Dalam dunia akademik dan penelitian, integritas ilmiah merupakan fondasi utama dari kredibilitas dan keberlanjutan ilmu pengetahuan. Dua pelanggaran serius terhadap etika ilmiah yang kerap menjadi perhatian adalah publikasi berulang (redundant publication) dan plagiarisme. Keduanya sering terjadi, baik karena ketidaktahuan maupun kesengajaan, dan dapat berdampak buruk pada reputasi peneliti serta kredibilitas institusi yang menaunginya.
Artikel ini akan mengupas tuntas tentang apa itu publikasi berulang dan plagiarisme, bentuk-bentuknya, penyebab, dampak, hingga langkah pencegahan yang perlu diterapkan oleh semua pihak dalam dunia akademik. Dengan memahami dua pelanggaran ini secara mendalam, diharapkan semua pihak bisa menghindarinya dan menjaga kualitas serta etika dalam kegiatan publikasi ilmiah.
Baca juga: Konflik Kepentingan (Conflicts of Interest)
Pengertian Publikasi Berulang
Publikasi berulang, atau dikenal juga sebagai redundant publication atau duplicate publication, adalah tindakan menerbitkan kembali karya ilmiah yang sama atau sangat mirip pada dua atau lebih tempat publikasi tanpa memberikan informasi yang jelas mengenai publikasi sebelumnya.
Tindakan ini dianggap tidak etis karena dapat menyesatkan pembaca, memperbesar kontribusi ilmiah secara tidak wajar, dan menyalahgunakan sumber daya editorial serta sistem evaluasi ilmiah.
Bentuk-bentuk Publikasi Berulang
Sebelum membahas lebih lanjut, penting untuk memahami bahwa publikasi berulang dapat terjadi dalam beberapa bentuk, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Berikut beberapa jenis publikasi berulang yang umum terjadi:
- Duplikasi Utuh
Duplikasi utuh terjadi ketika penulis mengirimkan naskah yang sama persis ke dua atau lebih jurnal tanpa menyatakan bahwa naskah tersebut telah atau sedang diterbitkan di tempat lain. Ini termasuk menyalin seluruh isi artikel, dari judul hingga kesimpulan, tanpa perubahan signifikan.
- Duplikasi Parsial
Dalam kasus ini, bagian-bagian tertentu dari artikel, seperti data, metodologi, atau hasil, digunakan kembali dalam publikasi lain tanpa atribusi yang jelas. Misalnya, satu studi kuantitatif dipublikasikan dua kali dengan narasi berbeda tetapi menggunakan dataset yang sama.
- Salami Publication
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan praktik membagi satu penelitian besar menjadi beberapa bagian kecil yang dipublikasikan secara terpisah dengan tujuan memperbanyak jumlah publikasi. Walaupun setiap bagian mungkin tampak unik, namun substansi dan dataset sering kali tumpang tindih.
- Terjemahan Tanpa Izin
Menerbitkan artikel yang sama dalam dua bahasa yang berbeda (misalnya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris) tanpa menyebutkan publikasi sebelumnya juga termasuk dalam kategori publikasi berulang, terutama jika dilakukan tanpa seizin penerbit pertama.
Penyebab Publikasi Berulang
Ada berbagai alasan mengapa peneliti melakukan publikasi berulang. Beberapa disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap etika akademik, sementara yang lain disebabkan oleh tekanan akademik. Berikut beberapa penyebab umum:
- Tekanan untuk Publikasi
Lingkungan akademik yang menekankan pada produktivitas jumlah publikasi, seperti untuk kenaikan jabatan atau pemenuhan target kinerja, sering kali mendorong peneliti untuk mengulang publikasi agar terlihat lebih produktif.
- Kurangnya Pemahaman Etika Publikasi
Sebagian peneliti, terutama pemula, mungkin belum memahami secara menyeluruh mengenai etika publikasi. Mereka mungkin menganggap bahwa selama naskah dikirim ke jurnal yang berbeda, maka tidak ada masalah untuk menerbitkan ulang.
