Dalam dunia akademik, jurnal ilmiah memiliki peran vital sebagai wadah penyebaran pengetahuan, hasil riset, serta inovasi baru. Namun, kehadiran jurnal predator atau jurnal abal-abal yang beroperasi tanpa mekanisme peer review telah menimbulkan kekhawatiran besar. Alih-alih menjaga kualitas ilmu pengetahuan, jurnal predator justru merusak integritas akademik dengan menjadikan publikasi sebagai ajang bisnis semata.
Fenomena jurnal predator tanpa review tidak bisa dianggap remeh. Publikasi yang seharusnya melalui proses seleksi ketat dengan penelaahan para pakar, justru diterbitkan secara instan tanpa evaluasi kualitas. Hal ini menciptakan ilusi akademik yang berbahaya, di mana penelitian yang belum teruji dianggap sahih hanya karena sudah dipublikasikan. Artikel ini akan membedah fenomena tersebut secara mendalam.
Baca juga: Jurnal Predator Open Access: Ancaman bagi Dunia Akademik
Apa Itu Jurnal Predator Tanpa Review?
Untuk memahami jurnal predator, kita perlu melihat definisinya. Istilah predatory journal merujuk pada jurnal yang mengeksploitasi kebutuhan akademisi untuk mempublikasikan karya ilmiah dengan cepat. Jurnal ini biasanya meminta biaya publikasi tinggi, namun tidak menyediakan layanan editorial dan peer review yang seharusnya menjadi standar.
Jurnal predator tanpa review adalah bentuk paling ekstrem dari fenomena ini. Artinya, naskah yang dikirim penulis langsung diterbitkan tanpa melewati proses penilaian sejawat. Dengan kata lain, tidak ada penyaringan kualitas, keaslian, maupun relevansi penelitian.
Hal ini berbahaya, karena:
- Artikel bermutu rendah atau bahkan palsu bisa masuk ke literatur akademik.
- Integritas akademik terganggu.
- Peneliti dan institusi bisa kehilangan reputasi karena terjebak publikasi di jurnal predator.
Ciri-ciri Jurnal Predator Tanpa Review
Untuk mengenali jurnal predator, ada sejumlah ciri khas yang bisa menjadi tanda peringatan. Beberapa di antaranya adalah:
1. Proses Publikasi Sangat Cepat
Biasanya jurnal bereputasi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melakukan review. Sebaliknya, jurnal predator dapat menerbitkan artikel hanya dalam hitungan hari atau minggu. Hal ini jelas mencurigakan.
2. Tidak Ada Transparansi Review
Jurnal predator sering tidak menjelaskan bagaimana proses review dilakukan. Penulis tidak mendapatkan catatan perbaikan dari reviewer. Artikel diterima begitu saja, meski masih banyak kesalahan.
3. Biaya Publikasi Tinggi dan Tidak Proporsional
Jurnal predator sering meminta article processing charges (APC) yang sangat tinggi, tetapi tidak sebanding dengan layanan yang diberikan. Semua diarahkan untuk keuntungan finansial semata.
4. Dewan Editorial Meragukan
Sering kali, jurnal predator mencantumkan nama editor atau reviewer palsu, atau mencatut nama akademisi tanpa izin. Bahkan ada yang tidak memiliki dewan editorial sama sekali.
5. Indeksasi Palsu
Mereka mengklaim terindeks di database bergengsi seperti Scopus atau Web of Science, padahal tidak. Bahkan, beberapa membuat indeksasi palsu untuk menipu penulis.
6. Website Buruk dan Tidak Profesional
Tampilan situs biasanya kurang rapi, penuh kesalahan bahasa, serta menawarkan janji publikasi cepat.
Mengapa Peneliti Terjebak dalam Jurnal Predator?
Fenomena jurnal predator tanpa review muncul bukan hanya karena faktor eksternal, tetapi juga karena kebutuhan dan tekanan dari peneliti itu sendiri. Beberapa alasan utama antara lain:
- Tekanan untuk Publikasi (Publish or Perish): Di banyak negara, termasuk Indonesia, dosen dan peneliti dituntut untuk mempublikasikan karya ilmiah sebagai syarat kenaikan jabatan atau kelulusan. Tekanan ini membuat sebagian peneliti memilih jalur cepat, meskipun kualitas jurnal diragukan.
- Kurangnya Pengetahuan: Sebagian peneliti pemula tidak bisa membedakan antara jurnal predator dan jurnal bereputasi. Akibatnya, mereka dengan mudah tergoda oleh tawaran publikasi instan.
- Ambisi Pribadi: Ada juga penulis yang sengaja memilih jurnal predator karena ingin menambah daftar publikasi di CV mereka. Mereka mengabaikan kualitas, demi kuantitas.
- Faktor Bahasa dan Teknis: Jurnal bereputasi internasional biasanya menuntut bahasa akademik yang baik serta metodologi penelitian yang solid. Sebaliknya, jurnal predator menerima semua naskah, bahkan yang masih banyak kesalahan.
Dampak Negatif Jurnal Predator Tanpa Review
Kehadiran jurnal predator tanpa review menimbulkan sejumlah dampak serius bagi dunia akademik dan masyarakat luas. Beberapa di antaranya:
- Merusak Integritas Akademik: Ilmu pengetahuan berkembang melalui mekanisme validasi. Tanpa review, hasil penelitian yang tidak sahih bisa dianggap benar, sehingga menciptakan bias dalam literatur ilmiah.
