pada penilaian kualitas setiap penelitian secara mendalam seperti systematic review. Sebaliknya, metode ini lebih menekankan pada pemetaan informasi yang tersedia sehingga peneliti dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai perkembangan suatu bidang ilmu.

Sebagai contoh, seorang peneliti ingin mengetahui perkembangan penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan selama sepuluh tahun terakhir. Jumlah penelitian yang tersedia sangat banyak dengan berbagai metode, populasi, dan hasil yang berbeda. Dalam situasi tersebut, scoping review menjadi pilihan yang tepat karena mampu mengelompokkan seluruh penelitian berdasarkan tema, metode, maupun tren penelitian.

Baca juga: Cara memilih jurusan di luar negeri yang Sesuai Minat, Karier, dan Peluang Kerja

Tujuan Scoping Review

Scoping review memiliki beberapa tujuan yang membedakannya dari metode tinjauan literatur lainnya. Tujuan utama metode ini bukan untuk menentukan efektivitas suatu intervensi, melainkan menggambarkan kondisi penelitian yang telah tersedia secara komprehensif.

Beberapa tujuan utama scoping review meliputi:

  • Mengidentifikasi jumlah penelitian yang tersedia pada suatu topik.
  • Memetakan konsep-konsep utama yang berkembang.
  • Mengetahui karakteristik penelitian yang telah dilakukan.
  • Mengidentifikasi kesenjangan penelitian.
  • Menentukan peluang penelitian di masa mendatang.
  • Menjadi dasar sebelum melakukan systematic review.

Melalui tujuan tersebut, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai kondisi penelitian saat ini. Informasi tersebut sangat membantu dalam menyusun rumusan masalah, menentukan variabel penelitian, hingga menyusun kerangka konseptual.

Karakteristik Scoping Review

Scoping review memiliki sejumlah karakteristik yang membuatnya berbeda dari metode kajian literatur lainnya. Karakteristik tersebut berkaitan dengan ruang lingkup pembahasan, jenis data yang digunakan, serta tujuan akhir penelitian.

Salah satu karakteristik utamanya adalah cakupan literatur yang luas. Peneliti tidak hanya mengumpulkan artikel eksperimen, tetapi juga dapat memasukkan penelitian kualitatif, mixed methods, laporan penelitian, dokumen kebijakan, hingga grey literature apabila relevan.

Karakteristik lainnya adalah fleksibilitas dalam mengelompokkan hasil penelitian. Peneliti dapat mengategorikan literatur berdasarkan tahun publikasi, negara, metode penelitian, populasi, instrumen penelitian, maupun tema yang muncul.

Selain itu, scoping review lebih menekankan proses pemetaan dibandingkan evaluasi kualitas bukti. Oleh karena itu, hasil akhirnya biasanya berupa gambaran tren penelitian beserta peluang penelitian selanjutnya.

Kapan Scoping Review Digunakan?

Tidak semua penelitian membutuhkan scoping review. Metode ini paling sesuai ketika peneliti ingin memperoleh pemahaman awal mengenai suatu topik yang masih luas atau berkembang dengan cepat.

Scoping review umumnya digunakan pada kondisi berikut.

  • Topik penelitian masih sangat luas.
  • Belum banyak penelitian yang merangkum bidang tersebut.
  • Ingin mengetahui perkembangan penelitian dalam kurun waktu tertentu.
  • Ingin mengidentifikasi research gap.
  • Akan menyusun penelitian lanjutan.
  • Akan melakukan systematic review tetapi masih memerlukan pemetaan awal.

Misalnya, peneliti ingin mengetahui perkembangan penggunaan ChatGPT dalam pendidikan tinggi. Karena topik tersebut relatif baru dan jumlah publikasinya terus meningkat, scoping review dapat membantu memetakan berbagai tema penelitian sebelum menentukan fokus yang lebih spesifik.

Tahapan Scoping Review

Pelaksanaan scoping review memerlukan prosedur yang sistematis agar hasil penelitian dapat dipercaya dan mudah direplikasi oleh peneliti lain. Meskipun terdapat beberapa variasi pedoman, secara umum tahapan scoping review mengacu pada kerangka Arksey dan O’Malley yang kemudian disempurnakan oleh Joanna Briggs Institute.

1. Menentukan Pertanyaan Penelitian

Tahap awal dimulai dengan menyusun research question yang jelas. Pertanyaan penelitian menjadi dasar seluruh proses pencarian literatur sehingga harus disusun secara spesifik tetapi tetap mencakup ruang lingkup penelitian.

Dalam scoping review, banyak peneliti menggunakan kerangka PCC (Population, Concept, Context) untuk membantu merumuskan pertanyaan penelitian.

