Dalam dunia penelitian pendidikan, kebutuhan terhadap model penelitian yang tidak hanya menghasilkan teori tetapi juga produk nyata yang dapat diterapkan di lapangan semakin meningkat. Salah satu pendekatan yang populer untuk tujuan tersebut adalah penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Model penelitian pengembangan yang paling terkenal dan banyak digunakan hingga saat ini adalah model Borg and Gall, yang diperkenalkan oleh Walter R. Borg dan Meredith D. Gall pada tahun 1983.
Model Borg and Gall menawarkan kerangka kerja sistematis dalam menghasilkan produk pendidikan yang efektif dan teruji, seperti media pembelajaran, modul, perangkat evaluasi, maupun sistem pelatihan. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada pengembangan produk, tetapi juga memastikan bahwa produk yang dihasilkan telah melalui tahapan validasi, uji coba, dan revisi berdasarkan umpan balik empiris. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki dampak praktis yang signifikan terhadap dunia pendidikan.
Dalam artikel ini, akan dijelaskan secara mendalam mengenai konsep dasar penelitian pengembangan Borg and Gall, tahapan-tahapan pelaksanaannya, ciri khas yang membedakannya dari model lain, serta keunggulan dan kelemahannya. Selain itu, akan dibahas pula penerapan model ini dalam konteks penelitian pendidikan di Indonesia yang semakin berkembang pesat.
Baca juga: prosedur penelitian pengembangan addie
Konsep Dasar Penelitian dan Pengembangan Borg and Gall
Penelitian pengembangan Borg and Gall adalah pendekatan yang bertujuan untuk menghasilkan dan memvalidasi produk pendidikan yang dapat digunakan dalam konteks nyata. Model ini tidak hanya berhenti pada tahap penciptaan produk, melainkan juga menekankan pada proses pengujian efektivitas produk tersebut di lapangan. Dengan demikian, hasil akhir dari penelitian bukan hanya berupa laporan akademik, tetapi juga sebuah produk yang siap diterapkan.
Secara konseptual, Borg and Gall menggabungkan dua elemen utama yaitu penelitian ilmiah (research) dan pengembangan produk (development). Penelitian ilmiah digunakan untuk menemukan informasi atau prinsip-prinsip yang relevan dengan kebutuhan pengguna, sedangkan pengembangan produk berfungsi untuk menciptakan solusi yang konkret berdasarkan hasil penelitian tersebut. Dalam konteks pendidikan, hal ini dapat berupa pengembangan modul, media, kurikulum, model pembelajaran, atau sistem evaluasi yang inovatif.
Menurut Borg dan Gall (1983), penelitian pengembangan dilakukan melalui proses sistematis yang terdiri atas sepuluh langkah utama. Setiap langkah bersifat siklik dan fleksibel, sehingga peneliti dapat kembali ke tahap sebelumnya bila ditemukan kekurangan dalam proses pengembangan. Model ini menekankan pentingnya validasi empiris, yang berarti bahwa setiap produk harus diuji keefektifannya sebelum dinyatakan layak digunakan secara luas.
Tujuan Penelitian Pengembangan Borg and Gall
Tujuan utama dari penelitian Borg and Gall adalah menghasilkan produk pendidikan yang valid, efektif, dan efisien untuk digunakan dalam situasi nyata. Namun, tujuan tersebut memiliki beberapa rincian yang lebih spesifik, yaitu:
- Mengidentifikasi kebutuhan pengguna (needs analysis) sehingga produk yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan masalah yang dihadapi di lapangan.
- Mengembangkan prototipe produk berdasarkan teori, hasil riset, dan praktik terbaik dalam pendidikan.
- Menguji efektivitas produk melalui serangkaian uji coba lapangan yang sistematis.
- Meningkatkan kualitas produk melalui proses revisi dan validasi dari para ahli maupun pengguna.
- Menghasilkan pedoman implementasi agar produk dapat diterapkan secara luas dalam konteks pendidikan yang berbeda.
Dengan kata lain, penelitian Borg and Gall tidak hanya berfokus pada penciptaan produk baru, tetapi juga pada jaminan bahwa produk tersebut mampu meningkatkan mutu pembelajaran dan memenuhi standar ilmiah yang tinggi.
Tahapan Penelitian Pengembangan Borg and Gall
Model Borg and Gall terdiri dari sepuluh langkah utama, yang masing-masing memiliki fungsi dan karakteristik tersendiri. Berikut uraian lengkapnya dalam bentuk naratif.
- Penelitian dan Pengumpulan Informasi Awal (Research and Information Collecting)
Tahap pertama ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan yang ada di lapangan. Peneliti melakukan studi literatur, observasi, wawancara, dan survei untuk memperoleh data awal. Hasil pengumpulan informasi digunakan sebagai dasar untuk merancang produk yang relevan.
