Dalam dunia penelitian ilmu sosial, pendekatan metodologis tidak hanya soal teknik atau metode pengumpulan data, tetapi juga menyangkut asumsi filosofis yang mendasarinya. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam riset kualitatif adalah pendekatan interpretif. Di balik pendekatan ini terdapat fondasi ontologis yang khas dan mendalam. Ontologi, sebagai cabang filsafat yang membahas tentang hakikat realitas dan keberadaan, sangat penting untuk dipahami sebelum seorang peneliti memilih kerangka metodologis dalam penelitiannya.
Artikel ini membahas secara komprehensif tentang ontologi pendekatan interpretif, menjelaskan bagaimana pendekatan ini memahami realitas sosial, peran subjektivitas, hubungan antara peneliti dan subjek, serta implikasinya dalam praktik riset. Pemahaman mendalam tentang ontologi ini penting bagi para peneliti kualitatif agar mampu merancang dan melaksanakan penelitian yang sesuai dengan asumsi dasar pendekatan interpretif.
Baca juga: Ontologi Pendekatan Positivisme
Apa Itu Ontologi dalam Penelitian?
Secara sederhana, ontologi adalah studi tentang “apa yang ada” pertanyaan tentang realitas, hakikat eksistensi, dan bagaimana dunia diatur. Dalam konteks penelitian, ontologi mengacu pada pandangan peneliti tentang sifat realitas yang sedang diteliti.
Contoh pertanyaan ontologis:
- Apakah realitas sosial itu objektif dan dapat diukur?
- Ataukah realitas sosial itu subyektif dan terbentuk melalui interaksi manusia?
Ontologi dalam ilmu sosial dapat dikelompokkan dalam dua spektrum utama:
- Objektivisme (positivistik): Menganggap realitas sebagai sesuatu yang independen dari individu, tetap, dan dapat diamati secara objektif.
- Konstruktivisme/interpretivisme: Menganggap bahwa realitas sosial dibentuk melalui interaksi dan pemaknaan subyektif.
Pendekatan interpretif berpijak pada ontologi konstruktivis atau relativis, yang menganggap bahwa realitas sosial bersifat jamak, dinamis, dan tergantung pada perspektif individu atau kelompok.
Fondasi Ontologis Pendekatan Interpretif
Pendekatan interpretif dibangun di atas keyakinan bahwa realitas sosial tidak bersifat objektif atau tunggal, melainkan merupakan hasil dari proses interaksi simbolik dan makna yang dibentuk oleh individu dalam konteks sosial tertentu. Oleh karena itu, peneliti interpretif tidak mencari kebenaran tunggal, tetapi ingin memahami beragam makna yang dilekatkan oleh individu terhadap pengalaman mereka.
Beberapa ciri utama ontologi interpretif:
- Realitas bersifat subjektif: Tidak ada satu kebenaran universal. Setiap individu memiliki pengalaman dan pemahaman yang unik terhadap dunia sosial mereka.
- Makna dikonstruksi melalui interaksi: Individu membentuk makna melalui bahasa, simbol, dan interaksi dengan orang lain.
- Konteks sangat penting: Pemahaman terhadap makna tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, budaya, sejarah, dan politik.
- Peneliti adalah bagian dari proses interpretasi: Tidak ada pemisahan mutlak antara peneliti dan objek penelitian. Peneliti juga membawa subjektivitasnya ke dalam proses penelitian.
Pandangan Interpretif tentang Realitas Sosial
Dalam ontologi interpretif, realitas sosial tidak berdiri sendiri sebagai entitas yang tetap, melainkan diciptakan dan terus dibentuk ulang oleh aktor-aktor sosial. Konsep ini dikenal dengan istilah socially constructed reality atau realitas yang dikonstruksi secara sosial.
Salah satu tokoh yang mendasari pemikiran ini adalah Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam bukunya The Social Construction of Reality. Mereka menjelaskan bahwa masyarakat dan realitas sosial bukanlah sesuatu yang “ada begitu saja”, tetapi dibentuk melalui proses interaksi, institusionalisasi, dan internalisasi.
Misalnya, konsep “pendidikan” tidak memiliki makna tunggal yang universal. Di setiap budaya, pendidikan dimaknai berbeda-beda, dan bahkan dalam satu komunitas pun, individu dapat memiliki interpretasi yang berbeda tentang apa itu pendidikan, apa tujuannya, dan bagaimana seharusnya dijalankan.
Hubungan antara Peneliti dan Subjek Penelitian
Dalam ontologi positivistik, peneliti dianggap sebagai pengamat netral, yang bisa mengamati realitas tanpa mempengaruhinya. Namun, dalam pendekatan interpretif, peneliti justru dianggap sebagai bagian dari proses pembentukan makna.
Hal ini menempatkan peneliti dalam peran yang aktif dan reflektif. Peneliti harus terlibat, memahami perspektif subjek, dan membangun hubungan yang erat agar bisa mengakses makna-makna yang tersembunyi dalam pengalaman sosial subjek.
