Prosedur Penelitian Pengembangan Model ADDIE

 

Jasa Proofreading Jurnal: Pentingnya Kualitas Bahasa dalam

Penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D) merupakan suatu pendekatan ilmiah yang bertujuan untuk menghasilkan produk baru atau memperbaiki produk yang sudah ada agar menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam konteks pendidikan, penelitian pengembangan digunakan untuk menciptakan perangkat pembelajaran, media, kurikulum, modul, atau sistem yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satu model yang paling banyak digunakan dalam penelitian pengembangan adalah model ADDIE, yang merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.

Model ADDIE dianggap komprehensif karena memberikan alur sistematis dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi produk pendidikan. ADDIE membantu peneliti memastikan bahwa produk yang dikembangkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki dasar pedagogis yang kuat dan dapat diuji efektivitasnya secara empiris. Artikel ini akan menguraikan secara mendalam mengenai prosedur penelitian pengembangan menggunakan model ADDIE, beserta penjelasan pada setiap tahapnya.

Baca juga: penelitian pengembangan model addie

Konsep Dasar Penelitian Pengembangan

Penelitian pengembangan merupakan proses yang bertujuan untuk menghasilkan produk tertentu serta menguji efektivitas produk tersebut agar layak digunakan. Produk yang dihasilkan dapat berupa media pembelajaran, perangkat ajar, sistem evaluasi, program pelatihan, atau bahkan model pembelajaran baru. Tujuan utama penelitian pengembangan bukan hanya menghasilkan teori, tetapi juga menciptakan solusi konkret atas permasalahan yang ditemukan di lapangan.

Dalam pelaksanaannya, penelitian pengembangan bersifat siklikal. Artinya, setiap tahap yang dilakukan dapat dikaji kembali untuk dilakukan perbaikan berdasarkan hasil uji coba. Prinsip ini membuat penelitian pengembangan lebih dinamis dibandingkan penelitian konvensional. Peneliti harus mampu menganalisis kebutuhan, merancang prototipe, mengujinya, kemudian melakukan revisi agar produk sesuai dengan kebutuhan pengguna. Di sinilah model ADDIE menjadi sangat relevan karena menyediakan kerangka yang jelas bagi seluruh tahapan pengembangan tersebut.

Model ADDIE dalam Penelitian Pengembangan

Model ADDIE pertama kali dikembangkan oleh Florida State University pada tahun 1975 sebagai model desain sistem instruksional untuk Angkatan Darat Amerika Serikat. Meskipun awalnya digunakan di bidang militer, model ini kemudian diadaptasi secara luas dalam bidang pendidikan dan pelatihan. ADDIE merupakan akronim dari lima tahap utama: Analysis (Analisis), Design (Perancangan), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi), dan Evaluation (Evaluasi).

Kelima tahapan ini saling berkaitan dan berkesinambungan. Setiap tahap menghasilkan keluaran (output) yang menjadi masukan (input) bagi tahap berikutnya. Kelebihan model ADDIE adalah sifatnya yang fleksibel, di mana peneliti dapat menyesuaikan prosedur dengan kebutuhan dan konteks penelitian. Tahapan dalam ADDIE juga memungkinkan proses revisi berulang sehingga produk yang dihasilkan benar-benar matang sebelum diimplementasikan secara luas.

Tahap 1: Analisis (Analysis)

Tahap analisis merupakan fondasi dari keseluruhan proses pengembangan. Pada tahap ini, peneliti berusaha memahami masalah yang ada, mengidentifikasi kebutuhan pengguna, serta menentukan tujuan dari pengembangan produk. Analisis yang matang akan menentukan arah dan keberhasilan tahap berikutnya.

Dalam tahap analisis, terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan. Pertama adalah analisis kebutuhan, yaitu proses untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh peserta didik atau lembaga pendidikan. Misalnya, guru merasa kesulitan dalam menyampaikan materi abstrak, sehingga dibutuhkan media pembelajaran interaktif. Kedua, dilakukan analisis karakteristik peserta didik agar produk yang dikembangkan sesuai dengan tingkat kemampuan, minat, serta gaya belajar mereka. Ketiga, dilakukan analisis konteks dan sumber daya, seperti sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah, waktu pembelajaran, serta dukungan teknologi.