Pada tahap ini, peneliti juga meninjau teori-teori dan hasil penelitian sebelumnya agar pengembangan produk memiliki landasan ilmiah yang kuat. Misalnya, jika peneliti ingin mengembangkan media pembelajaran digital, maka perlu dikaji teori tentang efektivitas media interaktif, karakteristik siswa digital native, serta aspek teknologi pendidikan.
- Perencanaan (Planning)
Setelah informasi terkumpul, langkah berikutnya adalah menyusun rencana pengembangan produk. Perencanaan mencakup penetapan tujuan pembelajaran, spesifikasi produk, rancangan desain, strategi uji coba, serta sumber daya yang dibutuhkan.
Tahap ini penting karena menentukan arah seluruh kegiatan penelitian. Peneliti juga harus memperhitungkan waktu, biaya, dan metode yang akan digunakan dalam pengujian efektivitas produk.
- Pengembangan Produk Awal (Develop Preliminary Form of Product)
Tahap ini merupakan proses awal dalam pembuatan produk prototipe. Produk dikembangkan berdasarkan rancangan yang telah dibuat sebelumnya. Misalnya, bila produk yang dikembangkan berupa modul pembelajaran, maka peneliti mulai menyusun materi, desain tampilan, dan instruksi penggunaannya.
Produk awal ini biasanya masih bersifat sederhana dan perlu diuji secara terbatas untuk melihat kelemahan yang mungkin timbul. Prinsip utama pada tahap ini adalah membuat produk yang dapat diuji secara fungsional, meskipun belum sempurna.
- Uji Coba Awal (Preliminary Field Testing)
Pada tahap ini, produk diuji secara terbatas kepada kelompok kecil yang mewakili pengguna sesungguhnya. Tujuannya adalah memperoleh umpan balik mengenai kejelasan, kelayakan, dan efektivitas awal produk.
Hasil uji coba digunakan untuk melakukan revisi awal sebelum produk diuji dalam skala lebih besar. Dalam penelitian pendidikan, tahap ini dapat melibatkan sekelompok siswa atau guru yang menjadi subjek eksperimen.
- Revisi Produk Utama (Main Product Revision)
Berdasarkan hasil uji coba awal, peneliti melakukan perbaikan terhadap produk. Revisi bisa mencakup penyempurnaan konten, tampilan, bahasa, maupun fitur interaktif sesuai dengan masukan pengguna dan hasil pengamatan.
Revisi merupakan tahapan penting karena menunjukkan adanya proses evaluasi formatif, di mana produk terus diperbaiki untuk mencapai kualitas terbaik.
- Uji Coba Lapangan Utama (Main Field Testing)
Tahap ini melibatkan kelompok pengguna yang lebih besar dan kondisi yang lebih mendekati kenyataan di lapangan. Tujuan utamanya adalah mengukur efektivitas produk secara lebih objektif melalui pendekatan eksperimen, seperti menggunakan kelompok kontrol dan eksperimen.
Peneliti mengumpulkan data kuantitatif maupun kualitatif untuk menganalisis apakah produk benar-benar mampu meningkatkan hasil belajar atau kinerja pengguna.
- Revisi Produk Operasional (Operational Product Revision)
Setelah dilakukan uji coba utama, peneliti kembali melakukan revisi berdasarkan hasil pengujian efektivitas. Pada tahap ini, produk sudah mendekati bentuk akhir, namun tetap dapat disempurnakan untuk meningkatkan keandalan dan kemudahan penggunaannya.
Revisi operasional memastikan bahwa produk dapat digunakan dengan stabil dalam berbagai konteks pendidikan tanpa mengalami gangguan teknis atau konseptual.
- Uji Coba Lapangan Operasional (Operational Field Testing)
Tahapan ini merupakan uji penerapan produk dalam kondisi nyata di lapangan pendidikan yang sesungguhnya. Pengujian dilakukan kepada kelompok pengguna yang luas, misalnya di beberapa sekolah atau lembaga pelatihan.
Hasil dari tahap ini memberikan gambaran realistis mengenai tingkat efektivitas dan efisiensi produk dalam kondisi sebenarnya. Data dari tahap ini juga menjadi dasar untuk menilai sejauh mana produk dapat diimplementasikan secara luas.
- Revisi Produk Akhir (Final Product Revision)
Setelah melalui serangkaian uji coba, produk kemudian direvisi untuk terakhir kalinya berdasarkan hasil uji lapangan operasional. Revisi akhir ini memastikan bahwa produk benar-benar memenuhi kriteria validitas, efektivitas, dan kemudahan penggunaan.
