Dalam dunia akademik, publikasi ilmiah memiliki peran penting sebagai wadah penyebaran ilmu pengetahuan dan sarana pengakuan atas hasil riset. Namun, seiring dengan berkembangnya jumlah jurnal di berbagai bidang, muncul pula fenomena yang disebut jurnal predator. Istilah ini merujuk pada jurnal-jurnal yang tidak memenuhi standar etika publikasi, tetapi tetap mengklaim diri sebagai jurnal akademik yang sah.
Di bidang sosial, fenomena jurnal predator menjadi masalah serius karena dapat merusak kualitas pengetahuan, menurunkan kredibilitas penelitian, dan bahkan membahayakan pengambilan kebijakan publik yang berbasis riset. Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai jurnal predator di bidang sosial, mulai dari ciri-cirinya, jenis-jenisnya, dampaknya, hingga strategi pencegahan.
Baca juga: Jurnal Predator Bidang Ekonomi: Ancaman bagi Akademisi dan Dunia Ilmiah
Definisi Jurnal Predator
Jurnal predator adalah jurnal ilmiah yang memanfaatkan kebutuhan peneliti untuk mempublikasikan karyanya demi keuntungan finansial semata, tanpa melalui proses peer review yang ketat. Pada dasarnya, jurnal ini tampak profesional di permukaan, namun di baliknya hanya mengedepankan komersialisasi dan mengabaikan integritas akademik.
Di bidang sosial, jurnal predator seringkali menargetkan peneliti pemula, mahasiswa pascasarjana, atau dosen yang sedang mengejar kenaikan jabatan akademik. Mereka menawarkan proses publikasi cepat dengan biaya tertentu, tetapi mengabaikan standar mutu, seperti validitas metodologi, keaslian data, dan kontribusi teoretis.
Ciri-ciri Jurnal Predator
Untuk memahami bahaya jurnal predator, penting bagi peneliti mengenali ciri-cirinya. Terdapat beberapa indikator yang bisa menjadi peringatan dini, di antaranya:
1. Proses Review Sangat Cepat
Jurnal predator biasanya menawarkan publikasi hanya dalam hitungan hari atau minggu. Hal ini jelas tidak realistis, sebab proses peer review yang benar memerlukan waktu cukup panjang untuk menilai kualitas riset.
2.Biaya Publikasi Tinggi Tanpa Transparansi
Salah satu ciri khas jurnal predator adalah adanya biaya publikasi yang tinggi tanpa rincian jelas tentang apa saja yang dibiayai. Penulis hanya diminta membayar agar artikelnya segera dimuat.
3. Editorial Board Meragukan
Dewan editor seringkali berisi nama-nama akademisi yang tidak dikenal, atau bahkan fiktif. Dalam beberapa kasus, nama akademisi dicantumkan tanpa izin.
4. Indexing Palsu
Jurnal predator sering mengklaim telah terindeks di database bereputasi seperti Scopus atau Web of Science, padahal kenyataannya hanya masuk dalam database tidak kredibel.
5. Kualitas Artikel Rendah
Artikel yang diterbitkan biasanya tidak melalui penyuntingan serius, banyak kesalahan metodologis, serta referensi yang tidak relevan.
Jenis-jenis Jurnal Predator di Bidang Sosial
Sama seperti dalam ilmu eksakta, jurnal predator dalam bidang sosial juga memiliki beragam bentuk. Masing-masing memiliki modus operandi yang berbeda, sehingga peneliti perlu mengenalnya dengan baik agar tidak terjebak.
1. Jurnal Predator Berbasis Biaya Publikasi
Jenis ini berfokus pada penarikan biaya publikasi setinggi-tingginya tanpa memperhatikan kualitas artikel. Bagi penulis yang terdesak kebutuhan publikasi, tawaran ini tampak menggiurkan, meskipun berakibat buruk pada reputasi akademik mereka.
2. Jurnal Predator Berbasis Konferensi
Beberapa jurnal predator bekerja sama dengan penyelenggara konferensi abal-abal. Artikel yang dipresentasikan di konferensi ini kemudian diterbitkan dalam prosiding atau jurnal tanpa proses seleksi. Biasanya, konferensi ini juga memungut biaya tinggi dari peserta.
3. Jurnal Predator Berbasis Undangan
Jenis ini mengirimkan email massal kepada peneliti dengan tawaran untuk segera menerbitkan artikel. Undangan tersebut seringkali menggunakan bahasa persuasif dan memuji peneliti agar tertarik mengirimkan naskah.
4. Jurnal Predator Open Access Palsu
Dengan memanfaatkan tren open access, banyak jurnal predator mengklaim memberikan akses terbuka pada publik. Namun, yang mereka lakukan hanyalah menarik biaya dari penulis tanpa menyediakan infrastruktur open access yang sebenarnya.
Dampak Jurnal Predator bagi Ilmu Sosial
Fenomena jurnal predator memiliki implikasi yang luas, terutama bagi pengembangan ilmu sosial. Dampak tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:
- Menurunkan Kredibilitas Akademisi: Peneliti yang artikelnya terbit di jurnal predator seringkali dipandang kurang kredibel, sehingga berdampak pada reputasi akademik mereka.
- Merusak Integritas Ilmu Sosial: Artikel-artikel berkualitas rendah yang diterbitkan tanpa seleksi dapat memperburuk kualitas literatur dalam bidang sosial. Hal ini berbahaya karena penelitian di bidang sosial sering menjadi rujukan kebijakan publik.