- Tujuan Popularitas atau Reputasi
Beberapa individu melakukan publikasi ulang dengan harapan memperluas jangkauan pembaca atau meningkatkan citra personal dalam komunitas akademik, meskipun cara ini salah dari sisi etika.
- Kelalaian atau Ketidaksengajaan
Terkadang publikasi berulang terjadi karena peneliti tidak mengingat bahwa mereka sudah pernah mempublikasikan hasil yang serupa, terutama dalam tim riset besar yang mengelola banyak proyek sekaligus.
Pengertian Plagiarisme
Plagiarisme adalah tindakan menjiplak karya orang lain tanpa memberikan atribusi atau pengakuan yang layak, baik secara sebagian maupun menyeluruh. Dalam konteks akademik, plagiarisme dianggap sebagai pelanggaran berat karena mengingkari prinsip orisinalitas dan kejujuran ilmiah.
Plagiarisme bisa terjadi dalam bentuk teks tertulis, gambar, grafik, data, bahkan ide. Plagiarisme juga bisa terjadi ketika seorang penulis menjiplak karyanya sendiri tanpa mencantumkan referensi (dikenal sebagai self-plagiarism).
Bentuk-bentuk Plagiarisme
Plagiarisme tidak selalu dilakukan secara terang-terangan. Terkadang, bentuknya sangat halus dan tersamar. Berikut adalah beberapa bentuk umum plagiarisme yang sering ditemukan:
- Plagiarisme Langsung: Plagiarisme langsung adalah menyalin teks orang lain kata demi kata tanpa mencantumkan sumbernya. Ini merupakan bentuk plagiarisme yang paling mudah dideteksi dan paling berat konsekuensinya.
- Parafrase Tanpa Sumber: Mengubah susunan kata atau kalimat dari karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya juga termasuk plagiarisme. Meskipun kata-katanya berbeda, ide dan kontennya tetap berasal dari pihak lain.
- Plagiarisme Ide: Bentuk plagiarisme ini terjadi ketika seseorang menggunakan ide atau konsep dari peneliti lain tanpa memberikan pengakuan, bahkan jika tidak menyalin kata-katanya secara langsung.
- Plagiarisme Diri (Self-Plagiarism): Self-plagiarism terjadi saat seorang penulis menerbitkan kembali karya atau bagian dari karya sebelumnya sebagai karya baru, tanpa mencantumkan referensi terhadap karya sebelumnya tersebut.
Penyebab Plagiarisme
Ada banyak faktor yang menyebabkan plagiarisme, dan sebagian besar berakar pada tekanan akademik, kurangnya pemahaman, serta kemalasan intelektual. Beberapa penyebab utama meliputi:
- Tekanan Akademik: Mahasiswa dan dosen sering merasa terbebani oleh tuntutan untuk menghasilkan publikasi dalam jumlah tertentu demi lulus, naik pangkat, atau memperoleh penghargaan.
- Kurangnya Pemahaman tentang Kutipan: Beberapa individu tidak memahami cara melakukan kutipan yang benar dan kapan sesuatu dianggap perlu dicantumkan sumbernya.
- Kemudahan Akses ke Sumber Digital: Internet memungkinkan akses cepat ke berbagai sumber informasi, yang kadang membuat penulis tergoda untuk menyalin tanpa memberikan atribusi.
- Kurangnya Kesadaran Etika: Tidak semua penulis memiliki pengetahuan atau kesadaran akan pentingnya orisinalitas dan etika dalam penulisan ilmiah.
Dampak Publikasi Berulang dan Plagiarisme
Publikasi berulang dan plagiarisme tidak hanya merugikan pihak yang melakukan, tetapi juga berdampak luas terhadap dunia akademik dan masyarakat ilmiah secara umum. Berikut beberapa dampaknya:
- Merusak Reputasi Peneliti: Sekali terlibat dalam skandal plagiarisme atau publikasi berulang, reputasi seorang akademisi bisa rusak seumur hidup. Ini bisa berdampak pada peluang kerja, hibah penelitian, hingga kolaborasi ilmiah.