Produk yang telah disempurnakan pada tahap ini kemudian siap untuk diseminasi dan digunakan secara lebih luas di lingkungan pendidikan.
- Diseminasi dan Implementasi (Dissemination and Implementation)
Tahap terakhir dalam model Borg and Gall adalah penyebaran (diseminasi) dan penerapan (implementasi) produk yang telah dikembangkan. Diseminasi dapat dilakukan melalui publikasi ilmiah, seminar, pelatihan, atau kerja sama dengan lembaga pendidikan.
Tujuan dari tahap ini adalah agar produk yang dikembangkan tidak hanya berhenti di ruang penelitian, tetapi benar-benar digunakan oleh masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ciri Khas Model Borg and Gall
Model Borg and Gall memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari model penelitian lainnya. Pertama, model ini bersifat sistematis dan berurutan, di mana setiap tahap saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Kedua, model ini menekankan pada validasi empiris, sehingga produk yang dihasilkan memiliki dasar keilmuan yang kuat dan teruji secara praktis. Ketiga, model Borg and Gall menggabungkan teori dan praktik, menjadikan hasil penelitian tidak hanya bersifat konseptual tetapi juga aplikatif.
Selain itu, model ini juga fleksibel, karena peneliti dapat menyesuaikan jumlah langkah atau modifikasi prosedur sesuai dengan konteks penelitian. Banyak peneliti di bidang pendidikan yang hanya menggunakan tujuh langkah dari sepuluh, menyesuaikan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia, tanpa mengurangi validitas penelitian.
Keunggulan Penelitian Pengembangan Borg and Gall
Model Borg and Gall memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya populer di kalangan peneliti pendidikan.
Pertama, model ini menghasilkan produk nyata yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Hal ini membuat penelitian menjadi lebih bermanfaat secara praktis.
Kedua, prosesnya terstruktur dan logis, sehingga memudahkan peneliti dalam mengikuti alur dari tahap perencanaan hingga evaluasi.
Ketiga, model ini memungkinkan adanya perbaikan berkelanjutan melalui tahapan revisi dan uji coba yang berulang. Dengan demikian, kualitas produk yang dihasilkan lebih terjamin.
Keunggulan lainnya adalah model Borg and Gall mendorong kolaborasi antara peneliti, praktisi pendidikan, dan pengguna. Kolaborasi ini memperkaya perspektif dan membuat hasil penelitian lebih relevan dengan kebutuhan nyata di dunia pendidikan.
Kelemahan Model Borg and Gall
Meskipun memiliki banyak keunggulan, model Borg and Gall juga memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar, karena melibatkan banyak tahap uji coba dan revisi.
Selain itu, pelaksanaan di lapangan bisa menjadi rumit, terutama bila melibatkan banyak sekolah atau peserta uji coba. Peneliti juga harus memiliki kemampuan manajemen proyek yang baik agar seluruh proses berjalan sesuai rencana.
Kelemahan lainnya adalah model ini tidak cocok untuk penelitian jangka pendek atau penelitian yang hanya bertujuan menemukan teori baru, karena fokus utama model ini adalah pada pengembangan produk praktis.
Penerapan Model Borg and Gall dalam Penelitian Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, model Borg and Gall banyak digunakan dalam penelitian pendidikan, terutama untuk pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi, modul tematik, dan instrumen evaluasi. Misalnya, banyak skripsi, tesis, dan disertasi di bidang pendidikan menggunakan pendekatan ini untuk menghasilkan produk inovatif yang dapat diterapkan di sekolah.
Contohnya, penelitian pengembangan media pembelajaran berbasis Android menggunakan langkah-langkah Borg and Gall untuk menghasilkan aplikasi interaktif yang membantu siswa memahami konsep sains. Tahapan uji coba dilakukan pada skala kecil hingga besar untuk memastikan efektivitas media terhadap peningkatan hasil belajar.
Penerapan model ini juga banyak ditemukan dalam pengembangan model pembelajaran berbasis proyek, modul literasi digital, dan instrumen penilaian karakter. Hal ini menunjukkan bahwa model Borg and Gall relevan dengan tuntutan pendidikan modern yang menekankan inovasi, efektivitas, dan keberlanjutan.
Baca juga: penelitian pengembangan model addie
Kesimpulan
Penelitian pengembangan Borg and Gall merupakan pendekatan sistematis yang menggabungkan aspek penelitian ilmiah dan pengembangan produk. Melalui sepuluh langkah yang terstruktur, model ini memungkinkan peneliti untuk menghasilkan produk pendidikan yang valid, efektif, dan aplikatif.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.