2. Menentukan Strategi Pencarian Literatur

Setelah pertanyaan penelitian ditentukan, peneliti mulai menyusun strategi pencarian artikel ilmiah. Kata kunci harus dirancang secara sistematis menggunakan kombinasi Boolean Operator seperti AND, OR, maupun NOT.

Database yang umum digunakan meliputi Scopus, Web of Science, PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, IEEE Xplore, Google Scholar, dan OpenAlex.

Strategi pencarian yang baik akan meningkatkan peluang memperoleh literatur yang relevan sekaligus mengurangi artikel yang tidak sesuai.

3. Menetapkan Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Tahap berikutnya adalah menentukan artikel mana yang layak dimasukkan dalam penelitian.

Contoh kriteria inklusi meliputi artikel berbahasa Inggris dan Indonesia, terbit dalam lima tahun terakhir, tersedia dalam bentuk full text, serta sesuai dengan topik penelitian.

Sementara itu, artikel duplikat, editorial, abstrak konferensi tanpa full paper, maupun artikel yang tidak relevan akan dikeluarkan melalui kriteria eksklusi.

4. Melakukan Seleksi Literatur

Pada tahap ini peneliti menyaring seluruh artikel berdasarkan judul, abstrak, dan isi lengkap.

Biasanya proses seleksi digambarkan menggunakan diagram alur PRISMA-ScR agar pembaca mengetahui jumlah artikel yang ditemukan, diseleksi, dikeluarkan, hingga akhirnya dianalisis.

5. Ekstraksi Data

Artikel yang lolos seleksi kemudian diekstraksi menggunakan formulir tertentu.

Informasi yang dikumpulkan biasanya meliputi nama penulis, tahun publikasi, negara, tujuan penelitian, metode penelitian, sampel, hasil utama, serta rekomendasi penelitian.

6. Analisis dan Penyajian Hasil

Tahap terakhir adalah menyusun hasil pemetaan penelitian.

Hasil dapat disajikan dalam bentuk tabel, grafik, peta konsep, maupun narasi sehingga pembaca dapat memahami perkembangan penelitian secara lebih mudah.

Kerangka PCC dalam Scoping Review

Salah satu ciri khas scoping review adalah penggunaan kerangka PCC. Kerangka ini membantu peneliti menyusun pertanyaan penelitian yang sesuai dengan tujuan pemetaan literatur.

Komponen Penjelasan Contoh
Population Subjek penelitian Mahasiswa
Concept Konsep utama Artificial Intelligence
Context Konteks penelitian Pendidikan tinggi

Melalui kerangka tersebut, pertanyaan penelitian menjadi lebih terarah sehingga proses pencarian artikel juga lebih efisien.

Perbedaan Scoping Review dan Systematic Review

Walaupun sama-sama menggunakan pendekatan sistematis dalam mencari literatur, kedua metode ini memiliki tujuan yang berbeda.

Aspek Scoping Review Systematic Review
Tujuan Memetakan penelitian Menjawab pertanyaan spesifik
Fokus Gambaran luas Bukti terbaik
Penilaian kualitas Tidak selalu dilakukan Wajib dilakukan
Jenis studi Sangat beragam Biasanya lebih terbatas
Hasil akhir Peta penelitian Kesimpulan efektivitas bukti
Meta-analisis Umumnya tidak Dapat dilakukan

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan metode harus disesuaikan dengan tujuan penelitian. Jika ingin mengetahui perkembangan penelitian secara umum, scoping review merupakan pilihan yang tepat. Namun, apabila ingin mengetahui efektivitas suatu intervensi berdasarkan bukti ilmiah terbaik, systematic review lebih sesuai digunakan.

Contoh Penerapan Scoping Review

Scoping review dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu.

Dalam bidang kesehatan, metode ini sering digunakan untuk memetakan penelitian mengenai telemedicine, vaksin, kesehatan mental, maupun penyakit tertentu.

Pada bidang pendidikan, scoping review dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan pembelajaran berbasis Artificial Intelligence, penggunaan virtual reality dalam pembelajaran, hingga implementasi blended learning.

Dalam bidang teknologi informasi, peneliti dapat memetakan perkembangan Internet of Things, blockchain, cybersecurity, maupun machine learning.

Sementara itu, pada bidang sosial dan ekonomi, scoping review dapat digunakan untuk mengidentifikasi tren penelitian mengenai ekonomi digital, kewirausahaan, keberlanjutan, hingga perilaku konsumen.

Kesalahan yang Sering Dilakukan dalam Scoping Review

Meskipun terlihat sederhana, penyusunan scoping review sering kali menemui berbagai kendala. Kesalahan yang dilakukan pada tahap awal dapat memengaruhi kualitas keseluruhan hasil penelitian.