Hasil dari tahap analisis biasanya berupa pernyataan kebutuhan yang jelas dan tujuan umum pengembangan. Misalnya, “mengembangkan media pembelajaran berbasis interaktif untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika pada siswa SMA kelas XI”. Pernyataan ini akan menjadi dasar dalam tahap desain selanjutnya.

Tahap 2: Perancangan (Design)

Setelah kebutuhan dan tujuan pengembangan ditetapkan, tahap selanjutnya adalah perancangan. Pada tahap ini, peneliti mulai menyusun rencana konkret mengenai bagaimana produk akan dikembangkan. Tahap desain melibatkan pemilihan strategi pembelajaran, penyusunan materi, perencanaan tampilan produk, serta perancangan instrumen evaluasi.

Dalam perancangan, peneliti menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, jika tujuan pengembangan adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, maka strategi pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) bisa dipilih. Selain itu, peneliti juga menyusun alur pembelajaran yang menggambarkan urutan kegiatan belajar dari awal hingga akhir.

Selanjutnya, peneliti mendesain prototipe awal produk. Misalnya, jika produk berupa media digital, maka rancangan antarmuka pengguna (user interface), tata letak, warna, dan navigasi dirancang terlebih dahulu. Pada tahap ini pula, dibuat rancangan alat ukur seperti angket, lembar observasi, atau tes yang akan digunakan untuk menilai efektivitas produk.

Tahap perancangan sangat penting karena menjadi cetak biru bagi proses pengembangan berikutnya. Sebuah rancangan yang baik harus memperhatikan keseimbangan antara aspek pedagogis, teknis, dan estetika agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga efektif dalam pembelajaran.

Tahap 3: Pengembangan (Development)

Tahap pengembangan merupakan tahap di mana rancangan yang telah dibuat diimplementasikan menjadi produk nyata. Pada tahap ini, peneliti mulai membuat, memodifikasi, dan menyempurnakan produk berdasarkan rancangan yang telah disetujui. Misalnya, jika pada tahap desain dibuat rancangan storyboard media pembelajaran, maka pada tahap pengembangan dilakukan pembuatan media dengan bantuan perangkat lunak seperti Adobe Animate, Canva, atau Articulate Storyline.

Selain proses produksi, tahap pengembangan juga mencakup validasi ahli. Validasi ini dilakukan oleh pakar di bidang materi, media, dan pembelajaran untuk memastikan produk layak digunakan. Setiap ahli memberikan penilaian terhadap aspek isi, tampilan, kejelasan instruksi, dan kesesuaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil validasi tersebut, peneliti melakukan revisi untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

Selanjutnya, dilakukan uji coba terbatas terhadap sekelompok kecil pengguna untuk mengetahui respon awal terhadap produk. Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah teknis atau kesalahan dalam isi sebelum produk diuji secara luas. Data dari uji coba ini menjadi dasar revisi lanjutan agar produk semakin siap digunakan pada tahap implementasi.

Tahap 4: Implementasi (Implementation)

Tahap implementasi merupakan proses penerapan produk yang telah dikembangkan ke dalam situasi nyata. Pada tahap ini, produk diuji coba kepada kelompok sasaran yang lebih besar, misalnya siswa di kelas tertentu. Implementasi bertujuan untuk melihat sejauh mana produk efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Sebelum implementasi dilakukan, peneliti harus memastikan bahwa seluruh instrumen penilaian telah siap dan valid. Peneliti juga perlu memberikan pelatihan singkat kepada guru atau pengguna agar dapat menggunakan produk dengan benar. Selama implementasi berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap aktivitas peserta didik, keterlibatan mereka, serta kemudahan penggunaan produk.

Selain observasi, tahap implementasi juga melibatkan pengumpulan data hasil belajar. Data ini digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan peserta didik setelah menggunakan produk. Misalnya, melalui pre-test dan post-test, dapat dilihat perbedaan hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran. Jika hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan, maka produk dianggap efektif.

Namun demikian, implementasi tidak selalu berjalan lancar. Kadang ditemukan kendala seperti keterbatasan waktu, kurangnya fasilitas, atau kesulitan teknis dalam penggunaan produk. Oleh karena itu, peneliti harus mencatat seluruh temuan tersebut untuk menjadi bahan evaluasi di tahap selanjutnya.

