Bab ini membahas secara rinci mengenai metode penelitian pengembangan (Research and Development/R&D) yang digunakan dalam proses penelitian. Penelitian pengembangan merupakan suatu pendekatan yang bertujuan untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang sudah ada melalui proses penelitian yang sistematis. Produk yang dikembangkan dapat berupa bahan ajar, media pembelajaran, model pembelajaran, perangkat evaluasi, hingga teknologi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pengguna.
Metode penelitian ini sangat penting karena tidak hanya menghasilkan temuan teoritis, tetapi juga produk praktis yang dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Dalam bab ini dijelaskan secara mendalam mengenai jenis penelitian, model pengembangan yang digunakan, prosedur penelitian, subjek uji coba, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data yang relevan dengan penelitian ini.
Baca juga: buku model penelitian pengembangan
3.2 Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pengembangan (Research and Development). Tujuan utamanya adalah menghasilkan produk yang valid, praktis, dan efektif untuk digunakan dalam konteks pembelajaran. Pendekatan penelitian ini menekankan pada siklus pengembangan yang sistematis, mulai dari analisis kebutuhan hingga uji validasi produk akhir.
Penelitian pengembangan berbeda dengan penelitian eksperimental biasa karena tidak hanya berfokus pada hubungan sebab-akibat, tetapi juga pada proses menciptakan dan menyempurnakan produk. Dalam konteks pendidikan, penelitian pengembangan biasanya dilakukan untuk menciptakan bahan ajar, modul, media interaktif, atau model pembelajaran yang dapat meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar.
Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif dan kuantitatif secara simultan. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami kebutuhan pengguna, konteks pembelajaran, serta memperoleh masukan dari ahli dan peserta uji coba. Sementara pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur efektivitas produk yang dikembangkan melalui uji coba dan analisis data numerik.
3.3 Model Pengembangan
Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model Borg dan Gall, yang merupakan salah satu model penelitian dan pengembangan paling populer di bidang pendidikan. Model ini menekankan pada langkah-langkah sistematis yang dimulai dari penelitian awal hingga diseminasi produk akhir. Borg dan Gall (1983) menyatakan bahwa penelitian pengembangan terdiri atas sepuluh langkah yang saling berkaitan dan berkesinambungan.
Namun, dalam pelaksanaannya, tidak semua langkah tersebut harus dilaksanakan secara penuh tergantung pada tujuan dan cakupan penelitian. Untuk penelitian skala terbatas, misalnya dalam pengembangan bahan ajar, langkah-langkah tersebut dapat disederhanakan menjadi enam atau tujuh tahapan utama tanpa mengurangi substansi proses pengembangan.
Model Borg dan Gall dipilih karena dianggap paling sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu menghasilkan produk pendidikan yang valid dan efektif berdasarkan data empiris. Model ini juga memberikan ruang untuk evaluasi berulang melalui proses revisi, sehingga produk yang dihasilkan dapat disempurnakan secara berkelanjutan.
3.4 Langkah-Langkah Pengembangan
Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang terstruktur, yaitu sebagai berikut:
- Analisis Potensi dan Masalah
Tahap pertama adalah mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada di lapangan. Peneliti melakukan observasi terhadap situasi pembelajaran untuk menemukan permasalahan yang memerlukan solusi berbasis produk. Misalnya, kesulitan peserta didik memahami konsep tertentu atau kurangnya bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik siswa. Hasil dari tahap ini menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan produk.
Selain observasi, wawancara dengan guru dan siswa juga dilakukan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang kebutuhan pembelajaran. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk menemukan celah yang dapat diatasi melalui produk yang akan dikembangkan.
- Pengumpulan Data dan Analisis Kebutuhan
Setelah masalah teridentifikasi, tahap berikutnya adalah mengumpulkan data yang relevan untuk mendukung proses pengembangan. Data dapat berupa kurikulum, silabus, hasil belajar siswa, serta literatur yang berkaitan dengan topik pembelajaran. Analisis kebutuhan ini berfungsi untuk memastikan bahwa produk yang dikembangkan benar-benar menjawab permasalahan nyata dan relevan dengan konteks penggunaannya.
Hasil analisis kebutuhan juga menjadi acuan dalam menentukan konten, bentuk, dan strategi penyajian produk agar sesuai dengan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran.