Beberapa kesalahan yang sering ditemukan meliputi:

  • Pertanyaan penelitian terlalu luas sehingga pencarian artikel menjadi tidak terkendali.
  • Kata kunci pencarian kurang lengkap sehingga banyak artikel penting terlewat.
  • Tidak mendokumentasikan strategi pencarian literatur.
  • Tidak menjelaskan alasan artikel dikeluarkan dari proses seleksi.
  • Menyamakan scoping review dengan systematic review.
  • Tidak menggunakan pedoman PRISMA-ScR atau JBI.

Menghindari kesalahan tersebut akan meningkatkan transparansi penelitian sekaligus mempermudah proses publikasi di jurnal ilmiah.

Tips Praktis Menyusun Scoping Review yang Berkualitas

Penyusunan scoping review membutuhkan ketelitian sejak tahap perencanaan hingga penyajian hasil. Dengan strategi yang tepat, proses penelitian dapat berlangsung lebih efisien sekaligus menghasilkan kajian yang komprehensif.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

  • Gunakan pedoman Joanna Briggs Institute sebagai acuan utama.
  • Susun strategi pencarian dengan berbagai sinonim kata kunci.
  • Gunakan beberapa database agar cakupan literatur lebih luas.
  • Manfaatkan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero.
  • Gunakan perangkat seperti Rayyan untuk membantu proses penyaringan artikel.
  • Sajikan hasil dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi agar mudah dipahami.
  • Jelaskan research gap yang ditemukan sebagai rekomendasi penelitian berikutnya.

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, kualitas scoping review akan meningkat sehingga hasil penelitian memiliki nilai ilmiah yang lebih kuat.

Peran Teknologi dalam Penyusunan Scoping Review

Kemajuan teknologi turut mengubah cara peneliti menyusun scoping review. Saat ini, berbagai perangkat lunak dapat membantu proses pencarian, penyaringan, hingga analisis literatur secara lebih cepat dan akurat.

Database ilmiah seperti Scopus, Web of Science, OpenAlex, dan PubMed memungkinkan peneliti memperoleh ribuan artikel hanya dalam hitungan detik. Selain itu, aplikasi seperti Zotero, Mendeley, EndNote, dan Rayyan mempermudah pengelolaan referensi serta proses seleksi artikel secara kolaboratif.

Di sisi lain, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) juga mulai berkembang dalam mendukung proses penelitian. Beberapa platform AI mampu membantu menyusun strategi pencarian kata kunci, menemukan artikel yang relevan, hingga merangkum isi publikasi. Meski demikian, peneliti tetap perlu melakukan verifikasi secara manual untuk memastikan seluruh informasi yang digunakan akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian.

Pemanfaatan teknologi secara bijak tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam pelaksanaan scoping review.

Baca juga: Cara Mengubah Skripsi Menjadi Prosiding: Langkah-Langkah dan Tips Publikasi

Kesimpulan

Scoping review merupakan metode kajian literatur yang berfungsi untuk memetakan perkembangan penelitian secara luas dan sistematis. Metode ini sangat bermanfaat bagi peneliti yang ingin memahami suatu topik secara menyeluruh, mengidentifikasi konsep utama, menemukan kesenjangan penelitian, serta menentukan arah penelitian berikutnya.

Berbeda dengan systematic review yang berfokus pada evaluasi kualitas bukti untuk menjawab pertanyaan yang sangat spesifik, scoping review lebih menitikberatkan pada pemetaan informasi yang tersedia. Oleh karena itu, pemilihan metode harus disesuaikan dengan tujuan penelitian agar hasil yang diperoleh benar-benar relevan.

Dengan memahami pengertian, tahapan, karakteristik, serta perbedaannya dengan systematic review, peneliti dapat menyusun kajian literatur yang lebih berkualitas, transparan, dan bernilai ilmiah. Dukungan teknologi, pemilihan database yang tepat, serta penerapan pedoman seperti JBI dan PRISMA-ScR juga akan membantu menghasilkan scoping review yang lebih komprehensif dan siap dipublikasikan.

Bagi Anda yang sedang menyusun skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal, maupun publikasi ilmiah berbasis scoping review, menggunakan pendampingan akademik dapat menjadi pilihan untuk memastikan setiap tahapan penelitian dilakukan sesuai standar ilmiah. Mulai dari penyusunan protokol, penentuan strategi pencarian literatur, proses seleksi artikel, penyusunan diagram PRISMA-ScR, hingga penulisan naskah untuk publikasi, layanan konsultasi akademik yang berpengalaman dapat membantu menghasilkan penelitian yang lebih sistematis, kredibel, dan memiliki peluang lebih besar untuk diterima di jurnal ilmiah bereputasi.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk menambah wawasan Anda seputar jurnal ilmiah. Jika membutuhkan bimbingan dan pendampingan hingga publikasi, Solusi Jurnal siap menjadi mitra terbaik Anda. Hubungi Admin Solusi Jurnal sekarang dan dapatkan layanan profesionalnya.