Prinsip-prinsip yang penting dalam hubungan ini antara lain:
- Empati: Peneliti harus bisa menempatkan diri dalam perspektif subjek.
- Reflektivitas: Peneliti menyadari bahwa dirinya membawa bias, nilai, dan latar belakang yang mempengaruhi proses interpretasi.
- Dialogis: Data diperoleh melalui dialog, bukan melalui pengukuran atau eksperimen yang kaku.
Konsekuensi Epistemologis dari Ontologi Interpretif
Dari ontologi interpretif muncul epistemologi interpretif, yakni cara memperoleh pengetahuan yang sejalan dengan keyakinan bahwa realitas bersifat subjektif dan kontekstual. Oleh karena itu, pengetahuan dalam pendekatan ini dianggap:
- Bersifat lokal dan partikular, bukan universal.
- Diperoleh melalui interpretasi, bukan pengukuran.
- Berbasis narasi, cerita, dan pengalaman, bukan angka atau statistik.
Peneliti interpretif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi, tetapi lebih pada memberikan pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial dari sudut pandang orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Implikasi Ontologi Interpretif terhadap Metodologi Penelitian
Karena pendekatan interpretif berpijak pada asumsi bahwa realitas bersifat subyektif dan dikonstruksi, maka metode yang digunakan pun cenderung bersifat kualitatif dan eksploratif. Beberapa metode yang umum digunakan meliputi:
- Wawancara mendalam: Untuk menggali pemahaman dan pengalaman subjek secara komprehensif.
- Observasi partisipatif: Peneliti terlibat langsung dalam kehidupan subjek untuk memahami makna dari dalam.
- Studi kasus: Fokus pada satu atau beberapa kasus untuk dipahami secara mendalam dalam konteks aslinya.
- Analisis naratif dan diskursus: Untuk mengungkap makna yang tersembunyi dalam bahasa, cerita, dan simbol.
Metode-metode ini mendukung upaya peneliti untuk mengakses dunia subjektif dari informan dan merepresentasikan realitas sosial sebagaimana mereka mengalaminya.
Kritik terhadap Ontologi Interpretif
Meski pendekatan interpretif memiliki banyak keunggulan, terutama dalam memberikan pemahaman mendalam terhadap realitas sosial, pendekatan ini juga mendapat kritik, antara lain:
- Subjektivitas yang tinggi: Karena bergantung pada interpretasi, hasil penelitian bisa sangat dipengaruhi oleh bias peneliti.
- Kurangnya generalisasi: Hasil penelitian biasanya tidak bisa digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas.
- Kesulitan dalam replikasi: Karena bersifat kontekstual, penelitian interpretif sulit untuk diulang dengan hasil yang sama.
Namun demikian, kritik-kritik ini seringkali dibalas oleh pendukung pendekatan interpretif dengan menyatakan bahwa tujuan utama mereka bukanlah untuk generalisasi atau replikasi, melainkan untuk memahami makna dan proses sosial secara mendalam dan otentik.
Keunggulan Ontologi Interpretif dalam Ilmu Sosial
Meskipun memiliki keterbatasan, pendekatan ontologis interpretif menawarkan banyak keunggulan, terutama dalam konteks ilmu sosial dan kemanusiaan, antara lain:
- Memanusiakan subjek penelitian: Pendekatan ini melihat individu sebagai makhluk berpikir dan bermakna, bukan sekadar objek observasi.
- Membuka ruang untuk pluralitas makna: Tidak memaksakan satu kebenaran, melainkan mengakomodasi berbagai perspektif.
- Fleksibel dan kontekstual: Mampu menjangkau realitas yang kompleks dan dinamis.
- Memberi ruang pada suara kelompok marginal: Membantu memahami pengalaman kelompok yang sering kali diabaikan oleh pendekatan objektif.
Relevansi Ontologi Interpretif di Era Kontemporer
Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh keragaman, pendekatan interpretif menjadi sangat relevan. Isu-isu seperti identitas, budaya, gender, keberagaman, dan ketidaksetaraan sosial membutuhkan pendekatan yang tidak hanya menjawab “apa”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” dari sudut pandang orang-orang yang mengalaminya.
Selain itu, pendekatan ini juga selaras dengan perkembangan paradigma postmodern yang menolak klaim kebenaran tunggal dan membuka ruang bagi pluralisme pengetahuan.
Baca juga: Ontologi Penelitian Kuantitatif
Penutup: Ontologi sebagai Fondasi Kritis dalam Penelitian
Menentukan pendekatan penelitian tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan mendasar tentang apa yang dianggap nyata dan bagaimana cara mengetahuinya. Ontologi interpretif mengajarkan kita bahwa realitas sosial bukanlah entitas yang tetap dan netral, melainkan dunia yang dipenuhi oleh makna-makna subyektif yang dikonstruksi melalui interaksi manusia.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.