Tahap 5: Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi merupakan tahap akhir dalam model ADDIE, tetapi juga dapat dilakukan pada setiap tahap sebelumnya. Evaluasi bertujuan untuk menilai sejauh mana produk yang dikembangkan telah memenuhi tujuan dan harapan pengguna. Dalam model ADDIE, terdapat dua jenis evaluasi utama yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

Evaluasi formatif dilakukan selama proses pengembangan berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperbaiki produk sebelum diimplementasikan secara luas. Misalnya, setelah validasi ahli dan uji coba terbatas, peneliti melakukan revisi berdasarkan masukan yang diterima. Dengan demikian, evaluasi formatif membantu meningkatkan kualitas produk secara bertahap.

Sementara itu, evaluasi sumatif dilakukan setelah tahap implementasi selesai. Evaluasi ini menilai efektivitas produk secara keseluruhan, termasuk dampaknya terhadap hasil belajar, motivasi siswa, dan kemudahan penggunaan. Evaluasi sumatif biasanya dilakukan dengan menganalisis data hasil belajar, kuesioner kepuasan pengguna, dan wawancara mendalam dengan peserta didik maupun guru.

Hasil dari tahap evaluasi menjadi dasar bagi keputusan akhir: apakah produk dapat digunakan secara luas, perlu revisi lebih lanjut, atau bahkan tidak layak digunakan. Evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh akan memastikan bahwa produk benar-benar memberikan manfaat bagi proses pembelajaran.

Kelebihan dan Keterbatasan Model ADDIE

Setiap model pengembangan memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Kelebihan utama model ADDIE adalah strukturnya yang sistematis dan mudah dipahami. Dengan adanya lima tahapan yang berurutan, peneliti dapat mengikuti prosedur yang jelas dari awal hingga akhir. Selain itu, sifat model ini fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan berbagai konteks penelitian, baik dalam pengembangan media, kurikulum, maupun sistem pelatihan.

Kelebihan lainnya adalah adanya tahapan evaluasi di setiap langkah, yang memastikan produk selalu direvisi dan disempurnakan. Hal ini menjadikan produk yang dihasilkan melalui model ADDIE lebih valid dan siap digunakan. Selain itu, model ini juga mendorong keterlibatan pengguna sejak tahap awal, sehingga produk yang dihasilkan lebih relevan dengan kebutuhan mereka.

Namun demikian, model ADDIE juga memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah waktu dan sumber daya yang dibutuhkan relatif besar, karena setiap tahap memerlukan proses validasi dan uji coba berulang. Selain itu, jika tidak dilakukan dengan disiplin, peneliti bisa terjebak pada proses yang terlalu panjang tanpa hasil nyata. Oleh karena itu, penerapan model ADDIE memerlukan perencanaan yang matang dan manajemen waktu yang baik.

Contoh Penerapan Model ADDIE dalam Penelitian Pendidikan

Sebagai ilustrasi, misalkan seorang peneliti ingin mengembangkan modul pembelajaran berbasis digital untuk meningkatkan pemahaman konsep biologi. Pada tahap analisis, peneliti menemukan bahwa siswa mengalami kesulitan memahami konsep ekosistem karena materi bersifat abstrak. Kemudian pada tahap desain, peneliti merancang modul interaktif yang memuat video, animasi, dan latihan soal berbasis umpan balik.

Tahap pengembangan dilakukan dengan membuat prototipe modul menggunakan aplikasi e-learning. Setelah melalui validasi ahli dan uji coba terbatas, peneliti melakukan revisi berdasarkan masukan pengguna. Modul tersebut kemudian diimplementasikan kepada siswa kelas XI selama dua minggu. Hasil uji menunjukkan adanya peningkatan skor post-test secara signifikan dibanding pre-test. Evaluasi sumatif menunjukkan bahwa siswa merasa lebih termotivasi dan mudah memahami materi. Dengan demikian, modul digital tersebut dinyatakan efektif dan layak digunakan dalam pembelajaran.

Baca juga: buku penelitian pengembangan

Penutup

Model ADDIE merupakan salah satu model pengembangan yang paling populer dan efektif dalam penelitian pendidikan. Prosedur penelitian pengembangan dengan model ini memberikan panduan sistematis mulai dari analisis kebutuhan hingga evaluasi produk akhir. Setiap tahap saling berhubungan dan dapat diulang untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

Solusi Jurnal