- Mencemari Kredibilitas Institusi: Institusi tempat peneliti bernaung juga bisa tercoreng namanya jika banyak kasus pelanggaran etika yang berasal dari institusinya.
- Merugikan Ilmu Pengetahuan: Dengan mengulang-ulang data atau mencuri ide, perkembangan ilmu pengetahuan menjadi stagnan dan penuh distorsi, karena informasi yang beredar tidak akurat dan tidak orisinal.
- Hukuman Administratif atau Hukum: Beberapa jurnal, lembaga penelitian, dan pemerintah memberikan sanksi tegas berupa pencabutan gelar, penarikan artikel, denda, hingga pemecatan terhadap pelaku plagiarisme atau publikasi berulang.
Upaya Pencegahan Publikasi Berulang dan Plagiarisme
Mencegah terjadinya publikasi berulang dan plagiarisme membutuhkan kerja sama dari banyak pihak, mulai dari individu, institusi, hingga penerbit. Beberapa strategi berikut bisa diterapkan secara sistematis:
- Edukasi dan Pelatihan Etika Akademik: Institusi pendidikan tinggi harus secara aktif memberikan pelatihan tentang etika penulisan ilmiah, cara kutip-mengutip yang benar, serta pemahaman tentang bentuk-bentuk pelanggaran publikasi.
- Menggunakan Alat Deteksi Plagiarisme: Alat seperti Turnitin, iThenticate, atau PlagScan dapat digunakan untuk memeriksa tingkat kemiripan sebuah karya ilmiah dengan karya lain yang sudah dipublikasikan.
- Etika Editorial yang Ketat: Jurnal ilmiah dan penerbit harus menerapkan sistem review yang ketat dan mewajibkan pernyataan orisinalitas dari para penulis sebelum publikasi dilakukan.
- Penanaman Nilai Integritas sejak Dini: Mahasiswa perlu dikenalkan pada pentingnya kejujuran akademik sejak awal studi, termasuk melalui tugas-tugas yang menekankan pada orisinalitas dan penggunaan referensi yang benar.
- Penyusunan Panduan Penulisan Ilmiah: Institusi dan jurnal dapat menyediakan panduan lengkap mengenai etika publikasi, termasuk batasan apa yang dianggap sebagai publikasi ulang atau plagiarisme, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Studi Kasus dan Pelajaran dari Dunia Nyata
Beberapa kasus publikasi berulang dan plagiarisme besar telah terjadi di dunia, dan memberikan pelajaran penting tentang pentingnya menjaga integritas ilmiah.
Misalnya, seorang profesor terkenal dari universitas ternama di Asia harus mengundurkan diri karena terbukti menerbitkan ulang artikel yang sama di tiga jurnal berbeda tanpa pengungkapan yang jelas. Di sisi lain, seorang mahasiswa doktoral di Eropa dicabut gelarnya karena menggunakan karya ilmuwan lain dalam disertasi tanpa atribusi.
Kedua kasus ini memperlihatkan bahwa pelanggaran etika akademik tidak mengenal pangkat atau gelar, dan bahwa integritas harus menjadi prinsip utama semua pelaku akademik.
Baca juga: Kepengarangan (Authorship)
Penutup
Publikasi berulang dan plagiarisme adalah dua bentuk pelanggaran serius dalam dunia akademik yang dapat merusak reputasi, mencemari ilmu pengetahuan, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap dunia ilmiah. Dengan memahami definisi, bentuk-bentuk, penyebab, dan dampak dari kedua pelanggaran ini, serta dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang tepat, komunitas akademik dapat menciptakan budaya publikasi yang lebih jujur, transparan, dan berkualitas.
Ikuti artikel Solusi Jurnal lainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai Jurnal Ilmiah. Bagi Anda yang memerlukan jasa bimbingan dan pendampingan jurnal ilmiah hingga publikasi, Solusi Jurnal menjadi pilihan terbaik untuk mempelajari dunia jurnal ilmiah dari awal. Hubungi Admin Solusi Jurnal segera, dan nikmati layanan terbaik yang kami tawarkan.