- Desain Produk Awal
Pada tahap ini, peneliti mulai merancang produk dalam bentuk prototipe awal. Misalnya, jika produk yang dikembangkan adalah bahan ajar digital, maka peneliti mendesain tampilan, struktur isi, dan alur pembelajaran. Dalam tahap ini, peneliti juga menentukan komponen utama produk seperti tujuan pembelajaran, materi, kegiatan pembelajaran, serta evaluasi.
Desain produk awal ini kemudian disusun dalam format yang dapat diuji coba, baik dalam bentuk cetak, digital, maupun multimedia interaktif. Tujuannya adalah agar produk dapat dinilai kelayakannya oleh para ahli sebelum diujikan kepada pengguna sebenarnya.
- Validasi Ahli
Tahap validasi dilakukan oleh pakar atau ahli di bidang yang relevan, seperti ahli materi, ahli media, dan ahli pembelajaran. Para ahli memberikan penilaian terhadap isi, bahasa, desain, serta kesesuaian produk dengan tujuan pembelajaran. Validasi ini sangat penting untuk menjamin bahwa produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang baik dan layak untuk digunakan.
Masukan dari para ahli digunakan sebagai dasar untuk melakukan revisi produk. Proses validasi biasanya dilakukan lebih dari satu kali hingga diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa produk sudah mencapai tingkat kelayakan yang diharapkan.
- Revisi Produk
Setelah validasi ahli dilakukan, peneliti melakukan revisi terhadap produk berdasarkan saran dan masukan yang diberikan. Revisi dapat mencakup perbaikan pada konten, tampilan, tata bahasa, atau instruksi dalam produk pembelajaran. Proses ini bersifat iteratif, artinya dilakukan berulang kali sampai diperoleh produk yang optimal.
Revisi juga mempertimbangkan aspek keterpahaman bagi pengguna. Dengan demikian, produk yang dikembangkan tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga mudah digunakan dan menarik bagi siswa maupun guru.
- Uji Coba Terbatas
Produk yang telah direvisi kemudian diuji cobakan pada kelompok kecil untuk melihat efektivitas awalnya. Uji coba ini biasanya melibatkan sejumlah kecil peserta didik untuk mengetahui bagaimana mereka merespons produk yang dikembangkan. Data yang diperoleh dari uji coba terbatas meliputi tingkat pemahaman siswa, kepraktisan penggunaan, serta daya tarik produk.
Uji coba ini juga membantu peneliti mendeteksi kekurangan yang mungkin belum terlihat pada tahap validasi. Setelah uji coba terbatas selesai, dilakukan analisis dan revisi kembali sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
- Uji Coba Lapangan
Tahap ini merupakan uji efektivitas produk dalam kondisi sebenarnya. Uji coba lapangan dilakukan pada kelompok yang lebih luas, misalnya satu kelas penuh atau beberapa sekolah. Tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana produk dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa.
Hasil uji coba lapangan dianalisis secara statistik untuk melihat peningkatan hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan produk. Selain itu, tanggapan guru dan siswa juga dikumpulkan melalui angket atau wawancara untuk menilai aspek praktikalitas produk.
- Revisi Akhir dan Produk Final
Berdasarkan hasil uji lapangan, dilakukan revisi akhir untuk menyempurnakan produk. Revisi ini menitikberatkan pada aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki agar produk dapat berfungsi secara optimal. Setelah revisi akhir dilakukan, produk dinyatakan sebagai produk final yang siap digunakan secara luas dalam kegiatan pembelajaran.
Produk akhir ini diharapkan mampu menjadi solusi yang efektif, efisien, dan inovatif dalam meningkatkan mutu pendidikan serta dapat diadaptasi oleh pendidik di berbagai konteks.
3.5 Subjek dan Lokasi Penelitian
Subjek penelitian adalah pihak-pihak yang terlibat dalam proses uji coba produk. Mereka terdiri atas peserta didik, guru, serta ahli yang memberikan validasi terhadap produk. Pemilihan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu memilih subjek berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.
Lokasi penelitian ditentukan di sekolah yang memiliki karakteristik sesuai dengan konteks pengembangan produk. Misalnya, jika produk dikembangkan untuk siswa sekolah menengah pertama, maka lokasi penelitian dipilih pada sekolah tingkat SMP yang memiliki fasilitas dan kondisi pembelajaran representatif. Pemilihan lokasi ini penting untuk memastikan bahwa produk dapat diuji dalam kondisi yang mendekati situasi nyata di lapangan.
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan selama proses pengembangan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian pengembangan biasanya mencakup lembar validasi ahli, lembar observasi, angket respon siswa dan guru, serta tes hasil belajar.