- Membuang Waktu dan Uang Peneliti: Peneliti yang membayar mahal untuk publikasi di jurnal predator sebenarnya hanya merugikan diri sendiri. Artikel mereka tidak akan diakui secara resmi, sehingga sia-sia.
- Menurunkan Reputasi Institusi: Ketika banyak peneliti dari suatu universitas terjebak jurnal predator, reputasi institusi tersebut ikut tercoreng di mata dunia internasional.
- Dampak Sosial dan Praktis: Penelitian yang tidak melalui validasi bisa menyesatkan masyarakat. Misalnya, dalam bidang kesehatan, artikel palsu bisa memengaruhi kebijakan atau pengobatan.
- Menimbulkan Ilusi Keilmuan: Orang awam bisa menganggap semua artikel yang dipublikasikan sahih, padahal sebagian besar berasal dari jurnal predator yang tidak kredibel.
Studi Kasus Jurnal Predator
Untuk memberikan gambaran nyata, ada beberapa kasus terkenal mengenai jurnal predator tanpa review:
- Kasus Penelitian Palsu: Beberapa peneliti sengaja mengirim artikel absurd, seperti makalah acak yang dihasilkan komputer, dan ternyata diterima begitu saja oleh jurnal predator. Ini membuktikan bahwa tidak ada proses review sama sekali.
- Kasus Akademisi Tertipu: Banyak dosen muda di negara berkembang membayar jutaan rupiah demi publikasi, namun kemudian sadar bahwa jurnal tersebut tidak terindeks resmi.
- Kasus Retraction Massal: Beberapa jurnal predator terpaksa menarik ribuan artikel setelah diketahui tidak melalui proses review. Namun, kerusakan reputasi peneliti yang terlanjur publikasi sudah tidak bisa diperbaiki.
Upaya Mencegah Jurnal Predator
Menghadapi fenomena ini, ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan peneliti, institusi, maupun pemerintah untuk menghindari jurnal predator:
- Edukasi dan Literasi Akademik: Peneliti harus diberi pemahaman mengenai cara memilih jurnal bereputasi, cara mengecek indeksasi, dan cara mengenali jurnal predator.
- Memanfaatkan Daftar Resmi: Terdapat database seperti Directory of Open Access Journals (DOAJ), Scopus, dan Web of Science yang bisa dijadikan acuan. Selain itu, ada daftar hitam jurnal predator yang pernah dibuat oleh Jeffrey Beall (Beall’s List).
- Peran Institusi: Perguruan tinggi harus memberikan bimbingan kepada dosen dan mahasiswa agar tidak terjebak dalam jurnal predator. Selain itu, perlu dibuat regulasi yang jelas mengenai publikasi yang diakui.
- Penguatan Etika Penelitian: Peneliti harus memiliki kesadaran etis bahwa publikasi bukan sekadar formalitas, melainkan kontribusi nyata pada ilmu pengetahuan.
- Evaluasi Kualitas Jurnal: Sebelum mengirim naskah, peneliti harus memeriksa dewan editorial, kecepatan publikasi, biaya, serta reputasi penerbit.
Bagaimana Mengecek Keaslian Jurnal?
Untuk menghindari jebakan jurnal predator tanpa review, berikut beberapa tips praktis:
- Cek Indeksasi: Pastikan jurnal benar-benar terdaftar di Scopus, WoS, atau DOAJ. Jangan percaya hanya pada klaim di website.
- Periksa ISSN: Setiap jurnal resmi memiliki nomor ISSN yang valid.
- Evaluasi Situs Web: Situs yang buruk, penuh kesalahan, dan tidak profesional sering menjadi tanda jurnal predator.
- Teliti Editorial Board: Pastikan editor benar-benar akademisi dengan afiliasi jelas.
- Lihat Proses Review: Jurnal bereputasi selalu mencantumkan prosedur review yang detail.
- Cari Opini Akademisi Lain: Banyak forum akademik yang membahas reputasi suatu jurnal.
Peran Pemerintah dan Lembaga Akademik
Masalah jurnal predator bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga lembaga dan pemerintah. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Pemerintah: Membuat regulasi resmi mengenai daftar jurnal yang diakui. Misalnya, di Indonesia ada SINTA (Science and Technology Index) untuk menyeleksi jurnal nasional.
- Perguruan Tinggi: Memberikan pelatihan literasi publikasi bagi mahasiswa dan dosen.
- Lembaga Penelitian: Menyediakan pendampingan dalam memilih jurnal internasional bereputasi.
Tantangan Menghadapi Jurnal Predator
Meski sudah banyak peringatan, jurnal predator tetap eksis dan bahkan berkembang. Hal ini terjadi karena:
- Kebutuhan publikasi yang tinggi di kalangan akademisi.
- Kurangnya pengetahuan sebagian peneliti.
- Bisnis penerbitan akademik yang menggiurkan.
- Lemahnya regulasi di negara berkembang.
Baca juga: Identifikasi Jurnal Predator: Panduan Lengkap untuk Peneliti dan Akademisi
Kesimpulan
Jurnal predator tanpa review merupakan ancaman serius bagi integritas akademik. Ia muncul karena perpaduan antara kebutuhan publikasi peneliti dan motif komersial penerbit abal-abal.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.