- Membebani Finansial Peneliti: Biaya publikasi yang mahal hanya menguntungkan penerbit predator, sementara peneliti kehilangan dana yang seharusnya bisa digunakan untuk riset lanjutan.
- Membingungkan Pembaca dan Praktisi: Artikel di jurnal predator sering memuat data yang salah atau kesimpulan yang tidak akurat. Jika digunakan oleh praktisi atau pengambil kebijakan, hal ini bisa berakibat fatal.
Faktor Penyebab Peneliti Terjebak Jurnal Predator
Fenomena jurnal predator tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang membuat peneliti, khususnya di bidang sosial, mudah terjebak.
1. Tekanan Publikasi (Publish or Perish)
Dosen dan peneliti di banyak institusi dituntut untuk terus mempublikasikan karya ilmiah agar bisa naik jabatan atau mempertahankan posisinya. Tekanan ini membuat mereka tergiur oleh tawaran publikasi cepat dari jurnal predator.
2. Kurangnya Literasi Akademik
Sebagian peneliti, terutama pemula, belum memiliki pengetahuan memadai tentang bagaimana cara memilih jurnal yang bereputasi. Akibatnya, mereka tidak mampu membedakan jurnal predator dari jurnal yang sah.
3. Promosi yang Agresif dari Jurnal Predator
Jurnal predator biasanya sangat aktif mengirim email undangan, iklan di media sosial, atau bahkan bekerja sama dengan konferensi internasional palsu. Promosi yang masif ini menipu banyak akademisi.
4. Kebutuhan Administratif
Dalam beberapa kasus, institusi pendidikan masih kurang ketat dalam mengevaluasi kualitas jurnal tempat dosen atau mahasiswa menerbitkan karya. Selama ada bukti publikasi, institusi menerima tanpa verifikasi lebih lanjut.
Cara Mendeteksi Jurnal Predator
Untuk menghindari jebakan jurnal predator, peneliti bidang sosial perlu mengetahui strategi mendeteksi keberadaan mereka. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Periksa Daftar Indexing
Pastikan jurnal benar-benar terindeks di database bereputasi seperti Scopus, Web of Science, atau DOAJ. Jangan hanya percaya pada klaim yang tertulis di website jurnal, melainkan cek langsung ke situs resmi indeks tersebut.
2. Teliti Editorial Board
Dewan editor jurnal bereputasi biasanya terdiri dari akademisi ternama dengan afiliasi institusi yang jelas. Jika daftar editor tidak dikenal, fiktif, atau sulit dilacak, hal ini menjadi tanda mencurigakan.
3. Evaluasi Website Jurnal
Situs jurnal yang profesional biasanya memiliki tata bahasa rapi, desain jelas, serta informasi kontak yang lengkap. Jika website tampak asal-asalan atau banyak kesalahan teknis, kemungkinan besar jurnal tersebut predator.
4. Lihat Kecepatan Publikasi
Proses publikasi ilmiah yang normal memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk proses peer review. Jika jurnal menjanjikan penerbitan hanya dalam beberapa hari, hal itu merupakan indikasi kuat sebagai jurnal predator.
5. Cek Artikel yang Sudah Diterbitkan
Kualitas artikel yang sudah terbit mencerminkan standar jurnal tersebut. Jika banyak artikel berisi kesalahan mendasar, bahasa buruk, atau tidak relevan dengan fokus jurnal, maka patut dicurigai sebagai predator.
Dampak Jangka Panjang Jurnal Predator bagi Dunia Sosial
Jika fenomena jurnal predator tidak segera diatasi, dampaknya bisa berlangsung lama. Bagi dunia sosial, hal ini dapat mengakibatkan beberapa konsekuensi serius:
- Kerusakan Reputasi Institusi: Universitas yang dosen-dosennya banyak menerbitkan artikel di jurnal predator bisa dianggap tidak menjaga kualitas akademiknya.
- Terhambatnya Pengembangan Teori Sosial: Penelitian yang bermutu rendah memperlambat proses lahirnya teori-teori baru yang dapat menjelaskan fenomena sosial secara akurat.
- Kebijakan Publik yang Salah Arah: Jika pemerintah menggunakan data dari jurnal predator, kebijakan yang dibuat bisa tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Upaya Pencegahan Jurnal Predator
Untuk melindungi dunia akademik dari jurnal predator, berbagai pihak perlu mengambil langkah strategis.
1. Peran Individu Peneliti
Peneliti harus meningkatkan literasi akademik, rajin memeriksa kredibilitas jurnal, dan tidak tergiur janji publikasi instan.
2. Peran Institusi Pendidikan
Universitas perlu membuat regulasi yang lebih ketat terkait publikasi dosen dan mahasiswa. Mereka harus menyediakan pelatihan mengenai pemilihan jurnal bereputasi.
3. Peran Pemerintah
Pemerintah, melalui kementerian terkait, perlu mengeluarkan daftar resmi jurnal predator dan melakukan sosialisasi secara berkala kepada peneliti.
4. Peran Komunitas Akademik
Asosiasi profesi atau komunitas peneliti bidang sosial dapat membuat forum untuk berbagi pengalaman dan informasi mengenai jurnal predator.
Baca juga: Jurnal Predator Bidang Hukum: Ancaman bagi Dunia Akademik
Kesimpulan
Jurnal predator di bidang sosial merupakan ancaman nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka memanfaatkan kebutuhan peneliti untuk publikasi demi keuntungan finansial, tanpa memperhatikan kualitas dan etika ilmiah.