Lembar validasi ahli digunakan untuk menilai kelayakan isi, bahasa, dan tampilan produk. Observasi dilakukan untuk mencatat aktivitas dan respon peserta didik selama proses uji coba. Angket digunakan untuk mengetahui pendapat dan tanggapan subjek terhadap produk yang dikembangkan. Sedangkan tes hasil belajar digunakan untuk mengukur efektivitas produk dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Seluruh instrumen diuji terlebih dahulu agar valid dan reliabel. Uji validitas dilakukan dengan meminta penilaian dari ahli, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan teknik statistik, misalnya koefisien Alpha Cronbach untuk angket atau tes hasil belajar.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian pengembangan terdiri dari beberapa metode, yaitu observasi, wawancara, angket, dan tes hasil belajar.
Observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai perilaku peserta didik dan guru saat menggunakan produk. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi mendalam mengenai pengalaman pengguna dan saran perbaikan produk. Angket digunakan untuk memperoleh data kuantitatif tentang persepsi siswa dan guru terhadap produk. Sementara itu, tes hasil belajar digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa setelah menggunakan produk.
Kombinasi berbagai teknik ini memungkinkan peneliti mendapatkan data yang lengkap dan mendalam, baik dari sisi kualitatif maupun kuantitatif.
3.8 Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk menilai kualitas produk dari aspek validitas, praktikalitas, dan efektivitas.
Analisis validitas dilakukan berdasarkan hasil penilaian ahli menggunakan skala tertentu untuk menentukan tingkat kelayakan produk. Data kuantitatif dari lembar validasi dihitung dalam bentuk rata-rata skor, kemudian diinterpretasikan dalam kategori sangat valid, valid, cukup, atau tidak valid.
Analisis praktikalitas diperoleh dari hasil angket guru dan siswa selama uji coba. Data ini memberikan gambaran tentang kemudahan penggunaan produk, kejelasan instruksi, serta daya tariknya dalam proses pembelajaran.
Analisis efektivitas dilakukan dengan membandingkan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan produk. Uji statistik seperti uji t digunakan untuk melihat signifikansi peningkatan hasil belajar. Jika terdapat peningkatan yang signifikan, maka produk dinyatakan efektif untuk digunakan.
Selain analisis kuantitatif, data kualitatif dari wawancara dan observasi juga dianalisis dengan cara mendeskripsikan pola, kecenderungan, serta tanggapan pengguna untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai kelebihan dan kekurangan produk.
3.9 Uji Validitas, Praktikalitas, dan Efektivitas
Tiga aspek utama yang menjadi tolok ukur keberhasilan pengembangan produk adalah validitas, praktikalitas, dan efektivitas.
Pertama, validitas menunjukkan sejauh mana produk sesuai dengan teori, kurikulum, dan kebutuhan pembelajaran. Produk dinyatakan valid apabila isi, bahasa, dan desainnya telah disetujui oleh para ahli.
Kedua, praktikalitas menilai kemudahan penggunaan produk oleh guru dan siswa. Produk yang praktis harus mudah digunakan tanpa memerlukan instruksi yang rumit.
Ketiga, efektivitas diukur melalui peningkatan hasil belajar dan respon positif pengguna. Produk yang efektif mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pemahaman dan motivasi belajar peserta didik.
Ketiga aspek ini saling melengkapi dan menjadi dasar penentuan keberhasilan penelitian pengembangan.
3.10 Etika Penelitian
Etika penelitian dijunjung tinggi dalam pelaksanaan penelitian ini. Peneliti memastikan bahwa seluruh proses dilakukan dengan menghormati hak dan privasi subjek penelitian. Izin diperoleh terlebih dahulu dari pihak sekolah dan peserta sebelum dilakukan uji coba.
Selain itu, peneliti menjamin bahwa data yang dikumpulkan hanya digunakan untuk kepentingan akademik dan tidak disebarluaskan tanpa izin. Produk yang dikembangkan juga tidak mengandung unsur diskriminatif, kekerasan, atau pelanggaran hak cipta. Dengan menjaga etika penelitian, hasil penelitian dapat dipercaya dan memiliki nilai integritas yang tinggi.
Baca juga: buku metode penelitian pengembangan
3.11 Penutup
Bab ini telah menguraikan secara lengkap mengenai metode penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini, mulai dari jenis penelitian, model yang digunakan, langkah-langkah pengembangan, hingga teknik analisis data.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.


